
"Ma-s Andre?" Pekik Bila tampa sadar.
Mata Bila masih mengerjap dan menatap pria tampan yang terdiam kaku di hadapannya. "Jadi CEO Baldev Company itu Mas Andre?" Suara Bila membuat Andre tersadar dari keterkejutannya dan langsung berdehem untuk mentetralisir debaran di dalam dadanya yang sudah menggila.
"Iya, selain jadi dokter spesialis kejiwaan. Aku adalah seorang CEO perusahaan ini." Andre berjalan ke arah pintu ruangannya dan mengatakan sesuatu kepada Vereen Abizar-sekretarisnya. Setelah itu ia kembali melangkah menghampiri wanita pujaannya.
"Silahkan duduk Bila, buat dirimu nyaman." Ucap Andre di dekat Bila dan membuat wanita itu kaget. Ia mengikuti Andre yang berniat akan duduk di sofa. "So, apa tujuanmu ke sini?" Tanya Andre to the point setelah Bila mendaratkan tubuhnya di sofa empuk nan minimalis dengan warna hitam yang mendominasi.
Saat Bila akan membuka suara, pintu ruangan Andre terbuka dan seorang wanita cantik yang ia yakini sekretaris Andre masuk membawa nampan yang bersisi 2 cangkir minuman dan makanan.
"Silahkan tuan dan nyonya," wanita itu menunduk hormat dan segera beranjak meninggalkan keduanya yang terlihat canggung setelah aksinya yang memarahi pria itu.
"Maaf kalau tadi aku membentak Mas Andre." Ucap Bila lebih terdengar cicitan.
Andre terkekeh pelan dan mulai buka suara. "Kalau boleh jujur, tadi aku mengatakan kamu wanita menyebalkan." Akunya diiringi gelak tawa.
"Hah, kamu benar-benar.... Tapi, aku memang terkadang sedikit menyebalkan memang." Ucap wanita itu apa adanya.
Wow, Andre benar-benar dibuat terkejut dengan tingkah konyol wanita ini. Menarik! But, I'm one step late to having you. Batinnya menjerit. "Astaga, itu bukan pujian Bila."
Bila hanya mengangkat bahu acuh dan tidak mengeluarkan suara lagi. Setelah itu, keheningan menyelimuti keduanya. Karena sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai suara Bila mengoyak keheningan yang tercipta begitu saja. "Kenapa Mas Andre meminta ganti rugi sebanyak itu kepada asistenku?"
Andre terdiam dan tidak langsung menjawab. Ia juga bingung kenapa ia meminta ganti rugi seperti itu. Padahal, dia tidak kekurangan uang sama sekali. Malahan tidak akan habis 7 generasi berikutnya.
"Mas Andre....! Hello, ada orang di sini?" Bila menjentikkan jarinya di depan wajah Andre, sehingga membuat pria itu salah tingkah.
"Iya kenapa?"
Bila langsung menyipitkan matanya. "Mas Andre melamun ya?"
"Nggak, siapa juga yang melamun? Enak aja." Elaknya seraya memasang tampang datar.
"Heleh, bohong aja terus." Ketus Bila dan menyesap teh hangatnya. "Hmm, chamomile. I like that." Gumamnya pelan dan membuat Andre mengernyit heran. Wanita di sampingnya memang benar-benar menarik. Sialnya, ia tertarik dengan istri orang lain. Oh no, Andre segera menggelengkan kepalanya. Mengusir bisikan setan yang tengah menghasutnya.
Pintu ruangan Andre kembali terbuka setelah Vereen mengetuk pintu tersebut. "Permisi tuan, ada tamu dari Nugraha Company." Ucap Vereen dan segera menghilang dari balik pintu digantikan seorang pria tampan yang melangkah masuk ke dalam ruangan Andre.
"Aksa...!" Bila melambaikan tangannya saat mengenal siapa yang baru saja masuk ke dalam ruangan Andre.
Aksa terbatuk saat melihat istri Raka sedang duduk bersama CEO Baldev Company. Ada hubungan apa mereka? Batinnya.
"Kamu mengenal Aksa?" Tanya Andre heran.
"Tentu saja aku mengenalnya. Dia adalah asisten pribadi suamiku." Jawab Bila enteng.
Andre langsung tersedak kopi yang baru saja ia mendarat di kerongkongannya. "Mas Andre kenapa?" Bila refeks berdiri dan mengambil air putih di atas meja kerja pria itu. Lalu memberikan kepadanya. "Ini minumlah, pasti sangat perih tersedak seperti itu." Andre langsung menerima gelas dari Bila dan tidak sengaja tangan mereka bersentuhan.
Oh shit! Andre mengumpat karena darahnya berdesir saat bersentuhan dengan kulit Bila. Ia pun langsung meminum air putih itu sampai tandas dan melirik Aksa yang masih berdiri mematung di tempat yang sama dari saat Bila menyapanya.
"Aksa... Kenapa malah bengong? Ayo duduk." Perintah wanita itu seraya melayangkan tatapan matanya pada pria itu. Bila memerintah Aksa seperti dirinyalah yang punya ruangan itu. Padahal yang punya ruangan masih anteng-anteng aja dan belum menyuruh tamunya duduk.
"Silahkan duduk Aksa, kamu pasti di minta Raka untuk mengantarkan kontrak kerja sama yang di bahas kemarin bukan?" Andre mempersilahkan tamunya duduk seraya mengajukan pertanyaan.
Aksa melangkah menuju sofa dan mendudukkan dirinya di hadapan keduanya. "Iya tuan, saya membawa kontrak kerja sama yang kemarin." Aksa mengeluarkan kontrak kerja sama dari dalam tasnya dan menyodorkan pada Andre. Kemudian pria itu langsung menandatangani kontrak tersebut.
__ADS_1
Keduanya langsung berjabat tangan dan Aksa langsung pamit undur diri setelah menyerahkan salah satu kontrak kerja sama ke tangan Andre. Sementara Bila masih berada di ruangan Andre karena urusannya belum selesai.
"Ahmm, Mas Andre belum menjawab pertanyaanku yang tadi."
Andre tersadar kalau di ruangannya masih ada Bila. "Pertanyaan yang mana?"
Bila memutar bola mata kesal. "Kenapa Mas Andre meminta ganti rugi sebanyak itu kepada asistenku?" Bila kembali mengulangi pertanyaannya.
"Karena asisten kamu menabrak mobilku." Jawab Andre enteng.
"Aku kira, biaya perbaikan mobil Mas Andre juga tidak akan sebanyak itu. Apa Mas Andre menyukai asistenku?" Pertanyaan tidak terduga itu ke luar begitu saja dari mulut Bila.
"Aku tidak menyukai asistenmu! Karena aku mencintai orang lain." Jawab Andre tegas. Aku mencintai kamu Bila, lirihnya dalam hati.
Bila manggut-manggut. "Lantas, kenapa ponselnya juga Mas Andre sita?"
Pertanyaan telak kembali di layangkan oleh Bila, membuat Andre menggerutu kesal. Ia segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke meja kerjanya untuk mengambil ponsel milik Arum.
"Ini ponselnya aku kembalikan dan untuk kerusakan mobil, biar aku perbaiki sendiri." Putus Andre dengan nada tegas. Bila mengambil ponsel Arum seraya tersenyum tipis.
"Makasih Mas Andre, kalau gitu aku pulang dulu ya. Assalamualaikum." Bila bangkit berdiri dan melangkah ke luar dari ruangan Andre. Tapi, baru saja dia sampai di depan pintu, pandangannya langsung kabur. Andre yang melihat Bila berhenti langsung heran. Detik berikutnya, pria itu langsung berlari untuk menangkap tubuh Bila yang tiba-tiba tidak sadarkan diri.
"Bila, bangun. Hei bangun." Andre menepuk-nepuk pipi wanita itu, namun tidak ada respon. Tampa membuang waktu, Andre mengangkat Bila dan langsung ke luar dari ruangannya. Dengan tergesa-gesa, pria itu turun ke bawah dengan lift dan membawa wanita dalam gendongannya ke parkiran. Ia tidak memperdulikan tatapan aneh dan bisik-bisik karyawannya. Yang ia pentingkan saat ini adalah keselamatan Bila.
Setelah memasukkan Bila ke dalam mobil, Andre berputar dan masuk ke dalam kursi kemudi. Ia langsung tancap gas meninggalkan kantornya menuju rumah sakit terdekat.
πππ
Sampai di rumah sakit, ia segera membawa Bila ke IGD dan langsung di periksa oleh dokter. Pria itu benar-benar panik, sehingga ia memilih mondar-mandir layaknya setrikaan menunggu dokter yang memeriksa Bila ke luar dari dalam IGD.
"Apa anda suaminya?"
Andre terdiam, apa yang harus ia jawab saat ini? Pikirannya mendadak buntu. "Memangnya kenapa dokter? Dia baik-baik saja kan?" Andre tidak malah menjawab pertanyaan sang dokter dengan bertanya balik.
"Pasien mengalami anemia, dan untuk usia kandungan trimester awal. Hal itu sangat berpengaruh pada janin dan ibu tentunya. Saya akan memberikan rujukan, agar pasien di periksa oleh dokter kandungan. Kebetulan, beliau sedang bertugas saat ini." Jelas sang dokter panjang lebar.
Andre sempat terkejut dan mencerna baik-baik kata dokter yang berdiri di hadapannya. "Baiklah dokter, apa pasien sudah sadar?"
"Sudah, anda bisa melihatnya tuan." Setelah mengatakan hal itu, dokter itu segera pergi dari hadapan Andre. Sedangkan pria itu, segera masuk ke dalam untuk menemui Bila.
"Hai, bagaimana keadaanmu?" Andre tersenyum saat melihat mata cantik itu menatapnya dengan tatapan heran.
"Kenapa aku bisa ada di sini?" Tanyanya dengan suara lemah.
"Apa kamu tidak ingat? Tadi kamu pingsan saat masih di dalam ruanganku. Sekarang kita ada di rumah sakit." Jawab Andre apa adanya. "Oh ya, tadi dokter berpesan agar kamu ke ruangan dokter spesialis kandungan setelah ini." Imbuhnya dengan tatapan serius.
"Baiklah," Bila berusaha bangkit dan turun dari ranjang. Meskipun ia masih sedikit pusing, wanita itu lebih memilih jalan sendirian tampa meminta bantuan pria yang dari tadi mengikutinya dari belakang.
"Kenapa tidak pakai kursi roda Bil? Kamu baru aja sadar." Protesnya saat wanita yang berjalan di depannya sangat keras kepala dan tidak mendengarkan kata-katanya.
"Aku masih bisa menggunakan kakiku! Untuk apa pakai kursi roda?" Ketusnya tajam.
Hah! Wanita ini benar-benar sesuatu, Andre sungguh dibuat terkejut beberapa kali dengan kelakuannya yang ajaib bin konyol. Tapi, justru hal itu yang membuat dirinya semakin menarik. Sampailah mereka di depan ruangan dokter spesialis kandungan yang bernama Astarini Gempita.
__ADS_1
Bila mengetuk pintu dan segera meraih gagang pintu untuk membukanya, setelah mendengar sautan dari dalam. Ia segera melangkah masuk diikuti Andre dari belakang. "Kamu kenapa ikut masuk?" Protes Bila saat melihat Andre mengikutinya masuk.
"Oh, maaf." Andre berbalik namun langkahnya terhenti saat mendengar suara lain menghentikannya.
"Tuan tidak perlu ke luar," ucap dokter Astari. "Suami nyonya berhak tau bagaimana kondisi bayinya?" Imbuhnya sambil menatap ke arah Bila.
"Tapi kan_
"Sudahlah, silahkan duduk tuan dan nyonya mari ikut saya ke ruangan periksa." Potong dokter Astari cepat, karena ia sudah biasa menghadapi drama pasangan suami-istri yang seperti itu. Tapi, kali ini dia salah. Sebab mereka berdua bukanlah suami-istri.
Bila terdiam dan mengikuti dokter Astari ke dalam ruangan pemeriksaan. Meskipun hatinya sedikit jengkel, sebab ucapannya di potong begitu saja. Padahal ia ingin menjelaskan kalau pria itu bukan suaminya.
Sedangkan Andre langsung memasang wajah datar, padahal dalam hati dia sangat berharap berada di posisi yang di sebutkan dokter Tari. Yaitu menjadi suami wanita itu, tapi sayangnya dia hanya bisa bermimpi. Sebab, wanita itu istri dari Raka-teman sekaligus rekan bisnisnya.
"Nyonya silahkan berbaring, saya akan mulai USG-nya ya." Dokter Astari meminta Bila menaikkan bajunya dan langsung dilakukan oleh wanita itu. Setelahnya, dokter Tari membalurkan cairan ke perut Bila yang sudah terlihat membuncit dan menggerakkan sensor USG di perut wanita itu.
"MasyaAllah, tabarakallah." Bila hampir menangis mendengar detak jantung bayinya. Hanya rasa syukur yang ke luar dari dalam mulutnya. "Dokter, itu kenapa ada dua?" Tanya Bila saat memperhatikan layar monitor dengan jelas.
Dokter Tari tersenyum. "Karena bayinya ada dua." Jawab doter Tari singkat dan sukses membuat Bila terbelalak.
"Jadi saya hamil anak kembar dok?" Bila tampak antusias. Bila sangat bahagia tiada tara. Rasanya, ia ingin cepat-cepat memberitahu suaminya tentang kabar bahagia ini.
Dokter Tari mengangguk dan membersihkan cairan yang menempel di perut Bila. Kemudian kembali ke ruangannya diikuti Bila yang sudah merapikan pakaiannya.
"Tadi dokter Frans mengatakan pada saya, kalau anda menderita anemia. Jadi, saya akan meresepkan obat dan vitamin untuk anda." Ucap dokter Tari.
"Baiklah dokter, oh ya. Kira-kira usia kandungan saya berapa minggu ya dokter?" Tanya Bila penasaran. Karena ia memang belum melakukan pemeriksaan setelah mengetahui kehamilannya.
"Kapan haid terakhir anda nyonya?"
Bila terlihat berpikir dan mengingat-ingat kapan ia terakhir datang bulan. "Seingat saya, tanggal 1 November dokter." Jawab Bila yakin.
Dokter Tari langsung menghitung. "Usia kandungan anda sudah masuk 12 minggu nyonya. Kondisi mereka juga sehat, tetap jaga pola makan dan istirahat anda."
Bila mengangguk dan langsung tersenyum mendengar penjelasan dokter Tari. Sedangkan Andre hanya diam mematung tampa mengatakan apapun.
"Baiklah dokter, terimakasih. Kalau begitu saya permisi dulu." Bila bangkit berdiri dan menjabat tangan dokter Tari diikuti oleh Andre. Kemudian mereka berdua ke luar dari ruangan dokter menuju ke apotik untuk menebus obat.
Bila menatap obat yang lumayan banyak di tangannya. Sejujurnya Bila paling anti dengan yang namanya obat, saat sedang sakit saja. Ayah dan ibunya akan melakukan berbagai cara agar obat itu masuk ke dalam mulutnya. Tapi kali ini, ia terpaksa harus meminumnya demi bayi dalam kandungannya.
"Kamu kenapa?" Andre bertanya karena menangkap gelagat aneh dari wanita yang berjalan di sampingnya ini. Apalagi, ia menatap obat yang ada di dalam kantong lekat-lekat dan membuang napas gusar.
"Ah, tidak apa-apa." Jawabnya riang dan langsung berjalan menuju parkiran.
Sampai di dalam mobil, ia langsung menghubungi nomor Raka. Karena akan mengatakan kabar bahagia ini. Tapi, berkali-kali ia mencoba. Nomor Raka tidak bisa tersambung sama sekali. Kenapa tidak aktif? Batinnya gusar. Kemudian ia mencoba menghubungi Aksa, barangkali bisa terhubung. Ternyata sama saja, nomor Aksa juga tidak aktif. Bila langsung kalut dan meminta Andre melajukan mobilnya cepat, agar ia bisa mengambil mobilnya dan pergi ke kantor Raka.
Apa Mas Raka marah karena aku tidak bilang apa-apa? Apa Aksa tadi mengatakan hal yang tidak-tidak pada suaminya? Bila benar-benar dirundung kegelisahan yang membuat pikirannya kacau.
.
.
.
__ADS_1
.
to be continue