
Bila yang berada di dalam kamar mendengar semua keluhan suaminya. Ia akui dia memang salah karena tidak mengatakan apapun. Serta, bayi itu juga saat ini tidak ia susui secara langsung melainkan dengan ASI yang ia pompa setelah menyusui kedua anakknya tadi. Ia juga tidak mau mengadopsi bayi ini, karena asal usulnya tidak jelas dan pastinya yang akan disalahkan adalah suaminya.
Bila melirik bayi ditangannya sudah tertidur dan meletakkannya di atas ranjang. Kemudian, wanita itu melangkah ke luar untuk menemui suaminya.
"Mas... " Panggilnya pelan.
Raka yang masih dilanda kebingungan langsung menoleh kepada sumber suara. "Kenapa sayang, bagaimana bayinya?"
"Bayinya sekarang sedang tidur, barusan aku kasih ASI yang aku pompa tadi." Bila duduk di samping Raka.
Mendengar kata-kata istrinya, Raka langsung menoleh dengan kening berkerut dalam. "Jadi kamu tidak menyusuinya secara langsung?" Ia pikir istrinya akan menyusui bayi itu seperti menyusui anaknya tadi. Ternyata dugaannya salah, Bila tidak menyusui bayi itu secara langsung. Ah! Betapa senangnya hati Raka saat ini.
Aksa yang masih berada di sana juga ikut terkejut mendengar pernyataan Bila. Ia juga berpikir Bila akan menyusui bayi itu secara langsung melihat dari gerak-gerik wanita itu saat menggendong bayi itu tadi.
"Kenapa? Apa ada yang salah?" Bila mengernyit heran melihat kedua pria itu seperti terkejut mendengar apa yang ia katakan.
"Ahkmm, bukan apa-apa." Ya kali Raka jujur kalau ia takut istrinya akan menyusui bayi itu.
Bila menyipitkan matanya dan menatap suaminya curiga. Tapi Raka berusaha membuat ekspresinya datar se datar-datarnya agar Bila tidak bertanya lagi.
"So, kita apakan bayi itu?"
Raka dan Aksa kembali terperangah mendengar kata-kata yang meluncur dari mulut Bila. Karena semuanya di luar dugaan dan melenceng jauh dari pikiran mereka. Raka pikir istrinya akan berkata "Kita adopsi aja bayi ini bagaimana?" But, she doesn't tell about that.
"Kamu tidak berencana mengadopsinya?" Akhirnya pertanyaan itu ke luar dari mulut Raka.
Bila menggeleng dan menjawab dengan tegas tanpa ragu sedikitpun "Nope."
"Alasannya? Aku pikir kamu akan melakukan itu?"
Bila terkekeh geli dan menatap suaminya serius. "Mas pikir aku mau mengadopsi bayi yang tidak jelas asal-usulnya itu?" Nada Bila sudah tidak bisa dikatakan santai dan membuat Raka melebarkan matanya.
"Aku menyuruh Aksa membawanya ke sini hanya karena aku kasian. Lagian dia yang sudah membuat kita salah paham kan? Aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Saat ini musuh kamu masih berkeliaran di luaran sana. Aku tidak bisa menjamin mereka tidak akan melakukan apa-apa karena hubungan kita masih baik-baik saja. Itu artinya misi mereka gagal." Bila menghela napas setelah mengatakan pikirannya secara berapi-api sebelum melanjutkan kata-katanya kebali.
"Jadi, lebih baik serahkan bayi itu ke pihak berwajib. Aku tidak mau ya, kamu disalahkan karena bayi tidak jelas itu." Suaranya terdengar sinis.
__ADS_1
Raka lagi-lagi dibuat terngaga oleh istrinya. Hah! Ternyata ia tidak bisa menebak isi pikiran dan hati Bila. Semua yang ia pikirkan sangat melenceng jauh dengan yang Bila katakan. Dan apa itu tadi, dia tidak mau dirinya disalahkan karena bayi itu? Raka menatap Bila dengan tatapan lembut dan langsung memeluk istrinya itu mengabaikan bahwa masih ada satu makhluk jomblo yang ada di sana yang langsung terbatuk melihat aksi keduanya.
"Uhuk uhuk."
Plak
"Ada nyamuk ya, aduh banyak banget lagi." Aksa menepuk kedua tangannya seakan-akan sedang membunuh nyamuk dengan kedua tangannya.
"Iri bilang brother." Sindir Raka setelah melepaskan pelukannya dari Bila. "Makanya cari pasangan cepat. Biar nggak jomblo terus." Tawa Raka langsung lepas setelah mengatakan hal itu.
Aksa terdiam setelah mendengar sindiran Raka. Sungguh, sahabatnya ini sangatlah menyebalkan. Bisa-bisanya dia bahagia diatas penderitaan orang lain. Untung sayang, kalau tidak mungkin Aksa sudah menghajar sahabatnya itu.
"Jadi, bagaimana sekarang?" Tanya Aksa dengan wajah datarnya.
Tawa Raka langsung berhenti dan merubah ekspresinya menjadi mode serius. "Bagaimana apanya?"
"Bayi itu."
"Ayo kita bawa bayi itu ke kantor polisi sekarang." Putus Raka dan segera berdiri untuk mengambil bayi itu.
Raka menatap istrinya dan mencium kening Bila. "Iya sayang, kamu hati-hati di rumah ya. Jangan kemana-mana sampai aku pulang. Kalau ada yang datang jangan langsung dibukain pintu. Lihat dulu siapa yang datang."
Bila mengangguk mengerti. "Baiklah Mas, aku akan mengingat hal itu."
"Ya udah, aku pergi dulu. Assalamualaikum." Raka langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumahnya.
"Walaikumsalam." Jawab Bila dan segera masuk ke dalam rumah. Tidak lupa ia mengunci pintu dan berjalan menuju dapur.
πππ
Reihan sudah berdiri di depan pintu rumah kakaknya. Karena setelah mendarat tadi, dari Bandara dia langsung ke rumah Bila sebelum ke rumah orang tuanya.
Tangan Reihan terangkat untuk menekan bel di sudut kanan pintu. Namun tak ada jawaban dan ia menekan bel sekali lagi berharap kakaknya akan segera membukakan pintu.
Bila yang masih berkutat di dapur mendengar suara bel segera mematikan kompor dan melangkah pelan menuju ke pintu depan. Mengingat pesan suaminya tadi, Bila mengintip di jendela dan segera membukakan pintu karena ternyata adiknya yang telah berdiri di depan pintu.
__ADS_1
"Rei...?" Girang Bila dan langsung memeluk adiknya itu dan memutar-mutar badan laki-laki itu untuk memeriksanya. Hatinya sangatlah lega saat melihat adiknya baik-baik saja.
Reihan yang mendapat perlakuan seperti itu mengernyit heran dan tak lama tersenyum karena paham kakaknya khawatir. "Aku baik-baik saja kakakku sayang. Lihat." Reihan berputar-putar di depan Bila yang menghela napas lega dengan senyum terkembang indah.
"Baiklah, ayo masuk." Ujar Bila dan membawa adiknya masuk ke dalam. Tidak lupa ia mengunci pintu seperti sebelumnya.
"Kak, keponakan aku mana?" Tanya Reihan setelah mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tengah.
"Ada di dalam kamar." Jawab Bila seraya berjalan ke dapur melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
"Aku mau ketemu mereka, tapi setelah mandi." Reihan berkata sambil berjalan menuju ke kamarnya yang ada di rumah Bila.
Bila hanya tersenyum menanggapi perkataan adiknya dan kembali sibuk menyelesaikan masakannya.
πππ
Raka dan Aksa sudah berada di kantor kepolisian setempat untuk melaporkan tentang bayi itu. Raka menceritakan kronologi kejadian dan menyerahkan hasil tes DNA yang membuktikan bayi itu bukan bayinya.
"Baiklah, laporan Bapak akan kami proses. Untuk sementara waktu, bayinya akan di titipkan di Rumah Sosial Perlindungan Anak (RSPA) sampai kami menemukan siapa orang tuanya." Pak Bagus yang menerima laporan mereka segera membuat laporan tersebut.
"Terimakasih sebelumnya Pak." Raka menjabat tangan Pak Bagus diikuti oleh Aksa dan menyerahkan bayi itu ke salah satu polisi wanita yang ada di sana. Kemudian mereka berdua segera ke luar dan menuju ke mobil mereka yang terparkir di parkiran.
"Huftt selesai juga." Raka mensugar rambutnya dan menghela napas pelan seraya masuk ke dalam mobil.
"Kamu benar." Aksa mengikuti Raka masuk ke dalam mobil.
Mobil itu segera meninggalkan kantor polisi dan tampa disadari ada seaeorang yang menatap kepergian mobil itu dengan tatapan tajam dan segera melaporkan apa yang ia lihat barusan kepada seseorang disebrang sana.
.
.
.
.
__ADS_1
to be continue