
"Apa, Mas? Kamu mau mengancamku?" Qonita terlihat begitu berani saat David berusaha ingin menggertaknya.
Dia sudah tidak lagi merasa takut. Terlebih, saat ini mereka berdua sudah bukan lagi pasangan suami-istri.
"Aku ... Aku akan mengakhiri hidupku, kalau kamu gak mau rujuk lagi sama aku, Nit!" David memberikan ancaman terhadap mantan istrinya.
Mendengar itu semua tidak lantas membuat Qonita merasa gentar. Dia hanya mencebik, terlihat seperti tidak peduli terhadap ancaman yang dilontarkan oleh David baru saja.
"Itu sudah bukan lagi menjadi urusanku, Mas! Apapun yang akan Mas David lakukan, gak akan berpengaruh apa-apa padaku." Qonita berkata dengan tegas.
Kontan saja David terkesiap. Dia tidak pernah menyangka kalau wanita yang dulu pernah begitu mencintai dirinya, pada kenyataannya kini sudah tidak lagi seperti dulu.
Tidak ada lagi tatapan cinta dari sorot mata Qonita, seperti dulu setiap kali dirinya menatap pada David.
"Aku tau ... Kamu seperti ini pasti karena pengaruh dari laki-laki tidak tau diri itu, 'kan?" David terlihat begitu geram.
Mantan suami Qonita tersebut mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Dia menaruh rasa curiga terhadap Farhan, karena baginya Farhan adalah orang yang sudah menghasut Qonita, hingga mantan istrinya tersebut berubah sikap seperti saat ini.
"Cukup, Mas! Jangan melimpahkan semua amarahmu pada orang lain. Sekarang, sebaiknya kamu introspeksi diri sendiri ... dan aku mohon sama kamu, jangan ganggu aku lagi, Mas!"
__ADS_1
Sebelum David melontarkan perkataan dan melakukan pembelaan atas dirinya sendiri, Qonita bergegas masuk ke dalam kamar tidurnya menutup pintunya rapat-rapat dan menguncinya dari arah dalam.
Rasa kesal dan juga sedih bercampur aduk dalam dadanya. Kedatangan David saat itu mampu membuat semangat Qonita berantakan, sehingga dia merasa enggan untuk melakukan semua hal.
Tok tok tok!
"Nita ... makan dulu. Dari tadi kamu belum makan, Nak," ujar suara yang berasal dari Bu Fatmah di balik pintu kamar Qonita.
Wanita itu kemudian menempelkan telinganya pada daun pintu kamar putrinya. Bu Fatmah merasa khawatir terjadi sesuatu pada anak semata wayangnya itu, karena kedatangan mantan suaminya yang tidak terduga beberapa menit yang lalu.
Tidak ingin membuat ibunya semakin merasa cemas, Qonita pun akhirnya bergegas membuka pintu kamar tidurnya.
"Ya sudah, tapi jangan terlalu lama. Nanti takut asam lambung kamu kambuh lagi," cetus Bu Fatmah mengingatkan putrinya itu.
Setelah ibunya beranjak dari hadapannya, Qonita pun menutup kembali pintu kamarnya.
Dia masih merasa bingung, darimana David tahu alamat tempat dirinya tinggal saat ini. Tidak mungkin rasanya jika tidak ada yang memberitahu lelaki itu.
"Aku harus mencaritahu. Mas David pasti tidak asal saja datang ke sini ... pasti ada seseorang yang sudah memberitahu alamatku," gumam Qonita.
__ADS_1
****
Malam yang dinanti pun akhirnya tiba. Farhan menepati janjinya memboyong keluarganya untuk menyambangi kediaman Qonita.
Bukan hanya itu saja, kedua orangtua Farhan pun secara langsung meminta pada Pak Lukman dan Bu Fatmah, agar mereka berdua merestui hubungan Farhan dan Qonita.
Tentu saja niat baik Farhan dan keluarganya mendapat sambutan dari Pak Lukman dan Bu Fatmah.
"Saya serahkan kembali semua keputusan pada Qonita. Sebagai orangtua, kami tentunya ingin melihat Qonita bahagia dengan pilihannya sendiri," ujar Pak Lukman dengan dibarengi oleh sikapnya yang ramah.
Mendapat pertanyaan dari keluarga Farhan, membuat Qonita terdiam sejenak. Ada rasa ragu yang kembali menghantuinya, sekilas dia menoleh pada Farhan yang seperti tengah merasa gelisah.
Sesaat kemudian, akhirnya Qonita pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban kalau dirinya bersedia menerima pinangan dari Farhan dan keluarganya.
Setelah semuanya selesai, keluarga Farhan pun berpamitan.
"Nit, aku bisa bicara sebentar?" bisik Farhan.
Qonita mengangguk pelan. Kemudian keduanya memilih untuk bicara di teras samping rumah milik Qonita.
__ADS_1
"Ada apa, Mas?" tanya Qonita yang merasa heran melihat Farhan seperti sedang gelisah.