Pelangi Setelah Hujan

Pelangi Setelah Hujan
Sebuah Kabar dan Pertemuan


__ADS_3

Bila mengerjap dan mulai membuka matanya, tangannya meraba sisi tempat tidur dan tidak merasakan keberadaan manusia lain di sampingnya. "Hah! Kenapa aku bisa lupa?" Bila menepuk keningnya sendiri dan segera menegakkan tubuhnya. Kemudian segera melakukan aktivitas seperti biasa yang ia lakukan. Hanya saja, kali ini ia tidak ditemank oleh Raka. Dia sedikit bersyukur anak mereka tidak rewel dan tidak membuat dia tidak bisa bergerak seharian karena mual-mual.


Selesai dengan ritual paginya, Bila turun ke bawah untuk membuat sarapan. Tapi sebelum itu, ia menghubungi Reihan untuk datang ke rumahnya. Saat sedang berkutat di dapur, Bila mendengar suara bel dari arah pintu. Ia segera mematikan kompor dan berjalan menuju depan untuk melihat siapa yang datang.


Ceklek


"Assalamualaikum, selamat pagi kakakku yang cantik." Sapa Reihan dengan senyuman mengembang dan menampilkan deretan giginya yang putih.


Bila terkekeh dan memukul pelan kepala adik lelakinya itu. "Ayo masuk!" Bila menarik adiknya masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. "Apa hari ini kamu ada kelas Rei?" Tanya Bila setelah mereka berdua sampai di dapur.


"Ada kak, jam 10 dan jam 1 siang. Kenapa kak?" Reihan menarik kursi meja makan dan mendudukkan tubuhnya di sana.


"Kamu nanti pulang ke sini aja ya. Temani kakak___


"Memangnya Mas Raka kemana?"


"Makanya dengerin dulu!" Bila langsung mencubit lengan adiknya dan membuat Reihan meringis. "Kemarin Mas Raka pergi ke London."


"Apa? Jadi Mas Raka ninggalin kakak sendirian? Kenapa kakak nggak bilang? Rei pasti jemput kakak atau nemenin kakak di sini." Ucapnya lesu dengan kepala tertunduk ke arah meja.


"Sudahlah, yang penting nanti kamu temani kakak di sini. Okay!"


"Okay!" Reihan mengangkat kepalanya dan mengangkat tangan membentuk tanda okay.


Bila langsung tersenyum dan kembali mendekati kompor. "Kakak masak apa?" Bila menoleh dan langsung kaget, karena Reihan sudah berdiri di belakangnya.


"Reihan...!" Teriak Bila dan hampir memukulkan spatula kepada Reihan. Pria itu langsung terkekeh dan tidak sengaja melihat ke arah perut kakaknya yang terlihat menonjol di balik dress longgar yang ia kenakan. Hal itu, karena Bila dan Raka memang belum mengatakan tentang kabar bahagia tersebut. Jadi wajar, Reihan kaget melihat perut sang kakak.


"Kakak hamil? Kenapa belum kasih tau ibu dan ayah?" Tanya Reihan dengan ekspresi kecewa. Yah, siapa yang tidak kecewa? Kalau berita sebesar itu di sembunyikan.


Bila langsung kikuk, sebenarnya bukan maksud hati belum mau mengabarkan kehamilannya. Hanya saja, ia belum sempat berkunjung ke rumah orang tuanya. Alih-alih memberi kabar lewat telphon, ia ingin menyanpaikan kabar kehamilannya secara langsung.


"Amm, kakak mau kasih kejutan untuk semuanya. Tapi, karena kamu udah lihat. Nggak jadi kejutan deh. Hehehe." Bila langsung cengengesan untuk mencairkan suasana yang membeku. Karena ia sangat paham sifat adiknya yang sangat dingin ini. But, dibalik sifat dinginnya. Ia adalah adik lelakinya yang manja, jail, dan ya terkadang bisa lebih dewasa dibandingkan dirinya yang anak tertua.


"Tapi ini udah besar kak." Ucapnya dengan suara rendah. Oh! Bila langsung merinding mendengat suara adiknya kalau dalam mode rendah seperti ini.


"Karena di dalamnya ada 2 baby, makanya keliatan lebih besar dari wanita hamil pada umumnya." Jelas Bila dan membuat mata Reihan melebar.


"Seriously? Kakak hamil anak kembar?" Tanya Reihan memastikan apa dia salah dengar atau tidak.


"Yes, i am serious."


"Alhamdulillah, ya Allah kak. Jadi Rei akan punya 3 keponakan sekaligus dong?" Ucapnya sumringah, hilang sudah ekspresi dingin yang dari tadi ia tunjukkan. Berganti menjadi ekspresi senang bukan main.


"InsyaAllah iya, karena kakak dan Salwa sama-sama sedang hamil. Tapi, Salwa akan duluan melahirkan." Jawab Bila dengan senyuman. Kemudian segera menyelesaikan aktivitas masak-memasaknya.


"Iya, kakak benar. Sekarang kak Salwa ada di rumah. Karena usia kandungannya sudah 9 bulan. Kemungkinan, kak Salwa akan melahirkan di Jakarta." Reihan melirik nasi goreng seafood yang ada di dalam wajan.


"Benarkah?" Tanya Bila tak percaya dan di jawab anggukan kepala oleh Reihan.


"Kak, Rei mau sarapan yaa." Ucapnya riang dan langsung mengambil piring untuk tempat nasi gorengnya. Bila tidak menjawab dan membiarkan adiknya mengambil sarapannya.


Selesai sarapan Reihan langsung pamit kepada sang kakak. "Kak, Rei pergi dulu ya. Assalamualaikum."

__ADS_1


"Walaikumsalam, hati-hati ya Rei. Jangan ngebut!" Ucap Bila lembut.


"Iya kak, daaaa kakak. Baby twin uncle pergi dulu, bye bye." Bisiknya di perut Bila dan membuat Bila terkekeh melihat tingkah adiknya.


πŸ’πŸ’πŸ’


"Assalamualaikum, ibu...!" Panggil Bila dari pintu depan. Setelah berberes rumah, ia memutuskan pergi ke rumah orang tuanya. Dan di sinilah dia sekarang, berdiri di depan pintu menunggu orang rumah membukakan pintu untuknya.


Ceklek


Pintu terbuka dan memperlihatkan sosok wanita paruh baya yang sudah melahirkannya. "Bila? Ya ampun nak, ibu kangen banget sama kamu." Bu Sukma langsung memeluk putrinya. "Mana suamimu? Apa dia sangat sibuk, sampai tidak bisa datang ke sini?"


"Mas Raka sedang ke London bu, makanya nggak bisa ikut aku ke sini." Jawab Bila sambil tersenyum.


"Jadi kamu di tinggal sendiri? Kenapa nggak menginap di sini sih sayang?" Tanya bu Sukma seraya merangkul anaknya masuk ke dalam rumah dan wanita itu belum menyadari perubahan tubuh anak perempuannya itu.


"Bila minta Reihan untuk menemani Bila di rumah bu. Jadi nggak masalah kok." Bila langsung tersenyum untuk menenangkan ibunya.


"Ya udah, ibu tenang kalau Reihan mau menemani kamu. Tapi sayang, ibu lihat kamu jadi gemukan. Apa hanya perasaan ibu saja?" Bu Sukma memperhatikan tubuh putrinya dengan seksama. "Apa kamu sedang hamil nak?"


Bila tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya bu, aku sedang hamil sekarang."


"MasyaAllah, tabarakallah. Alhamdulillah ya Allah." Bu Sukma langsung mengucap syukur dan mencium pipi Bila berkali-kali. "Ibu dan ayah akan mengadakan tasyakuran untuk kehamilan kalian berdua." Ucapnya seraya melirik ke arah Salwa yang baru saja turun dari kamarnya.


"Iya bu, aku setuju."


Bila menoleh saat mendengar suara seoarang wanita yang sangat ia kenal. "Salwa!" Serunya riang. Ah! Ia sangat merindukan adik keduanya itu.


"Kakak juga kangen sama kamu." Bila mengulurkan kedua tangannya untuk memeluk sang adik. Kedua wanita beda usia itu saling melepas rindu dengan berpelukan.


"Udah berapa minggu kak? Kok udah keliatan ya?" Tanya Salwa penasaran.


"12 minggu, mau masuk ke 13." Jawab Bila tenang.


"Kenapa kayak 5 bulan ya kak? Aku saja saat di munggu segitu belum terlalu menonjol perutnya." Salwa mengingat-ingat ukuran perutnya di usia kehamilan yang disebutkan kakaknya.


"Karena kakak punya 2 baby di dalamnya." Jelas Bila singkat dan membuat mata kedua wanita beda genarasi yang ada di dekat Bila melebar seketika.


"Twin dong kak?"


Bila mengangguk cepat. "Iya, makanya ukurannya berbeda dengan wanita hamil lainnya."


"MasyaAllah, selamat kakakku sayang." Salwa benar-benar merasa bahagia mendengar kabar tersebut. Sedangkan bu Sukma terdiam karena masih shock mendengar kabar tersebut. Ia sama sekali tidak menyangka akan mendapat kabar bahagia mengejutkan seperti ini.


"Ibu... Ibu nggak apa-apa kan?" Bila terlihat panik, karena ibunya terdiam cukup lama.


Bu Sukma tersentak setelah mendengar suara panik Bila. "Ibu nggak apa-apa, ibu hanya terlalu senang. Sampai nggak tau harus berkata apa selain mengucap syukur kepada Allah sayang." Bu Sukma tersenyum dan menatap kedua putrinya. "Ibu sangat bangga sama kalian bedua. Karena kalian bedua adalah harta ibu yang paling berharga dari apapun. Terimakasih selama ini kalian sudah jadi anak yang patuh dan tidak berbuat yang macam-macam." Imbuhnya dengan air mata berlinang.


"Ibu...!" Keduanya berseru dan memeluk sang ibu. Mereka bertiga saling berpelukan dan mencurahkan rasa kasih sayang mereka.


"Ahmmm."


Ketiganya langsung menoleh dan menatap sumber suara. "Ayah!" Seru ketiganya kompak. Bahkan bu Sukma juga memanggil suaminya begitu.

__ADS_1


"Ada apa sih? Kenapa kalian bertiga jadi mellow gitu?" Tanya ayah Rasyid bingung.


"Nggak apa-apa ayah, kita hanya lagi senang aja karena barusan mendengar kabar bahagia." Jawab Salwa mewakili ketiganya.


"Kabar bahagia apa?" Beo ayah Rasyid.


"Aku hamil ayah." Kali ini Bila yang menjawab.


"Benarkah?" Bila langsung mengangguk. "MasyaAllah, tabarakallah. Selamat ya nak, kamu akan segera menjadi ibu dan Salwa tinggal menghitung hari sebelum bertemu dengan anaknya." Sambung ayah Rasyid dengan penuh suka cita. Sungguh, kabar ini membuat semua lelahnya hilang seketika.


"Bu, apa kamu sudah masak?" Tanya ayah Rasyid kepada istrinya.


"Sudah Mas, ayo kita ke ruang makan."


Mereka berempat menuju ruang makan untuk makan siang. Bila sangat senang sekali, karena ia memang sudah sangat merindukan masakan ibunya itu.


πŸ’πŸ’πŸ’


Reihan baru saja menyelesaikan kelasnya hari ini dan memutuskan untuk pulang. Saat melewati jalanan yang agak sepi, ia tidak sengaja melihat seorang gadis kecil dengan seragam yang kotor tengah menangis di pinggir jalan. Tampa membuang waktu, ia menghentikan mobilnya dan menghampiri gadis kecil itu.


"Adik kecil, kamu kenapa menangis? Kenapa berada di sini?" Tanya Reihan lembut.


Gadis kecil itu langsung mendongkakkan kepalanya dan menatap Reihan dengan mata bengkak. Entah sudah berapa lama gadis itu menangis di sana.


"Kamu ikut kakak ya, karena bahaya kalau kamu terus di sini." Reihan mencoba membujuk gadis kecil itu dan menggendongnya ke dalam mobil. Pria itu langsung meninggalkan tempat itu dan membawa gadis kecil itu ke rumah kakaknya.


Sampai di depan rumah ia memarkirkan mobil dan membawa gadis itu turun. Kemudian membawanya menuju pintu rumah, tangannya terulur untuk mengetuk pintu rumah dan menekan bel.


"Iya, tunggu sebentar." Terdengar sautan dari dalam rumah. Karena Bila memang sudah pulang dari rumah ibunya setelah makan siang tadi.


Ceklek


"Assalamualaikum kak." Ucap Reihan memberi salam.


"Walaikumsalam, ini siapa Rei?" Mata Bila mengarah ke arah gadis kecil yang berdiri di samping Reihan.


"Rei nggak tau kak, tadi Rei nemu di jalan. Dia lagi nangis di pinggir jalan. Kayaknya habis di kejar-kejar orang jahat, karena bajunya kotor gitu." Jawab Reihan apa adanya.


"Ohhh begitu." Bila langsung duduk jongkok agar bisa menyamakan tingginya dengan bocah itu. Terlihat jelas sorot mata ketakutan yang terpancar di kedua matanya. Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Tidak ada yang tau sebelum gadis itu bercerita nantinya.


Bila menyentuh tangan mungil itu dan memberikan kenyamanan padanya. "Jangan takut, tante dan uncle di samping ini bukan orang jahat. Sekarang kita masuk ya, kamu harus ganti baju dulu." Bila membawa bocah itu masuk ke dalam. Reihan sebenarnya mau protes, umurnya masih 17 tahun masa di panggil uncle. Reihan mendesah frustasi dan ikut masuk ke dalam rumah.


.


.


.


.


to be continue


Reihan dan gadis kecil itu akan berhubungan dengan novel terbaru aku yaaa yang berjul Surrogate Husband. Tapi belum rilis hehehe πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


__ADS_2