
Langit pagi terlihat begitu cerah, meskipun matahari belum naik ke singgasananya. Semburat kuning bercahaya sudah tampak mengiasi langit. Awan yang bertumpuk mulai menyebar bak kapas yang di cerai-berai.
Seorang wanita terlihat sedang duduk di sebuah kursi kayu yang sengaja di letakkan di dekat jendela sembari meminum susu yang baru saja ia buat. Kepalanya menoleh ke samping tatkala mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya. Dia adalah Qyara yang menatap suaminya dengan senyuman lembut.
"Kenapa ekspresi Mas kayak gitu?" Dia bertanya karena melihat ekspresi terkejut Aldi.
"Aku pikir kamu tidak akan menoleh ke arahku tadi dan aku bisa mengejutkanmu. Karena aku lihat kamu sedang melamun." Akunya jujur.
Qyara tertawa mendengar pengakuan suaminya. "Salah sendiri, kenapa melangkah menimbulkan suara?"
Aldi menhela napas dan melangkah mendekati istrinya. "Apa yang sedang dipikirkan kepala kecil ini hmm?" Ia menatap kedua mata hitam istrinya dalam.
Qyara tidak langsung menjawab, senyum di wajahnya perlahan memudar berganti menjadi ekspresi sedih yang terlihat jelas di wajahnya. "Aku merindukan Salsabila." Setelah terdiam cukup lama, suara wanita itu akhirnya terdengar juga. Walaupun nadanya terdengar sangat menyedihkan.
Aldi duduk di hadapan istrinya, meraih tangan wanita itu dan menatapnya lembut. "Kenapa kamu tidak menghubunginya?"
Benar juga, kenapa dia tidak menghubungi Bila? Malah melamun dan membuang waktunya secara percuma. Qyara terkekeh geli. "Kenapa aku jadi mendadak bodoh begini?" Gerutunya pada diri sendiri.
Aldi terbahak, istrinya benar-benar aneh. Mengakui kebodohannya sendiri, bukankah itu disebut manusia aneh? "Kamu baru saja mengakui kalau kamu itu bodoh sayang. Hahah, akhirnya kamu sadar juga." Aldi tertawa puas dan tidak menyadari istrinya sudah menatapnya dengan tatapan horror.
Qyara mendelik sebal karena ucapan suaminya. Ia segera berdiri dan bermaksud memeberi pelajaran kepada Aldi. Namun gerakannya kalah cepat dari pria itu. Sebelum tangan Qyara bertindak, Aldi sudah menghindar lebih dulu. Hal itu semakin membuat Qyara kesal.
"Mas Aldi....!" Teriaknya kesal, "awas kamu Mas, kenapa kamu sangat menyebalkan?" Tanyanya dengan nada tinggi. Kemudian mengejar pria itu.
Aldi hanya tertawa tampa merasa bersalah dan terus berlari dari kejaran istrinya. Perutnya yang sudah membesar membuat Qyara sedikit kesulitan dalam berlari, sampai kapanpun ia tidak akan bisa mengejar suaminya yang berlari hampir mengitari kamar mereka. Sebuah ide melintas dikepala Qyara. Dengan bakat akting yang ia punya, karena dulu sempat ikut theater. Sehingga melakukan hal ini tidaklah sulit baginya.
Tangannya perlahan memegang perutnya seperti sedang merasakan sakit dan kakinya berhenti berlari disertai erangan yang ke luar dari bibirnya. "Akhhh, sakitt... "
Aldi yang mendengar erangan istrinya langsung menoleh ke belakang dan mendapati Qyara sudah kesakitan. Ia awalnya ragu karena berpikir ini semua adalah akal-akalan istrinya saja. Tapi melihat keadaan Qyara yang semakin tersiksa membuat ia cemas setengah mati. Pria itu langsung berlari mendekat dan berdiri di hadapan istrinya.
__ADS_1
"Apa kamu baik-baik saja?" Tangannya terjulur ke depan dan mengangkat tubuh sang istri ke dalam gendongannya. Pria itu berjalan ke arah ranjang untuk merebahkan istrinya di sana.
"Apa yang kamu rasakan?" Tanya Aldi dengan tatapan serius. Saat itulah Qyara menyadari kalau perutnya ternyata memang benar-benar sakit.
Kerutan halus langsung tercetak di keningnya. Kenapa ini sangat sakit? Padahal aku tadi hanya pura-pura. Qyara mengusap perut buncitnya. Apa... anak ini tidak mau aku membohongi ayahnya? Dia mendengus sebal. Kenapa sifat kalian sama-sama menyebalkan? Qyara menggerutu dalam hati.
"Perutku tiba-tiba terasa sakit, tapi sekarang sudah agak mendingan." Jawab Qyara sambil tersenyum hambar. Sejujurnya saat ini ia masih sangat kesal dengan pria duduk di sampingnya ini. Rasanya ia ingin memukul wajah tampan suaminya ini. Tapi ia mengurungkan niatnya dan memilih diam tak melakukan apapun.
πππ
Senyuman tak pernah lepas dari wajah wanita itu. Seolah baru mendengarkan kabar bahagia, sehingga membuat air mukanya terlihat berseri-seri. Sementara pria tampan yang baru saja turun dari kamarnya langsung mengerutkan keningnya tatkala melihat wanitanya tersenyum senang. Ada apa? Tanyanya dalam hati, ia pun berjalan mendekat dan langsung di sambut dengan senyuman hangat oleh wanita itu.
"Morning hubby," sapanya sumringah. "Mas mau sarapan apa hari ini? Karena aku akan masak apa yang suamiku inginkan." Sambungnya tak kalah heboh.
Raka langsung melongo melihat tingkah istrinya. Iya, dia tau kalau istrinya memang rada-rada konyol bin aneh. Tapi tetap saja, tidak biasanya ia akan bertanya sarapan apa yang ia inginkan. Biasanya Bila akan memasakkan makanan yang kira-kira disukainya tampa bertanya apa-apa. Karena Bila sudah tau apa yang disukai dan tidak disukai dirinya.
Senyum Bila langsung hilang, pertanyaan konyol macam apa ini? Tanyanya dalam hati. Bila memang menganggap pertanyaan yang barusan meluncur dari mulut Raka adalah pertanyaan konyol. Dia tidak tau saja, pria itu sedang bingung saat ini.
"Aku baik-baik saja. Kenapa? Ada yang salah?"
Mendengar nada ketus dari pertanyaan yang ke luar dari mulut sang istri, membuat Raka bungkam. Ia memutar otak untuk memperbaiki mood istrinya yang sudah rusak. "Tidak ada yang salah sayang, Mas hanya heran aja lihat kamu senyum-senyum dari tadi."
Mendengar jawaban suaminya, membuat Bila langsung terkekeh. "Tadi Qyara menghubungiku, katanya dia ingin mengajak kita liburan ke Bali akhir pekan ini." Bila menatap suaminya serius. "Apa Mas bisa ikut?"
Raka terlihat sedang berpikir, "nanti Mas akan tanya ke Aksa dulu apa jadwal Mas bisa dikosongkan akhir pekan ini." Jawab Raka akhirnya.
"Pokoknya Mas harus bisa! Anggap aja kompensasi untukku, karena Mas udah tega tinggalin aku sendirian dan tidak percaya padaku." Tuturnya tegas dan tidak bisa dibantah. Kalau Raka mengelak, ia sudah tau apa yang akan ia hadapi nantinya.
Hati Raka berdenyut sakit karena Bila masih mengungkit masalah itu. Yah pada dasarnya memaafkan memang mudah, tapi melupakan kesalahan lah yang sangat teramat sulit. Sekali hati terluka, maka akan susah untuk menyembuhkannya. Apalagi wanita yang berstatus sebagai istri dan calon ibu untuk anak-anaknya itu pernah terluka sekali.
__ADS_1
Luka di hatinya juga bukanlah luka yang kecil, tapi luka yang dalam dan pasti masih membekas sampai sekarang. Meskipun dia sudah mengikhlaskan dan memaafkan orang yang sudah melukai hatinya. Bahkan berteman baik dengan istri dari orang itu. Hati manusia siapa yang tau, tidak ada seorang pun yang tau isi hati manusia selain sang pencipta.
"Kenapa? Apa Mas tidak bersedia menemaniku? Ya sudah, aku akan ajak Mas An---"
Bila tak melanjutkan kata-katanya karena Raka sudah mencapit bibir istrinya gemas. Yang benar saja, istrinya akan mengajak pria yang membuat dirinya kebakaran jenggot. Apa Bila sengaja membuat dirinya cemburu. Ah! Istrinya ini benar-benar....
"Tentu saja sweetie, Mas akan menemanimu pergi." Raka melepaskan capitannya dan langsung membungkam mulut Bila dengan mulutnya sebelum istrinya itu protes. "Udah, tidak usah galak-galak." Kecupan manis kembali mendarat di bibir merah Bila. Begitu seterusnya, setiap Bila akan melayangkan protes. Raka akan menciumnya.
Bila yang geram langsung mencubit perut kotak-kotak suami nakalnya. Benar-benar.... mencuri kesempatan dalam kesempitan. "Dasar suami mesum!" Bila mendelik sebal dengan bibir mengerucut lucu. Membuat Raka semakin gemas dengan istrinya itu.
"Mas hanya kayak gini kalau sama kamu sayang."
"Harus! Kalau sampai kayak gitu sama wanita lain. Awas aja, palonya aku potong pakai gergaji dan aku kasih sama anjing." Ancamnya dengan seringai di wajahnya.
Mendengar ancaman istrinya, membuat Raka menelan kasar salivanya dan tangannya refleks melindungi adiknya. Kemudian menatap istrinya dengan takut-takut. Oh God, istrinya terlihat sangat menyeramkan saat ini.
Bibir Bila berkedut menahan tawa karena melihat ekspresi suaminya. Ia langsung berbalik menuju lemari pendingin untuk mengambil bahan makanan yang akan ia masak. Wanita itu dengan lihai mengolah bahan-bahan tersebut hingga menjadi makanan enak. Sesekali ekor matanya memperhatikan suaminya yang terdiam tampa kata.
Apa tadi aku keterlaluan ya?
.
.
.
.
to be continue
__ADS_1