
Beberapa saat yang lalu, Bila baru saja sampai di pekarangan rumahnya. Mematikan mesin mobilnya, ia mengambil tas dan membuka pintu mobil. Saat akan menutup pintu mobil, ponselnya bergetar dan dengan demikian alisnya berkerut saat melihat id penelpon.
Kania menghubungi Bila setelah mengetahui penangkapan suaminya. Ia juga menanyakan bagaimana keadaan Raka. Karena bagaimanapun, Raka sempat menjadi keponakannya.
"Bagaimana keadaan Raka saat ini?" Tanyanya dengan suara lembut.
"Mas Raka masih belum sadar mba."
Setelah bertukar beberapa patah kata, Bila mengakhiri panggilan telpon dan langsung melangkah ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamarnya.
"Apakah mereka rewel bik?"
Langkahnya berhenti dan mengarahkan pandangannya ke arah bik Nah yang baru muncul dari dapur.
"Alhamdulillah kedua tuan kecil tidak rewel non." Panggilan bik Nah untuk Bila memang tidak berubah menjadi nyonya muda karena ia sudah terbiasa dan memang menyaksikan wanita itu tumbuh.
"Baiklah." Menenteng tasnya, ia berjalan ke dalam kamar dan menghampiri tempat tidur anak-anaknya setelah meletakkan tas dan ponsel di atas ranjang.
Di dekat jendela sebuah rumah mewah, seorang wanita berdiri dengan senyum cerah di wajahnya. Setelah menghubungi Bila, Kania langsung menghela napas lega karena ia akan bisa berkumpul kembali dengan anaknya. Namun ia cukup terkejut setelah mendengar kondisi keponakan suaminya itu.
Setelah berita penangkapan David tersebar, banyak perusahaan yang bekerjasama dengan Nugraha company langsung menarik diri dan menarik semua investasi yang mereka lalukan untuk bekerjasama dengan perusahaan tersebut.
Para pemegang saham mulai panik dan ada beberapa yang menjual saham mereka. Sementara executive senior mulai berpaling dan meninggalkan perusahaan. Hanya beberapa executive senior yang sudah berada di perusahaan sejak awal dan berteman dengan Yoga yang masih bertahan. Karena mereka tidak berharap perusahaan benar-benar bangkrut.
"Bagaimana menurutmu? Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Seorang pria paruh baya yang masih terlihat muda menatap beberapa rekannya yang masih bertahan di perusahaan itu.
"Apakah kamu pernah mendengar kabar kalau anak tuan Yoga masih hidup?" Pria yang duduk disebelahnya teringat sesuatu saat melihat seorang pria yang berpenampilan serupa seperti atasan mereka yang sudah meninggal. Selama ini ia berusaha menyelidikinya, namun ia sama sekali tidak mendapatkan informasi apa-apa. Sehingga ia menghentikan pencariannya.
Beberapa rekan yang lain menatap ke arah orang yang baru saja bicara dengan tatapan penuh tanya. "Saya pernah mendengar kalau ada seorang pengusaha muda yang mempunyai nama belakang keluarga Nugraha. Namun selama ini, dia jarang tampil di depan umum dan hanya meminta asistennya yang mengurus semuanya." Ujar salah satunya. "Kalau tidak salah ingat dia pernah hadir dalam pesta pernikahan putri tuan Randi. Tapi tidak ada yang tau kalau dia adalah putra tuan Yoga. Apalagi tidak ada yang mengkonfirmasi perihal kebenarannya." Imbuhnya sambil termenung.
"Jadi dimana dia sekarang?" Tanya salah satu orang yang dari tadi tidak bicara. Matanya berkedip dengan harapan. "Kalau kita bisa bertemu dengannya dan membujuknya agar mengambil alih perusahaan. Perusahaan akan terselamatkan." Imbuhnya penuh semangat.
__ADS_1
Tidak ada yang menjawab karena mereka memang tidak tau keberadaan Raka dan tidak tau pria itu masih terbaring di Rumah Sakit. Ekspresi penuh harap dari wajah pria itu langsung lenyap dan mereka semua tenggelam dalam pikiran masing-masing.
πππ
Di Rumah Sakit kondisi Raka tiba-tiba memburuk dan pihak Rumah Sakit langsung menghubungi keluarganya. Aksa yang baru saja sampai setelah mengurus pekerjaan di kantor langsung bergegas ke ruangan Raka hanya untuk melihat dokter sedang melakukan CPR karena Raka mengalami gagal jantung.
Seakan melihat pemandangan yang mengerikan. Aksa sama sekali tidak bisa bergerak dan hanya menatap ke dalam dengan mata berkaca-kaca. Pria dingin dan kaku itu merakan hidungnya masam dan air mata menggenang di pelupuk matanya.
Sudah hampir 5 menit, namun tidak ada tanda-tanda jantung Raka kembali berdetak. Sehingga dokter segera mengumumkan kematiannya. Detik itu juga Aksa yang perkasa langsung ambruk dan menyandar di dinding dengan mata merah.
Jimmy yang hendak melihat keadaan Raka langsung dihadapkan dengan kenyataan bahwa sahabatnya sudah pergi untuk selamanya. Apalagi saat ini ia menatap Aksa yang duduk di lantai dengan tatapan tampa nyawa.
Beberapa menit yang lalu Bila sedang bermain dengan kedua jagoannya dengan bahagia sebelum ponselnya berdering dan ekspresi Bila langsung berubah berbarengan dengan lepasnya ponsel dari genggaman tangannya.
"Baik saya akan segera ke sana." Ujarnya dengan suara gemetar setelah tersadar saat mendengar suara dari ponselnya dan ia segera mengambil ponselnya yang terjatuh.
Menatap kedua anaknya, ia berusaha menenangkan diri dan mengambil gendongan untuk membawa keduanya. Walaupun kesusahan ia membawa keduanya dengan tergesa-gesa. Bahkan ia tidak mengganti pakaian rumahnya dan hanya menyambar jaket dan kerudung instan.
Merasakan tatapan yang terarah padanya, membuat Bila menurunkan matanya untuk bertemu dengan tatapan polos kedua anaknya. Bila memaksakan senyumnya dan kembali fokus dengan kemudinya.
Sampai di Rumah Sakit, ia langsung memarkirkan mobil dan berjalan masuk ke dalam dengan langkah yang tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Apalagi dia sedang menggendong dua bayi dalam gendongannya.
Sampai di dekat ruangan Raka, ia tidak berharap melihat pemandangan yang membuat hidungnya semakin masam dan ia bisa menebak apa yang sudah terjadi. Apalagi tatapan kosong Aksa dan ekspresi linglung Jimmy, ia langsung berjalan menghampiri mereka dengan harapan dugaannya salah dan suaminya baik-baik saja.
Namun harapannya hancur saat melihat ke dalam ruangan. Di sana ia melihat dokter melepas peralatan yang menempel di tubuh suaminya dan perawat menarik kain putih menutupi seluruh wajah suaminya.
Hati Bila seakan diremas oleh tangan tak terlihat dan jantungnya seakan berhenti berdetak ketika menyaksikan belahan jiwanya terbujur kaku. Perlahan ia melangkah ke dalam bersama kedua anaknya yang menatap lurus ke arah pria yang terbaring kaku di tempat tidur.
"Dokter, kenapa peralatan suami saya di cabut?" Bila bertanya dengan suara gemetar. Ia tau suaminya sudah pergi, tapi logikanya menolak untuk mengakui kalau suaminya sudah tiada.
"Maaf nyonya, kami sudah berusaha semampu kami. Namun Tuhan berkehendak lain dan tuan Raka tidak bisa kami selamatkan." Ucap dokter penuh sesal.
__ADS_1
Bila terisak dan berjalan semakin dekat ke ranjang. "Dokter, saya mau bicara dengan suami saya. Kalian boleh pergi." Dengan itu ia mengusir semua orang pergi dari dalam ruangan suaminya.
Setelah semua orang pergi, Bila duduk di kursi di sebelah ranjang dan membuka penutup wajah suaminya. Dengan tangan gemetar, ja membelai wajah dingin suaminya yang sangat pucat. Air matanya langsung tumpah tampa bisa dibendung lagi. Setelah puas membelai wajah tampan Raka. Bila menautkan jari-jarinya dengan jari suaminya. Tangan suaminya masih terasa hangat meskipun ia sudah dinyatakan meninggal beberapa menit yang lalu.
"Sayang... " Bila memanggil suaminya dengan suara lembut. "Kenapa kamu masih tidur?"
"Sayang, lihat aku bawa kedua jagoan kita. Katanya mereka sangat merindukan daddynya. Daddy cepat bangun dong, biar bisa main lagi sama kita." Suara Bila bergetar karena ia sudah menangis dengan sedih
"Kenapa kamu pergi tanpa pamit? Kenapa kamu tinggalin kita mas?" Suaranya benar-benar serak dan kedua bayinya mulai gelisah.
"Sayang... Asal kamu tau, aku lebih memilih agar aku yang pergi lebih dulu dari pada kamu. Karena aku benar-benar tidak sanggup kehilangan kamu mas."
"Sayang..." Bila menangis dalam diam dan bangkit dari kursinya. "Aku mencintaimu dan akan selalu begitu. Terimakasih sudah memilihku menjadi istrimu dan terimakasih sudah menjadi suami terbaik untukku." Bisiknya dan mencium kening Raka cukup lama. Sehingga air matanya tidak sengaja jatuh membasahi wajah Raka.
Tak lama kedua bayinya menangis keras dan saat Bila menegakkan tubuhnya, tangan Zayyan menarik rambut ayahnya. Bila mengulurkan tangannya dan melepaskan genggaman tangan Zayyan di rambut Raka.
Bila kembali duduk dan berusaha menenangkan kedua anaknya. Sehingga ia tidak memperhatikan keanehan yang terjadi pada suaminya yang sudah dinyatakan meninggal. Saat air mata Bila menyentuh wajahnya, bulu matanya bergetar dan saat Zayyan menarik rambutnya tadi, keningnya sedikit berkerut. Keanehan itu benar-benar luput dari tatapan Bila, sehingga ia tidak bereaksi sama sekali.
Bila memutar tubuhnya membelakangi pintu dan membuka kancing bajunya untuk menyusui kedua anaknya. Meskipun hatinya hancur, ia berusaha menampilkan senyum saat menatap kedua anaknya yang sedang ia susui.
"Sayang... Mommy janji, mommy akan selalu ada untuk kalian. Meskipun daddy nggak sama kita lagi, mommy... hiks mommy.... " Kata-kata Bila disela oleh suara berat dan lemah seseorang membuat wanita itu membeku di tempat.
"Bee... "
.
.
.
.
__ADS_1
to be continue