
Bila mengecek bayinya apakah terbangun karena pop atau lapar. Setelah memastikan kalau bayinya lapar dan bukan pop, Bila mengambil Zayyan dan membawanya ke sofa untuk ia susui.
Raka yang baru masuk ke dalam kamar selepas dari mengambil makanan langsung melihat pemandangan yang selalu membuat dirinya tersenyum semenjak istrinya melahirkan. Yaitu pemandangan dimana Bila akan mengajak bayinya bicara sambil menyusuinya.
"Hanya Zayyan yang bangun?"
Bila menoleh saat mendengar suara suaminya. Kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya mas. Tapi palingan sebentar lagi Zahran juga akan bangun." Ucapnya sambil mengusap kepala bayinya.
Benar saja, tak lama setelah Bila mengatakab itu terdengar suara tangisan Zahran.
Owaa... Owaaa..
"Hahaha, benar kan mas apa yang aku bilang?" Bila tertawa renyah dan menatap Raka yang sudah berdiri untuk mengambil bayinya. "Cek dulu mas pampers-nya. Mana tau dia lagi pop."
Raka melakukan apa yang dikatakan istrinya barusan. Kemudian mengambilnya karena memang bayinya lapar dan memberikan ke pangkuan Bila yang sudah memperbaiki posisi Zayyan dengan meletakkan bantal di sisi kanan serta kirinya.
"Mas....! Lapar." Rengek Bila dengan tampang memelas.
Raka langsung terkekeh dan mengambil makanan yang ia bawa tadi. Kemudian menyuapi istrinya sampai makanannya habis dan kedua anaknya juga sudah tertidur kembali.
"Thank you for everything hubby." Ucap Bila penuh syukur karena telah diberikan suami siaga seperti Raka. Walaupun terkadang suaminya juga bisa menyebalkan. Karena memang manusia tidak ada yang sempurna. Sebab, yang memiliki kesempurnaan hanyalah Allah SWT. Apalagi yang dinikahi bukanlah malaikat yang tidak pernah salah dan bukan iblis yang selalu salah.
"Sama-sama sayang. Apapun akan mas lakukan untuk membuat my queen senang." Ucapan Raka langsung membuat pipi Bila merona dan membuat Raka gemas sendiri.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara Reihan yang sedang mencari keberadaan mereka. Raka langsung berdiri dan berjalan menuju pintu.
"Ada apa Rei? Kenapa teriak-teriak sih?" Raka berdiri di ambang pintu sambil bersedekap dada menatap adik iparnya itu.
"Hehehe mas Raka." Reihan cengengesan sambil menggaruk kepalanya. "Itu mas, Rei ngantarin bik Nah." Imbuhnya lagi dan muncullah wanita paruh baya yang juga sudag di kenal baik oleh Raka.
"Selamat pagi tuan." Sapa bik Nah sopan.
"Iya bik, selamat pagi. Maaf ya bik Nah harus saya bawa ke sini karena istri saya memang belum bisa melakukan pekerjaan rumah." Ucap Raka.
"Iya, tidak apa-apa tuan. Itu sudah tugas saya."
"Bik Nah apa kabar?" Bila muncul dari belakang suaminya dan tersenyum kepada asisten rumah tangga di rumah orang tuanya. Ia juga memeluk wanita paruh baya tersebut.
"Alhamdulillah sehat non. Non Bila sehat?"
"Alhamdulillah sehat bik. Maaf ya aku jadi merepotkan bibik deh."
"Tidak merepotkan sama sekali non. Malahan saya senang bisa bantuin non di sini."
"Kak mana para keponakan tampanku?" Tanya Reihan kepada kakaknya.
"Baru aja tidur Rei." Jawab Bila apa adanya. Karena memang saat mendengar percakapan mereka. Bila baru saja meletakkan kedua anaknya ke ranjang tidur mereka.
__ADS_1
"Yahhh... " Reihan yang antusias bisa bermain dengan kedua bayi kecil itu langsung kecewa.
"Nanti kalau mereka bangun kamu bisa main dengan mereka. Asalkan hari ini kamu tidak ada kerja." Ucap Bila dan membuat senyuman langsung merekah di bibir pria tampan itu.
Setelah mengobrol sebentar, bik Nah langsung di antar Bila ke kamar yang akan ditempatinya selama berada di kediaman Raka dan Bila. Kemudian langsung ke dapur untuk membuatkan makan siang.
πππ
Raka yang sudah merasa tenang karena sudah ada bik Nah di rumah dan kebetulan juga ada Reihan. Ia langsung izin untuk pergi ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya serta menindaklanjuti permasalahan dengan kakak ayahnya.
Apalagi Aksa juga sudah mengabarinya melalui WA, bahwasanya pihak kepolisian sudah melakukan pengintaian di kantor dan rumah David setelah Aksa memberikan laporan sesuai yang di sampaikan Raka kepadanya.
Memasuki kantornya, Raka langsung diberikan selamat oleh semua karyawannya atas kelahiran baby twinnya. Mereka juga memberikan kado kepada atasan mereka tersebut dan diterima dengan senang hati oleh Raka. Kemudian pria itu segera melangkah menuju lift yang akan membawa dirinya ke ruangan miliknya.
"Bagaimana perkembangannya?" Tanya Raka saat memasuki ruangan kantornya.
"Tadi komandan Erick mengabariku bahwa penyergapan akan dilakukan besok malam." Jawab Aksa menjelaskan.
"Baiklah, besok kita akan ikut dalam pernyergapan." Ucap Raka sebelum memeriksa dokumen yang sudah berada di ataa mejanya.
Tok.. Tok
Terdengar suara ketukan di pintu ruangannya. Membuat Raka mengangkat kepalanya. "Masuk!" Serunya memberi perintah.
Pintu ruangan yang awalnya tertutup perlahan terbuka menampakkan sekretaris Raka. "Permisi tuan, ada yang ingin bertemu dengan tuan."
"Hai brother." Terdengar suara disertai munculnya seseorang di belakang Adara sekretaris Raka.
"Hai Jim." Sapa Raka saat melihat siapa yang ingin bertemu dengannya. "Kamu boleh ke luar dan buatkan 3 cangkir kopi." Perintah Raka yang langsung di angguki oleh Adara.
"Buleee... How are you?" Teriak Aksa saat melihat Jimmy. Karena memang mereka sudah lama sekali tidak bertemu. Apalagi Raka juga jarang ke hotelnya dan Jimmy juga ada tugas di luar negeri.
"I'm fine." Jawab Jimmy seraya berjalan menuju sofa dan mendudukkan tubuhnya di sana.
Tak lama Adara kembali masuk membawa kopi yang diminta Raka. "Terimakasih nona cantik." Ucap Jimmy sambil tersenyum tipis.
"Sama-sama tuan. Saya permisi dulu." Adara langsung melangkah ke luar meninggalkan ruangan bosnya.
"Ada apa nih? Apa ada masalah dengan hotel?" Tanya Raka to the point. Karena dia memang tidak suka basa basi.
"Hotel aman tentram dan sentosa. Walau pernah tuh beberapa kali fans fanatic kamu si Kayla membuat keributan di hotel." Jawab Jimmy saat teringat keributan yang ditimbulkan oleh Kayla.
"Kenapa kamu tidak mengatakan apa-apa padaku?" Tanya Raka yang sangat terkejut mendengar penuturan Jimmy.
"Karena itu masalah tidak penting menurutku. Makanya tidak aku laporkan. Tapi kamu tenang aja. Semuanya sudah di selesaikan dengan sebaik mungkin dan wanita itu tidak akan membuat masalah lagi." Jawab Jimmy menjelaskan.
"Kamu apakan wanita itu bulee?" Tanya Aksa penasaran.
__ADS_1
"Tentu saja dengan caraku." Jawabnya enteng.
"What? Are you serious?"
"Are you crazy?"
Teriak Raka dan Aksa secara bersamaan. Membuat Jimmy terbahak melihat reaksi keduanya. Alasan Raka dan Aksa bereaksi seperti itu karena cara yang dilakukan Jimmy sangatlah tidak manusiawi. Karena biasanya pria bule itu akan menyerahkan siapa saja yang mengusiknya ke anak buahnya dan menjadikan orang tersebut tidak menginginkan hidup dan memilih untuk mati.
Nasip orang yang mengganggu ketenangan dirinya dan orang-orang disekitarnya akan berakhir mengenaskan jika sudah membuat Jimmy marah. Karena dia paling tidak suka melihat orang yang menimbulkan masalah dan membuat keributan di tempatnya. Apalagi sampai mengusik sahabatnya.
"Reaksi kalian bisa biasa aja nggak?" Dia bicara setelah tawanya reda. "Aku melakukan hal itu karena dia mengancam akan menyebarkan foto kamu dengan dia waktu itu ke media. Oleh karena itu, aku terpaksa membungkamnya dengan caraku."
"Wahh gila tu orang. Nggak ada kapoknya ya setelah di permalukan oleh Bila waktu itu." Cerocos Aksa karena tidak habis pikir dengan pemikiran Kayla. "Tapi kalau ketahuan polisi bagaimana? Keluarganya pasti nyariin bulee. Kamu mikir sampai sana nggak sih?" Aksa langsung memasang wajah cemas mode on.
Jimmy terkekeh geli melihat ekspresi Aksa. "Santai aja, semuanya aman."
"Seberapa yakin kamu kalau itu aman?" Kali ini Raka yang bertanya.
"100 %." Jawabnya singkat. "Karena bukan anak buahku juga yang melenyapkannya."
"Lalu?"
"Orang-orang yang dendam kepada wanita itu karena sudah menggoda suaminya. Anak buahku hanya sebagai perantara saja." Jelasnya dengan menampilkan smirk-nya. Membuat wajah tampannya terlihat menyeramkan.
Ekpresi Aksa yang awalnya panik dan cemaa langsung berubah menyeramkan seperti Jimmy. Sementara Raka memasang tampanf datar dan dinginnya. Membuat suasana ruangan Raka terasa mencekam.
"Oh iya, bagaimana kasus om David?" Pertanyaan yang baru saja meluncur dari mulut Jimmy memecahkan keheningan yang tercipta saat pembahasan tadi.
"Kamu tau tentang hal itu?" Raka menoleh dan menatap sahabatnya serius.
"Tentu saja aku tau. Bahkan rencana penyergapan yang akan dilakukan polisi besok malam saja aku tau." Jawabnya sambil menyesap kopinya.
"Wahh bulee, kamu benar-benar." Aksa mengacungkan kedua jempolnya. Kalau sedang tidak pakai sepatu, mungkin dia akan mengacungkan jari jempol kakinya juga.
"Jadi bagaimana?"
Mereka langsung menyusun rencana untuk ikut serta dalam penyergapan tersebut. Karena mereka takut kalau David akan melarikan diri jika persiapan mereka tidak maksimal.
.
.
.
.
to be continue
__ADS_1