Pelangi Setelah Hujan

Pelangi Setelah Hujan
Kelakuan Duo Bumil


__ADS_3

Selesai sholat, mereka berlima menuju parkiran. Kenapa berlima, karena Rudi ikut dengan mereka.


"Kita mau kemana?" Tanya Qyara membuka suara.


"Aku mau makan sate sambas yang ada di Jakarta Selatan." Jawab Bila spontan dan menatap suaminya penuh harap.


"Aku setuju, karena aku juga mau makan sate." Ujar Qyara sumringah.


"Ayo berangkat!" Bila menarik suaminya menuju ke mobil mereka dan segera masuk ke dalam mobil. Begitupula dengan Qyara dan Aldi yang masuk ke dalam mobil mereka yang berjarak 2 mobil dari mobil Raka.


Bila yang melihat Rudi berdiri mematung di dekat mobilnya, langsung membuka kaca jendela. "Rudi, kenapa berdiri di situ? Ayo masuk!" Bila memberikan isyarat dengan tangan untuk menyuruh Rudi masuk ke dalam mobil.


"Iya mba." Rudi langsung membuka pintu dan masuk ke kursi belakang.


"Ayo Mas, kita jalan. Mobil Mas Aldi sudah jalan tu." Bila menunjuk mobil berwarna merah yang dikemudikan Aldi sudah melesat pergi.


"Seatbelt bee." Raka melirik istrinya yang terlihat sangat bersemangat.


Bila langsung cengengesan dan memasang seatbelt-nya. "Let's go baby." Tangannya langsung bergerak ke depan seperti orang mau terbang. Terlihat konyol memang, tapi itulah Bila yang selalu memberikan warna dalam kehidupan Raka yang tidak berwarna sejak kehadiran wanita itu.


Raka langsung memundurkan mobilnya dan melaju meninggalkan parkiran bioskop mengikuti mobil Aldi dan Qyara. Sementara Rudi langsung tersenyum melihat kelakuan wanita berhijab di depannya yang jauh dari kata kalem.


Sampai di tempat tujuan, Bila langsung bergegas turun dan masuk ke dalam warung sate diikuti Raka dan Rudi.


"Qya...!" Bila melambaikan tangan dan langsung berlari menghampiri Qyara dan Aldi.


"Bee, jangan lari." Raka mencegat tangan Bila yang hampir berlari dan membuat Bila langsung berjalan pelan karena tangannya di pegang erat oleh Raka.


Bila memang membuat Raka harus siap siaga dengan kelakuan tidak terduganya, yang terkadang membuat Raka sakit kepala.


"Aku sudah memesankan sekalian untuk kalian." Ucap Qya setelah Bila dan Raka duduk di hadapan mereka. "Kalau untuk dia belum aku pesankan. Karena aku pikir dia tidak akan ikut." Imbuh Qya sambil menunjuk Rudi yang terlihat canggung duduk di antara kedua pasangan itu.


"Wahhh, terimakasih Qya." Bila langsung tersenyum lebar dan meraih tangan Qyara. "Oh iya, kalian pasti heran siapa pria muda yang ikut dengan kita?" Qyara dan Aldi spontan menganggukkan kepala. "Dia adalah Rudi, adik iparku." Jelas Bila dan membuat kening pasangan itu berkerut dalam.


"Maksudnya?" Tanya Qyara heran, lalu menatap Raka dan Bila meminta penjelasan. Karena yang ia tau Raka adalah anak tunggal. Apalagi kedua orang tua Raka sudah tiada sejak pria itu kecil.


"Dia adik angkatku." Jawab Raka singkat.


Sebenarnya Qyara masih penasaran dan ingin bertanya kembali. Karena pria muda yang bernama Rudi itu tidak ada sejak awal mereka bertemu tadi dan baru ada saat mereka selesai menonton. Tapi ia urungkan karena pesanan satenya sudah datang dan pikirannya langsung teralih pada makanan yang terbuat dari daging kambing itu. Sebab ia memang memesan sate kambing.

__ADS_1


Mata kedua wanita yang tengah hamil itu langsung berbinar saat menatap makanan yang terhidang di depan mata. Dengan cepat tangan keduanya mengambil sepiring sate untuk mereka makan. Sedangkan Aldi dan Raka saling pandang akan kelakuan istri mereka.


"Pak, tambah sepiring lagi ya." Ucap Raka kepada penjual sate. Karena Rudi tak kunjung memesan sate untuk dirinya.


Mata Raka langsung melebar saat melihat ke piring istrinya yang hampir kosong. "Bee, kamu lapar atau doyan?"


Bila tidak menjawab dan hanya tersenyum, bahkan tangannya sudah bergerak untuk mengambil sate milik Raka yang sama sekali belum di sentuh oleh pria itu. Membuat Raka memijit pelan pelipisnya dan tertawa kecil melihat kelakuan istrinya. Lalu menggeser piring yang ada di hadapannya kehadapan Bila. Yang jelas-jelas menginginkan sate di hadapannya.


"Untukku?" Tanya Bila tak percaya, padahal dalam hati dia sedang bersorak karena Raka memberikan sate miliknya tampa ia harus mengeluarkan jurus merayunya.


Raka menganggukkan kepalanya. "Iya bee, makanlah. Sepertinya kamu masih lapar."


"Makasih sayang." Bila langsung tersenyum manis dan menyantap makanan di hadapannya.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Qyara yang menatap suaminya yang sedang memakan sate miliknya. Aldi yang di tatap seperti itu langsung menoleh kepada istrinya. "Mau lagi?" Qyara langsung mengangguk cepat dan langsung tersenyum lebar saat Aldi menyodorkan piring satenya.


Raka dan Aldi kembali saling pandang. Sepertinya mereka satu pemikiran saat ini dan langsung menatap istri masing-masing hampir bersamaan.


Kelakuan ibu hamil memang ajaib dan terkadang membuat siapapun heran sekaligus takjub. Kalau dipikir-pikir memang menggelikan dan membuat exited. Tapi memang begitu adanya, mau bagaimana lagi? Para suami hanya bisa menuruti apa keinginan istrinya. Kalau tidak mau menghadapi ledakan amarah bumil yang memiliki mood yang selalu berubah-ubah.


πŸ’πŸ’πŸ’


"Bye Qya, kalian hati-hati di jalan ya." Bila berkata setelah melepaskan pelukan dari Qyara. Entah mengapa, sejak pertemuan kembali tadi sore. Keduanya semakin akrab dan tidak berhenti berceloteh. Sampai-sampai Aldi dan Raka harus bertindak untuk menghentikan obrolan istri mereka. Sebab kalau dibiarkan, keduanya tidak akan berhenti berbicara. Bisa-bisa sampai pagi mereka di sana.


"Iya Bila, kalian juga hati-hati di jalan. Lain kali, kita pergi bareng lagi ya." Tutur Qyara sambil tersenyum.


"Tentu Qya," Bila langsung tersenyum lebar dan Raka hanya mengangguk pertanda setuju.


Qyara langsung berbalik dan mengikuti suaminya yang sudah lebih dulu berjalan ke arah mobil.


"Mas, mba, aku pulang dulu ya. Terimakasih untuk hari ini. Aku sangat senang dan bersyukur bisa bertemu dengan orang baik seperti kalian."


Raka dan Bila langsung menoleh ke arah Rudi. "Loh, rumah kamu dimana Rudi? Biar sekalin saya antar pulang." Tawar Raka memberi tumpangan.


"Nggak usah Mas, saya tidak mau merepotkan kalian." Ujar Rudi sungkan.


"Tidak merepotkan sama sekali Rudi, ayo masuk ke mobil dan pandu jalan ke rumahmu." Tukas Raka tegas dan tidak bisa di tolak atau di protes oleh Rudi. Kemudian, ketiganya langsung masuk ke dalam mobil.


Raka langsung mengemudikan mobilnya setelah memastikan semuanya duduk dengan nyaman. Sementara Rudi langsung menyebutkan alamatnya dan Raka langsung menuju ke alamat yang disebutkan oleh Rudi.

__ADS_1


"Terimakasih atas tumpangan dan semuanya Mas, Mba." Ucap Rudi sebelum membuka pintu mobil Raka.


"Sama-sama Rudi, besok saya tunggu kamu di kantor jam 8 pagi okay."


"Siap Mas." Rudi langsung ke luar dari dalam mobil Raka dan menatap mobil yang perlahan menjauh dari hadapannya. "Alhamdulillah aku ucapkan kepadamu ya Allah, karena sudah mengirimkan pasangan baik hati itu kepada hamba." Lirih Rudi sebelum masuk ke dalam kontrakan sederhananya.


"Mas, mau es krim boleh?"


Raka menoleh sebantar dan kembali fokus pada kemudinya. "Sudah malam bee, nanti kamu demam kalau makan es krim malam-malam." Raka menjawab tampa menoleh pada istrinya, karena ia tau setelah ini Bila akan merengek padanya.


"Aku mau makan eskrim sayang. Boleh ya, boleh ya." Bila mencoba merayu suaminya agar di bolehkan membeli es krim. Nah kan, tebakan Raka memang benar. Tapi, ia tidak mau mengikuti langsung keinginan istrinya. Karena Bila tidak akan menyerah sebelum Raka membelikan apa yang ia inginkan.


"No baby." Tolak Raka tegas.


"Masss, ini bukan keinginan aku. Tapi keinginan anak kamu. Ya udah, kalau nggak mau beliin. Aku ngambek nih." Bila langsung mengerucutkan bibirnya dan melipat kedua tangannya.


Raka langsung tertawa mendengar kata-kata istrinya. Mana ada orang ngambek bilang-bilang. Hal itu semakin membuat Bila kesal dan memilih membuang muka ke luar jendela. Raka langsung memarkirkan mobilnya di depan minimarket 24 jam untuk membelikan es krim untuk istrinya.


"Kamu tunggu di sini, dan jangan kemana-mana."


Bila tidak menjawab dan memilih diam, sehingga Raka langsung bergegas ke luar dari dalam mobil. Kemudian masuk ke dalam minimarket untuk membeli beberapa es krim.


"Ini." Raka meletakkan kantung berisi es krim ke pangkuan istrinya. Ekspresi Bila yang tadinya masam langsung berubah cerah seketika.


"Thank you baby." Bila memeluk lengan Raka dan mengecup pipi suaminya.


"Tapi ingat, kalau demam jangan merengek-rengek padaku."


Bila tak menghiraukan omelan Raka, dan memfokuskan dirinya untuk memakan es krim yang lebih menarik saat ini dari pada meladeni omelan suaminya. Raka yang tidak mendapatkan respon langsung melajukan mobilnya tampa berkata apa-apa lagi.


.


.


.


.


to be continue

__ADS_1


__ADS_2