Pelangi Setelah Hujan

Pelangi Setelah Hujan
My Everything


__ADS_3

Raka menatap Bila yang masih berbalut mukenah dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


"Kenapa menatapku seperti itu? Ada kotoran ya di mataku?" Bila refleks mengusap kedua matanya dengan tangan.


Kepala Raka menggeleng pelan. "Bukan sayang." Raka langsung tertawa pelan.


"Lalu apa hmm?" Bila meletakkan tangannya di pipi Raka dan mengusapnya lembut.


"You're so beautiful Bil, bahkan mas seakan lupa cara bernapas setiap kali menatapmu." Jawaban Raka membuat pipi Bila bersemu merah.


Terbang adek Mas karena gombalannya. "Mati dong kalau lupa cara bernapas?" Tanya Bila dengan tatapan polos. Bila sangat senang mendapat pujian dari Raka. Namun apa yang ke luar dari mulutnya bertolak belakang dengan isi hatinya.


Raka langsung menepuk keningnya sendiri setelah mendapat pertanyan polos seperti itu. "Sayang, itu hanya perumpamaan. Bukan lupa cara bernapas beneran." Jawabnya menjelaskan. Bila tersenyum tipis, ia sebenarnya paham dengan apa yang suaminya katakan. Tapi, entah kenapa dia ingin menjawab hal seperti itu.


Bila mendekat dan duduk di pangkuan Raka yang masih duduk di atas sajadah. "You're my hero, my husband, my love and my everything. I love you my husband." Bila langsung memeluk leher Raka dan membenamkan kepalanya di ceruk leher sang suami.


"I love you too baby." Bisik Raka di telinga Bila, kemudian mencium pipi Bila sebanyak-banyaknya. Cukup lama Bila dengan posisi seperti itu, sebelum akhirnya ia bangkit karena akan membuatkan sarapan.


πŸ’πŸ’πŸ’


Qyara yang sudah bangun dari tadi, langsung turun ke bawah untuk membantu bik Lia untuk masak sarapan. Kemudian kembali naik ke kamar seraya membawa nampan berisi sarapan.


"Selamat pagi sayang." Qyara mengecup pipi Aldi yang tertidur kembali setelah sholat subuh.


"Engghh." Aldi meregangkan tubuhnya dan perlahan matanya terbuka. "Pagi sayang." Aldi langsung tersenyum dan menegakkan tubuhnya.


"Sarapan dulu yaa." Qyara mengambil nampan yang ia letakkan di atas ranjang dan menyerahkannya kepada Aldi.


"Makasih sayang." Aldi mengambil nampan tersebut dan segera menyantap makanan yang di bawa Qyara sambil sesekali menyuapi istrinya.


Setelah menghabiskan sarapannya, Aldi langsung olah raga sebentar sebelum mandi. Karena ia ada meeting dengan Raka Danu Nugraha dari NG Property & Design. Sedangkan Qyara segera masuk ke dalam. walk in closet untuk mengambilkan pakaian suaminya.


"Mas, buruan mandi. Nanti telat ke kantornya." Teriak Qyara saat melihat Aldi masih sibuk dengan aktivitas olah raganya.


"Iya Qya" Saut Aldi dan segera menghentikan aktivitasnya. Kemudian melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Aldi mandi, Qyara membersihkan kamar mereka dengan mengganti sprei dan melipat selimut. Membawa pakain kotor ke ruang cuci dan kembali ke kamar untuk membantu suaminya.


"Masih sering mual nggak kalau nggak ada aku?" Aldi yang baru selesai mandi langsung menghampiri istrinya. Karena Qya akan mual dan muntah saat Aldi jauh darinya. Maksudnya, jika Aldi sedang berada di luar rumah.


"Ya gitulah mas, tapi nggak apa-apa. Aku menikmati setiap proses yang aku alami." Jawab Qyara sambil tersenyum.


"Sayang, jangan buat mama kamu susah ya kalau papa lagi kerja." Aldi mengusap perut Qya yang mulai menonjol dan menciumnya gemas.


πŸ’πŸ’πŸ’


Bila sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Sehingga ia tidak sadar dengan kehadiran Raka yang mendekat kepadanya.


"Kamu masak apa sayang?"


Bila menoleh dan langsung tersenyum. "Aku masak nasi goreng seafood Mas." Kemudian kembali fokus ke masakannya. Raka memeluk Bila dari belakang, membuat Bila terjengkit kaget.


"Mas...! Lepas dulu tangannya. Aku nggak bisa konsentrasi masak kalau mas nempel terus kayak gini." Ucap Bila tegas. Namun Raka bergeming dan tidak beranjak dari posisinya sedikitpun.


"Jadi nggak mau nih? Baiklah, tuan Raka yang terhormat. Anda mau mammoth-nya puasa seminggu atau tunggu di meja makan sekarang!" Ancam Bila dengan tatapan tajam.


"Hah, seminggu? Jangan dong sayang. Iya deh, Mas tunggu kamu selesai masak di meja makan." Raka melangkah pergi dari dapur menuju meja makan. Meskipun hatinya enggan, tapi memikirkan ancaman Bila. Lebih baik mengalah, dari pada puasa seminggu.


Bila segera membawa 2 piring nasi goreng seafood yang sudah ia masak ke meja makan.


Bismillahirohmanirohim Raka langsung mengambil piring di hadapannya dan menyantap nasi goreng buatan sang istri dengan lahap. Bila juga ikut menikmati. sarapannya, bahkan meminta bagian suaminya.


Selesai sarapan, Bila mengantar suaminya sampai di balik pintu karena ia sedang tidak memakai kerudungnya dan masih memakai daster pendek.


"Kamu hari ini nggak ke butik?" Tanya Raka saat sampai di depan pintu.


"Kayaknya nggak Mas, soalnya aku mau nyuci trus ke rumah Ibu. Karena aku lagi pengen makan masakan Ibu."


"Ingat, jangan terlalu capek ya. Nanti hati-hati nyetirnya." Ucap Raka seraya mengusap rambut istrinya.

__ADS_1


"Siap kapten." Ujar Bila diiringi tawa kecil.


"Mas berangkat ya sayang." Raka mencium kening dan bibir istrinya. Kemudian ia membungkukkan tubuhnya dan mencium perut rata Bila. "Hai sayang, daddy pergi kerja dulu ya. Jagain mommy ya sayang." Raka bicara pada baby-nya.


"Hati-hati ya Mas."


"Iya sayang, assalamualaikum." Raka kembali mencuri ciuman dari Bila dan langsung ke luar dari dalam rumah.


Bila langsung tertawa melihat tingkah suaminya. "Walaikumsalam, ada-ada aja." Kemudian melenggang menuju ruang cuci untuk mencuci pakaian kotor yang sudah menumpuk. Dilanjutkan dengan membereskan rumah.


Selesai mencuci dan membereskan rumah, Bila ke taman belakang untuk menjemur pakain. "Hmmm, insyaAllah akan cepat kering nih. Soalnya panas banget." Gumam Bila saat melihat matahari bersinar dengan teriknya.


Setelah itu ia kembali masuk ke dalam rumah dan naik ke kamar untuk membersihkan dirinya yang sudah berkeringat.


πŸ’πŸ’πŸ’


Raka sedang melakukan meeting dengan Aldi Kusumanegara. Meskipun awalnya ia menolak untuk bertemu dengan laki-laki itu. Tapi setelah membaca proposal kerjasama yang di ajukan Aldi, Raka merubah pikirannya dan mau bertemu dengan Aldi.


"Selamat berkerjasama dengan perusahaan kami tuan Aldi." Ucap Aksa mewakili Raka setelah mereka selesai meeting dan menandatangani kontrak kerjasama.


"Terimakasih atas waktunya tuan Raka, saya sangat bersyukur tuan mau bertemu dengan saya dan mau bekerja sama dengan perusahaan saya yang masih rendah ini." Ujar Aldi seraya mengulurkan tangannya kepada Raka.


"Sama-sama tuan Aldi." Balas Raka tampa ekspresi.


"Kalau begitu, saya permisi tuan Raka dan tuan Aksa." Aldi segera berlalu dari ruangan Raka.


Sementara Bila sudah berada di kediaman orang tuanya. Setelah memarkirkan mobilnya, Bila melepaskan seatbelt dan ke luar dari dalam mobil.


Beridiri di depan pintu, tangannya terangkat untuk menekan bel.


"Assalamualaikum, ibu....!" Panggil Bila dari depan pintu.


"Walaikumsalam." Saut seorang wanita dari dalam. "Bila, masyaAllah." Bu Sukma langsung memeluk putrinya dengan erat.


"Bila kangen banget sama ibu." Ucap Bila seraya melepas pelukan dari ibunya.


"Ibu juga Nak, padahal hari ini ibu rencana mau ke rumah kalian. Eh, kamu udah duluan ke sini. Ayo masuk sayang." Bu Sukma menggandeng tangan putrinya masuk ke dalam rumah.


"Ya udah, kamu mau ibu masakin apa nih?" Tanya bu Sukma seraya membawa putrinya ke ruang makan yang terhubung dengan dapur.


"Terserah ibu mau masakin apa? Karena aku hanya mau makan masakan ibu aja." Jawab Bila sambil tersenyum manis.


"Kamu kayak orang lagi ngidam aja sih?" Bila langsung tersenyum lebar dan membuat kening bu Sukma berkerut heran.


"Emang iya bu, karena karena sebentar lagi ibu akan jadi eyang uti." Jawab Bila dengan mata berbinar.


Bu Sukma masih mencerna kata-kata putrinya. "Hamil? kamu hamil sayang?" Tanya bu Sukma memastikan.


Kepala Bila mengangguk pelan. "Iya bu, Bila sedang hamil." Jawab Bila sambil tersenyum lebar.


"Alhamdulillah ya Allah, selamat ya sayang." Bu Sukma berkali-kali mengucap syukur atas kehamilan putri sulungnya. "Sekarang kamu duduk di sini. Ibu akan buatkan seuatu untukmu." Bu Sukma menuntun Bila untuk duduk di kursi meja makan dan segera memasakkan sesuatu untuk putrinya.


Lebih kurang 30 menit, masakan yang dimasak bu Sukma jadi dan membuat hati Bila sungguh bahagia. Tampa membuang waktu, ia melahap makanan di hadapannya sampai habis tak bersisa.


Sepulang dari rumah ibunya, Bila menuju toko kue langganannya karena ia benar-benar ingin makan makanan manis saat ini. Dengan kecepatan sedang Bila melajukan mobilnya membelah jalan yang tidak terlalu padat di siang menjelang sore itu.


Akhirnya mobilnya sampai di depan sebuah toko kue yang cukup terkenal di ibu kota. Setelah memarkirkan mobilnya, Bila segera ke luar dari dalam mobil dan melangkah masuk ke dalam toko.


Ia mengambil nampan dan berjalan keliling toko untuk mengambil kue dan roti yang ia inginkan.


"Kak Bila?"


Bila menolehkan kepalanya saat mendengar suara seseorang memanggilnya. Ia langsung tersenyum saat seorang bocah laki-laki tengah berlari ke arahnya.


"Hei Zidan, kita ketemu lagi." Sapa Bila sambil mengusap kepala bocah laki-laki tersebut.


"Iya kak, padahal Zidan sangat berharap bisa bertemu kakak lagi. Tapi sayangnya kita baru ketemu lagi sekarang ya kak."

__ADS_1


Bila tertawa mendengarkan celotehan Zidan, ia sedikit merunduk dan mencubit gemas pipi bulat nan menggemaskan Zidan.


"Kamu sendirian?" Tanya Bila saat melihat bocah itu hanya sendiri tampa ada orang dewasa di sisinya.


"Sama papi kak, itu papi." Tangan mungilnya menunjuk ke arah laki-laki yang tengah berjalan ke arah mereka berdua berdiri. Laki-laki itu langsung terkejut saat melihat anaknya sedang bersama siapa?


"Nona Salsabila, apa kabar?" Tanya Andre setelah berada di dekat keduanya.


"Alhamdulillah kabar baik Mas. Mas Andre sendiri apa kabar?"


"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat." Jawab Andre sambil tersenyum. Andre yang biasanya terkenal dingin dan jarang tersenyum langsung berubah menjadi hangat kalau sudah bertemu dengan wanita yang berdiri di hadapannya.


Bila tertawa kecil dan menoleh ke samping karena bajunya di tarik oleh Zidan. "Temani Zidan ambil kue dong kak?" Pintanya dengan tatapan memelas.


"Ayo little boy, dengan senang hati." Bila langsung menggandeng tangan Zidan dan membawa bocah itu untuk mengambil kue. "Ambil nampannya dulu sayang." Ucap Bila lembut dan langsung diambil oleh Zidan.


Andre yang melihat interaksi antara anaknya dan Salsabila merasakan hatinya menghangat. Namun, ia langsung tertegun ssat melihat cincin bertahtakan berlian melingkar cantik di jari manis tangan kanan wanita itu.


Apa dia sudah menikah? Kalau iya, aku sungguh sangat terlambat! Gumam Andre di dalam hati.


"Papi....! Zidan sudah selesai."


Teriakan sang anak membuyarkan lamunan Andre. "Iya Zidan, bawalah ke kasir." Ucapnya dan mengikuti keduanya menuju kasir.


Setelah kue Bila dan Zidan di hitung, Bila mengambil dompetnya untuk mengambil kartunya.


"Berapa total semuanya?" Tanya Andre tiba-tiba.


"300 ribu tuan." Jawab petugas kasir. Andre langsung memberikan kartunya kepada petugas tersebut.


"Eh Mas, biar aku aja yang bayar." Protes Bila kepada laki-laki di sampingnya.


"Nggak apa-apa. Biar aku aja yang bayar."


"Tapi Mas.... "


Andre menggeleng dan membuat Bila menghentikan protesnya. Apalagi melihat tatapan polos Zidan yang tengah menatap mereka berdua. Membuat Bila tidak mau berdebat di depan anak kecil.


"Kalian pasangan yang cocok." Ucap petugas kasir secara tiba-tiba.


"Benarkah?" Tanya Andre antusias.


"Iya tuan, anda tampan dan nona ini cantik. Jadi kalian pasangan serasi." Timpalnya lagi.


"Tapi sayangnya saya sudah menikah mba." Jawaban Bila langsung menghantam dada Andre. Pertanyaannya terjawab sudah, wanita ini memang sudah menikah.


"Aku terlambat ya." Ucap Andre dengan nada lemah.


"Maksudnya?" Tanya Bila heran.


"Bukan apa-apa." Andre memaksakan senyumnya, meskipun hatinya terasa nyeri. Sedangkan Zidan langsung menggenggam tangan ayahnya. Seakan bocah itu paham apa yang tengah di rasakan ayahnya.


"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu ya Mas. Makasih atas traktirannya." Matanya beralih menatap bocah laki-laki yang tengah berdiri di samping ayahnya. "Zidan, kak Bila pulang dulu ya." Bila mengusap kepala Zidan dan melangkah pergi dari dalam toko.


"Papi sedih ya karena kak Bila sudah menikah?" Tanya Zidan setelah mereka berada di dalam mobil.


"Nggak kok, biasa aja!" Jawab Andre berbohong, padahal hatinya terasa hampa.


Andre dan Zidan menghela napas berat, mereka segera meninggalkan toko kue tersebut karena hari sudah mulai sore.


Sepertinya kamu memang bukan jodohku. Semoga kamu selalu berbahagia Salsabila. Aku tidak pernah menyesal pernah menyebutkan namamu dan memintamu kepada sang pemilik hati di sepertiga malamku.


.


.


.

__ADS_1


.


to be continue


__ADS_2