Pelangi Setelah Hujan

Pelangi Setelah Hujan
Jadi, Kamu Anggap Aku Apa?


__ADS_3

Siang itu Bila sudah diizinkan pulang karena kondisinya sudah membaik. Reihan juga sudah menghubunginya, kalau dia akan pulang hari ini ke Indonesia karena pekerjaannya sudah selesai. Bila langsung lega setelah mendapat kabar dari sang adik.


Raka melirik istrinya dan tersenyum seraya mengusap kepala yang berbalut kerudung warna navy tersebut. "Udah lega kan?"


Bila menggangguk "Iya Mas," mungkin ia terlalu parno dan berpikiran yang tidak-tidak. Terbukti adiknya baik-baik saja dan akan kembali hari ini. Seakan beban berat di hatinya terangkat, Bila bisa bernapas lega.


Sampai di rumah ia turun dengan kedua lengan menggendong bayi, karena Raka membawa barang-barangnya. Kedua bayi langsung di bawa ke dalam kamar dan akan diletakkan ke dalam box bayi.


"Mas... Bantuin dong."


Raka meletakkan barang-barang yang ia bawa dan bergegas menghampiri istrinya. Mengambil salah satu bayi dan meletakkan ke dalam box bayi. Kemudian ia segera beranjak menuju tempat tidur yang masih berantakan karena ditinggal begitu saja oleh Raka.


Saat sedang membereskan tempat tidur, sepasang tangan melingkari perutnya. "Jangan terlalu capek sayang. Kamu baru melahirkan." Bisik Raka ditelinga Bila.


Bila berbalik dan menatap suaminya dalam. "Iya, kan ada Mas nanti yang bantuin aku." Matanya mengerling nakal, membuat Raka gemas dengan tingkah istrinya dan mencium pipi Bila sebanyak-banyaknya.


Disaat mereka sedang asik bermesraan, suara dering ponsel Raka terdengar nyaring. Membuat pria itu terlihat kesal karena ada yang mengganggu kesenangannya.


"Walaikumsalam, ada apa?"


Terdengar nadanya yang sangatlah tidak ramah pertanda ia sedang kesal. Bila terkekeh geli melihat kekesalan suaminya dan kembali membereskan tempat tidur.


"Siapa Mas?"


Bila langsung memutar badan saat melihat suaminya berjalan ke arahnya.


"Aksa." Jawabannya singkat padat dan tidak ada tambahan apapun yang dibalas dengan beroh ria oleh Bila. "Kamu nggak mau tau apa yang Aksa bicarakan di telphon?" Raka mengangkat satu alis dan menatap istrinya dengan tatapan serius.


Kening Bila mengkerut mendapat pertanyaan itu dari suaminya. Karena biasanya ia juga tidak bertanya apa yang ia bahas dengan asistennya itu. Tapi kali ini kenapa dia bertanya? Bila benar-benar heran dibuatnya.


Melihat ekspresi heran istrinya, Raka langsung meraih tangan Bila dan menatap lurus ke mata Bila. Membuat wanita itu mau tak mau berdiri kaku di hadapan Raka. "Barusan, Aksa memberitahukan hasil tes DNA bayi itu... "


Deg


Jantung Bila mendadak berdegup kencang, ia merasa tidak siap mendengar apa yang akan dikatakan suaminya. Walaupun demikian, mau tidak mau ia harus mendengarkan kata-kata suaminya. Bila menghela napas berat dan memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan hasilnya.


"Aksa mengatakan, kalau bayi itu... " Raka menjeda kalimatnya dan Bila menahan napas. Raka memperhatikan ekspresi istrinya yang tegang ia langsung tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya.

__ADS_1


"Kenapa ketawa? Apa ada yang lucu?" Bila bersedekap dengan tatapan galaknya.


Raka langsung menghentikan tawanya karena melihat tatapan galak istrinya. Tangannya terulur dan mengusap kepala Bila yang sudah tidak berbalut kerudung, karena ia sudah melepasnya.


"Kamu lucu sayang, kenapa tegang gitu sih? Sampai nahan napas segala." Raka terkekeh dan Bila langsung memerah karena ketahuan kalau ia menahan napas saat mendengar kata-kata suaminya.


"Habisnya, kamu ngomongnya gantung-gantung gitu. Bikin aku kesal aja." Bila langsung mengamuk setelah dibuat kesal oleh suaminya.


"Ya udah, maafin aku ya sayangku. Kali ini aku akan ngomong serius dan nggak akan bercanda lagi." Raka meraih pundak Bila dan menariknya agar menghadap ke arahnya. "Bayi itu, bukan anakku."


Mata cantik Bila langsung melotot tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Benarkah?" Tanyanya dengan nada ceria. Terlihat jelas ia senang dengan berita itu.


"Tentu sayang, kamu kelihatannya senang banget."


Senang? Tentu saja ia senang, hasil tes DNA itu membuktikan kalau suaminya sama sekali tidak pernah selingkuh di belakangnya. Menilik hal itu membuat Bila berpikir, siapa yang sebenarnya melakukan semua itu? Kenapa dia ingin hubungan dia dan Raka hancur dengan menggunakan bayi yang tidak bersalah itu? Apa suaminya punya musuh? Tapi siapa? Setaunya Raka selama ini tidak pernah menyinggung siapapun.


Aneh! Tapi, dengan kejadian ini Bila mengambil kesimpulan. Kalau ada musuh yang tengah mengintai suaminya dan sedang menunggu kejatuhan suaminya. Melihat caranya yang kotor dan licik, yang pasti orang ini bukanlah lawan yang mudah. Karena ia tau apa kelemahan Raka. Dengan membuat rumah tangga Raka berantakan, otomatis Raka akan ikut hancur karena kehilangan keluarga tercintanya. Kalau itu terjadi, perusahaan akan ikut terganggu dan yang akan mendapat keuntungan adalah saingan bisnis Raka. Ya benar, pelakunya adalah saingan bisnis Raka.


"Kenapa sayang? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Melihat kening istrinya berkerut, membuat Raka tidak bisa tidak bertanya kepadanya.


Raka terkejut mendengar pertanyaan istrinya. Ia tidak menyangka Bila akan menanyakan hal itu. Setelah membasahi tenggorokannya yang kering, pria tampan itu segera menjawab pertanyaan istrinya. "Musuh apa? Aku nggak punya musuh."


"Jangan bohong Mas, aku tau Mas sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Apa ini berhubungan dengan masalah waktu kita pergi ke Bali?"


Ya benar, Bila mengingat bagaimana gelisahnya Raka hari itu. Sehingga mereka harus pulang karena Raka ada masalah di kantornya.


"Apa dia orang yang sama, yang membuat hubungan kita hampir berantakan?"


Raka terdiam seribu bahasa, karena pertanyaan istrinya. Bila bisa menganalisis dan mengaitkan semua masalah yang terjadi sehingga ia menanyakan hal itu. Raka masih tenggelam dalam pikirannya sampai ia mendengar istrinya kembali bicara.


"Karena Mas diam, aku simpulkan ada orang yang sedang mengusik suamiku. Siapa dia Mas?"


Raka masih bungkam dan tidak mengatakan apapun. Pikirannya kacau dan tidak tau harus mulai dari mana menjelaskan kepada Bila.


"Aku akan tanyakan kepada Aksa, kalau Mas memang nggak mau kasih tau aku." Bila meraih ponsel Raka yang tergeletak di atas kasur dan mendial nomor Aksa.


"Hallo... "

__ADS_1


"Om David."


Terdengar suara Aksa dari sebrang sana berbarengan dengan suara Raka yang menjawab pertanyaan Bila. Aksa terdiam dan Bila menoleh ke arah suaminya.


Om David? Bila berpikir sejenak, matanya membulat. "Jadi dia Om kamu yang brengsek itu?" Bila bertanya untuk memastikan pendengarannya tidak salah.


Raka mengangguk lemah "Iya, dia Om David adik Papa."


Bila langsung emosi mendengar pengakuan suaminya. Pantas saja caranya begitu kotor dan licik. Ternyata pelakunya adalah tua bangka licik itu. Bila mengetahui dengan jelas bagaimana pria itu mengambil perusahaan Papa Yoga yang seharusnya menjadi milik Raka. Sekarang melihat keponakannya sukses, dia ingin menghancurkan keponakannya itu. Bila tidak bisa menerima semua ini, ia tidak terima suaminya diusik dan diganggu.


Lihat saja kau tua bangka, aku tidak akan membiarkanmu menang. Aku akan membuat kau menderita kekalahan sampai kau tidak bisa bangkit lagi. Bila bersumpah dalam hati.


Melihat ekspresi istrinya yang terlihat menakutkan. Raka tidak bisa membantu, tapi tulang punggungnya terasa dingin. Apalagi melihat seringai istrinya, membuat wanita itu terlihat cantik sekaligus menakutkan secara bersamaan. Seolah-olah, kalau David ada di hadapannya. Wanita itu akan mencabiknya seperti singa betina yang sedang kelaparan.


Raka menelan ludah dan mendekati istrinya. "Sayang, jangan emosi. Tarik napas dalam-dalam, hembuskan." Raka berusaha meredakan gejolak emosi yang sedang melanda istrinya. Ia tidak mau, singa betinanya mengamuk saat ini.


"Kenapa kamu tutupi semuanya dari aku?" Bila menatap tajam suaminya.


Kan? Baru saja ia berharap singa betinanya tidak mengamuk. Tapi semuanya terlambat, Bila benar-benar sudah emosi tingkat tinggi. Ia kecewa karena suaminya tidak mengatakan apapun kepadanya. Setidaknya dengan Raka menceritakan masalahnya, ia bisa membantu. Sekurang-kurangnya beban itu bisa dibagi dan tidak dipendam sendiri. Ia merasa tidak dibutuhkan, hal itu semakin membuat emosinya membumbung tinggi. Apalagi setelah mendengar jawaban Raka, semakin membuat Bila sesak napas karena luapan emosinya.


"Aku nggak mau kamu kepikiran sayang." Raka membela diri. Tapi benarkan? Ia memang tidak mau Bila stress kalau tau Omnya berulah.


"Jadi, kamu anggap aku apa? Pajangan? Atau boneka tampa emosi?" Bila meledak karena amarah. "Aku istri kamu Mas, seharusnya kamu cerita kalau ada masalah. Jangan di pendam sendiri!" Bila berbalik dan berlari ke luar kamar. Ia pergi ke kamar lama mereka dan menguncinya dari dalam.


Damn


Raka menggeram dalam hati, baru kali ini ia melihat Bila semarah itu. Matanya melirik kedua anaknya, karena takut mereka akan bangun karena teriakan Bila barusan. Ia langsung menghembuskan napas lega, karena keduanya masih tertidur pulas.


.


.


.


.


to be continue

__ADS_1


__ADS_2