Pelangi Setelah Hujan

Pelangi Setelah Hujan
Menyadari Kesalahan


__ADS_3

Selesai sholat dan bersalaman dengan suaminya, Bila langsung berdiri tampa kata dan menuju ke sofa. Mendudukkan dirinya di sana, Bila mengambil cemilan dalam kantung plastik dan membukanya. Meskipun sedang kesal, namun makanan tetap di lahap oleh Bila.


Raka yang memperhatikan wajah kesal sang istri langsung mengernyit heran. Ada apa? Pikirnya. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri sang istri tercinta. "Kamu kenapa hmm?" Raka bertanya dengan nada lembut seraya duduk di samping Bila. Namun yang di tanya hanya diam seakan tidak mendengarkan suminya bicara dan tetap asik memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Merasa di abaikan, Raka menarik tangan Bila dan itu berhasil membuat wanita itu menoleh padanya. Detik itu juga Raka kembali bertanya. "Kamu kenapa sayang?"


"Aku baik-baik saja," jawab Bila datar dan kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Sayang! Kamu kesal sama Mas? Kamu marah? Tapi karena apa?" Raka tau istrinya sedang kesal, tapi ia tidak tau apa kesalahan yang ia perbuat sampai istrinya kesal seperti itu. Ia merasa tidak melakukan apapun yang membuat istrinya marah.


Berbeda dengan Raka, Bila justru langsung menggerutu dalam hati. Hal yang paling dibenci dari seorang pria adalah saat mereka bertanya salah mereka apa? Entah kenapa kaum adam itu mendadak amnesia dalam hal mengingat kesalahan yang mereka lakukan. Dasar menyebalkan!


Bila menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman, lalu berkata. "Bukan masalah besar, jadi lupakan saja." Bangkit berdiri dari sofa seraya melepas mukenah yang masih melekat di tubuhnya dan melipatnya. Lalu berjalan meninggalkan Raka yang masih mencerna kata-kata istrinya itu.


Saat tersadar ia sudah melihat Bila tidur di ranjang dengan posisi membelakanginya. Pria itu bangkit berdiri dan berjalan menuju ranjang untuk menghampiri istrinya. Lalu membaringkan diri di samping Bila.


"Sayang! Apa kamu sudah tidur?" Tidak ada jawaban hanya keheningan yang terasa saat itu juga. "Salsabila!" Panggil Raka lagi, karena ia yakin istrinya masih belum tidur dan pura-pura tidak mendengarkan panggilannya.


Bila yang mendengar namanya dipanggil langsung bereaksi. Ia tau tidak bisa seperti ini terus. Tapi egonya melarang untuk ia berbalik. Ah! Sungguh menyebalkan! Akhirnya ia berbalik dan menatap suaminya dalam diam. Tangannya terulur ke wajah Raka dan membelainya lembut.


"Maafkan aku, hormon ini membuat emosiku meledak-ledak dan tak terkendali." Ucap Bila dengan tatapan sendu.


Raka tersenyum lebar dan mengusap surai rambut hitam istrinya. "Mas juga minta maaf ya. Kalau Mas ada salah bilang aja, nggak apa-apa. Biar Mas tau kesalahan Mas ada dimana? Jangan tiba-tiba diam dan marah gitu aja. Apa kamu mengerti bee?"


Bila menganggukkan kepalanya. "Yes kapten, aku akan mengingatnya." Bila menelusupkan kepalanya di dada bidang suaminya seraya memejamkan mata. Ia sangat menyukai posisi ini, karena bisa menghirup aroma maskulin bercampur mint wangi khas suaminya.


Raka tersenyum lembut dan mengecup kening Bila cukup lama. Sebelum tertidur menyusul sang istri yang sudah tidur lebih dulu.


πŸ’πŸ’πŸ’


Keesokan harinya, setelah sholat subuh mereka sarapan bersama dan menyewa motor untuk dipakai berkeliling kota. Walaupun awalnya para lelaki tidak setuju karena istri mereka sama-sama sedang hamil besar. Tapi apalah daya, kedua wanita hamil itu merengek dan meminta untuk mengendarai motor saja.


Perjalanan mereka menuju ke pantai Pandawa yang terkenal akan keunikan dan keindahannya. Karena disana ada tebing batu dengan lima Pandawa, pasir putih halus dan bersih, air lautnya berwarna kebiruan dan tenang.


"Qyaa!" Tangan Bila melambai ke arah Qyara yang sedang duduk meminum es kelapanya bersama sang suami. Wanita itu ikut melambaikan tangannya dan memberikan minumannya kepada Aldi seraya beranjak berdiri untuk menghampiri Bila yang sedang berdiri di bibir pantai.


Kedua wanita itu bermain di tepi pantai sambil bersenda gurau dan mengabaikan terik matahari yang membuat mereka kepanasan. Keduanya juga mengabaikan teriakan suami mereka yang memanggil dari tadi.

__ADS_1


"Qyara!"


"Salsabila!"


Kedua wanita cantik itu tidak bisa tidak menoleh saat mendengar nama mereka dipanggil dengan penuh penekanan. Pertanda keduanya sudah kesal diabaikan dari tadi oleh istrinya.


Qyara dan Salsabila hanya bisa menyengir kuda seraya mengikuti suami masing-masing yang sudah mengomel layaknya ibu-ibu yang mengomeli anaknya. Bila yang mendengar ceramah panjang dari suminya mulai jengah dan telinganya memanas.


"Udah ngomelnya?"


Raka langsung berhenti mengoceh setelah mendengar suara dingin istrinya. "Belum! Kenapa istriku sangatlah keras kepala layaknya batu?" Mencubit gemas kedua pipi Bila.


"Aisss sakit!" Bila meringis seraya mencubit tangan suaminya yang berada di pipinya. Merasakan sengatan di tangannya, Raka melepaskan tangannya dari pipi sang istri. Kemudian memegang kedua bahu istrinya dengan tatapan dalam. Membuat tubuh Bila membeku seketika.


"Kamu siapa?"


Mendengar pertanyaan Raka membuat kedua alis Bila menyatu sepersekian detik sebelum ia mengingat sesuatu. Biasanya Raka akan menanyakan itu kepadanya dalam situasi seperti ini.


"Istri Raka Danu Nugraha." Bila menjawab dengan suara lembut.


Bila menghela napas gusar, ia sudah tau kemana arah pembicaraan suaminya itu. Matanya menunduk menatap perut besarnya dan mengelusnya pelan. "Maaf sayang," lirihnya dengan suara rendah. "Aku salah, maafkan aku." Ulangnya seraya menatap kedua mata suaminya.


Raka tersenyum hangat sembari tangannya bergerak mengelus kepala sang istri yang berbalut kerudung berwarna coklat susu dan menarik istrinya ke dalam pelukannya.


"Jangan terlalu kuat sayang, kasian si kembar kejepit." Protes Bila dengan wajah datarnya.


Raka tertawa kecil, "iya iya cerewet."


Berbeda dengan keduanya, Aldi menatap tajam istrinya yang tengah cemberut. Mulutnya sudah berbusa bercuap-cuap dari tadi, namun hanya dibalas diam seribu bahasa oleh Qyara. Ia berasa sedang bicara dengan patung dari pada manusia. Membuat pria itu kesal namun langsung berusaha meredam amarahnya dan tersenyum lembut kepada istrinya.


"Sayang, aku tau kamu marah. Tapi tadi itu panas matahari lagi terik-teriknya. Kalau kamu demam bagaimana? Ingat, ditubuhmu ada satu nyawa lagi yang sedang tumbuh dab berkembang. Please jangan egois." Aldi menghela napas berat setelah mengatakan semua itu.


Qyara langsung tertegun, tangannya terulur mengelus perutnya seraya berkata. "Maaf Mas," cicitnya dengan kepala terunduk serta air mata yang mengalir seperti anak sungai. Aldi yang melihat Qyara menangis langsung memeluk tubuh istrinya.


"Sudahlah, lain kali kalau suami bicara itu dengerin. Jangan diabaikan kayak tadi. Kalian berdua bikin kami darah tinggi lama-lama."


Padahal Aldi sedang menenangkan istrinya tapi tetap menyisipkan omelannya di sana. Mendengar hal itu tidak bisa tidak membuat senyum Qyara mengembang.

__ADS_1


πŸ’πŸ’πŸ’


Selesai sholat zuhur dan makan siang serta istirahat. Mereka sempat kembali ke hotel untuk istirahat dan mengganti pakaian yang sudah bau matahari. Apalagi Bila dan Qyara sudah tidak nyaman dengan pakaian mereka karena sudah penuh keringat. Sehingga setelah sholat asyar, mereka baru melanjutkan perjalanan menuju destinasi selanjutnya yaitu pantai Jimbaran. Rencananya mereka akan menikmati makan malam dan melihat sunset di sana. Apalagi di sana terkenal dengan hidangan seafood bakarnya membuat kedua wanita cantik itu tidak sabar untuk sampai di sana.


Mereka tiba disana diwaktu yang tepat dan segera duduk di pantai beralaskan tikar yang sudah di tata sedemikian rupa. Tak lama langit menampakkan semburat jingga menandakan matahari akan turun dari singgasanya menuju peraduannya. Pemandangannya terlihat sangat cantik dan rugi untuk tidak diabadikan dengan kamera.



"MasyaAllah, ini sungguh luar biasa indah." Gumam Bila dengan mata tak lepas memandang objek di depannya.


"Kamu benar, ini sungguh indah dan romantis. Bukan begitu?" Qyara menyaut seraya menyenggol lengan Bila.


Bila mendekat ke arah Qyara yang duduk di sampingnya seraya membisikkan sesuatu. "Kamu benar, susananya sangatlah romantis." Keduanya langsung tertawa kecil setelahnya membuat kedua lelaki yang duduk di samping kanan dan kiri mereka mengernyit heran.


"Kalian menertawakan apa?"


Keduanya kompak menggelengkan kepala serta berujar. "Tidak ada!"


Kedua lelaki itu saling pandang dan mengangkat bahu acuh. Namun dalam hati mereka siapa yang tau bahwa keduanya tengah gemas dengan tingkah istri masing-masing.


.


.


.


.


to be continue



Maaf yaaa kalau upnya lama belakangan ini. Kalian tau, author lagi berada di titik jenuh untuk nulis dan lebih banyak membaca belakangan ini.


Tapi author akan berusaha lagi yaa. Terimakasih untuk pembaca setia yang masih nungguin kelanjutan ceritanya. Maaf kalau author membuat kalian kecewa.


Peluk hangat dari author 😘😘

__ADS_1


__ADS_2