Pelangi Setelah Hujan

Pelangi Setelah Hujan
Tidur Panjang


__ADS_3

Jam dinding sudah menunjukkan waktu tengah malam. Namun hal itu tak kunjung membuat mata pria tampan dengan penampilan berantakan itu terpejam. Matanya masih setia menatap ke arah brangkar yang menjadi tempat istirahat istri tercinyanya dengan bantuan peralatan yang menempel di tubuhnya untuk menopang keberlangsungan hidupnya.


Beberapa jam yang lalu ia sadar dari linglungnya saat mendengar tangisan kedua anaknya yang menangis seakan tau ibunya sedang tidak baik-baik saja.


Yahh dia adalah Raka, yang harus siap menghadapi kenyataan pahit bahwa istrinya yang baru saja selesai operasi dan melewati masa kritisnya dinyatakan koma. Hal itu dikarenakan pisau yang menusuk tubuh Bila mengenai titik vital wanita itu. Sehingga membuat nyawanya dalam bahaya.


Flashback on


Aksa yang akan menjawab pertanyaan bu Sukma langsung terhenti saat melihat lampu ruangan operasi mati dan tak lama pintu ruang tersebut terbuka dan dokter yang menangani operasi Bila keluar bersama dokter yang lain.


"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya bu Sukma dengan air mata yang berusaha ia tahan.


Dokter tersebut menghela napas sebelum menjawab pertanyaan keluarga pasien. "Alhamdulillah operasinya berjalan lancar dan berhasil melewati masa kritisnya." Jelas dokter tersebut yang membuat semua orang mengela napas lega. Tapi tidak berlangsung lama setelah mendengar kelanjutan sang dokter. "Tapi mohon maaf sekali saya harus menyampaikan ini. Dikarenakan keadaan pasien yang sempat mengalami gagal jantung sebanyak dua kali. Sehingga saat ini ia dinyatakan koma."


Bu Sukma terdiam sebentar sebelum pertahanan yang ia bangun sejak tadi hancur berkeping-keping. Saking tidak kuatnya, matanya langsung buram dan detik itu juga ia tak sadarkan diri.


"Ibu...!" Teriak Reihan spontan saat melihat ibunya jatuh tak sadarkan diri. Si kembar langsung menatapnya dengan kening berkerut seolah paham dengan situasi yang sedang terjadi. Mata keduanya mulai berkaca-kaca namun luput dari perhatian Reihan.


"Suster! Tolong bawa beliau ke UGD." Perintah dokter tersebut kepada salah satu perawat yang baru saja keluar dari ruang operasi.


"Baik dok." Perawat tersebut hendak pergi untuk memberitahu temannya untuk membawa brangkar. Namun terhenti saat melihat salah satu pria menggendong tubuh wanita paruh baya tersebut.


"Pimpin jalan." Ucapnya datar.


"Makasih." Lirih Reihan saat bertatap mata dengan mata pria itu yang tak lain adalah Aksa.


"Hmm." Aksa mengangguk dan segera mengikuti perawat yang sudah berjalan menjauh.


Sementara Raka masih terdiam dengan tatapan kosong. Melihat hal itu membuat Reihan tersenyum miris. Ia pun berjalan mendekat ke arah kakak iparnya itu dan mendudukkan dirinya di sebelah Raka.


Sementara si kembar semakin mengerutkan bibirnya ke bawah dan tak lama tangis keduanya pecah. Membuat Raka yang masih setia dengan lamunannya langsung menoleh.


Seketika ia kembali kepada kesadarannya dan membelai kepala anak-anaknya. "Sayang maafin daddy yaa." Ucapnya dengan air mata yang sudah meleleh membasahi pipi. Hilang sudah image dinginnya.


Reihan sempat tertegun sejenak, niat hati ingin menghibur kakak iparnya yang terlihat sangat terpukul dengan keadaan kakaknya. Namun tangisan Zayyan dan Zahran menghentikan niatnya.


Ia pun melepaskan gendongan yang melilit tubuh mungil bayi gembil tersebut agar memudahkan Raka untuk mengambil anaknya.


Flashback off

__ADS_1


Raka menghela napas saat menatap wajah damai kedua putranya yang tertidur setelah meminum sumber kehidupan mereka yang dibawakan bik Nah saat mendengar kabar tentang Bila. Untung saja wanita paruh baya itu berpikir cepat dan membawakan stok asi yang memang sengaja disimpan Bila untuk kedua anaknya.


Raka akui Bila berpikiran panjang dan selalu rajin untuk pumping saat kedua anaknya sedang tidur. Terkadang ia kasian melihat istrinya duduk sambil menunggu asi yang ia pumping penuh. Walaupun ia juga sering melihat istrinya duduk sambil menyusui kedua anaknya. Tapi tetap saja menurutnya itu buang-buang waktu. Toh Bila lebih sering menyusui keduanya secara langsung.


Kalau ditegur ia akan mengatakan. "Iya mas aku tau. Tapi adakalanya aku sedang keluar dan tidak ada di rumah. Sehingga kalau aku nggak ada mereka masih bisa kenyang dengan asi yang berasal dari mommy-nya. Walaupun bukan dari pabriknya langsung. Hehehe."


Air matapun kembali turun membasahi pipi Raka saat mengingat semua itu. Ia pun berdiri dan berjalan menghampiri istrinya. Duduk disebelah ranjang Bila, pria itu menggenggam tangan yang terasa dingin tersebut dan mengecupnya lama. Matanya beralih menatap wajah damai istrinya yang terlihat pucat dan perlahan bangkit untuk mencium kening wanita itu.


"Sayang, jangan lama-lama ya tidurnya. Aku kangen tau." Bisiknya dengan suara bergetar menahan tangis. Setelahnya, ia kembali keposisi semula takut kedua anaknya jatuh.


πŸ’πŸ’πŸ’


Bu Sukma yang sedari tadi tak sadarkan diri baru saja bangun dan mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya.


Ia menatap sekelliling ruangan yang bercat putih tersebut dan tak sengaja matanya menatap ke arah sofa dimana terdapat dua orang pria beda generasi sedang tertidur pulas.


Apa yang terjadi? Kenapa ia bisa berada disini? Bukannya ia tadi berada di ruangan operasi?


"Astaghfirullah BILA!" Teriaknya spontan, membuat kedua pria yang tadinya tertidur pulas langsung bangun saat mendengar teriakan wanita itu.


"Kamu udah sadar?" Ayah Rasyid segera berdiri dan menghampiri istri tercinyanya. Sebenarnya ia sama shocknya dengan sang istri kala mendengar kabar tentang putri sulungnya. Akan tetapi, ia masih bisa mengontrol dirinya agar tidak terlihat panik. Meskipun pikiran dan hatinya sama-sama kacau mengingat kondisi Bila jauh dari kata baik.


"Bila mana mas? Bila nggak apa-apa kan? Tadi itu cuma mimpi kan mas?" Ayah Rasyid terdiam saat mendapat rentetan pertanyaan dari istrinya itu.


"Kamu serius kan mas? Kamu nggak bohong kan? Karena aku ingat dokter bilang Bila koma. Apa aku cuma mimpi?" Ayah Rasyid kembali diabuat terdiam oleh pertanyaan istrinya. Apa yang ia harus jawab? Apakah harus mengatakan kebenarannya? Ayah Rasyid mengacak rambutnya frustasi. Hal itu tak luput dari perhatian Reihan dan bu Sukma sendiri.


"Kamu kenapa sih mas?" Tanyanya dengan kening berkerut.


"Aku nggak apa-apa." Ayah Rasyid kembali menormalkan ekspresinya.


"Masa iya? Kalau gitu jawab pertanyaan aku mas."


Ayah Rasyid menelan ludah kasar dan bersiap menjawab pertanyaan istrinya. Namun saat mulutnya terbuka untuk mengatakan sesuatu. Pria paruh baya tersebut langsung mengurungkan niatnya karena anak bungsunya sudah menjawab lebih dulu darinya.


"Kak Bila baik-baik aja bu. Malahan sekarang kakak lagi tidur nyenyak. Meskipun kita semua nggak tau kapan kakak akan bangun." Kata-kata terakhir hanya mampu ia ucapkan dalam hati. Karena tak mau ibunya pingsan lagi. Walaupun pada akhirnya, ibunya pasti akan tau juga. Setidaknya tunggu sampai kondisinya kembali normal. "Sekarang ibu istirahat lagi ya, masih terlalu pagi ini untuk bangun."


Bu Sukma mengangguk dan kembali merebahkan tubuhnya dibarengi hembusan napas lega dari kedua pria beda usia itu.


πŸ’πŸ’πŸ’

__ADS_1


Aksa terlihat berdiri di depan gerbang sebuah rumah lantai dua dengan warna cat cream dengan perpaduan abu-abu dan dilengkapi pohon-pohon yang tidak terlalu tinggi yang tumbuh di pekarangan rumah tersebut.


Setelah semalaman berpikir, ia memutuskan untuk menemui Calista dan meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan ayahnya dulu. Walau konsekuensinya yaitu ia harus siap dibenci oleh gadis itu.


"Cari siapa mas?" Aksa tersentak saat mendengar suara seorang pria yang bediri di depan gerbang.


"Apa Calistanya ada?" Tanyanya to the point


"Ada, silahkan masuk." Satpam yang bekerja di rumah Calista membukakan pagar dan mempersilahkan Aksa untuk masuk.


"Ngapain kamu ke sini?" Pertanyaan ketus itu langsung masuk ke telinga Aksa saat berhadapan dengan Rama.


"Maaf om, saya cuma mau bicara sama om dan Calista. Setelah ini saya nggak akan ganggu om dan Calista lagi." Ucapnya dengan berani, walaupun tadi ia sempat gugup. Namun saat teringat kembali tujuan datang ke sini. Ia langsung menepis rasa gugupnya.


"Hmm, silahkan masuk." Ucap Rama datar dan langsung melangkah masuk diikuti Aksa daro belakang.


Rama memanggil Calista dan mereka bertiga duduk di ruang tamu dalam keadaan hening. Karena belum ada satupun yang mulai buka suara.


"Katanya mau bicara? Kenapa kamu diam aja?" Rama menatap Aksa tak suka.


Akhmm


Raka berdehem untuk menetralkan perasaannya. "Sebenarnya saya kesini mau minta maaf sama om terutama pada kamu Calista." Aksa mulai buka suara setelah terdiam cukup lama.


"Hmmp! Minta maaf untuk apa kamu?" Tanya Rama dengan nada tidak suka.


"Untuk semua yang terjadi pada Calista."


"Apa dengan kamu minta maaf semuanya bisa kembali seperti semula hah?" Rama menatap Aksa tajam karena pria itu mengorek luka lama yang selama ini ia tutupi rapat-rapat.


"Tapi tetap saja, apa yang ayah saya lakukan itu salah? Makanya saya merasa bertanggung jawab untuk meminta maaf kepada kalian. Terlepas dari kalian mau memaafkan atau tidak."


"Cih." Rama berdecih sinis. "Ternyata kamu sudah tau semuanya ya."


.


.


.

__ADS_1


.


to be continue


__ADS_2