
Hari ini adalah hari penyergapan David yang sudah direncanakan pihak kepolisian bersama Raka dan kedua sahabatnya. Mulai dari pagi Bila terus saja mengikuti kemanapun Raka pergi. Raka sedikit heran dengan sikap istrinya yang tidak seperti biasanya. Bahkan kedua anaknya sudah menangis saja ia abaikan. Sehingga bik Nah langsung turun tangan mengambil ASI yang di pompa Bila semalam dari lemari pendingin. Kemudian memanaskan sebentar dan memberikan kepada kedua bayi mungil tersebut.
"Bee....! Ada apa? Kenapa dari tadi kamu mengikuti mas terus?" Akhirnya Raka tidak tahan untuk bertanya apa penyebab Bila bersikap lain pagi ini.
Bukannya menjawab, Bila malah menangis dan hal itu membuat Raka semakin bingung. "Hei, hei, lihat mas." Raka memegang kedua pipi Bila dan menghadapkan wajah Bila ke arahnya. "Kenapa nangis? Apa mas ada salah?"
Seketika Raka mencoba mengobrak abrik isi kepalanya untuk mencari ingatan tentang kesalahan yang ia lakukan kemarin. Namun, ia sama sekali tidak menemukannya. Semuanya berjalan seperti biasa.
Bila menggeleng cepat, karena memang Raka tidak melakukan kesalahan apapun. "Lalu kamu kenapa sayang?" Raka mulai gusar karena Bila belum mau buka suara.
"Mas yakin akan ikut penyergapan om David malam ini?" Akhinya ke luar juga suara emas Bila yang sedari tadi Raka tunggu.
Dia menatap istrinya dalam-dalam. "Jadi, kamu mengikuti mas dari tadi karena hal ini?" Tanya Raka serius dan di balas anggukan kepala oleh Bila.
"Ya Allah sayang. Mas kira karena apa? Mas sampai takut, kalau mas ada salah sama kamu." Ujar Raka dengan napas lega. "Mas memang akan pergi bersama Aksa dan Jimmy."
Mendengar nama Jimmy disebutkan membuat Bila menghela napas lega. "Baguslah kalau Jimmy ikut."
"Kenapa?" Tanya Raka dengan alis terangkat satu.
"Nggak apa-apa, kalau ada Jimmy aku sedikit lebih tenang. Karena firasat aku nggak enak dari semalam setelah mas bilang akan ikut penyergapan ini."
Akhirnya terjawab sudah alasan dari tadi Bila mengikuti Raka kemanapun ia pergi dan kenapa Bila tiba-tiba menangis. Rupanya ia merasakan firasat tidak enak. Seakan akan ada sesuatu yang terjadi saat penyergapan tersebut.
"Sayang...! Dengar ya." Raka memegang kedua pundak Bila seraya menatap kedua manik mata istrinya itu. "InsyaAllah tidak akan terjadi apa-apa. Kamu doakan aja semuanya berjalan lancar ya." Imbuhnya, lalu menarik Bila ke dalam pelukannya.
"Iya mas, aku akan selalu mendoakan keselamatan mas dan orang-orang yang aku sayang." Bila mengeratkan pelukannya pada Raka.
Sementara bik Nah sedikit kewalahan mengurus si kembar dan tertangkap oleh mata Bila saat melapaskan pelukannya dari sang suami. Wanita itu segera bergegas menghampiri bik Nah dan mengambil alih salah satu anaknya.
"Maaf ya bik, tadi aku lagi kepikiran mas Raka yang akan pergi nanti malam. Akhirnya bik Nah jadi repot begini. Maaf ya bik." Ujar Bila sambil tersenyum.
"Nggak apa-apa non. Mereka sangat lucu dan menggemaskan. Mana kasep pisan. Saya malah senang bisa mengasuh mereka." Ucap bik Nah ditambah dengan bahasa daerahnya.
"MasyaAllah tabarakallah bik. Alhamdulillah kalau mereka membuat bik Nah senang." Bila tersenyum lembut kemudian memberikan ciuman sayang kepada kedua anaknya.
__ADS_1
πππ
Suasana jalanan ibu kota pagi itu sudah mulai terlihat ramai. Mulai dari mobil pribadi, motor, dan angkutan umum. Halte mulai dipenuhi oleh orang-orang yang akan berangkat kerja, kuliah dan sekolah.
Tak jauh dari Halte tiba-tiba sebuah motor berhenti tiba-tiba dan perempuan yang membawanya langsung turun dan menurunkan kaki dua motornya.
"Ya Allah, ini motor kenapa lagi sih?" Ocehnya seraya mencoba menghidupkan motornya. Orang-orang yang ada di sana sama sekali tidak ada yang berniat membantu.
"Haduhh, mana mau ketemu dosen lagi." Dia terus mengoceh seraya melihat ke arah halte yang sudah mulai sesak oleh penumpang yang akan naik bus.
Hampir 10 menit, ia terus berupaya agar motornya kembali menyala. Namun hasilnya nihil, motor tersebut sama sekali tidak bisa menyala. Ia pun melirik jam di pergelangan tangannya dan seketika matanya melotot. "Mampus aku, alamat gagal lagi nih acc skripsi."
Dalam kepanikannya, sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depan motornya dan tak lama seorang pria tampan turun dari dalam mobil. Kemudian menghampiri perempuan tersebut yang sama sekali tidak melihat ke arah pria tersebut.
"Calista!"
Saat mendengar namanya disebut, perempuan itu langsung menoleh ke arah orang yang menyapanya.
πππ
POV Aksa
"Sedang apa dia di sini?" Gumamku seraya turun dari mobil dan langsung menghampirinya. Seakan tidak menyadari kehadiranku dia sama sekali tidak melihat ke arahku. Entah dia sengaja atau memang tidak sadar akan kehadiranku.
"Calista!" Sapaku dan yang bersangkutan langsung menoleh.
"Maaf, siapa ya? Kamu tau nama saya dari mana?" Tanyanya dengan tatapan bingung.
Aku terkejut karena dia tidak mengenaliku. "Kamu Calista Zalva Olina kan? Anaknya om Rama Perdana" Tanyaku memastikan.
"Iya benar. Tapi saya tidak kenal sama kamu, kenapa kamu tau nama panjang saya dan nama ayah saya? Apa kita pernah bertemu?"
Aku terdiam sejenak sebelum kembali membuka mulut untuk bicara. "Kamu lupa sama aku? Aku Aksa, Aksa Fahri Liandra."
"Aksa?" Gumamnya kemudian menatap lurus ke arahku. "Kamu salah orang kali. Soalnya saya nggak ingat pernah ketemu sama kamu."
__ADS_1
Jawabannya sungguh membuat hatiku sakit. Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa bertemu dengannya lagi semanjak dia menghilang bak ditelan bumi. Namun ternyata, dia sama sekali tidak mengingatku. Aku berusaha menekan rasa sakit dalam hatiku dan tersenyum padanya.
"Baiklah, kalau memang begitu." Aku menjeda ucapanku. "Oh iya, kamu sedang apa di sini?"
Seakan baru ingat sesuatu, dia langsung terlihat panik. "Motor saya mogok, padahal saya harus segera ke kampus. Mau bertemu dengan dosen." Jawabnya menjelaskan.
"Kamu masih kuliah?" Tanyaku, karena setauku sebelum Calista menghilang tampa kabar. Dia sudah kuliah setelah lulus SMA 8 tahun yang lalu. Jadi rasanya tidak mungkin dia belum lulus kuliah. Sedangkan 7 tahun saja sudah terancam DO, apalagi lebih dari itu.
"Iya, memang kenapa? Saya kan masih 20 tahun. Jadi wajarlah kalau saya masih kuliah."
Aku semakin tercengang dengan pernyataannya. Oh come on, kita seumuran dan kenapa dia menganggap dirinya masih 20 tahun? Sepertinya ada sesuatu yang terjadi kepadanya dan alasan dia menghilang mungkin berkaitan dengan keadaan dia saat ini.
Aku harus mencari tau kebenarannya. Gumamku dalam hati. "Kamu mau aku antar ke kampus?" Tanyaku basa basi.
"Kamu serius? Terimakasih banget kalau kamu mau antarin saya. Tapi motor saya gimana?" Dia menatap motornya kemudian menatapku seakan meminta jawaban.
"Kamu tenang aja. Motor kamu akan di urus oleh anak buahku. Sebentar." Aku mengambil ponsel dan menghubungi Romi. Karena kebetulan letak kantor tidak jauh dari tempat kami berdiri.
Tak lama Romi datang dan langsung menghampiri kami. "Titip motornya ya Rom. Tolong dibawa ke bengkel."
"Siap tuan."
"Ayo Calista."
Romi langsung mengambil alih motor Calista dan perempuan itu segera mengikuti Aksa masuk ke dalam mobil.
POV Aksa End
.
.
.
.
__ADS_1
to be continue
Sedikit menyinggung kisah si asisten tampan yaa.