
Aksa terlihat gelisah, apa ia harus berkata jujur pada Raka atau tidak. Tapi, ia tidak mau melihat sahabatnya sakit hati. Kalau seandainya Bila ada hubungan dengan Andre. Tapi, ia juga akan merasa bersalah kalau senadainya mereka tidak ada hubungan apa-apa. Arghhh! Aksa berteriak frustasi.
Raka yang melihat asistennya gelisah merasa heran. "Kamu kenapa?"
Aksa langsung tersentak setelah mendengar suara Raka. "Aaa itu, aku nggak apa-apa."
Raka kembali fokus dengan pekerjaannya sampai Aksa kembali buka suara dan menyebabkan konsentrasi Raka buyar.
"Sebenarnya aku mau mengatakan sesuatu. Tapi aku nggak yakin ini benar atau nggak, tapi yang pasti aku melihatnya secara langsung. Amm__
"Apa sih Sa? Kalau ngomong jangan berbelit-belit." Potong Raka tidak sabaran.
"Tadi aku bertemu nyonya Bila di kantor tuan Baldev. Ia sedang berada di ruangan pria itu. Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu." Jelas Aksa menyambung ucapannya yang terpotong sebelumnya.
Raka terkejut, tapi ia langsung memasang wajah datar. Meskipun dalam hatinya amarah sudah meletup-letup dan tangannya sudah terkepal di bawah meja. Kenapa kamu tidak bilang bee? Kenapa kamu bohong? Batinnya penuh amarah.
"Tuan, apa semuanya baik-baik saja?" Tanya Aksa karena melihat Raka terdiam dengan ekspresi datar.
Raka menghela napas pelan. "Semuanya baik-baik saja. Terimakasih atas info nya, mungkin istriku ada urusan dengan tuan Baldev." Jawab Raka menekan amarah dalam dirinya.
Cemburu itu pasti, siapa yang tidak cemburu mendengar istrinya berada di dalam satu ruangan bersama pria lain. Terlepas dari apapun urusannya. Apalagi istrinya pergi tampa mengatakan apapun pada dirinya. Sebagai seorang suami, ia pantas marah dan mempertanyaan semua itu.
"Untuk urusan bisnis di London, sebaiknya kita berangkat hari ini." Putus Raka tiba-tiba, padahal ia akan berangkat besok setelah bicara dengan Bila. Tapi, saat ini ia benar-benar tidak mau bertemu dengan istrinya itu.
Aksa kaget dengan keputusan tiba-tiba Raka, namun ia tidak mau mempertanyakannya. "Baik tuan, akan aku pesankan tiket untuk sore ini. Karena jadwal anda juga sudah tidak ada."
"Siapkan keperluanku selama disana, karena aku tidak akan pulang untuk mengambil pakaian dan keperluanku yang lain." Perintah Raka seraya memutar kursinya membelakangi Aksa.
"Baik tuan, kalau begitu aku pergi dulu." Aksa berbalik dan meninggalkan ruangan Raka. Ia tau, kalau Raka saat ini sedang emosi. Jadi ia tidak akan membuat suasana jadi keruh.
Setelah Aksa pergi dari ruangannya, Raka langsung melepaskan emosinya dengan berteriak sekuat-kuatnya. Sampai-sampai Adara terlonjak kaget mendengar teriakan bosnya. Raka memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Hah! moodnya benar-benar hancur saat ini.
πππ
"Tuan, semuanya sudah beres. Kita bisa berangkat sekarang." Ucap Aksa setelah masuk ke dalam ruangan Raka. Tadi dia sudah meminta Jacki untuk memasukkan barang Raka dan dirinya ke dalam mobil sebelum menemui Raka di ruangannya.
__ADS_1
Raka langsung berdiri dari kursi kebesarannya dan berjalan perlahan menuju Aksa. "Ayo!" Serunya seraya berjalan meninggalkan Aksa yang dengan segera menyusul Raka. Mereka langsung turun ke bawah dan berjalan menuju parkiran.
Kedua pria tampan itu langsung masuk ke dalam mobil dengan Aksa duduk di samping Jacki dan Raka duduk di belakang. Raka meraih ponselnya dan menonaktifkan segera. Entahlah, ia hanya tidak ingin diganggu untuk saat ini. Bukannya tidak mau percaya, tapi ia tidak mau amarahnya meledak kalau sampai bicara dengan Bila nantinya. Karena ia sudah yakin sebentar lagi Bila akan menghubunginya. Raka mencolek Aksa dan membuat pria itu menoleh ke belakang.
"Mana ponselmu?" Raka mengulurkan tangannya.
"Untuk apa?" Tanya Aksa heran, karena tidak biasanya Raka meminjam ponselnya. Untuk apa coba?
"Ponselku mati, aku bosan."
Dengan berat hati Aksa menyerahkan ponselnya ke tangan Raka, yang langsung dihadiahi senyum tipis oleh sahabat sekaligus bosnya itu. Setelah ponsel Aksa ada di tangannya, dengan cepat pria itu mengaktifkan airplane mode. Agar idak ada satupun orang yang bisa menghubungi asisennya itu. Karena, siapun yang tidak bisa menghubungi dirinya, pasti akan langsung menghubungi Aksa. Seringai tipis langsung terbit di bibirnya. Ohhh, dia seperti orang jahat saa ini.
Pria itu langsung memainkan permainan di ponsel Aksa dan sesekali bersuara. Sampai membuat Aksa memutar bola matanya malas, meliha kelakuan Raka yang seperti anak-anak. Hah! Ia yakin sekali, pria dingin itu sedang merajuk karena masalah yang ia ceritakan tadi. Ah! Aksa jadi merasa kesal dengan mulunya yang ember layaknya ember bocor. Berulang kali, ia menggerutu dan merutuki dirinya sendiri.
πππ
Bila masih terus mencoba menghubungi Raka dan Aksa. Percobaan pertama gagal, kedua gagal juga dan ketigapun gagal. Akhirnya dia menyerah dan menatap ke luar jendela. Pikirannya benar-benar kacau saat ini.
"Bil, kita udah sampai. Kamu yakin nggak mau istirahat dulu? Yakin udah kuat nyetir sendiri?" Tanya Andre bertubi-tubi.
"Iya bisa Mas, kalau begitu aku turun dan makasih ya Mas. Assalamualaikum." Bila membuka seatbelt, membuka pintu dan ke luar dari dalam mobil.
Tak butuh waktu lama, Bila sudah sampai di kantor Raka dan memarkirkan mobilnya di parkiran. Saat ke luar dan berniat berjalan ke lobby, ia bertemu dengan Romi security di kantor Raka. Bisa dibilang, dia salah satu bodyguard Raka.
"Selamat siang menjelang sore nyonya." Sapa pria itu dengan sedikit lucu. Yah, sekarang memang sudah pukul 3 sore. Pulang dari rumah sakit tadi, mereka mampir di masjid untuk sholat zuhur. Sebelum Bila kembali kalut.
"Hai Romi, selamat sore." Balas Bila ramah.
"Apa nyonya mau bertemu tuan? Tapi sayangnya tuan sudah berangkat 1 jam yang lalu ke bandara nyonya. Karena tuan ada urusan bisnis di London selama seminggu." Jelasnya panjang lebar.
Bila terkejut, namun berusaha keras untuk tidak terlalu menampakkannya. Namun di dalam hatinya siapa yang tau. Saat ini dia shock karena Raka tidak mengatakan apa-apa kalau akan pergi ke luar negri. Menyinggung persoalan itu saja tidak, sehingga ia merasa tidak dianggap. Apa ini hukuman untuknya? Karena tidak berkata jujur tadi pagi.
Bila menghela napas gusar, ia harus terlihat kuat. Agar orang-orang tidak bergosip tentang hubungan mereka. Toh, masalah pribadi mereka berdua orang lain tidak harus tau bukan? Intinya, ia harus berpura-pura dirinya tau kalau Raka pergi ke London. Padahal sama sekali TIDAK. Bila menjerit kuat dalam hati.
"Astaghfirullah, kenapa aku jadi pelupa gini? Padahal Mas Raka sudah mengatakannya tadi pagi." Bohongnya seraya terkekeh pelan. "Ya udah, kamu bisa lanjut patroli Rom." Imbuhnya seraya tersenyum manis.
__ADS_1
"Baiklah nyonya, saya permisi dulu." Romi segera pergi meninggalkan Bila. Setelah Romi pergi, air mata tak bisa lagi ia tahan. Perlahan tapi pasti, tubuhnya meluruh ke lantai semen nan dingin.
Akhirnya, Bila sadar akan kesalahan fatal yang sudag ia perbuat. Dengan pergi tampa izin suami saja, ia sudah sangat berdosa. Apalagi ia bertemu dengan pria lain yang notabane-nya orang lain untuk dirinya. Ia sangsi kalau Aksa tidak akan mengatakan apa-apa. Meskipun ia memang tidak melakukan perbuatan di luar batas. Tapi, ia tetap saja sudah melakukan kesalahan.
Maafin aku Mas, hiks... hiks... Ratapnya dalam hati.
"Mba Bila...!"
Bila mengangkat kepala yang ia benamkan di telapak tangannya. Dengan cepat wanita itu menghapus air matanya dan berusaha tersenyum. "Hei Rudi, apa kabar?"
"Alhamdulillah baik mba. Mba sendiri apa kabar? Kok mba duduk di sini?" Jawabnya disertai pertanyaan di belakangnya.
"Alhamdulillah, mba baik juga. Tadi, tiba-tiba kaki mba kram. Ya udah deh, mba duduk aja di sini."
Hah! Sepertinya Bila jadi pembohong ulung sekarang agar terlihat baik-baik saja. Padahal rapuh puh puh, tinggal senggol dikit aja langsung runtuh.
"Trus gimana sekarang? Apa masih kram mba?" Tanya Rudi yang sudah duduk jongkok di hadapan Bila dan berniat menyentuh kaki wanita itu.
"Mba udah nggak apa-apa Rudi," Bila berusaha berdiri dan karena terlalu lama duduk membuat kakinya mati rasa. Bila langsung berpegangan pada tubuh tegap Rudi agar tidak jatuh.
"Mba...! Mba itu sedang tidak baik-baik saja. Kenapa pakai bohong segala?"
Rudi sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kekhawatirannya pada wanita di depannya, yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Yah walaupun sebenarnya ia di suruh Raka untuk menjaga istrinya. Bagaimana bisa? Tentu saja bisa, karena Raka mengirimkan pesan kepada Rudi sebelum menonaktifkan ponselnya. Dan kenapa Rudi tau Bila ada di parkiran, karena ia melihat mobil Bila tadi sekilas.
Pertahanan Bila langsung runtuh, tangisnya pecah bersamaan dengan rangkulan di pundaknya. Rudi mengambil kunci mobil Bila dan membawa wanita itu ke dalam mobil. Karena karyawan bisa saja melihat keadaan ini dan membuat gosip yang tidak-tidak.
Well, yang jelas kakaknya butuh ketenangan dan hiburan untuk saat ini. Entah kemana Rudi akan membawa Bila, yang jelas ia masih melajukan mobil Bila membelah jalanan ibukota yang mulai padat merayap.
.
.
.
.
__ADS_1
to be continue
Konflik lagi guys π€