
Salsabila POV
"Qyara," gumamku saat menatap layar ponselku dan tertera nama Qyara di sana sedang menelphonku
"Assalamualaikum Qya... "
"Walaikumsalam Bila, kamu apa kabar? Sehat?"
"Alhamdulillah aku sehat, kamu sendiri gimana?"
"Alhamdulillah aku juga sehat, aku kangen tau."
Aku terkekeh, "iya, aku juga kengen sama kebawelan kamu Qya."
Terdengar gelak tawa Qyara dari seberang sana. "Aku rencananya mau ajak kamu ke Bali akhir pekan ini, apa kamu mau? Sekalian kita jalan-jalan dan babymoon. Kapan lagi kan?"
Aku yang mendengar ajakan Qyara langsung senang bukan main. "Wahh, ide yang bagus. Aku akan bilang ke Mas Raka dulu. Karena takutnya suamiku ada kerjaan."
"Baiklah, katakanlah kepadanya. Aku tunggu ya jawabannya."
"Okay, nanti aku kabari yaa. Assalamualaikum cerewet."
"Walaikumsalam wanita konyol."
Kami tertawa sebelum mengakhiri panggilan telphon. Setelah itu aku menatap ke arah tangga dan melihat suamiku turun ke bawah. Senyuman tak pernah lepas dari wajahku membuat Mas Raka menatapku dengan tatapan bertanya-tanya. Dia pun mendekat ke arahku dan langsung aku sambut dengan senyum terbaikku.
"Morning hubby," sapaku sumringah. "Mas mau sarapan apa hari ini? Karena aku akan masak apa yang suamiku inginkan." Sambungku tak kalah heboh.
Mas Raka menatapku dengan tatapan aneh, seolah-olah aku sedang melakukan kesalahan. Apa ada yang salah? Perasaan sikapku normal-normal saja. Pikirku dalam hati. Setelah itu dia bertanya aku kenapa? Sehingga membuat aku bingung. Setelah dia sampaikan alasannya barulah aku mengatakan kalau Qyara mengajakku ke Bali akhir pekan dan meminta Mas Raka untuk mengosongkan jadwalnya. Namun Mas Raka harus bertanya dulu dengan Aksa membuat aku kesal setengah mati.
Akhirnya aku mengancamnya dengan mengatakan akan mengajak Mas Andre. Suamiku langsung menatapku tajam dan dengan rahang mulai mengeras. Aku tau dia sudah cemburu saat itu, salah sendiri mikirnya kelamaan untuk mau menemaniku pergi. Setelah kata-kata ancaman itu ke luar dari mulutku, Mas Raka menyetujui ajakanku. Aku sangat senang sekali dan memberinya hadiah berupa asupan energi untuk pria itu.
Salsabila Pov end
πππ
__ADS_1
Mereka berempat akhirnya pergi ke Bali selama 2 hari. Kedua pasangan itu menginap di salah satu penginapan terindah di Bali. Yaitu Kalamandalu yang dikelilingi sawah yang membuat penginapan itu sangat asri dan indah di pandang.
Sampai di kamar, Bila langsung membuka jendela dan terkagum-kagum dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Sungguh pemandangan yang menyejukkan mata. Bila menoleh ke belakang saat sepasang tangan melingkar di perutnya.
"Apa kamu menyukainya sayang?" Bisik Raka ditelinga Bila. Membuat wanita itu mengangguk cepat.
"Aku sangat menyukainya Mas, ini sungguh luar biasa." Senyumnya mengembang dan memeluk lenngan kekar Raka yang ada di perutnya.
"Bilaa, yuhuuu..."
Terdengar suara seseorang memanggil Bila Bila dan Raka refleks menoleh ke sumber suara. Terlihat seorang wanita berdiri di ambang pintu yang terbuka. Karena terkejut, keduanya menatap wanita yang memanggil Bila dengan mata mengerjap lucu.
"Oiii, kenapa kalian menatapku seperti itu?"
Keduanya tersadar dan Bila langsung tersenyum lembut kepada wanita yang mengajaknya bicara. "Ada apa Qya?" Tanya Bila sambil menghampiri lawan bicaranya dengan tatapan serius.
Sementara Raka sudah meninggalkan istrinya untuk berbaring di ranjang, karena tubuhnya sangat lelah dan mengantuk. Sebab menyeselaikan pekerjaannya agar bisa pergi menemani sang istri.
"Cari makan yukk,, aku lapar." Rengek Qyara seperti anak kecil.
Sampai di restoran, mereka memilih duduk di dekat jendela agar leluasa melihat pemandangan yang disuguhkan oleh alam. Seorang pelayan datang menghampiri dan menanyakan pesanan mereka. Pelayan itu segera pergi setelah mencatat semua pesanan duo bumil itu.
Selang beberapa menit, pesanan mereka datang dan memenuhi meja. Keduanya memesan makanan seperti untuk makan 5 orang. Di atas meja terdapat berbagai macam hidangan, mulai dari hidangan laut sampai darat. Saking laparnya, kedua wanita hamil itu menghabiskan semua makanan dalam sekejap.
"Ternyata kamu makannya banyak juga ya Bil?"
Bila mengangkat pandangannya dan menatap Qyara dengan senyuman. "Iya benar, aku juga nggak tau kenapa. Kadang Mas Raka sampai heran."
Selesai mengisi perut, Bila dan Qyara segera kembali ke kamar masing-masing karena besok mereka akan menjelajahi Bali seharian penuh.
πππ
"Mas, bangun. Udah maghrib," menjulurkan tangannya untuk menepuk pelan pipi Aldi yang tengah tertidur. Aldi mengerjapkan matanya dan perlahan mulai terbuka.
"Hmmm, udah kenyang?" Aldi tau istrinya baru pulang sehabis ke luar dengan Salsabila.
__ADS_1
Qyara menganggukkan kepalanya. "Udah dong, tadi kami makan banyak banget. Hehehe." Dia langsung terkekeh saat mengingat betapa banyaknya makanan yang mereka santap tadi.
"Udah nggak kaget sih, kalian kan memang doyan makan." Aldi langsung turun dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi.
Bukan suatu hal yang janggal mengapa Aldi berkata seperti itu, karena dari dulu ia sudah tau bagaimana kebiasaan Bila yang memang hobby makan. Ditambah lagi sekarang wanita itu sedang berbadan tiga. Otomatis selera makannya jadi meningkat berkali-kali lipat. Wong masih gadis aja udah memiliki selera makan besar, bagaimana tidak ketika dirinya tengah hamil. Begitupula dengan Qyara, setelah menikah dengan wanita itu. Aldi sangat-sangat tau, wanita itu memiliki selera makan yang besar. Ditambah lagi sekarang ia tengah hamil, yang pastinya selera makannya semakin besar. Sehingga mereka berdua memang cocok kalau sudah dalam hal makanan. Jadi tidak heran, kalau pergi berempat. Kedua wanita itu memakan jatah para lelaki.
Sementara Bila menelurusi seluruh kamar dan tidak menemukan keberadaan suaminya. Mas Raka kemana? Batinnya dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus wudhu. Ke luar dari kamar mandi, matanya menangkap sosok pria tampan yang tak lain suaminya baru saja memasuki kamar.
"Mas dari mana?"
Raka menatap istrinya yang baru ke luar dari kamar mandi dengan handuk yang membungkus tubuhnya. Raka mengangkat kantung belanjaan di tangannya yang berisi makanan dan cemilan untuk sang istri. Karena cemilan yang mereka bawa tadi sudah habis di makan Bila selama perjalanan.
"Mas habis beliin kamu cemilan dan makanan." Hmmm, suami siaga. Menyediakan amunisi untuk istrinya sebelum di minta.
Bila menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. "Makasih hubby, kamu yang terbaik." Kedua jempolnya terangkat disertai senyum yang mengembang di wajah cantiknya.
"Sama-sama sayang," Raka meletakkan belanjaannya di atas meja dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sekalin wudu. "Pakai baju cepat, nanti masuk angin." Bisiknya memberi perintah di telinga Bila saat berpas-pasan dengan istrinya itu.
"Siap bos!" Ujung jarinya menyentuh pelipisnya membentuk penghormatan.
Raka tertawa melihat kelakuan istrinya yang terlihat menggemaskan. Tangannya jadi gatal ingin mencubit pipi cubby sang istri.
"Mas...! Aku nggak akan jadi pakai baju kalau tangan Mas masih menempel di pipiku." Protes Bila kesal. Yah Raka memang berakhir mencubit dan memainkan pipi istrinya dengan gemas. "Nanti waktu maghrib habis loh." Sambungnya dengan wajah masih di tekuk kesal.
Raka langsung melepaskan tangannya dari pipi Bila dan bergergas masuk ke dalam kamar mandi.
Aishhh pipiku...
.
.
.
.
__ADS_1
to be continue