Pelangi Setelah Hujan

Pelangi Setelah Hujan
Penyelesaian


__ADS_3

Suasana kantor terlihat sepi, karena semua karyawan sedang sibuk dengan pekrjaan mereka masing-masing tampa mengetahui hal besar sedang terjadi di perusahaan tersebut.


Derap langkah seseorang yang berjalan seakan sedang menahan gejolak emosi yang tengah menggebu-gebu. Terbukti dengan kerasnya gesekan sol sepatu dengan lantai menandakan tekanan yang berasal dari kaki orang itu sangat kuat.


Ceklek


Tangannya membuka pintu yang tertutup rapat seraya melayangkan pertanyaan kepada seseorang yang ditemuinya di dalam ruangan tersebut.


"Bagaimana? Apa sudah dibereskan?"


Orang yang berada di dalam ruangan rahasia itu adalah Aksa yang langsung menoleh ke arah pintu yang baru saja terbuka dan tertutup kembali menampakkan sosok pria tampan dengan rahang tegas serta mata yang berkilat marah. Menandakan dirinya sarat akan emosi yang siap untuk meledak. Saat ini mereka berada di dalam ruangan rahasia yang hanya diketahui oleh Raka dan Aksa. Karena hanya mereka berdua yang bisa mengakses ruangan itu.


"Aku sudah berusaha sampuku, namun..." Ucapan pria itu menggantung karena sudah dipotong oleh pria yang bertanya tadi yang tak lain dan tidak bukan adalah Raka sang pemimpin perusahaan.


"Namun apa? Coba jelaskan, jangan bertele-tele."


Aksa menatap Raka kesal, padahal dia akan menjelaskannya tapi malah di potong. Dasar atasan menyebalkan! Juga sahabat menyebalkan, karena dirinya tidak diajak liburan.


Dengan tenang Aksa kembali membuka mulut untuk berbicara. Namun sebelum itu, ia memperingati Raka agar tidak memotong ucapannya. "Baiklah, aku akan menjelaskan. Tapi dengarkan baik-baik dan jangan memotong ucapanku, mengerti!" Aksa berkata dengan nada perintah dan membuat Raka memutar bola matanya.


Dasar asisten laknat, berani-berani dia... Raka menatap Aksa tajam, ia ingin mengomeli sahabat serta asistennya itu. Tapi saat ini ia tidak ingin berdebat dalam kondisi genting seperti ini. Akhirnya Raka meredam egonya dan menganggukkan kepalanya seakan enggan mengiyakan kata-kata Aksa.


Aksa tau, kalau pria tampan di hadapannya ini mengiyakan dirinya dengan setengah hati. Tapi ia tidak memperdulikan semua itu. Saat ini yang terpenting adalah menyelamatkan perusahaan yang sedang di otak-atik oleh seekor tikus licik.


"Aku hanya bisa menyelamatkan separuh, karena Om David menyewa hacker professional yang merusak keamanan data perusahaan." Jelas Aksa akhirnya. Meskipun ia seorang ahli IT, namun tetap saja ia tidak bisa memulihkan semuanya dan sebagian sudah diketahui oleh rubah tua itu.


Mendengar hal itu, membuat emosi Raka semakin berkobar. Wajahnya semakin menggelap dengan mata berkilat dingin. Tak lama seringai iblis tercetak di wajah tampannya seraya berujar dingin. "Ingin bermain denganku pak tua, akan aku ladeni."


Suasana ruangan yang dingin karena AC semakin dingin karena aura mencekam yang ke luar dari Raka. Bahkan Aksa yang sudah terbiasa dengan kemarahan Raka sampai bergidik ngeri melihat tatapan dingin atasannya itu.


Tampa kata, pria itu duduk di depan layar monitor besar yang ada di ruangan itu dan memulai aksinya. Di ruangan itu terdapat banyak layar dan menampilkan semua ruangan kecuali toilet dan tempat pribadi lainnya. Ruangan itu semacam ruangan kontrol secara umum, tapi berbeda karena hanya kedua orang itu yg bisa mengakses semuanya. Di sanalah data penting perusahaan di simpan dengan cara mereka berdua. Di perusahaan itu juga ada ruangan pusat keamanan dimana terdapat layar dengan jumlah yg lebih banyak dan di kendalikan oleh tim keamanan perusahaan.


Tak lama muncul simbol-simbol rumit di layar itu setelah Raka memulai aksinya tadi. Sambil menunggu hasilnya, ia kembali berdiskusi dengan Aksa. Perlu diketahui kenapa Raka bisa mengotak-atik teknologi itu, dikarenakan ia memiliki keahlian dalam bidang IT yang lebih unggul dibanding Aksa. Kendati demikian, selama ini ia tidak terlalu menonjolkan keahliannya itu. Tapi, karena ada orang yang mengusiknya dan membuat dirinya murka. Oleh karena itu, sang pemimpin tampan mengeluarkan taringnya untuk melawan musuhnya itu.


πŸ’πŸ’πŸ’

__ADS_1


"Assalamualaikum Ayah," sapa seorang wanita cantik dengan dress panjang warna hitam dipadukan dengan kerudung warna peach membuat penampilannya sangat anggun dan cantik.


Pria paruh baya yang baru saja di panggil 'Ayah' itu mengangkat pandangannya. Ia langsung tersenyum saat melihat kedatangan putri pertamanya itu. Suasana suram yang tadi menyelimuti hatinya mendadak hilang digantikan rasa senang tatkala melihat senyuman di wajah sang putri.


"Walaikumsalam putri Ayah, ada apa kamu ke sini nak?" Tanya Ayah Rasyid seraya berdiri dari duduknya dan berjalan menuju sofa yang ada di dalam ruangannya. Dimana sang anak sudah duduk manis sambil menyeduh teh yang selalu tersedia di ruangan Ayahnya.


"Aku hanya merindukan Ayah, apa aku tidak boleh berkunjung ke sini?" Ekspresinya langsung berubah sedih, meskipun itu jelas sekali dibuat-buat.


Ayah Rasyid terkekeh melihat tingkah putrinya yang satu ini. Meskipun sudah menikah dan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Tapi tingkahnya masih seperti bocah, tidak mencerminkan kedewasaan sama sekali.


"Tentu saja boleh sayang. Tidak ada yang melarangmu untuk berkunjung. Ayah juga sangat merindukan putri Ayah yang cerewet ini." Ayah Rasyid mencubit gemas hidung anaknya.


Bila menoleh sebentar dan terasenyum manis, menyodorkan teh yang sudah ia seduh kepada Ayah-nya. "Minumlah Ayah," meminum teh yang ia seduh untuk dirinya sendiri dan menatap sang Ayah yang tengah memegang secangkir teh. Ayah Rasyid menyesap teh tersebut dan meneguk teh jasmine yang diseduh Bila.


"Bagaimana Ayah? Apa pikiran Ayah sudah tenang sekarang?"


Sejujurnya pertanyaan Bila membuat pria itu terkejut. Bagaiamana putrinya bisa tau kalau pikirannya sedang gelisah? Apa tadi Bila melihat wajah kusutnya? Atau Sakti mengatakan masalah yang mereka bahas tadi kepada anaknya? Karena ia tau kalau Sakti dekat dengan anak perempannya itu. Pertanyaan itu menari-nari di dalam otaknya. Namun untuk pertanyaan yang terakhir, ia segers menepis kemungkinan itu. Karena ia yakin kalau Sakti bisa di percaya dan tidak akan membeberkan apapun itu masalahnya.


"Apa Ayah kaget karena aku mengetahuinya?"


"Ada apa Ayah? Apa ada masalah?" Tanya Bila penasaran. Ia benar-benar penasaran dengan apa yang membuat Ayah-nya seperti itu.


Ayah Rasyid tidak langsung menjawab, ia tau tak akan bisa berbohong kepada putrinya ini. Apa aku katakan saja apa yang terjadi? Sepertinya menantuku itu belum mengatakan apapun pada Bila. Tapi kalau aku katakan, takutnya Raka tidak senang nantinya.


"Ayah!"


Ayah Rasyid kembali dari lamunannya dan menatap putrinya yang tengah menatapnya menanti jawaban atas pertanyaannya. Helaan napas kabur terdengar sebelum ia membuka suara. "Ayah hanya teringat sahabat Ayah yang bahkan setelah kematiannya ia tidaklah tenang mungkin. Karena perusahaan yang ia rintis dari dulu di rebut oleh kakak laki-lakinya. Sekarang rubah serakah itu mengacau di perusahaan keponakannya sendiri. Bagaimana Ayah tidak kepikiran?"


Sadar akan kesulitan yang tengah dihadapi oleh Ayahnya, Bila dengan segera memberikan kenyamannya kepada Ayah-nya dengan memeluk pria itu. Bila masih belum connect kalau perusahaan yang dimaksud Ayah-nya itu adalah perusahaan Raka.


Tapi tunggu! Wanita itu mencerna baik-baik apa yang baru saja ia dengar. Merangkai semuanya dengan informasi yang ada di otaknya. Ayahnya mengatakan sahabatnya yang sudag meninggal. Setau dirinya, sahabat sang Ayah yang sudah meninggal adalah Om Yoga. Kalau Ayah-nya mengatakan kalau kakak laki-laki Om Yoga mengacau di perusahaan keponakannya, itu berarti....


Mata Bila membulat sempurna dan mengurai pelukan dari Ayah-nya. "Ayah, jadi perusahaan Mas Raka yang sedang dikacaukan pria itu?"


Ayah Rasyid mengangguk pasrah setelah putrinya berteriak heboh. Matanya melihat perut Bila yang sudah membesar dan menatap wajah putrinya yang sedang berapi-api karena emosi.

__ADS_1


Imut, satu kata itu menggambarkan ekspresi Bila saat ini. Bagaimana tidak? Ekspresi wanita itu benar-benar terlihat menggemaskan dengan pipi menggembung dan mata menatap nyalang bak seekor singa betina yang mangsanya ada di depan mata.


"Jaga emosimu sayang, ingat kamu sedang hamil." Peringat sang Ayah lembut dan sontak membuat Bila tersadar.


Kepalanya menunduk dan mengelus perut buncitnya. "Maafkan Mommy Nak, Mommy-mu ini terbawa emosi. Hehehe," kata-katanya disertai kekehan di akhirnya.


Ayah Rasyid hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan ajaib putrinya ini.


πŸ’πŸ’πŸ’


Mata elang Raka menatap datar layar monitor yang tengah bekerja. Tak lama apa yang ia tunggu akhirnya selesai sudah.


"Berhasil," gumamnya datar. Aksa menatap takjub apa yang baru saja ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Data yang tadinya error dan hanya bisa ia selamatkan setengah. Kini sudah sepenuhnya kembali diselamatkan. Bahkan, bosnya itu memperbarui sistem keamanan data tersebut menjadi berkali lipat agar tidak bisa di terobos lagi. Bagi data yang sudah di ambil oleh rubah tua itu sudah ia perbarui juga. Sehingga senyum iblisnya kembali muncul disertai tawa yang terdengar mengerikan.


"Jangan meremehkan keponakan tersayangmu ini Omku sayang." Monolognya dengan seringai semakin lebar. "Bagaimana dengan mata-mata itu? Apa sudah ditangkap?" Posisinya sekarang sudah menghadap ke arah Aksa yang terdiam seperti patung.


Glek


Astaga, kenapa ekspresinya sangat menyeramkan? "Su-dah, dia ada di ruang keamanan saat ini." Jawab Aksa terbata, sungguh ia tidak menyangka bahwa pria di depannya ini adalah Raka. Pria itu benar-benar menyeramkan dan membuat bulu kuduk merinding.


Raka mengangkat sebelah alisnya saat mendengar suara Aksa yang terdengar gugup. "Ada apa denganmu?"


"Kamu sangat menyeramkan saat ini, asal kamu tau." Akunya jujur.


Raka terbahak mendengar pengakuan Aksa. "Menyeramkan? Apa benar begitu?" Tanyanya memastikan. Aksa hanya mengangguk tak berani mengeluarkan suara lagi dan merutuki kebodohannya mengatakan Raka menyeramkan. Ah! Sudahlah, ia tidak mau memikirkan apapun lagi.


Aksa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal seraya menyengir kuda membuat Raka menatap Aksa tak percaya. "Ayo kita ke luar dan menemui mata-mata itu." Berdiri dari duduknya dan melangkah ke luar dari dalam ruangan itu diikuti Aksa dari belakang.


.


.


.


.

__ADS_1


to be continue


__ADS_2