
Setelah menghubungi Arum lewat pesan, Bila berusaha bangkit dan ke luar dari dalam kamar. Kaki jenjangnya menuruni tangga satu persatu sampai ia tiba di lantai bawah. Bila melangkah menuju ruang tengah dan mendudukkan tubuhnya di sofa ruangan itu.
Cukup lama ia berada di sana, tapi belum ada tanda-tanda kedatangan asistennya. "Arum kenapa lama sekali ya? Apa terjadi sesuatu di jalan?" Karena merasa tidak tenang Bila mengambil ponselnya dan menatap benda pipih itu. Jari-jemari lentiknya mengutak-atik layar ponsel untuk mencari nomor Arum.
Bila langsung mendial nomor asistennya sampai terdengar suara tanda panggilan telphonnya masuk.
Andre yang sedang mengemudikan mobilnya dalam keadaan kesal langsung mengernyit heran saat mendengar nada dering yang asing ditelinganya. "Bukan ponselku? Lalu ponsel siapa?" Gumamnya pelan. "Ah iya, aku lupa." Tangannya masuk ke dalam saku jasnya dan mengambil sebuah ponsel yang sedang berdering.
Bu boss calling
Kedua alis Andre langsung menyatu saat melihat nama yang tertera di layar ponsel. Entah kenapa ia menakan tanda hijau di layar dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Assalamualaikum Arum, kamu dimana? Apa masih di butik?" Terdengar suara lembut seorang wanita yang terdengar merdu di telinga pria itu.
Deg
Jantung Andre langsung berdebar tak menentu saat mengenal siapa pemilik suara itu.
"Arum, kamu kenapa diam? Ada apa? Apa kamu tidak bisa ke rumahku?" Tanya Bila beruntun karena tidak mendapat jawaban dari asistennya.
"Salsabila," nama itu lolos begitu saja dari mulut pria itu yang masih fokus dengan kemudinya.
Bila langsung tertegun, kenapa suara seorang pria? Apa dia salah menghubungi orang? Bila menurunkan ponselnya dan menatap layar ponsel yang masih menyala. Benar, dia tidak salah menghubungi orang. Lalu ini siapa? Bila langsung panik, semua bayangan yang tidak-tidak berseliweran di otaknya.
"Ka-mu siapa? Kenapa bisa menjawab telphon Arum? Mana asistenku? Kamu apakan dia?" Tanya Bila panik.
Andre sadar kesalahannya, tidak seharusnya ia menjawab telphon wanita ini. Tapi nasi sudah menjadi bubur, ia yang sangat merindukan suara wanita ini tidak mau memutus sambungan telphon begitu saja.
"Hei, hei nona. Jangan panik? Aku tidak melakukan apapun pada asistenmu, percayalah. Aku bukan pria bodoh yang akan melakukan semua itu."
"Bagaimana aku bisa percaya padamu? Sedangkan sekarang ponselnya ada padamu dan Arum belum sampai ke rumahku. Tolong jelaskan, bagaimana aku bisa mempercayaimu?" Tanya Bila kesal.
"Hah" Andre menghela napas. "Kamu tidak mengenalku nona. Aku bukan pria jahat yang akan menghancurkan masa depan seorang gadis hanya untuk bersenang-senang." Ucap Andre membela diri.
"Oh ya? Tapi aku tidak percaya! Karena asistenku belum berada di rumahku sampai sekarang! Ayolah, kamu jangan membohongiku. Dimana asistenku? Cepat katakan!" Bila terus mendesak pria yang tidak dikenalnya itu. Tapi hatinya terus mengatakan kalau ia seperti kenal dengan suara pria ini. Pikiran Bila langsung menerka-nerka akan siapa sosok pria yang tengah berbicara dengannya.
"Kamu membuat hatiku terluka Bila." Ucap pria itu dengan suara serak.
Deg
Bila langsung tersentak kaget saat pria itu tiba-tiba memanggil nama panggilannya. Siapa sebenarnya pria ini. Saat akan membuka suara lagi, tiba-tiba terdengar suara bel dan ketukan dari pintu rumahnya.
__ADS_1
"Nanti aku akan menghubungimu lagi, urusan kita belum selesai!" Bila langsung memutus sambungan telphon dan berjalan dengan tergesa untuk membukakan pintu.
Semantara Andre langsung tersenyum getir setelah bicara dengan wanita yang dicintainya. Memang, tidak butuh waktu lama untuk jatuh cinta pada seseorang. Akan tetapi melupakan rasa cinta tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Hal itulah yang tengah di rasakan Andre saat ini. Apa itu berarti Andre belum bisa mengikhlaskan Bila? Tidak ada yang tau kecuali Andre dan Tuhan. Tentu saja author juga tau, kan author yang menulis ceritanya. (Heheh, canda deng π)
πππ
Bila masih menatap Arum tak berkedip dan meminta asistennya itu menjawab pertanyaannya. Bahkan sekarang dia sudah akan bicara lagi.
"Kenapa kamu diam? Siapa pria itu Arum? Kenapa dia tau namaku? Sedangkan aku tau kamu menamaiku bu boss di kontak ponselmu?" Bila kembali bertanya dan membuat Arum semakin gugup. Ia mengambil sesuatu di dalam tasnya dan menyerahkan kepada Bila.
Kening mulus wanita itu langsung berkerut dan menatap sebuah kertas kecil bertuliskan nama perusahaan dan nama pemimpinnya. "Kartu nama siapa ini? Kamu jangan membuatku bingung?"
Bukannya terhibur Bila malah dibuat pusing saat ini. Apa yang sebanarnya terjadi? Bila benar-benar penasaran dibuatnya. Akhirnya Arum angkat bicara dan menceritakan apa yang terjadi padanya saat dalam perjalanan ke rumah Bila.
"Jadi dia minta ganti rugi 50 juta?" Tanya Bila dengan tatapan tak percaya.
"Iya mba, pria itu pemilik kartu nama yang mba pegang saat ini. Dan untuk pertanyaan kenapa pria itu tau nama mba Bila? Aku tidak tau." Jawab Arum menjelaskan.
Bila menatap kartu nama itu dengan seksama. Andre Narendra Baldev. Apa dia Mas Andre? Tapi tidak mungkin? Mas Andre kan seorang dokter kejiwaan? Kenapa aku jadi bingung begini? Banyak pertanyaan berkecamuk dalam benal Bila saat ini.
"Aku akan membantumu!" Seru Bila setelah terdiam beberapa saat.
"Tapi mba, aku tidak mau merepotkan." Ucap Arum sungkan.
"Baiklah mba, terimakasih mba Bilaku yang cantik." Ucap Arum seraya memuji wanita di sampingnya.
Bila langsung terkekeh geli dan meminum orange juice miliknya. Kemudian memakan kue yang sangat ingin ia makan dari tadi. Arum yang melihatnya langsung tersenyum dan meminum juga orange juice miliknya.
Sementara di tempat lain, seorang pria baru saja turun dari mobilnya dan menatap sekilas bamper mobil yang rusak sebelum melangkah masuk ke dalam lobby sebuah perusahaan.
Semua mata tertuju padanya, sedangkan yang jadi objek hanya bersikap acuh dan terus berjalan menuju lift. Pesona duda tampan satu ini memang tidak diragukan lagi. Dengan ketampanan yang ia miliki dan status sebagai CEO di salah satu perusahaan yang mumpuni, sudah membuat setiap wanita bertekuk lutut padanya. Ditambah lagi imagenya yang terkenal dingin saat sedang bertugas sebagai seorang dokter spesialis kejiwaan membuat siapapun tidak pernah lepas dari jerat pesonanya.
Tapi, siapa sangka cintanya akan berlabuh pada seorang wanita cantik yang ia temui secara tidak sengaja di sebuah toko kue. Dan wanita itu juga menjadi salah satu pasiennya waktu itu. Namun Tuhan tidak membuat mereka berjodoh, karena wanita itu sudah menikah dengan pria lain. Apa dia ikhlas? Tentu saja ikhlas, tapi yang namanya perasaan tidak bisa di bohongi bukan? Setelah mendengar kembali suara sang pujaan hati, entah kenapa perasaan itu kembali menggebu-gebu. Apa dia akan egois kali ini? Kita lihat saja nanti.
Ting
Andre melangkahkan kakinya ke luar dari dalam lift. Kaki panjangnya melangkah menghampiri meja seorang wanita yang tak lain adalah sekretaris Raka.
"Permisi, apa tuan Nugraha ada di dalam?" Tanya Andre sopan.
"Ada tuan, apa sudah ada janji sebelumnya?" Adara menjawab dan bertanya balik pada pria tampan di depannya.
__ADS_1
"Saya Andre dari Baldev Company." Jawab pria itu datar.
"Maaf tuan Baldev, mari saya antar. Tuan Nugraha sudah menunggu anda di dalam ruangannya." Adara bangkit dari duduknya dan berjalan duluan diikuti oleh Andre dari belakang.
Adara mengetuk pintu ruangan Raka dan segera membukanya setelah mendapat sautan dari atasannya itu. "Permisi tuan, ada tuan Baldev." Ucap Adara sopan.
Raka langsung menatap lurus ke arah pintu dan segera bangkit berdiri dari kursi kebesarannya. "Silahkan masuk tuan Baldev." Raka mendekat dan menjabat tangan rekan bisnisnya.
"Maaf atas keterlambatan saya tuan Nugraha, karena tadi ada sedikit insiden kecil di dalam perjalan ke kantor anda." Ucap Andre dengan wajah datarnya.
"Tentu tuan Baldev, mari duduk." Raka membawa rekan bisnisnya menuju sofa yang ada di dalam ruangannya. Sementara Adara sudah menghilang di balik pintu dan bergegas ke pantry untuk membuatkan kopi.
Tak lama ia kembali masuk membawa 2 cangkir kopi dan meletakkan di hadapan kedua pria itu.
"Terimakasih nona." Ucap Andre sambil mengambil cangkir berisi cairan hitam kental itu dan menyesapnya perlahan.
Adara hanya mengangguk dan segera duduk di sofa yang bersebrangan dengan kedua pria itu. Saat ini, ia harus menggantikan tugas Aksa untuk menemani atasannya meeting. Karena asisten pribadi atasanya itu sedang meeting dengan client di luar kantor. Telinganya dengan setia mendengarkan semua yang dikatakan kedua pria yang ada dihadapannya dan sedang membahas proyek kerja sama yang akan mereka lakukan. Sesekali tangannya akan bergerak mencatat point-point penting pada meeting kali ini.
"Bagaimana menurutmu?" Tanya Raka setelah ia menyampaikan semuanya.
"Hmm, aku rasa itu menarik dan lagian kalau kita membangunnya di sana. Kita akan mendapat keuntungan dari wisatawan yang berkunjung ke sana." Jawab Andre serius.
"Bingo! Karena pembangunan cottage lebih tepat menurutku. Mengingat di sana terdapat pantai yang cantik dan banyak dikunjungi turis lokal maupun mancanegara." Raka menjelaskan dengan antusias.
"Yap, you're right. Aku setuju bekerja sama dengan perusahaanmu." Andre tersenyum tipis.
"Baiklah, aku akan menyiapkan kontrak kerja sama kita dan akan aku kirimkan ke kantormu besok." Ujar Raka seraya tersenyum samar.
Kemudian kedua pria yang terlihat seumuran itu langsung berdiri dan mereka berdua berjabat tangan tanda kerjasama antar perusahaan sudah terjalin.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Ada hal penting yang harus aku lakukan." Andre langsung melangkah ke luar diikuti Raka yang mengantarnya ke luar ruangannya.
Setelah itu, Raka kembali masuk dan Adara juga segera ke luar dari ruangan Raka karena akan membuat laporan meeting kali ini.
.
.
.
.
__ADS_1
to be continue