
Sampai di rumah, Bila langsung disambut oleh suaminya yang sedang menggendong salah satu anak mereka. Masuk ke dalam kamar mandi, Bila membersihkan diri dan berganti pakaian. Kemudian kembali menghampiri suaminya dan mengambil alih bayi yang ada di pangkuan Raka.
"Apa selama aku pergi mereka rewel mas?" Tanya Bila seraya menatap bayi yang ada di pangkuannya yang tak lain adalah baby Zahran.
"Lumayan sayang. Karena mereka tau mommy nya sedang pergi."
"Zayyan mana? Apa sedang tidur? Tapi tumben dia tidur jam segini? Apa tadi mas kasih susu?" Tanya Bila, namun tak lama terdengar tangisan baby Zayyan dan membuat wanita itu menoleh ke arah box bayi. Bila berdiri sambil menggendong baby Zahran dan berjalan menuju ke box bayi tempat Zayyan berada.
Bila yang sudah berdiri di dekat box bayi langsung mengulurkan tangannya untuk memegang pipi dan kening anaknya yang sedang menangis.
"Mas...!" Panggilnya dengan ekspresi cemas, karena terkejut saat merasakan suhu tubuh anaknya.
"Iya sayang, ada apa?" Raka segera berdiri dan menghampiri istrinya. Apalagi dia mendengar tangisan baby Zayyan semakin kencang.
"Tolong pegang Zahran sebentar." Dia langsung menyerahkan baby Zahran ke tangan Raka dan kembali menyentuh kening baby Zayyan. "Ya Allah mas, badannya panas." Bila langsung mengambil anaknya dan membuka kain bedung yang menyelimuti tubuhnya.
Wanita itu mengambil termometer untuk mengecek suhu tubuh bayinya dan menempelkan di ketiak anaknya. Ia langsung terkejut saat suhu baby Zayyan mencapai angka 37,2 derajat celcius.
"Mas, suhunya 37,2 derajat celcius. Bagaimana ini?" Karena panik dan belum punya pengalaman ia kembali menggendong bayinya.
"Sayang tenang, coba kamu susui dulu. ASI kamu itu bisa jadi obat loh." Usul Raka, karena sebelumnya pria itu memang pernah membaca artikel tentang manfaat ASI dan kandungannya.
Bila langsung membuka kancing bajunya dan menyusui baby Zayyan. Akan tetapi anaknya selalu menolak dan membuat Bila panik.
"Mas, dia nggak mau. Ini gimana?" Bila sudah semakin panik dan air matanya pun sudah mengalir deras.
"Coba tanya sama ibu."
Tanpa menjawab, Bila langsung mendial nomor telphon sang ibu untuk meminta pendapat.
Bu Sukma yang sedang berada di dalam kamar bersama suaminya yang baru pulang kerja mendengar ponselnya berdering. Senyumnya langsung merekah saat melihat nama siapa yang tertera di layar ponselnya. Wanita paruh baya itu langsung menjawab telphon dari anaknya.
"Assalamualaikum sayang."
"Siapa?" Tanya ayah Rasyid tanpa suara sambil mendekat pada istrinya.
"Bila mas." Bisik bu Sukma di telinga suaminya.
__ADS_1
"Walaikumsalam ibu."
"Ada apa Bil, kenapa suara kamu?"
"Bu, Zayyan demam tinggi dan sekarang tidak berhenti menangis." Adunya pada sang ibu.
"Ya Allah Bil, berapa suhunya?"
"37,2 bu. Aku harus gimana?"
"Kamu tenang ya. Sudah kamu coba susui?"
"Sudah bu, tapi tadi aku coba dia selalu menolaknya."
"Sekarang coba kamu mandikan pakai air hangat, terus turunkan suhu kamar, dan setelah itu coba kamu susui lagi Zayyan ya sayang."
"Baik bu, ya sudah aku matiin ya. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
"Ada apa sayang?" Tanya ayah Rasyid setelah istrinya selesai telphonan dengan anaknya.
"Mas jadi ingat waktu kita baru punya Bila, dan dia demam tinggi. Kamu harus menjual cincin kawin kita untuk pengobatan. Karena waktu itu kita belum punya apa-apa seperti sekarang." Ucap ayah Rasyid sambil terkenang masa lalunya.
"Mas benar, hasil usaha yang mas rintis waktu itu hanya bisa kita pakai untuk makan." Sambung bu Sukma.
"Alhamdulillah, hari ini semua itu sudah kita lalui dan anak-anak tumbuh serta berkembang dengan sangat baik."
"Kamu benar, semua ini berkat pertolongan Allah yang telah memberikan pendamping yang selalu menyemangati dan memberikan dukungan kepada mas." Ayah Rasyid memeluk istri yang sangat ia cintai itu.
πππ
Bila baru saja selesai memandikan Zayyan dengan air hangat dan menurunkan suhu kamarnya sesuai apa yang disampaikan ibunya tadi. Setelahnya ia mencoba kembali menyusui baby Zayyan yang pada akhirnya mau disusui.
Lebih kurang setengah jam lamanya, Raka menghampiri istrinya yang hampir tertidur sambil memangku baby Zayyan.
"Sayang, bagaimana Zayyan?" Ia memegang kening sang putra untuk memastikan apakah suhu tubuhnya sudah turun atau belum. "Alhamdulillah demamnya mulai turun." Ucap Raka setelahnya. Bila pun memegang kening baby Zayyan untuk memastikan.
__ADS_1
"Alhamdulillah." Wanita itu sangat bersyukur demam anaknya sudah mulai turun.
"Oh iya Bil, bagaimana tadi pertemuan kamu dengan Kania?" Raka baru berani bertanya sekarang karena kondisi putranya sudah membaik.
Bila menatap suaminya serius. "Astaghfirullah, untung mas ingatkan." Dia lupa mengatakan semua yang ia dengar tadi. Karena panik saat pulang mendapati anaknya demam tinggi. "Tadi mba Kania menceritakan rahasia gelap om David padaku."
"Apa itu?" Raka penasaran dan duduk di dekat istrinya. Sementara baby Zahran sudah ia tidurkan di dalam box bayi.
Bila pun menceritakan semua yang ia dengar dari mulut Kania dan membuat Raka tersenyum menyeringai. Akhirnya ia bisa juga menjatuhkan David dan membuat pria itu tidak bisa bangkit lagi.
"Biasa aja senyumnya...! Seram tau." Bila langsung memukul lengan suaminya saat melihat senyum devil Raka. "Apa yang akan mas lakukan?" Tanyanya setelah Raka merubah ekspresinya menjadi datar.
"Hmmm, mas akan pikirkan dulu. Karena mas juga tidak mau membuat rencana yang gegabah. Kita jangan sampai memukul rumput dan mengejutkan ular." Jawabnya seraya mulai menyusun rencana dalam kepalanya.
"Apa yang mas katakan barusan ada benarnya juga. Intinya kita tidak boleh salah langkah dan perencanaan kita harus matang." Dia terdiam sejenak. "Apa kita akan melibatkan pihak berwajib?"
"Sepertinya mas tidak akan melibatkan pihak berwajib. Karena takutnya nanti semuanya kacau. Akan tetapi, setelah mas bisa mengalahkan om David dan anak buahnya. Mungkin mas akan menyerahkannya ke pihak berwajib."
"Tapi itu terlalu beresiko mas. Kalau terjadi sesuatu bagaimana? Aku tidak mau kehilangan kamu mas. Jadi aku mohon, jangan gegabah." Ucapnya dengan air mata mulai mengalir membasahi pipinya.
"Hei, hei, jangan nangis dong sayang." Raka langsung mendekati sang istri dan memeluknya dari samping. "Ya sudah, mas akan melibatkan pihak berwajib dan akan bekerja sama dengan mereka. Are you agree?"
Bila mendongakkan kepalanya. "Yes, I'm agree."
"Baiklah my lovely wife, mas janji tidak akan bertindak gegabah okay."
"Promise." Bila mengacungkan jari kelingkingnya sambil menghirup ingusnya yang ke luar saat ia menangis tadi.
"I'm promise." Raka mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Bila. Membuat sebuah senyum langsung terukir indah di wajah sembab sang istri.
Raka dengan gemas menciumi wajah yang masih ada sisa air mata itu. Ternyata mempunyai seorang istri itu bisa membuat dirinya bahagia, tertawa, menangis, gemas, sebal, marah dan berbagai kondisi lainnya. Namun hal itulah yang membuat ia semakin mencintai istrinya itu.
.
.
.
__ADS_1
.
to be continue