
Seminggu setelah Bila pulang dari rumah sakit, tingkahnya semakin aneh dan membuat Raka kerepotan. Tapi, laki-laki itu tidak pernah mengeluh dan terus mengikuti apa yang di inginkan istrinya.
Seperti biasa, selesai subuh Bila sudah berada di dapur untuk membuat sarapan. Setelah meneguk segelas air putih untuk melegakan tenggorokannya yang terasa kering.
Tiba-tiba kepalanya mendadak pusing dan pandangannya berkunang-kunang. Bahkan perutnya terasa di aduk-aduk saat mencium bau amis telur yang sedang ia kocok. Karena kebetulan ia akan membuat omelet.
Bila menarik kursi dan mendudukkan tubuhnya di sana untuk menetralisir rasa mual dari perutnya. Matanya terpejam sepersekian detik.
"Sayang, kamu kenapa?"
Bila mengangkat kepalanya dan menatap suaminya. "Aku nggak apa-apa mas" Jawab Bila yang tidak mau suaminya khawatir. Apalagi Raka ada meeting dengan karyawannya.
"Nggak apa-apa gimana? Wajah kamu pucat banget sayang" Raka menarik kursi dan duduk di sebelah istrinya.
"Iya, nggak apa-apa sayang. Aku berangkat bareng mas aja ya. Karena aku lagi malas nyetir" Bila mengalihkan pembicaraan agar suaminya tidak bertanya lagi.
"Ya udah, kamu siap-siap gih. Mas tunggu di sini" Raka mengambil selembar roti dan mengolesi dengan selai. Sebab, Bila belum jadi membuat sarapan.
Dengan sekuat tenaga, Bila berjalan menaiki tangga sambil menahan rasa yang tidak enak dalam perutnya. Ya Allah, aku kenapa? Kenapa perutku mual banget? Lirih Bila seraya mendudukkan tubuhnya di atas ranjang.
"Kenapa Bila lama banget ya?" Raka bangkit berdiri dan menyusul istrinya ke kamar.
"Sayang, kok lama?" Tanya Raka saat melihat istrinya duduk di depan meja rias. Rupanya setelah duduk sejenak, Bila segera siap-siap dan memoleskan sedikit make up serta lipstick untuk menyamarkan wajah pucatnya.
"Maaf mas, lama ya" Bila bangkit berdiri dan menghampiri suaminya. "Ayo berangkat" Bila menyusupkan jari jemarinya di lengan Raka dan membawa suaminya ke luar dari dalam kamar.
Sampai di dalam mobil tampa di minta Raka memasangkan seatbelt ke tubuh istrinya. Membuat wajah Raka berada dekat wajah Bila.
Cup
Bila mengecup singkat pipi Raka seraya berkata. "Makasih suamiku" Dengan sebuah senyum yang terpatri di wajah cantiknya.
"Sama-sama sayang" Raka mengusap pipi istrinya lembut. Kemudian menjalankan mobilnya meninggalkan kediaman mereka.
Selama dalam perjalanan, Bila berusaha menahan perutnya yang terus bergejolak. Rasanya, ia benar-benar ingin muntah.
"Kamu serius nggak apa-apa? Lihatlah, kening kamu berkeringat sayang" Raka mengusap kening Bila yang dibanjiri keringat dingin.
"Hmmm" Bila seakan enggan untuk bicara karena ia sangat mual.
__ADS_1
"Baiklah, nanti kalau ada apa-apa hubungi mas ya?" Raka kembali menatap istrinya yang hanya mengganggukkan kepala tampa menjawab pertanyaannya.
Sampai di butik, Raka melepaskan seatbelt Bila dan mencium kening Bila serta mencuri ciuman di bibir istrinya.
"Aku turun ya mas, assalamualaikum" Pamit Bila, karena tidak mungkin dia main turun begitu saja tampa berkata apa-apa. Kemudian segera ke luar dari dalam mobil.
Bila sedikit berlari masuk ke dalam butik dan langsung menuju toilet. Karena ia tidak mampu lagi menahan rasa ingin muntah yang di stimulus otaknya.
Huekkk.... Huekkk
Bila memuntahkan seluruh isi perutnya yang hanya berisi air yang ia minum tadi pagi. Karena tadi ia tidak sempat sarapan.
"Ya ampun, kenapa tubuhku jadi lemas begini?" Tanya Bila bermonolog pada dirinya sendiri. Kemudian mengambil tisu dari dakam tas dan mengusap mulutnya yang basah.
Bila berusaha menormalkan dirinya agar para karyawan tidak bertanya yang macam-macam.
"Bu Bila kenapa? Apa sedang sakit?" Tanya salah satu karyawan yang berada tepat di depan pintu toilet. Panggilan mereka memang berubah semenjak Bila menikah, kecuali Arum yang masih memanggilnya dengan panggilan 'mba'.
"Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir" Bila segera berlalu dari depan toilet dan naik ke ruangannya.
Saat masuk ke dalam ruangannya, Bila langsung menuju sofa untuk merebahkan tubuhnya yang terasa lemas tak bertulang.
"Arumm, kenapa teriak-teriak? Kepalaku jadi semakin pusing!" Bila langsung memarahi Arum yang berteriak saat masuk ke dalam ruangannya.
Arum terkekeh, namun dengan wajah cemas. "Aduh mba, kalau lagi sakit kenapa dipaksain datang ke sini sih?"
"Aku nggak apa-apa Arum, kamu bawa apa?" Tanya Bila saat mencium wangi manis dari makanan.
Arum sempat terkejut karena indera penciuman Bila benar-benar tajam. Ia bisa tau kalau dirinya sedang membawa makanan tampa membuka mata.
"Ohh, tadi ibu masak putu ayu. Entah kenapa aku langsung kepikiran sama mba? Ya udah deh, aku bawakan satu kotak penuh" Jawab Arum penuh semangat.
Dengan segera Bila membuka mata dan menegakkan tubuhnya. Matanya langsung berbinar saat menatap makanan yang begitu menggiurkan di matanya.
"Makasih Arumm, kamu tau aja aku belum sarapan" Ucap Bila sambil tersenyum lebar. Kemudian mencomot kue berwarna hijau itu dan langsung melahapnya.
"Sama-sama mba" Arum ikut tersenyum lebar karena ketularan senyuman Bila.
Enak banget... Bila bersorak dalam hati. Tangannya kembali mencomot kue tersebut. Membuat Arum sedikit heran dengan nafsu makan bosnya.
__ADS_1
"Mba baik-baik aja kan? Kok makan mba jadi banyak banget ya akhir-akhir ini?" Tanya Arum yang memang memperhatikan Bila selama beberapa hari.
"Masa sih? Perasaan aku makan seperti biasa deh Rum. Kamu salah kali?" Jawab Bila yang merasa porsi makananya biasa saja. "Eh tunggu, akhir-akhir ini aku memang merasa sedikit aneh dengan tubuhku. Tapi nggak tau kenapa?" Imbuh Bila karena teringat apa yang sudah ia alami beberapa hari ini.
"Jangan-jangan mba.... " Ucapan Arum di potong Bila.
"Jangan-jangan apa Arum?" Sela Bila tiba-tiba.
"Mba hamil" Jawab Arum spontan.
"Hamil? Apa benar aku hamil? Kok bisa?"
Arum rasanya ingin menampol bos cantiknya ini karena mengajukan pertanyaan konyol kepada dirinya. 'Kok bisa?' Astaghfirullah mbaku.
"Tentu saja bisa mba Bila sayang. Mba kan sudah punya suami? Jadi mba pasti sudah pernah 'itu' kan? Ya jelaslah bisa hamil, kan udah di bobol atuh mba sama tuan Raka?Aduhhhhh" Arum langsung mendesah dalam hati melihat kelakuan bosnya yang polos-polos gimana gitu?
Bila langsung terkekeh geli karena paham apa yang dimaksud Arum. "Iya ya, aku kan sudah menikah" Bila menepuk keningnya sendiri. Membuat Arum langsung merutuki kepolosan bosnya. Malahan kelewat polos, sampai bertanya kenapa dia bisa hamil?
"Sebaiknya mba nanti coba beli test pack di apotik. Terus di coba tes saat pagi mba. Karena biasanya hasilnya lebih akurat kalau di pagi hari." Ujar Arum memberi solusi.
"Wohooo, sepertinya lebih tau kamu ya tentang hal yang beginian" Celetuk Bila sambil mengerlingkan matanya.
"Karena pernah baca artikel mba, lagian kan ketika sekolah menengah atas kita diberikan pengetahuan tentang hal yang berkaitan dengan reproduksi mba. Kalau nggak salah di kelas 3 deh. Jangan-jangan mba tidur ya saat pelajaran itu" Terka Arum menduga-duga.
"Enak aja, aku nggak pernah tidur di dalam kelas. Apalagi saat pelajaran berlangsung." Jawab Bila memberi alasan, karena sebenarnya ia memang tidak tidur. Hanya saja, ia tidak fokus karena sedang menggambar.
Arum menghela napas. "Ya udah, nanti beli ya mba. Jangan lupa, biar nggak penasaran. Sekarang, mba makan lagi aja ya kuenya" Arum langsung berdiri dan beranjak dari ruangan Bila.
Bila kembali menatap kue yang masih ada separuh itu dan kembali menyantapnya dengan lahap.
.
.
.
.
to be continue
__ADS_1