
Hampir seharian Arum menemani Bila dan wanita itu juga sudah meninggalkan kediaman bosnya selesai sholat asyar. Setelah Arum pergi, Bila langsung menuju dapur untuk masak makan malam.
Dengan semangat 45, wanita itu memasak makanan dengan lincahnya. Seolah demam yang ia rasakan tadi pagi hilang begitu saja. Mungkin tadi dia hanya ingin sekedar bermanja dengan suaminya. Sehingga membuat dirinya sedikit sensitive karena penolakan Raka. Ditambah lagi pengaruh hormon kehamilan yang membuat moodnya bisa berubah dalam waktu singkat.
Cukup lama ia berkutat dengan peralatan masak lainnya. Sampai waktu menunjukkan pukul setengah 6 sore. Akhirnya sesi masak-masaknya selesai sudah. Kemudian ia menata masakannya di atas meja makan dan menutupnya dengan tudung saji. Peluh yang sudah membanjiri tubuhnya, sungguh membuat wanita itu risih. Apalagi nanti kalau suaminya pulang dan mendapati dirinya yang masih bau asap dan bau masakan. Membayangkannya saja sudah membuat Bila melangkahkan kaki dengan cepat menuju ke kamarnya.
Tidak membutuhkan waktu lama, ia sudah kembali segar dan wangi tentunya. Bila melangkah ke luar dari kamar mandi dengan handuk yang membungkus tubuhnya sebatas dada dan belum menyadari kalau suaminya sudah berdiri mematung di ambang pintu dengan tatapan sulit di artikan. Ya meskipun Bila tengah berbadan dua, hal itu sama sekali tidak mengurangi aura kecantikan dan keseksiannya. Malahan semenjak hamil, wanita itu semakin terlihat dua kali lebih cantik dan terlihat semakin seksi.
Ah! Bahkan Raka dibuat mabuk kepayang saat aroma manis dan segar merangsek masuk ke dalam indra penciumannya yang berasal dari tubuh sang istri yang baru selesai mandi. Membuat pikiran liar Raka berkelana kemana-mana.
"Astaghfirullah! Mas Raka kenapa berdiri di situ?" Tanya Bila sambil melotot karena kaget melihat suaminya berdiri di ambang pintu sambil menatap dirinya. Raka langsung tersentak kaget dan kembali kepada kesadarannya. Pria itu langsung tersenyum konyol dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Aksinya tidak luput dari tatapan Bila yang masih menatap lekat Raka sebelum dirinya melangkah menuju walk in closet untuk memakai baju. Raka yang sudah terpancing langsung mengikuti sang istri dan memeluk wanita itu dari belakang.
Bila langsung mengerang pelan saat Raka menghisap kuat pundak polosnya yang tidak terhalang apapun dan meninggalkan jejak merah keunguan di sana. Aksi nakal Raka terhenti saat azan maghrib berkumandang dan pria itu langsung berlalu dari belakang tubuh istrinya untuk membersihkan tubuhnya sekalian mengambil wudu.
Meskipun saat ini hasratnya sudah di ujung tanduk. Akan tetapi, ia harus menunaikan dulu kewajibannya kepada sang maha segalanya.
Selesai sholat mereka turun ke bawah untuk makan malam. Raka berjalan bersisian dengan Bila dengan tangan memeluk erat pinggang sang istri. Bila yang merasa sedikit heran dengan tingkah Raka langsung melirik suaminya. Sampai ia tidak memperhatikan langkahnya dan hampir jatuh saat menuruni tangga. Untung saja Raka memegang istrinya, sehingga Bila tidak jatuh ke bawah.
"Bee, hati-hati." Bentak Raka tampa sadar dan hal itu membuat mata Bila langsung berkaca-kaca.
"Kamu membentakku?" Tanya Bila garang dan melepaskan tangan Raka dari tubuhnya. Dengan air mata yang sudah bercucuran, Bila berlari menuju kamar dan menguncinya.
Raka langsung meremas kuat rambutnya. Bukan maksudnya untuk membentak Bila. Ia hanya khawatir dan tampa sadar membentak sang istri. Hah! Sekarang Raka bingung antara mengisi perut terlebih dahulu atau membujuk istrinya yang sedang merajuk. Sampai akhirnya, ia memutuskan untuk mengisi perutnya yang sudah berteriak minta diisi.
Sementara Bila langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan melepaskan tangisnya di sana. Bila kadang suka gemas dengan dirinya yang mendadak berubah jadi drama queen yang selalu mempermasalahkan masalah sekecil apapun itu.
"Mas Raka menyebalkannn! Mengesalkan! Menjengkelkannn...!" Teriak Bila mengumpati suaminya. Sedangkan yang di maki-maki sedang duduk santai menikmati makanan yang sudah di masak istri tercintanya.
Tak lama setelah memaki suaminya, Bila langsung tertidur pulas tampa memperdulikan suaminya yang nanti tidur dimana? Karena kamar mereka dikunci Bila dari dalam.
Keesokan paginya, Bila melakukan aktivitas biasanya dan selesai mandi dan sholat subuh ia langsung ke luar dari dalam kamar. Tapi, matanya langsung membulat tatkala melihat suaminya tidur di depan pintu kamar. Seketika hatinya terasa di remas kuat saat melihat pria yang ia cintai meringkuk di depan nya.
Bila langsung menurunkan tubuhnya dan mengusap kepala Raka penuh sayang. Ah, rasanya ia menjadi seperti istri durhaka yang membiarkan suaminya menderita. Bila menurunkan kepalanya untuk mencium pipi Raka.
__ADS_1
"Bangun sayang," bisik Bila di telinga Raka dan seketika membuat mata elang pria itu terbuka lebar. Tatapannya langsung terbentur dengan tatapan istrinya yang sedang menatapnya dengan tatapan bersalah.
Raka langsung duduk dan memeluk istrinya. "Maafin Mas ya, kalau semalam sudah membentak kamu." Lirih Raka di ceruk leher istrinya.
"Aku juga minta maaf ya Mas." Bila meregangkan pelukannya dan menatap suaminya. Jari lentiknya terangkat dan mengelus rahang tegas suaminya. "Sekarang Mas mandi trus sholat ya. Aku mau buatkan sarapan." Raka menganggukkan kepalanya dan Bila bangkit berdiri dibantu Raka. Kemudian keduanya pergi ke arah yang berlawanan.
Bila memasak nasi goreng dan roti bakar isi coklat. Namun, perutnya langsung bergejolak saat mencium amis telur. Tapi ia tahan dan tetap melanjutkan masaknya. Selesai masak, wanita itu membawa masakannya ke meja makan dan kembali ke dapur untuk membuat kopi serta susu miliknya. Kemudian membawa kopi dan susu ke meja makan bertepatan dengan Raka yang turun dari kamar dalam keadaan rapi.
"Apa tadi mual seperti biasa bee?" Tanya Raka seraya menarik kursi dan mendudukkan tubuhnya di kursi tersebut.
"Iya, seperti biasa sih. Tapi, tadi tidak terlalu parah." Jawab Bila sambil tersenyum dan mengambilkan nasi goreng ke piring suaminya.
"Apa hari ini kamu pergi ke butik?" Raka kembali bertanya sebelum memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
Kepala Bila mengangguk pelan. "Iya Mas, aku akan ke butik nanti. Kenapa?" Tapi aku juga akan menyelesaikan masalah Arum terlebih dahulu. Batinnya.
"Nggak apa-apa, Mas hanya bertanya." Jawab Raka sambil memasukkan kembali makanan ke dalam mulutnya. Setelah itu, keduanya makan tampa bicara dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
πππ
Bila baru saja meninggalkan kediamannya dengan mengendarai mobil miliknya. Sedangkan Raka sudah berangkat dari tadi karena ada meeting dengan semua direktur dan manager di kantornya.
Dengan langkah pelan dan anggun Bila memasuki lobby kantor tersebut menuju ke depan meja resepsionis. "Permisi, apa tuan Baldev ada di tempat?" Tanya Bila datar.
Petugas resepsionis menatap Bila seakan mengatakan 'untuk apa kamu menanyakan bos tampan?' Namun Bila tetap memasang wajah datarnya dan menatap tajam wanita di depannya.
"Maaf nona, tuan Baldev belum datang." Jawab wanita itu dan langsung di angguki oleh Bila.
"Baiklah, apa saya boleh menunggu di ruangannya? Atau saya harus menunggu di lobby ini?" Tanya Bila dengan suara tegas.
Staff resepsionis sedikit kaget dengan nada wanita muda di depannya. "Nona bisa menunggu di ruangan khusus tamu tuan Baldev di lantai paling atas di dekat ruangan CEO." Jawab wanita itu ragu-ragu.
"Oke, terimakasih." Bila tersenyum tipis dan melangkah menuju lift. Setelah pintu lift terbuka, ia segera masuk dan bediri di sudut lift. Saat pintu akan tertutup, pintu kembali terbuka dan masuklah seorang pria tampan yang langsung berdiri membelakangi Bila. Wanita itu terlihat acuh tak acuh dan mengarahkan tatapannya ke bawah.
Ting
__ADS_1
Pintu lift terbuka dan pria itu ke luar dari dalam lift diikuti Bila dari belakang. Orang yang berjalan di depan Bila merasa ada yang mengikutinya. Ia pun menghentikan langkahnya tampa membalikkan tubuhnya. Sementara Bila terlihat mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan tidak melihat ke arah depan.
Dugg
Kepalanya langsung bertubrukan dengan punggung kekar seseorang. "Akhhh," tangannya refleks memegang keningnya yang sedikit nyeri dan langsung memarahi orang di depannya.
"Kalau berhenti jangan mendadak dong! Sakit tau." Protes Bila dengan suara cukup tinggi dengan tangan masih memegang keningnya.
Sementara pria yang ditabraknya langsung tersenyum miring dengan ekspresi yang mulai menggelap. Seharusnya dia yang marah, karena dia yang di tabrak. Lalu, kenapa wanita itu yang memarahinya? Ah, pria itu sungguh sangat jengkel saat ini.
Apalagi sekretarisnya juga sudah menegang di mejanya saat melihat ekspresi murka atasannya. Karena yang di tabrak dan di marahi oleh Bila adalah Mr Baldev or dokter Andre.
"Hei, kenapa kamu diam saja? Kamu tidak berniat minta maaf padaku?" Sebuah protes kembali meluncur dari mulut Bila dan semakin membuat pria di depannya jengkel.
Ck, dasar wanita menyebalkan! Dia yang menabrak malah aku yang di suruh minta maaf. Andre berdecak kesal.
Bila yang merasa di abaikan kembali mengeluarkan kata-kata pedasnya. "Kamu tuli ya? Atau jangan-jangan__
Belum sempat Bila melanjutkan kata-katanya, tangannya sudah di tarik oleh pria itu ke dalam ruangannya. "Hei, apa yang kamu lakukan? Kenapa membawaku masuk ke dalam sini?" Teriak Bila seraya melepaskan cengkraman di pergelangan tangannya. "Tunggu dulu, ini kan ruangan CEO nya." Bila bermonolog sambil melihat ke arah meja dan terdapat plakat nama yang terbuat dari kaca bertengger cantik di atas meja kayu yang terbuat dari kayu ek.
Mata cantiknya langsung membulat saat membaca nama itu. Andre Narendra Baldev. Bila kembali melafalkan nama itu dalam hati dan menatap ke arah punggung pria yang masih membelakanginya. Oh my God, jangan bilang kalau dia tuan Baldev. Kalau iya, aku sudah membuat dia marah? Aduh, bagaimana ini? Ah sudahlah, toh dia juga membuat aku kesal dan kesakitan. Bila yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri tidak menyadari kalau pria yang ada di depannya sudah berbalik menghadap ke arahnya.
Deg
Pria itu langsung tertegun saat melihat siapa wanita di hadapannya. Apa Andre sedang mimpi? Atau dia sedang berhalusinasi? Bolehkah Andre tidak bangun dulu kalau ini memang mimpi? Andre menampar pipinya sendiri dan langsung meringis. Ia langsung tersadar dan melepaskan cengkraman tangannya dari pergelangan tangan Bila yang sudah memerah.
Karena merasa tangannya sudah tidak ada yang memegang membuat Bila tersentak kaget dan refleks tatapanya bertubrukan dengan mata tajam Andre.
"Ma-s Andre?" Pekik Bila tampa sadar.
.
.
.
__ADS_1
.
to be continue