
Raka yang telah selesai membaca semua dokumen di tangannya tidak bisa lagi menahan emosinya. Tangannya terkepal kuat dan langsung menggebrak meja kerjanya.
BRAK
"SIALAN!" Desisnya marah.
Aksa yang berada di dalam ruangan tersebut langsung terkejut dan menatap Raka yang sedang diliputi oleh amarah.
"Ada apa?" Aksa langsung merebut amplop di tangan Raka dan mulai melihatnya satu persatu.
Reaksinya tak beda jauh dari Raka, akan tetapi wajahnya langsung pucat dengan fakta yang baru saja ia ketahui setelah sekian lama.
"Pantas saja.... " Gumamnya dengan sorot mata tak bisa di artikan. Terpampang jelas raut kesedihan, kekecewaan dan rasa benci bercampur menjadi satu.
Ternyata kejadian yang menimpa Calista ada hubungannya dengan David sehingga membuat Raka marah besar. Meskipun keterlibatan David hanya sekedar membantu saja. Akan tetapi tetap saja pria tua itu melakukan kesalahan. Serta hal yang paling membuat Raka emosi dan Aksa kecewa adalah dalang dibalik semua itu yang merupakam ayah Aksa. Ia yang meminta bantuan David untuk memberikan pelajaran kepada Calista yang merupakan putri dari saingan bisnisnya yang sangat ia benci.
Argggghh
Teriakan Aksa membahana di dalam ruangan Raka yang untungnya dengan sigap Raka segera mengaktifkan kedap suara di ruangannya. Kalau tidak bisa-bisa teriakan Aksa membuat sekretarisnya kabur dan mendatangkan orang-orang.
"Kenapa harus dia Raka? Kenapa? Apa yang akan aku katakan pada Calista? Orang yang membuat dia menderita adalah ayahku sendiri."
Aksa benar-benar kacau, semua ini benar-benar diluar dugaannya. Pantas saja Rama sangat membencinya. Ternyata semuanya terjadi karena ada sangkut pautnya dengan dirinya.
"Sudahlah, bagaimanapun semuanya sudah terjadi. Mau kamu menggali kuburan ayahmu dan menanyakan semuanya, tidak akan ada gunanya juga."
Raka mencoba menenangkan Aksa, walaupun sebelumnya ia juga sempat emosi.
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Minta maaflah walau itu bukan kesalahanmu. Ikhlaskan dia, jika memang Calista tidak mau memaafkanmu." Nasehat Raka seraya menepuk pundak sahabatnya.
Di ruangan tempat Bila menyimpan designnya, terlihat seorang wanita yang berjalan masuk setelah memastikan tidak ada siapapun di sana. Dengan cepat ia memotret design tersebut dan mengirimkannya kepada seseorang.
'Tunggu saja kehancuranmu nyonya Salsabila! Berani-beraninya kau membuat kakakku menderita!' Makinya dalam hati.
Setelah menyelesaikan tugasnya, ia segera keluar dan bertingkah seperti tidak melakukan apa-apa.
"Dasar bodoh!" Maki seseorang yang sedang melakukan tugas yang diminta kakaknya. Siapa lagi kalau bukan Reihan.
Setelah menerima telpon dari kakaknya, ia langsung melakukan aksinya. Sehingga saat terjadi pergerakan ia langsung tersenyum sinis dan mengirimkan bukti tersebut kepada kakak tercintanya.
Sementara di ruangannya, Bila tersenyum manis setelah menerima pesan dari Reihan. Apalagi ia juga melihat sesuatu yang menarik melalui video yang ditampilkan oleh CCTV yang ada di ruangan tempat ia meninggalkan designnya tadi.
"Sungguh menarik! Sepertinya dia punya dendam kepadaku." Gumamnya dengan tatapan membunuh. "Baiklah, dengan senang hati akan aku ikuti permainanmu." Imbuhnya diakhiri smirk yang akan membuat orang merinding saat melihatnya.
Setelah terdiam sejenak, ia memutuskan untuk pulang karena merindukan kedua jagoannya.
Brak
"Mbaa...!" Teriak Arum dengan napas ngos-ngosan setelah berlari dari lantai bawah.
Bila yang sedang bersiap akan pulang langsung menatap tajam ke arah pelaku yang baru saja masuk ke dalam ruangannya dengan sangat tidak sopan.
"Arum...!" Seru Bila dengan nada selembut mungkin namun tidak bagi Arum. Ia langsung meringis sambil menggaruk dagunya yang tidak gatal setelah menyadari kesalahannya.
"Maaf mba." Cicitnya dengan kepala tertunduk lesu.
"Ada apa? Pasti ada hal penting yang ingin kamu sampaikan, sampai-sampai membuka pintu ruanganku seperti itu." Tebak Bila dengan tatapan menyelidik.
Gagal sudah keinginannya agar pulang lebih cepat.
"Heheh, iya mba." Arum langsung tertawa canggung saat mendengar tebakan Bila.
__ADS_1
"Kemarilah."
Arum langsung mendekat dan memberikan tablet yang ada di tangannya kepada Bila.
"Hmmp! Sudah aku duga." Ucap Bila sambil tersenyum sinis.
"Gimana ini mba? Kalau kita biarkan, nama mba akan semakin tercemar." Ungkap Arum cemas.
Bila mengambil ponselnya dan segera menghubungi Reihan.
"Assalamualaikum Rei, laksanakan tugasmu. Hacked portal berita yang sedang menayangkan berita tentang kakak sekarang dan ganti dengan bukti yang kita dapatkan. Serta kirim surat tuntutan ke media yang menyebarkan berita tentang kakak dengan tuntutan penyemaran nama baik."
"Walaikumsalam, siap laksanakan kak."
Setelah telpon berakhir Bila langsung turun dan mengumpulkan semua staff di butiknya.
"Kalian semua berkumpul di ruangan rapat tampa terkecuali." Perintah Bila dan segera masuk ke dalam ruangan rapat.
Setelah semuanya masuk ke dalam ruangan rapat, Bila menatap wajah staff nya satu persatu tampa mengatakan apa-apa. Hal itu membuat mereka gugup. Ada apa gerangan yang membuat mereka dikumpulkan di sini? Apa mereka membuat kesalahan?
"Kalian tau kenapa saya kumpulkan di sini?" Tanyanya dengan ekspresi datar dan membuat semuanya semakin gugup.
"Maaf buk, kami tidak tau. Apa kami ada membuat kesalahan?" Tanya seorang gadis bernama Lia.
"Coba cek ponsel masing-masing." Pinta Bila masih dengan ekspresi datar. Tampa bertanya mereka langsung membuka ponselnya masing-masing.
"Woi lihat ini ada berita heboh."
"Mana-mana." Serentak beberapa orang dan langsung mengelilingi orang tersebut.
"Wah gila, ternyata benar bos kita di fitnah."
"Anjir, nggak nyangka gue ternyata yang berkhianat orang sini juga."
"Untung gue nggak terlalu dekat sama dia. Hati manusia memang tidak ada yang tau ya."
Begitulah reaksi mereka saat melihat berita menghebohkan itu. Sementara yang menjadi tersangka sudah berubah pucat dengan tangan bergetar ketakutan.
'Sialan, kenapa bisa ketahuan sih?' Gerutunya dalam hati.
Sementara tatapan Bila mengarah pada seseorang yang sedang duduk di ujung sebelah kiri sambil menunduk dengan tangan bergetar.
"Kalian semua boleh keluar, kecuali dia!" Seru Bila sambil menunjuk ke arah gadis yang hendak berdiri itu.
"Kenapa hanya saya buk? Memangnya saya salah apa?" Tanyanya sok polos.
Sementara yang lain langsung keluar sambil menatap gadis itu tak suka. Jelas-jelas salah masih pura-pura polos, dasar memuakkan!
"Oh?" Bila berdiri dari duduknya dan berjalan menuju gadis itu. "Masih belum tau ya apa kesalahan kamu." Bila mengalihkan tatapannya ke arah Arum. "Arum, hidupkan proyektornya." Perintahnya sambil tersenyum.
"Baik mba."
Setelah proyektor menyala, terpampanglah video yang menayangkan semua kejahatan yang ia perbuat.
"Lihat baik-baik. Itu siapa ya kira-kira? Orang atau setan?" Tanya Bila dengan nada dingin sambil memainkan jari jemarinya.
"Hahahaha... "
Bila langsung menatap tajam gadis itu yang baru saja tertawa.
"Sepertinya aku tidak bisa berpura-pura lagi. Aku juga sudah muak dengan kamu nyonya Salsabila."
Ah! Lepas sudah topeng sok polosnya. Padahal sebelumnya ia terkenal sebagai staff yang rajin, baik hati dan salah satunya terkesan polos. Ternyata selama ini Bila memelihara ular beracun.
__ADS_1
"Oh ya? Aku benar-benar kaget loh." Kelakar Bila seakan ia benar-benar kaget dengan semua itu.
"Apa alasan kamu melakukan semua itu? Jawab!" Bentak Arum tidak sabaran.
"Arum... Jangan seperti itu, nanti dia ketakutan loh." Ucap Bila dengan nada yahh sedikit mengejek.
"Cuih, siapa juga yang takut dengan kalian?"
"Wowww, dia berani sekali Arum." Kekeh Bila sambil menatap gadis itu tajam. "Siapa kamu dan apa tujuan kamu bekerja di sini?" Tanya Bila serius.
"Balas dendam! Tapi sayangnya aku ketahuan." Jawab gadis itu santai.
"Kamu punya dendam apa padaku?" Tanya Bila penasaran. Karena ia merasa tidak melakukan apapun pada gadis ini. Jadi kenapa dia dendam?
"Kayla." Gadis itu menyebutkan salah satu nama seorang perempuan.
Bila terdiam sejenak, seperti mengingat nama yang baru saja ia dengar.
"Pelakor itu?"
"Jaga mulut anda! Kakakku bukan pelakor!" Hardiknya marah.
"Memang kenyataannya begitu. Seorang wanita yang menggoda pria beristri kalau bukan pelakor lalu apa namanya?" Balas Bila acuh
Sungguh! Ia kembali teringat dengan wanita gatal yang pernah menggoda dan menjebak suaminya dulu.
"***** bisa jadi." Itu Arum yang menjawab sehingga membuat gadis itu langsung berdiri dan hendak memukul Arum.
"Eithh." Bila menahan tangan gadis itu. "Lebih tepatnya wanita murahan. Wanita yang tidak tau malu dengan merangkak ke atas ranjang orang lain untuk mendapatkan kemewahan." Ejek Bila tak kalah pedas.
"Kamu!" Tunjuk gadis itu.
"Apa hmmm? Mau marah? Silahkan, karena apa yang aku katakan memang kenyataan." Ungkap Bila dengan tatapan membunuh. "Atau jangan-jangan kamu sama saja dengan kakakmu itu, sama-sama murahan."
"Aku akan membunuhmu!" Desisnya sambil mengeluarkan pisau dari sakunya dan sialnya luput dari pandangan Bila.
Bless
"Mati kamu... " Teriaknya seperti orang gila.
"Mbaa....!" Teriak Arum saat melihat Bila ditikam dengan pisau.
Arum langsung menahan tubuh Bila yang hampir jatuh ke lantai setelah perutnya ditikam pisau.
Orang-orang yang di luar langsung masuk dan mengamankan gadis itu.
"Lepaskan aku!" Teriaknya marah sambil melotot ke arah dua orang yang memegang kedua tangannya.
"Diam!" Bentak salah satunya yang langsung membuat gadis itu terdiam.
"Mba, bangun mba." Ucap Arum dengan deraian air mata. "Apa sudah ada yang menelpon ambulance?" Tanya Arum parau.
"Sudah, sekarang ambulance sedang menuju ke sini." Jawab Lia yang memang dengan cepat menelpon ambulance.
Tak lama ambulance datang dan paramedis langsung memberikan pertolongan pertama kepada Bila. Tak berselang lama, pihak kepolisian juga datang dan membawa pelaku dan saksi untuk dimintai keterangan.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continue