
Sorenya setelah menyelesaikan urusan di kampus dan menghubungi Aksa. Calista langsung meluncur ke kantor Aksa untuk mengambil motornya yang sudah selesai di service dan diambil oleh Romi.
Sampai di depan gedung, ia langsung menuju lobi dan berniat masuk ke dalam. Namun langkahnya terhenti saat mendengar seseorang memanggil namanya.
"Nona Calista!"
Calista berbalik dan mengarahkan pandangannya ke arah orang yang memanggil namanya. Sepersekian detik ia ingat kalau pria itu adalah yang membantu membawa motornya yang mogok.
Romi yang melihat Calista menatapnya langsung bergegas menghampiri wanita itu. "Nona mau ambil motor ya?" Tanyanya sopan.
"Iya, apa motornya masih di bengkel?"
"Tentu tidak." Dia terdiam sejenak, bisa dapat bonus tambahan alias hukuman pak asisten kalau sampai motornya belum selesai. "Motornya sudah ada di sini dan sudah bisa digunakan lagi." Romi merogoh kantung celananya. "Ini kuncinya." Menyerahkan kunci ke tangan Calista.
"Terimakasih banyak ya mas."
"Iya, sama-sama."
Raka yang baru saja turun dari ruangannya bersama Aksa tidak sengaja melihat wanita yang sedang bicara dengan Romi. Ia langsung terkejut saat melihat wajah wanita itu.
"Calista? Jadi dia beneran Calista."
Aksa menoleh ke arah Raka dan mengikuti arah pandang atasannya itu. "Sekarang percaya kan kalau tadi aku bertemu Calista."
"Iya. Ya sudah samperin sana. Nanti dia keburu pulang." Ujar Raka sambil tersenyum licik, ia tau kalau Aksa sudah dari tadi ingin langsung menghampiri sang pujaan hati. Tapi karena masih ada dirinya di sampingnya dan mereka juga akan segera melakukan rencana yang sudah didiskusikan sebelumnya. Sehingga ia menahan diri untuk langsung menghampiri wanita itu.
Melihat Aksa bergegas pergi, Raka langsung geleng-geleng kepala. Untung saja para karyawan sudah pulang semua. Kalau tidak, mereka akan ada bahan gibah saat melihat semua itu. Tak lama pundaknya di tampar oleh seseorang dan membuat pria itu sedikit meringis. Sungguh! Ingin rasanya Raka menjitak kepala sahabatnya itu. Tapi ia urungkan dan hanya memberikan keluhan padanya.
"Sakit tau!" Raka melayangkan tatapan tajam ke arah pelaku yang menampar pundaknya.
"Dia siapa?" Seakan mengabaikan keluhan Raka, Jimmy malah fokus menatap ke arah Aksa dan wanita yang sedang bicara di lobi.
"Calista!" Seru Raka dengan nada datar. Pundaknya masih terasa perih akibat ulah Jimmy. Sehingga ia menjawab dengan acuh tak acuh.
"Woww, she is beautiful. Pantesan si bocah nggak move on move on. Orang yang dia cintai secantik itu." Oceh Jimmy seraya memuji kecantikan Calista. Dia sudah tau kalau Calista adalah cinta pertama Aksa. Itupun setelah ia memaksa sahabatnya itu untuk menceritakannya.
Sungguh! Jimmy memang orangnya menyebalkan dan tukang paksa. Raka dan Aksa sangat teramat paham bagaimana karakter pria bule itu. Tapi entah kenapa, keduanya sangat menyayangi sahabat menyebalkannya itu. Ya mereka cocok sih sahabatan, karena sama-sama menyebalkan.
"Lebih cantikan Bila kemana-mana." Gumam Raka memuji kecantikan istri tercintanya. Kalau sampai Bila mendengarnya, mungkin dia sudah terbang ke langit ke tujuh sambil tersenyum lebar.
Jimmy yang mendengar gumaman Raka langsung menganggukkan kepalanya. Ia setuju dengan pendapat Raka, karena Salsabila memang sangat cantik. Beuh kalau dia belum menikah dan bukan istri Raka. Mungkin Jimmy akan mati-matian mengejar cinta Bila.
__ADS_1
Dasar konyol!
πππ
Cukup lama mereka berdua menunggu Aksa selesai bicara dengan Calista. Sampai-sampai Jimmy hampir ketiduran di sofa ruang tunggu. Akhirnya, Aksa mengakhiri obrolannya dan menyaksikan Calista pergi.
"Lama banget sih, sampai ketiduran kita nungguin." Protes Jimmy sambil menguap.
"Dasar! Hanya kamu yang tidur." Sekak Raka tak terima. Jimmy tersenyum kikuk dan dengan cepat menatap Aksa.
"Gimana? Apa berhasil meyakinkan dia kalau kamu mengenalnya?" Tanya Raka setelah Aksa duduk di dekatnya.
Aksa menghela napas berat seraya menggelengkan kepalanya. "Belum! Susah banget yakinin dia."
"Hei sabar dong brother. Memperjuangkan dan meyakinkan seseorang yang kita cintai itu butuh perjuangan. Fighting." Jimmy mengangkat kedua tangannya memberi semangat kepada sahabatnya.
"Ouwhh kenapa ekspresi kamu sangat menjijikkan sekali buleee....?" Teriak Aksa sambil bergidik ngeri. Karena Jimmy memasang tampang imut untuk menyemangati dirinya.
"Hahahaha...." Raka langsung tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Jimmy dan ekspresi jijik Aksa setelah melihat aksi sahabatnya itu.
"Memangnya kenapa? Wajah tampan begini dibilang menjijikkan." Hilang sudah sikap calm Jimmy berganti menjadi narsis.
"Dasar narsis!" Aksa menempeleng kepala Jimmy.
"Bukannya otak kamu di dengkul ya?" Tanya Aksa pura-pura bodoh.
"Oh iya lupa." Jimmy tertawa masam.
Sementara Raka tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan tingkah keduanya.
"Kapan terakhir kali kita tertawa kayak gini?" Pertanyaan Raka membuat mereka terdiam dan berpikir.
Memang benar, mereka sudah lama tidak bercanda seperti ini. Selain karena sudah ada yang menikah dan punya kesibukan masing-masing. Jadi mereka jarang ngobrol santai seperti sekarang ini. Padahal malamnya mereka akan melakukan penyergapan.
"Sudah lama banget. Bahkan aku tidak ingat kapan kita terakhir kayak gini." Saut Jimmy sambil merenung.
"Apa bedanya denganku? Aku juga tidak ingat kapan terakhir kita kayak gini." Aksa menimpali.
"Ya sudah, ayo kita sholat." Raka berdiri diikuti oleh keduanya. Mereka menuju ke mushola kantor untuk menunaikan sholat maghrib.
Romi beserta security yang lainnya langsung melongo melihat kelakuan ketiganya. Jarang-jarang mereka melihat tingkah ajaib ketiga pria yang terkenal dingin saat jam kerja itu. Sehingga menyaksikan semua itu merupakan suatu pengalaman tersendiri bagi mereka.
__ADS_1
πππ
Calista yang sudah sampai di rumahnya langsung teringat dengan apa yang dikatakan Aksa padanya saat ia bertanya alasan pria itu membantu dirinya.
"Kamu dulu teman SMA aku. Kita satu kelas. Dulunya kita cukup dekat, sampai anak-anak bilangnya kita pacaran." Itu adalah pernyataan yang ke luar dari mulut Aksa saat mereka kembali bertemu tadi sore. Aksa memang tidak ingin memaksakan ingatan Calista. Oleh karena itu dia memakai kata cukup untuk menggambarkan kedekatan mereka. Padahal dulunya mereka bisa dikatakan sangat dekat. Karena kemana-mana selalu berdua, kecuali ketika Raka ikut nimbrung di antara keduanya.
"Apa benar dulu aku mengenalnya? Tapi kenapa aku sama sekali tidak ingat?" Dia terlihat memikirkan sesuatu sambil berjalan ke dalam kamarnya. Sampai-sampai ayahnya yang sedang berjalan dari arah dapur menuju ruang tamu dan berpas-pasan dengannya langsung heran. Karena tidak biasanya Calista tidak menyapanya atau paling tidak tersenyum saat bertemu dengannya.
"Calista!"
Mendengar suara berat sang ayah, membuat Calista langsung kembali kedunia nyata dan seketika menghentikan langkah kakinya. Ia berbalik sambil mengangkat tangannya.
"Hai, papa." Sapanya sambil tersenyum kaku.
"Kamu mikirin apa?" Tanya Rama to the point.
"Aku nggak mikirin apa-apa." Elaknya karena masih belum mau mengatakan apa yang ia pikirkan.
"Yang benar? Kamu nggak bohong kan?" Rama menatap putrinya dengan serius.
Mendapat tatapan seperti itu membuat Calista terpaksa mengatakan apa yang ia pikirkan. "Jadi tadi itu.... " Calista menceritakan awal pertemuannya dengan pria bernama Aksa yang mengaku kalau dia adalah teman SMAnya. Ia juga mengatakan kalau pria itu yang membantunya saat motornya mogok tadi pagi.
Setelah mendengar penuturan putrinya, Rama terdiam dan mengingat-ingat nama yang disebutkan oleh putrinya itu. Setelah teringat dengan nama itu, rahang Rama langsung mengetat dan ia hampir meledak dalam amarah. Namun ia berusaha mengendalikan emosinya dan menatap putrinya lagi.
"Jadi dia bilang dia teman SMA kamu?" Tanya Rama memastikan namun dengan nada yang sangat amat tidak bersahabat. Calista sama sekali tidak menyadari perubahan nada dalam kata-kata ayahnya.
"Iya pa, dia bilang seperti itu." Jawab Calista menjelaskan.
"Ya sudah, sebaiknya kamu ganti baju trus makan malam."
"Siap kapten." Calista tersenyum lebar dan segera beranjak menuju kamarnya.
Sementara Rama terdiam seraya mendudukkan dirinya di sofa ruang tengah. Apa dia memang benar-benar anak itu? Apa dia anak laki-laki yang menyebabkan dia hampir kehilangan Calista untuk selama-lamanya? Pikir Rama mengingat masa lalu dengan tangan terkepal erat dan mata penuh kebencian.
.
.
.
.
__ADS_1
to be continue
Hayooo apa sebenarnya yang terjadi pada Calista? Apa hubungan Aksa dengan menghilangnya Calista di masa lalu? Semuanya insyaAllah akan terjawab di......