Pelangi Setelah Hujan

Pelangi Setelah Hujan
Eps7_Mengorbankan kehormatan


__ADS_3

Karena sudah tidak tahan lagi. Dita berlari ke kamarnya melupakan niat awalnya mengapa ia turun ke lantai satu setelah masuk dia pun mengunci pintu kamarnya.


Lalu Dita pun bisa menumpahkan air mata yang sudah sejak tadi dia tahan.


***


Hatinya sangat sesak ini pertama kalinya dia mendengar ayahnya menangis. Wibowo memang selalu terlihat kuat ketika didepan anak-anak nya walau sebesar apa pun beban yang dia pikul, namun dia tetap lah manusia biasa dia juga akan menangis apa bila dia sudah lelah dengan apa yang dia jalani


Dan itu tentu saja membuat Dita menjadi sangat terpukul. Di tambah dia tadi juga mendengar kalau orang tuanya akan menjual rumah yang sudah mereka tempati sejak lama, tempat dimana Dita dan tara besar bersama, rumah ini pun juga menyimpan banyak sekali kenangan di mana kakek dan nenek nya sewaktu masih hidup.


" Nek. Kek. Dita nggak mau ninggalin rumah ini " Ujar Dita, dengan air mata yang sudah membasahi pipi nya.


Dulu sewaktu dita kecil, dia lebih dekat dengan kakek dan juga nenek nya karena sering ditinggal oleh orangtuanya untuk bekerja. Dan mereka lah yang selalu menghibur Dita.


Dan satu-satunya peninggalan kakek dan nenek nya hanyalah rumah tempat dia tinggali sekarang ini. Dan sekarang rumah ini malah ingin dijual oleh ayah nya. Walau pun Dita tahu ayah nya juga pasti sudah memikirkan nya dengan matang sebelum mengambil keputusan itu, namun tetap saja, bukan hal yang mudah bagi Dita untuk dia mengikhlaskan rumah ini jatuh ke tangan orang lain


Hanya menangis lah yang bisa Dita lakukan saat ini, dia benar-benar merasa sedang berada di titik terendah di hidupnya. Bagaimana caranya agar dia bisa tetap mempertahankan rumah nya?.


Tiba-tiba Dita menoleh kearah kartu nama milik Samuel yang tadi dia letakkan di atas meja belajarnya_ " Nggak kamu nggak boleh melakukan itu Dita " Ucap Dita, sambil terus memukul wajah nya dengan tangan nya sendiri. Berusaha untuk mengusir semua pikiran kotornya


Namun tubuh nya malah berjalan mendekat kearah meja belajarnya. Menatap kartu nama itu dengan tatapan putus asa. Sungguh dia benar-benar tidak sanggup jika harus mengorbankan rumah peninggalan kakek dan nenek nya ini, karena di rumah ini lah Dita tumbuh hingga seperti sekarang.


" Apakah kalian akan marah, aku hanya tidak ingin pindah dari rumah ini " Gumam Dita, lalu dia duduk di kursi belajarnya, matanya terus menatap kartu yang tertulis nama Samuel keenan Mahendra


***

__ADS_1


Satu jam lebih Dita bergelut dengan pikiran nya sendiri. Dia dihadapkan oleh dua pilihan yang sangat berat.


Di satu sisi jika dia tidak mau berkorban, maka sudah pasti dia akan kehilangan rumah nya, dan juga tidak dapat dipungkiri perusahaan keluarga nya berkemungkinan akan bangkrut, karena sampai saat ini ayah nya masih belum bisa mengembalikan perusahaan seperti semula.


Dan satu sisi lagi. Perusahaan keluarga nya akan kembali stabil, dan mereka pun tidak perlu menjual rumah mereka. Akan tetapi dia akan kehilangan kehormatan yang sudah dia jaga selama 23 tahun.


Apakah yang harus Dita pilih. Apakah dia akan mengorbankan dirinya untuk keluarga nya, atau akan mempertahankan kehormatan nya dan membiarkan keluarganya sedikit demi sedikit hancur


Dita memejamkan matanya lalu menarik nafas nya dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan.


" Maaf kan Dita. Mungkin ini saat nya untuk Dita berkorban untuk keluarga ini, karena selama ini kalian sudah memberikan segalanya untuk ku " Ucap Dita, setelah dia selesai dari lamunan panjangnya


Lalu dia memasukkan nomer telpon yang tertera dikartu nama itu ke dalam ponsel nya. Setelah menenangkan hatinya Dita pun menghubungi nomer itu.


" Siapa " Ucap seorang laki-laki dengan suara beratnya dari seberang sana.


" S... saya Anindita " Jawab Dita dengan sedikit gagap karena tubuh nya mulai bergetar


Terdengar suara tertawa puas dari seberang sana.


" Sudah ku duga kamu akan menghubungi ku kembali. "


" Aku tidak suka berasa basi. Aku akan kirim alamatnya dan aku tunggu jam 1 malam ini tidak ada kata terlambat "


" T.. tapi tuan... " Belum selesai Dita berbicara namun Samuel sudah memutuskan sambungan telpon mereka

__ADS_1


Dita tidak menyangka kalau ternyata harus malam ini, bahkan dia sama sekali belum membuat dirinya siap


Ting... Suara pesan masuk.


Dan ternyata itu dari Samuel dia mengirimkan tempat dimana sekarang dia berada, dan Dita harus ke tempat itu sebelum jam 1 malam.


Dita kembali berpikir apakah keputusan yang dia ambil sudah tepat, atau hanya akan menimbulkan penyesalan dikemudian hari


" Dita kamu tahu keputusan yang kamu ambil ini adalah keputusan yang sangat salah. Tapi ini bukan lagi saat nya untuk memikirkan itu, yang sekarang harus kamu pikirkan itu bagaimana selanjutnya kelurga ini jika kamu hanya diam, tidak melakukan apa pun " Ucap Dita kepada diri nya sendiri


Dita benar sekarang bukan lah saatnya lagi untuk dia memikirkan salah dan benar, yang terpenting sekarang bagaimana dia bisa menolong perusahaan keluarga nya dan tetap mempertahankan rumah ini


Karena sekarang sudah lewat jam 12 malam maka tanpa ingin membuang-buang waktu Dita dengan cepat mengambil jaket tebal berwarna hitam milik nya, untuk melindungi tubuh nya dari dingin nya angin malam, ditambah sekarang cuaca mulai gerimis yang menambah dingin nya malam


Dita memutuskan untuk memesan taksi saja, karena memang dia tidak bisa mengendari mobil walau pun mobil ayahnya ada terparkir di garasi.


***


Rupanya alamat yang diberikan oleh Samuel letaknya sangat jauh dari yang Dita perkirakan, hingga membutuhkan waktu kurang lebih satu jam bagi nya untuk sampai ketempat itu dan sekarang jam pun sudah lewat dari pukul 1


" Sekarang sudah lewat dari jam yang ditentukan, apakah dia akan marah? " Kini Dita sudah mulai gelisah, dia takut kalau seadai-andai Samuel malah membatalkan perjanjian nya.


Akhirnya dia pun sudah sampai, rupanya sekarang Samuel tengah berada di sebuah vila mewah yang berada di ujung kota dimana di samping nya adalah pantai.


Karena hujan sudah mulai deras sejak tadi, Dita pun tidak bisa terlalu mengamati tempat itu, setelah turun dari taksi dia langsung berlari ke vila itu untuk segera melindungi tubuhnya dari air hujan.

__ADS_1


Dita pun menekan bel tentunya dengan jantung yang terus berdegup dengan kencang nya. Tidak lama setelah itu keluarlah Rayan untuk membukakan pintu, Dita kira di vila itu hanya ada Samuel saja sendiri, namun ternyata Rayan pun juga ada di situ_____


__ADS_2