Pelangi Setelah Hujan

Pelangi Setelah Hujan
Harapan Seorang Ibu


__ADS_3

David baru saja menerima laporan dari anak buahnya dan membuat pria itu menggertakkan giginya kesal. Ia menghempaskan semua benda yang ada di atas mejanya.


Prank Prank


Suara benda berjatuhan terdengar di dalam suatu ruangan itu.


"SIAL! Kenapa selalu gagal." Teriaknya frustasi, apalagi saat ini Raka sudah melibatkan polisi sehingga dia tidak bisa bertindak gegabah. Karena akan membuat dirinya akan langsung hancur.


Tak lama seorang wanita cantik dan cukup seksi masuk ke dalam ruangan tersebut dan langsung terkejut melihat ruangan itu berantakan. "Sayang..." Panggilnya lembut, "ada apa? Apa ada masalah?" Tanyanya seraya membelai lembut kepala pria itu.


David langsung mendengus kesal dan memeluk wanita itu yang tak lain adalah istrinya sendiri yang ia nikahi setahun yang lalu. "Tidak usah dibahas, aku sedang kesal." Dia membenamkan kepalanya di perut wanita itu.


"Baiklah, aku tidak akan membahasnya." Wanita yang bernama Kania itu langsung tersenyum masam. Kalau saja ia tidak ingin mendapatkan anaknya kembali, ia tidak akan bermanis-manis dengan pria brengsek ini yang tega menjadikan anaknya sendiri sebagai alat untuk mencapai apa yang ia inginkan.


Rasanya menangispun percuma saat ia mengetahui kalau bayi yang ia lahirkan dijadikan alat seperti itu. Karena ia sangat mengenal orang macam apa suaminya itu.


Rasanya ia ingin menghubungi keponakan suaminya itu, akan tetapi ia tidak memiliki kontaknya. Karena yang ia dengar kalau anaknya ditinggalkan di depan rumah seorang pengusaha yang tak lain adalah keponakan suaminya sendiri. Tujuannya untuk menghancurkan rumah tangga keponakannya. Sungguh pria ini berhati iblis.


Apa ia pergi ke rumahnya saja? Tapi rasanya tidak mungkin, karena kemanapun ia pergi selalu dikawal oleh pengawal suaminya. Kania mengerang dalam hati. Senyuman langsung terukir di wajahnya yang cantik saat sebuah ide melintas dikepalanya.


πŸ’πŸ’πŸ’


Reihan yang sudah selesai mandi langsung menemui keponakannya. Sementara Bila masih sibuk di dapur. "Kalian sudah bangun rupanya." Gumam Reihan seraya menggendong salah satunya. Namun tak lama yang satu lagi langsung menangis karena merasa diabaikan. Akhirnya Reihan menggendong keduanya dan menimangnya.


"Bagaimana jadinya Mas?"


Reihan mendengar suara sang kakak yang sedang bicara dengan seseorang karena pintu kamar terbuka lebar sehingga ia bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Kemungkinan itu adalah kakak iparnya yang baru pulang. Ia memasang telinga untuk mendengar jawabannya.


"Pihak kepolisian akan mengusut semuanya. Mudah-mudahan semuanya bisa terungkap."


Reihan mengerutkan keningnya bingung. Ada masalah apa? Kenapa melibatkan polisi? Karena penasaran Reihan berjalan ke luar sambil menggendong Zahran dan Zayyan di kedua lengannya.


"Memangnya ada masalah apa kak? Kenapa melibatkan polisi?" Tanya Reihan sambil menatap keduanya yang tampak terkejut dengan pertanyaan yang ia ajukan barusan.


Bila langsung terkejut setelah mendengar pertanyaan adiknya. Ia lupa kalau di rumahnya ada Reihan dan dengan cerobohnya bertanya kepada suaminya. Sekarang mau tidak mau ia harus menjelaskan semuanya pada adiknya itu.


Reaksi Raka tidak berbeda dengan Bila, ia juga terkejut dengan pertanyaan Reihan. Ia sama sekali tidak tau kalau adik iparnya itu sudah sampai dan berada di rumahnya.


"Kenapa kak? Apa ada yang kalian sembunyikan?" Tanyanya lagi karena keduanya masih enggan untuk membuka suara.


"Eh Rei, kamu kapan sampai?" Raka mencoba mengalihkan pembicaraan, namun Reihan bukan orang bodoh yang tidak paham apa yang sedang terjadi. Pasti ada masalah besar yang tengah dihadapi keduanya. Tapi apa? Ia langsung menatap Bila dengan tatapan tajam seakan meminta kakaknya untuk menjelaskannya.

__ADS_1


Bila menghela napas dan berjalan menuju sofa. Melihat kakaknya duduk, Reihan lantas mengikutinya dan Raka pun mengikuti. Ia tau Reihan tidak akan menyerah sebelum mereka mengatakannya. "Jadi begini.... " Bila menceritakan semuanya, mulai dari penemuan bayi dan semuanya. Raka juga menambahkan perkataan istrinya itu.


Reihan terdiam mendengar cerita kakaknya dan kakak iparnya. Ia sedikit banyaknya tau tentang om David yang merupakan salah satu pebisnis yang terkenal licik dan suka bermain kotor. Reihan tidak menyangka saja kalau dia bisa melakukan semua itu kepada keponakannya sendiri.


"Dia sama sekali tidak bisa dibiarkan kak, mas. Karena takutnya dia semakin nekat nantinya." Kata Reihan sambil menahan emosinya.


"Iya, kamu benar. Kita tunggu dulu kabar dari pihak kepolisian. Setelah itu kita baru bisa bertindak." Ucap Raka sambil menghela napas lelah.


"Ya sudah, sebaiknya kalian makan dulu. Makanannya sudah aku siapkan di meja makan." Kemudian Bila melirik Reihan. "Sini, biar kakak gendong keduanya." Bila mengambil Zayyan dan Zahran di letakkan oleh Reihan di samping Bila.


"Kamu gimana sayang? Apa nggak lapar?" Tanya Raka sebelum beranjak dari sofa. Sementara Reihan sudah melipir duluan ke meja makan saking laparnya.


"Sebenarnya lapar, tapi nanti aja. Kita gantian ya hubby." Ucap Bila sambil tersenyum manis.


"Sayang, jangan senyum seperti itu. Nanti mas bisa diabetes saking manisnya."


Bila tertawa renyah dengan pipi bersemu merah setelah mendapat gombalan dari suaminya. "Kang gombal bisa aja mujinya. Ya udah, sekarang mas makan ya." Ekspresinya langsung berubah serius. "Nggak pakai lama!" Serunya memberi perintah. "Karena aku juga lapar." Ekspresinya langsung berubah sendu.


Raka garuk-garuk kepala melihat ekspresi istrinya yang berubah dalam satu waktu. Tampa mengatakan apa-apa ia segera menyusul Reihan ke meja makan.


πŸ’πŸ’πŸ’


Selepas maghrib Bila baru bisa mandi setelah menidurkan si kembar. Selesai mandi dan berpakaian, Bila menghampiri Raka yang sedang menyelesaikan pekerjaannya.


Bila langsung mengambil ponsel di atas nakas dan melihat siapa yang telphon. "Arum." Gumamnya seraya mendial nomor telphon Arum.


"Assalamualaikum Arum, ada apa? Tadi mba lagi mandi, makanya nggak jawab telphon kamu."


"...."


"Iya, nggak apa-apa. Besok butik tutup aja sebentar, kamu dan yang lain bisa ke rumah mba untuk ketemu si kembar."


"...."


"Siapa?"


"....."


"Kania Evelyn? Apa dia bilang alasannya ingin bertemu denganku? Apa ingin dibuatkan design gaun?"


Raka langsung menatap Bila saat mendengar nama yang diucapkan istrinya barusan. Itu kan nama istri om David? Untuk apa dia ingin menemui istriku? Tanyanya dalam hati.

__ADS_1


"....."


"Baiklah, besok kita bicarakan lagi. Oh ya Arum apa dia meninggalkan nomor ponselnya?"


"....."


"Nanti kamu kirimkan ke WA mba ya."


"......"


"Walaikumsalam."


Setelah telphon berakhir Bila terdiam dan mengingat-ingat nama Kania dalam memori otaknya. Tapi ia sama sekali tidak pernah mendengar nama itu. Meletakkan ponsel di atas nakas, ia langsung ke dapur untuk mengambil minuman serta cemilan untuknya dan Raka.


Saat kembali ke kamar, Bila mengernyit heran melihat suaminya terlihat sedang memikirkan sesuatu. Ia berjalan perlahan dan meletakkan makanan dan minuman di atas meja.


"Kamu kenapa mas?" Tanya Bila seraya duduk di samping suaminya.


Raka mengusap wajahnya dan menoleh ke arah Bila. "Apa kamu kenal dengan Kania Evelyn?"


Bila menggelengkan kepalanya. "Aku nggak kenal, makanya aku juga heran. Dia juga nggak minta dibuatkan design gaun."


"Kenapa emangnya?" Tanya Bila penuh selidik.


"Dia istri om David." Jawaban Raka membuat Bila terbelalak kaget.


"Apa? Kenapa dia ingin bertemu denganku?" Pekik Bila spontan. "Tapi tunggu dulu....." Bila terlihat sedang memikirkan sesuatu. Alasan wanita itu menghubunginya apa berhubungan dengan.. "Kenapa aku merasa dia adalah ibu dari bayi itu?" Tanyanya pada Raka.


Raka terdiam dan memikirkan baik-baik pertanyaan istrinya. Apa benar begitu? Tapi mana ada ibu yang tega menjadikan anaknya sendiri sebagai alat? Tapi kalau dia tidak tau, itu beda cerita.


"Apa aku coba hubungi dia besok pagi?" Tanya Bila lagi saat tidak menjawab pertanyaannya.


Raka menatap istrinya dan tersenyum. "Baiklah, besok kita coba hubungi dia dengan nomor lain. Jangan dengan nomor ponsel pribadi kamu." Raka tidak mau ambil resiko kalau menghubungi wanita itu dengan nomor pribadi. Karena saat ini, niat sebenarnya dari Kania belum diketahui. Bisa jadi dia disuruh oleh David dan bisa jadi tidak sama sekali. Semuanya akan jelas setelah mereka bicara dengan wanita itu besok.


.


.


.


.

__ADS_1


to be continue


__ADS_2