Pelangi Setelah Hujan

Pelangi Setelah Hujan
Sesuatu yang Menyakitkan


__ADS_3

Sampai di rumah, mereka disambut oleh Aksa yang memang sedang menunggu kedatangan Raka untuk melaporkan apa yang sudah ia laksanakan.


"Tuan, nyonya." Sapa Aksa sopan saat melihat keduanya turun dari mobil. Sebenarnya Raka sudah meminta Aksa untuk tidak terlalu formal kepadanya saat di luar. Tapi terkadang pria itu tidak mengindahkannya. Biasanya dia akan memakai bahasa informal saat ia memarahi Raka kalau sedang keras kepala.


"Hmmm." Raka hanya bergumam.


"Hai Aksa, apa kamu menunggu lama?" Bila melambaikan tangannya sambil tersenyum manis pada asisten suaminya itu.


"Belum terlalu lama sebelum kalian datang." Dia menjawab dengan sopan.


"Ohh baiklah, mari masuk." Bila melangkah masuk bersama Raka dengan Aksa mengikuti di belakangnya.


Sampai di dalam, Raka menuju ke ruang kerjanya bersama Aksa dan Bila menuju ke kamarnya. Namun sebelum itu dia bertanya sesuatu kepada mereka.


"Apa kalian mau minum kopi?"


Raka berpikir sejenak, karena sepertinya ia akan lebur malam ini menyelesaikan permasalahan yang terjadi di perusahaannya.


"Kalau kamu tidak keberatan buatkan aku kopi hitam ya sayang." Setelah mengatakan itu Raka masuk ke dalam ruang kerjanya. Sementara Aksa masih berdiri karena Bila sedang menatapnya saat ini dan membuka mulutnya seperti akan mengatakan sesuatu.


"Kamu mau minum apa?"


"Tidak perlu repot, tapi kalau ditawarkan aku mau cappuccino."


Bila terkekeh geli "Baiklah, akan aku buatkan." Dia berjalan ke dapur untuk membuatkan kopi untuk kedua lelaki itu. Sementara Aksa segera memasuki ruangan kerja sebelum kena semprot singa galak.


Setelah mengantarkan kopi ke dalam ruang kerja, Bila masuk ke dalam kamar mereka yang terletak di dekat tangga. Sebenarnya kamar tidur mereka ada di lantai dua. Akan tetapi seiring bertambahnya usia kandungan sang istri membuat Raka khawatir dan memutuskan menjadikan kamar di lantai bawah menjadi kamar mereka.


Bila merasakan tubuhnya sangat lelah dan memutuskan untuk berendam air hangat. Merasa tubuhnya kembali rileks, Bila ke luar dari bak mandi dan memakai jubah mandinya. Melangkah ke luar ia menemukan suaminya belum kembali ke dalam kamar. Sepertinya pekerjaannya belum selesai dan kemungkinan akan kembali ke kamar tengah malam.


Bila mendesah pelan dan melangkah ke walk in closet mengambil gaun tidur yang nyaman. Memakainya, ia melangkah ke meja rias dan mengeringkan rambutnya.


πŸ’πŸ’πŸ’


Tengah malam Raka masuk ke dalam kamar yang gelap dan melihat bayangan istrinya yang tertidur lelap di ranjang. Pikirannya melayang kepada pembicaraan yang ia lakukan dengan Aksa.


"Bagaimana?"


Hanya satu kata, namun Aksa sudah berkeringat dingin membayangkan apa yang ia lihat tadi saat membebaskan sandra yang ditahan oleh David.


"Aku sudah membebaskan sandra dan mengirim mereka pulang dengan selamat. Namun... " Aksa menjeda dan memperhatikan ekspresi Raka yang sedang menatapnya dengan tidak sabaran. "Namun kondisi mereka sangat memprihatinkan." Lanjut Aksa dengan ekspresi suram.

__ADS_1


Ekspresi Raka langsung berubah gelap, rahangnya mengetat dan tangannya terkepal erat. "Apa separah itu? Bagaimana kondisi keluarga Randi? Aku dengar istrinya sedang hamil tua."


"Kondisi kedua orang tua Randi sangat parah dengan luka memar dimana-mana. Adiknya hampir sekarat dan untung saja mereka tidak melakukan apapun untuk menodai gadis itu. Sementara istri Randi harus dilarikan ke rumah sakit karena pendarahan dan harus segera dioperasi."


Brak


Mendengar penuturan Aksa membuat emosi Raka meledak. Saat ini ekspresinya benar-benar menakutkan seperti singa jantan yang kelaparan dan siap menelan mangsanya bulat-bulat. Auranya sangat dingin dan membuat ruangan itu seakan membeku.


Aksa merasakan punggungnya terasa dingin dan tidak bisa berbuat banyak untuk meredakan kemarahan Raka.


"Lalu bagaimana keadaan istrinya sekarang? Apa keduanya baik-baik saja?" Raka tidak bisa membayangkan kalau sampai semua itu terjadi kepada istrinya dan ia berada di posisi Randi. Mungkin ia akan membumi hanguskan siapa saja yang menyebabkan istrinya terluka.


"Beruntung ibu dan bayi selamat."


Tidak bisa dipungkiri, kedua lelaki itu menghela napas lega. Terutama Raka yang merasakan beban yang ada di hatinya sedikit terangkat.


"Aku rasa om David tidak akan menyerah begitu saja. Aku khawatir dia akan menargetkan nyonya Bila."


Telinga Raka memanas, bukan tidak mungkin kakak lelaki ayahnya itu akan menargetkan istrinya. David adalah orang yang jahat melebihi iblis. Pria itu tidak segan-segan melakukan apapun agar jalannya mulus dan semua yang ia inginkan tercapai. Sementara itu dia tau kalau keponakannya sudah menikah. Jadi Raka sangat yakin istrinya cepat atau lambat akan diincar oleh pria tua itu.


"Menurutmu, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak akan membiarkan pria busuk itu mendekati istriku." Raka menatap Aksa yang saat ini berdiri di hadapannya.


"Karena tuan tidak akan selalu berada di sisi nyonya 24 jam. Sebaiknya kalau nyonya ke luar ia harus di kawal oleh pengawal yang professional." Aksa menyampaikan sarannya, karena ia juga tidak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada Bila dan calon keponakannya.


"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu." Aksa segera meninggalkan ruang kerja Raka.


Mengingat semua itu membuat jantung Raka berdenyut sakit. Ia naik ke atas ranjang dan berbaring di sebelah istrinya. Menatap wajah damainya yang terlihat samar terkena sinar bulan. Raka membenamkan wajahnya di ceruk leher Bila dan menggumamkan sesuatu.


"Aku tidak tau apa yang akan aku lakukan kalau sampai terjadi sesuatu kepadamu."


Bila menggeliat kecil dan berbalik ke arah Raka, kemudian mengulurkan tangannya untuk memeluk suaminya. "Aku akan baik-baik saja." Gumamnya dengan suara rendah. Bila sebenarnya sudah bangun dari saat Raka baru memasuki kamar dan berdiri layaknya patung di tepi ranjang. Pikirannya bertanya-tanya tentang apa yang sedang dipikirkan suaminya sampai ia berdiri kaku selama hampir setengah jam. Namun Bila hanya diam di atas kasur sambil memperhatikan suaminya. Saat Raka naik ke ranjang dan merebahkan dirinya disampingnya, Bila menutup matanya seolah-olah ia masih tidur. Ia merasakan tatapan sendu suaminya saat menatapnya.


Saat Raka membenamkan wajahnya di lehernya, Bila hampir berteriak kaget. Namun ia langsung mengernyit ketika mendengar gumaman rendah suaminya. Seakan berbisik dan tidak ingin ia tau. Ada apa? Apa terjadi sesuatu? Sehingga Bila memutar tubuhnya dan bergumam rendah untuk menenangkan suaminya yang sedang gelisah. Entah kenapa saat mendengar gumamannya hatinya tidak bisa tidak gelisah. Seakan ia ikut merasakan kegelisahan yang dirasakan suaminya.


Raka yang mendengar gumaman istrinya langsung terkejut. "Kamu bangun? Apa aku mengganggu tidurmu?"


Bila menggeleng pelan pertanda ia tidak terganggu sama sekali. "Apa Aksa sudah pulang?" Bila sebenarnya ingin bertanya tentang apa yang dipikirkan suaminya, apa yang membuat dia gelisah? Alih-alih bertanya itu, Bila malah bertanya tentang Aksa.


"Iya, dia sudah kembali beberapa saat yang lalu."


"Baikalah, tidur! Besok Mas ke kantor kan?" Bila menatap suaminya dan langsung dijawab gumaman oleh Raka.

__ADS_1


"Hmmm."


Raka meraih dagu istrinya dan memberikan ciuman ringan di bibirnya. Kemudian keduanya tertidur lelap.


πŸ’πŸ’πŸ’


Dugaan Aksa terbukti benar, selama beberapa hari Bila selalu diintai dan berusaha didekati oleh beberapa pria tak dikenal. Namun karena ia selalu di dekat pengawal yang ditempatkan oleh suaminya. Sehingga mereka tidak bisa mendekati Bila. Sampai-sampai Arum berdecak kagum atas penjagaan yang diberikan Raka kepada istrinya. Membuat gadis itu berkhayal memiliki pendamping seperti itu.


Ditengah lamunannya, wajah pria arrogant yang meminta ganti rugi dengan nilai yang tidak masuk akal muncul di hadapannya. "Kenapa aku jadi membayangkan pria menyebalkan itu? Dasar pria idiot! sombong!" Arum mengomeli dirinya sendiri dan memaki pria itu, lalu beranjak masuk ke dalam ruangannya sendiri.


Tampa ia tau, pria yang baru saja ia maki tersedak saat sedang meminum air putih.


"Apa tuan baik-baik saja?" Tanya seorang wanita yang merupakan sekretaris Andre dan sedang berada di dalam ruangannya.


"Ahmm, Saya baik-baik saja." Andre berdehem pelan setelah menelan air putih yang ia minum. Siapa yang memakiku? sambungnya dalam hati. Seandainya Andre tau siapa yang memakinya, entah apa yang akan ia lakukan.


Mengetahui kegagalan dalam rencana mendekati istri keponakannya. David tidak putus asa dan merubah rencananya. Dengan smirks yang terpatri di wajahnya, David berkata. "Jangan salahkan aku Raka karena harus bermain licik. Salahkan dirimu, kenapa begitu pintar dalam menghadapiku."


Tidak sadarkah David kalau dia sangatlah bodoh. Tentu saja Raka akan sangat pintar dalam menghadapi rubah licik seperti Omnya itu. Namun Raka tidak tau apa yang sedang direncanakan pria tua itu kali ini akan membawa bencana bagi hubungan Raka dan Bila.


πŸ’πŸ’πŸ’


Seperti biasa, setiap pagi semenjak usia kandungannya semakin mendekati waktu untuk melahirkan. Bila akan melakukan jalan pagi disekitar kompleks perumahannya. Biasanya ia akan meminta Raka untuk menemaninya, tapi kali ini ia meilih pergi sendiri karena suaminya terlihat sangat lelah karena semalam pulang hampir mendekati dini hari.


Alangkah terkejutnya Bila saat membuka pintu ia menemukan keranjang bayi terletak rapi di depan pintu. Bayi mungil itu tertidur pulas dan ada sepucuk surat di dekat tubuh bayi itu. Bila menurunkan tubuhnya dan mengambil surat itu.


Bak tersambar petir disiang bolong, kaki wanita itu langsung kehilangan kekuatannya dan terduduk di lantai. Ia tidak pernah menyangka akan mendapatkan kejutan seperti ini. Dengan perasaan hancur, ia membawa bayi itu masuk dan meletakkan di samping suaminya yang masih tertidur pulas. Kemudian ia segera pergi meninggalkan rumah dengan mengendarai mobilnya.


Di dalam mobil Bila meraung dan menangis sejadi-jadinya. Hatinya hancur berkeping-keping mengingat isi surat yang ia baca tadi.


"Aku titipkan bayi ini padamu, karena aku tidak mau mengurusnya. Kamu hanya menikmati tubuhku dan meninggalkanku layaknya wanita bayaran. Dasar pria brengsek!"


Dada Bila sesak seakan ribuan jarum menusuk dadanya. Ia benar-benar terpukul dengan kenyataan yang ia dapatkan. Apa kesalahanku ya Allah? Kenapa aku harus mengalami kekecewaan yang menyakitkan seperti ini sekali lagi? Bahkan ini lebih menyakitkan.


"Bila? Ada apa? Kenapa kamu seperti ini?"


.


.


.

__ADS_1


.


to be continue


__ADS_2