Pelangi Setelah Hujan

Pelangi Setelah Hujan
Kabar Baik dan Kabar Buruk


__ADS_3

Malam semakin larut, di sebuah gudang yang terletak di tengah hutan yang jauh dari pemukiman penduduk tampak seorang pria paruh baya bersama orang-orang kepercayaannya sedang mendiskusikan sesuatu.


Sementara di luar ada beberapa anak buahnya yang sedang berjaga dan tidak menyadari kalau saat ini mereka sudah dikepung oleh orang-orang yang melakukan penyergapan malam itu.


"Sepertinya Om David masih belum tau kalau dia dan orang-orangnya sudah dikepung." Ucap Aksa pelan dan diyakan oleh Raka. Karena tidak ada rasa waspada dari anak buah pria itu sama sekali.


Mereka bertiga yaitu Raka, Aksa, dan Jimmy bersembunyi di semak-semak yang tidak jauh dari rombongan intel. Beberapa dari mereka sudah menyelinap dan membekuk anak buah David yang berjaga di luar. Setelahnya, mereka segera bergerak masuk untuk menangkap sang bos besar.


Raka yang melihat hal itu segera ikut berjalan masuk diikuti Aksa dan Jimmy. Sampai di dalam, mereka terkejut karena ruangan tersebut di didesign menjadi labirin yang sangat membingungkan.


"Oh wow!" Seru Jimmy kaget. "Rupanya si tua bangka pintar juga membuat markasnya seperti ini." Imbuhnya sambil menatap sekitarnya.


Melihat tata ruangan yang begitu rumit membuat ketiganya terkejut. Tapi Raka tidak merasa heran kalau rubah tua itu melakukan semua ini.


Siapa David? Dia adalah pria licik dan penuh dengan skema jahat dalam setiap aloran darahnya. Dari dulu dia selalu merasa iri kepada adik laki-lakinya karena selalu berada di bawah Yoga dari segi apapun. Sampai-sampai masalah perusahaan ayah mereka menyerahkan sepenuhnya ke tangan Yoga. Sehingga semakin membuat David semakin membenci adiknya itu. Puncak dari kebenciannya adalah saat wanita yang diam-diam ia cintai memilih adiknya dari pada dirinya.


Sungguh semua itu membuat dia benar-benar menghilangkan ikatan persaudaraan diantara keduanya. Pernah sekali ia hampir menculik Ara dan beruntung hal itu secepatnya diketahui oleh Yoga sehingga ia bisa menyelamatkan istrinya.


Meskipun dulu Raka masih kecil dan tidak mengerti apa-apa. Akan tetapi setiap kali pria itu berkunjung ke rumahnya. Ia akan merasakan perasaan tidak nyaman saat menatap matanya yang penuh dengan kebencian dan kecemburuan. Meskipun tidak terlalu jelas karena ia berusaha menutupinya. Sampai-sampai ayahnya tidak menyadari semua itu.


Semua itu terbukti setelah ayah dan ibunya meninggal, dia langsung mengambil alih perusahaan dan mengatakan kalau sang penerus sah sudah meninggal dalam kecelakaan tersebut. Apalagi nyonya besar dinyatakan gila. Sehingga, mau tidak mau pengacara keluarga Nugraha memberikan semuanya kepadanya. Sejak saat itu semua kekayaan dan property keluarga dikuasai oleh pria keji itu.


"Saat ini kita harus lebih hati-hati dan waspada." Suara dalam dan terdengar gugup melayang ke indra pendengaran Raka. Sehingga menarik pria itu kembali kedunia nyata.


Jimmy yang baru saja bicara menggelindingkan batu untuk mengaktifkan jebakan. Tepat saat batu menggelinding, semua benda tersembunyi yang digunakan untuk menjebak musuh langsung meluncur dan mendeteksi batu sebagai ancaman. Hal itu juga bertepatan dengan teriakan yang cukup memilukan dari arah dalam.


"Akhhh...!" Terdengar teriakan seseorang dari arah dalam. Sepertinya itu adalah suara petugas yang masuk lebih dulu.


Benar saja, seorang petugas yang masuk terlebih dahulu terluka di bagian tangan akibat terkena pisau yang melayang saat ia tidak sengaja menginjak sesuatu. Darah berceceran di lantai dan membuat rekannya sedikit panik.


"Ada apa ini?" Ia menatap rekannya yang tergeletak di lantai dan segera merobek pakaiannya untuk membalut luka di lengan rekannya.


Setelahnya, ia mengambil HT nya dan menjelaskan situasi di dalam. Ia juga mengatakan sudah ada yang terluka. Sebelum masuk tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa keadaan di dalam akan sangat mengerikan. Hal itu cukup membuat nyalinya menciut. Rasa percaya diri beberapa saat yang lalu langsung lenyap dalam sekejap.


"Bagaimana keadaannya?"


Mendengar suara yang datang dari kejauhan ia menoleh untuk melihat siapa pemilik suara itu dan menatap ketiga pria itu dengan tatapan linglung. Walaupun suara itu terdengar datar dan dingin, cukup membuat ia menghela napas lega karena ada bantuan yang datang.


"Lukanya lumayan dalam. Tadi saya sudah melaporkan keadaan di dalam kepada petugas di luar." Jawabnya setelah terjaga dari keadaan linglungnya.


Sementara David dan anak buahnya sudah diberi peringatan saat petugas yang masuk terlebih dahulu terluka karena jebakannya.

__ADS_1


"Sepertinya ada yang berani menerobos masuk." Pria itu mengusap dagunya dengan tatapan tidak senang. "Cepat periksa! Lalu singkirkan kecoa-kecoa itu!" Perintahnya tegas.


"Baik tuan." Pria itu bergegas meninggalkan ruangan pertemuan untuk menangani penyusup yang mencoba masuk.


"Kenapa ada yang mengetahui letak markas ini?" David terdiam sambil berpikir, karena selama ini tidak ada satupun yang tau dimana posisi markasnya. Beruntung dia bukan pria bodoh yang membangun markasnya tampa ada sesuatu yang bisa melindunginya. Seringai jahat langsung tercetak di wajahnya yang walaupun sudah berumur, namun masih terlihat jelas dulunya bahwa dia adalah seorang pria yang cukup tampan.


πŸ’πŸ’πŸ’


"Bawa dia ke luar sebelum ada yang datang!" Perintahnya dengan cepat.


Pria itu menatap Raka tak percaya, mereka adalah intel dan diperintahkan meninggalkan orang biasa. Rasanya harga diri mereka langsung terkoyak. Namun melihat tatapan dingin dan tajam yang ia terima membuat dirinya mau tidak mau membeku di tempat dan segera membawa rekannya ke luar. Akan tetapi baru beberapa langkah, seorang pria bertubuh besar menghalangi jalan mereka.


"Cepat pergi! Serahkan dia kepadaku." Teriak Raka marah melihat keduanya berhenti di tempat.


Pria yang menghadang mereka langsung menyeringai saat keduanya akan melewatinya. Namun belum sempat dia bereaksi, tangannya sudah ditendang oleh seseorang.


Pertarungan sengit tak bisa dihindarkan dan walaupun ilmu beladiri Raka cukup bagus setelah ia berlatih dengan giat sejak terakhir kali ia dipukuli habis-habisan pada awal pertemuannya dengan Bila. Namun ia tetap kewalahan menghadapi pria kekar ini.


Bahkan darah segar sudah mengalir dari mulutnya akibat terkena pukulan. Setelah meludahkan darahnya, ia menatap pria itu dengan tatapan dingin dan segera mengerahkan kekuatannya untuk merobohkan pria itu.


"Tidakkah kamu berpikir Raka sekarang terlihat sangat menakutkan?" Jimmy yang berdiri di samping Aksa saat menyaksikan pertarungan itu cukup tercengang melihat aksi Raka.


"Yah... Seperti yang kamu lihat." Aksa menghela napas setelah melihat ke arah Raka dan melirik Jimmy. "Tapi, kenapa kamu tidak membantunya? Lihat! Dia sudah hampir sekarat." Aksa memarahi Jimmy dengan kata-katanya. Akan lebih menakutkan kalau sampai Bila tau apa yang mereka lakukan saat tidak membantu Raka dan membiarkan dia bertarung sendirian.


"Jangan menatapku seperti itu. Ayo bantu Eaka berdiri." Aksa segera pergi dan membantu Raka berdiri. "Bagaimana keadaanmu? Apakah baik-baik saja?"


Apakah baik-baik saja? Apa dia tidak lihat bagaimana keadaannya saat ini?


Raka cukup babak belur dan terluka dibagian rusuk kirinya serta beberapa bagian tubuh lainnya. Sehingga mendengar pertanyaan itu membuat tatapannya langsung dingin dan membuat Aksa tidak bisa berkutik.


"Hahaha... " Aksa tertawa canggung. "Pertanyaan bodoh macam apa yang aku tanyakan." Sesalnya dengan kepala tertunduk.


πŸ’πŸ’πŸ’


Seorang wanita cantik dengan mengenakan gaun putih gading terlihat mondar-mandir layaknya setrikaan di ruang tengah rumahnya. Raut wajahnya terlihat sangat cemas. Bahkan beberapa kali ia mencoba duduk dengan tenang. Namun entah kenapa ia sama sekali tidak bisa tenang. Matanya selalu teruju ke arah pintu dan sesekali melihat jam.


Ia terkejut saat mendengar suara seorang wanita dan langsung menoleh padanya. "Non Bila belum tidur?"


"Belum bik. Aku sama sekali tidak bisa tidur karena mas Raka masih belum pulang. Apalagi perasaanku sangat tidak enak, seolah terjadi sesuatu padanya." Bila bicara sambil terisak pelan. Entah kenapa hatinya benar-benar tidak bisa tenang.


"Berdoa ya non. Saya yakin, tuan akan baik-baik saja." Bik Nah mencoba menenangkan hati Bila. Namun wanita itu hanya tersenyum lembut dan tidak mengatakan apa-apa sebelum masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Bik Nah mendesah pelan sebelum beranjak menuju kamarnya sendiri.


Bila yang baru saja masuk kamar, berjalan ke arah tempat tidur anaknya. Menatap kedua bayi itu yang tertidur lelap setelah ia susui tadi. Matanya langsung berkaca-kaca saat terbayang sesuatu yang buruk menimpa suaminya.


"Sayang, semoga kamu baik-baik saja." Gumamnya sebelum beranjak ke ranjang tidur mereka. Namun setelah berbaring, ia sama sekali tidak bisa tidur. Tidak ada kabar sama. sekali dari suaminya. Apakah terjadi sesuatu? Pikirannya melayang sampai suara dering di ponselnya membuat ia tersentak.


"Bil... " Aksa terdiam sesaat sebelum melanjutkan. "Aku harap kamu tidak panik saat mendengar kabar ini."


"Iya ada apa?" Bila masih berusaha tenang.


"Ada kabar baik dan ada kabar buruk. Kamu mau mendengar yang mana dulu?"


Bila menelan ludah sebelum menjawab. "Kabar baik dulu."


"Baiklah.. Kabar baiknya, Om David dan anak buahnya sudah ditangkap."


"Iya.. Kabar buruknya?" Bila berusaha menyiapkan hatinya karena ia sedikit sudah menebak dari cara Aksa bicara padanya. Serta nada gugup Aksa yang berusaha ia hilangkan meskipun tidak sepenuhnya. Meskipun begitu ia cukup lega mendengar pria itu sudah ditangkap.


"Raka terluka parah... "


Duar


Bak tersambar petir Bila merasakan jantungnya berhenti berdetak. Dengan air mata berjatuhan dan bibir gemetar, ia bertanya kembali. "Bagaimana keadaannya...?"


"Dia.. Dia sudah dibawa ke Rumah Sakit dan sedang dalam penanganan dokter."


"Kirimkan alamatnya padaku! Aku akan segera ke sana."


"Baiklah. Tolong kamu untuk tidak panik dan hati-hati dalam berkendara."


Tut..


Telphon terputus dan hanya suara monitor dari pria yang terbaring di sebelahnya yang bisa ia dengar. Jimmy masih belum sadarkan setelah peluru berhasil di keluarkan dari tubuhnya dan saat ini masih terpasang beberapa alat di tubuhnya untuk mendukung kelangsungan hidupnya. Sedangkan Raka masih berada di dalam ruangan operasi. Tidak tau apakah dia bisa selamat atau tidak? Mengingat seberapa parah luka yang ia derita. Hal itu membuat Aksa tertekan begitu banyak, karena tidak bisa melindungi keduanya.


.


.


.


.

__ADS_1


To be continue


__ADS_2