Pelangi Setelah Hujan

Pelangi Setelah Hujan
Puasa 40 Hari


__ADS_3

Di dalam ruangan bersalin terlihat seorang wanita sedang berjuang melahirkan buah hatinya. Dia adalah Qyara yang sedang berjuang melahirkan anak pertamanya ditemani Aldi. Qyara memang baru melahirkan dan memang lebih lambat beberapa hari jika dibandingkan dengan Bila.


Selama proses persalinan berlangsung, Aldi memang tidak bergerak sedikitpun dari posisinya. Aldi sendiri hampir pingsan karena tidak kuat melihat perjuangan sang istri untuk melahirkan anaknya. Namun ia berusaha kuat dan terus berada di samping Qyara untuk menyemangati istrinya itu.


"Ayo ibu, dorong lagi. Kepalanya sudah muncul." Perintah sang dokter yang menangani persalinan Qyara.


Qyara mengambil napas dan mendorong sekuat tenaga. Tak lama terdengar tangisan bayi yang memenuhi seluruh ruangan. Membuat air mata Qyara mengalir begitu saja.


"Selamat ya pak, ibu anaknya laki-laki." Ucap sang dokter dan meletakkan bayi yang sudah dibersihkan di atas dada ibunya.


Aldi segera mengazani anaknya dan mencium kening Qyara serta kepala anaknya. Air mata pun tidak bisa ia tahan saking bahagianya melihat anaknya lahir dengan selamat dan sehat.


"Makasih ya sayang. I love you." Ia berjanji tidak akan menyia-nyiakan istrinya yang rela bertaruh nyawa untuk menghadirkan anaknya ke dunia.


Qyara meraih tangan Aldi dan menciumnya. "Love you too hubby."


Setelah proses melahirkan selesai termasuk jahit menjahit, Qyara dan bayinya dibawa ke dalam ruangan rawat untuk istirahat.


"Mas, aku mau tidur. Apa boleh?" Rengek Qyara, karena ia memang kurang tidur karena kontraksi yang ia rasakan sejak kemarin malam. Sebenarnya ia memang sudah ke Rumah Sakit sejak kemarin. Namun saat dicek ia baru berada di pembukaan 1 dan dokter meminta untuk pulang.


Aldi yang merasa tidak tenang memilih menginap di dekat Rumah Sakit agar lebih mudah. Namun dari pagi sampai siang Qyara mulai gelisah karena kontraksi yang ia rasakan. Mereka memutuskan ke Rumah Sakit untuk cek pembukaan. Setelah di cek pembukaan sudah meningkat menjadi pembukaan 3 dan air ketuban juga masih utuh.


Dokter memberikan opsi induksi atau cecar. Qyara yang mau melahirkan normal, memilih induksi. Sehingga kontraksi yang ia rasakan semakin menyengat dari sebelumnya dan pembukaan masih stuck di pembukaan 3.


Qyara sendiri hampir menyerah karena pembukaan tidak bertambah. Namun menjelang maghrib, Qyara kembali kontraksi dan lebih hebat sampai wanita itu benar-benar kewalahan merasakan gelombang cinta bayinya. Setelah diperiksa ternyata sudah pembukaan 8. Tampa menunggu lama, Qyara langsung di bawa ke ruang bersalin. Sehingga ia memang belum istirahat sama sekali.


"Tahan sebentar ya sayang." Aldi terus membuat istrinya tetap terjaga dengan mengajaknya bicara. Setelah hampir 1 jam, Qyara sudah tidak sanggup dan memilih untuk istirahat setelah menyusui anaknya untuk pertama kalinya.


πŸ’πŸ’πŸ’


Setelah menidurkan anaknya, Bila langsung ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Namun ia terkejut melihat sudah ada makanan terhidang di meja makan.


"Ini semua mas yang masak?" Tanyanya tak percaya. Karena selama ini Raka sangatlah jarang memasak.


"Tentu saja sayang. Silahkan dicicipi my queen."

__ADS_1


"Okay." Bila duduk dan mencicipi makanan yang dimasak suaminya.


"Bagaimana?" Tanya Raka saat melihat istrinya yang terlihat mengernyit saat mencicipi makanannya.


"Lumayan enak menurutku." Akunya jujur.


"Serius?"


"Iya sayang, cobain deh." Bila mengambil sesendok dan menyuapkannya ke Raka.


"Hmmm benar, tapi masih jauh dari pada masakan kamu bee." Ucap Raka, kemudian memakan makanannya.


Saat sedang makan notifikasi ponselnya berbunyi. Ia pun menghentikan aktivitas makannya dan melihat ponselnya.


"Mas, Qya sudah melahirkan." Teriaknya girang. "Besok kita lihat ya?"


"Iya, besok kita ke Rumah Sakit melihatnya." Kemudian melanjutkan makannya kembali.


Selesai makan malam, Bila mengecek kedua anaknya apakah terbangun atau tidak. Setelahnya, ia masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka dan menyikat gigi.


"Sayang...!" Raka merengek ke arah Bila saat teringat sesuatu.


"Ada apa mas?" Bila menatap suaminya heran.


"Apa mas harus puasa?" Tanyanya dengan tampang memelas.


Bila terkekeh geli saat menatap tampang memelas sang suami. "Iya mas, kan baru berjalan beberapa hari. Mas harus puasa selama 40 hari." Jawaban Bila membuat Raka melotot tak percaya.


"Apa? Jadi dia harus puasa selama 40 hari dong?" Raka langsung tertunduk lesu sambil mengasihani dirinya sendiri.


"Mas tenang aja. Aku akan tetap jadi istri yang baik untuk mas dan akan melayani kebutuhan biologis mas dengan caraku."


Senyum Raka langsung terkembang. "Kamu serius? Jadi mas tidak akan tersiksa selama 40 hari?"


"Iya sayangku." Bila harus siap mental dan harus bisa mengendalikan diri saat membantu suaminya nanti. Sebelumnya ia sudah menduga bahwa suaminya pasti akan mempertanyakan hal itu. Namun ia tidak menyangka Raka akan membahas semua itu secepat ini.

__ADS_1


Dasar lelaki. Bila mendesah dalam hati. Kemudian ia bangkit dari ranjang menuju ke lemari dan mengambil dasi Raka.


Raka mengangkat satu alisnya saat Bila mendekat sambil memegang dasi. "Dasi? Untuk apa?"


Bila tidak menjawab dan langsung mengikat kedua tangan suaminya ke kepala ranjang. "Kenapa kamu mengikat tangan mas?"


"Sssst, jangan banyak tanya? Mau atau tidak? Kalau tidak aku tidur." Ancamnya dengan ekspresi serius.


"Ba-iklah, mas diam." Raka pasrah terhadap apa yang dilakukan istrinya. Setelah memastikan tangan Raka terikat kuat, Bila masuk ke dalam walk in closet untuk bertukar pakaian.


Aksi Bila benar-benar membuat Raka panas dingin. Bagaimana tidak istrinya itu memakai lingerie super sexy dengan warna merah terang, yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih.


Bila berjalan dengan anggunnya ke arah sang suami yang menatapnya dengan tatapan lapar. Jari-jemari mulai bermain dengan melepaskan kancing piyama sang suami satu persatu disertai usapan nakal di dada Raka.


"Sayang, kamu mulai nakal ya." Erang Raka frustasi.


Sungguh pria itu sangat tersiksa saat dipermainkan oleh istrinya yang tiba-tiba menjadi sangat nakal. Apalagi ia sama sekali tidak bisa bergerak bebas karena kedua tangannya terikat kuat.


"Nikmati saja honey." Ucap Bila sensual, kemudian kembali melanjutkan aksi nakalnya. Ia juga melakukannya dengan cepat karena takut anaknya akan bangun.


Sudah hampir 1 jam Bila melakukan berbagai cara agar suaminya puas. Namun Raka tak kunjung mendapatkan pelepasannya. Tangannya sudah mati rasa dan tubuhnya juga sudah panas dingin mengendalikan gejolak yang ia rasakan.


"Mas, apa masih lama?" Tanyanya seraya memperhatikan ekspresi Raka. Namun Raka tak menjawab dan membuat Bila hampir menyerah.


Sejurus kemudian, suara tangis bayinya mulai terdengar bertepatan dengan teriakan Raka yang sudah mendapatkan pelepasannya. Bila langsung bangkit dan segera membersihkan diri sebelum bergegas menghampiri bayinya yang sudah menangis keras.


.


.


.


.


to be continue

__ADS_1


__ADS_2