Pelangi Setelah Hujan

Pelangi Setelah Hujan
Trauma


__ADS_3

Suhu di dalam ruangan langsung berubah setelah kelurnya kata-kata dari seorang pria paruh baya yang sedang menatap tajam pada pria yang ada di depannya.


"Hmm, saya memang sudah mengetahui semuanya." Jawab pria itu lesu.


"Dengar baik-baik ya bocah tengik. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah dan tidak akan sudi memaafkan perbuatan kalian terhadap putriku." Desis Rama tajam.


"Tapi saya tidak tau apa-apa."


"Lalu dengan kamu mengatakan tidak tau apa-apa dan kamu berharap aku memaafkanmu begitu?" Rama semakin menatap nyalang ke arah Aksa yang dibalas helaan napas lelah oleh pria itu. Sekeras apapun ia mencoba, ia tak akan bisa mendapatkan maaf dari mereka. Yah walaupun semua itu tidaklah salahnya.


Sementara Calista hanya terdiam menyaksikan perdebatan antara ayah dan pria yang beberapa kali ditemuinya itu. Namun tak lama kepalanya terasa berdenyut dan kilasan kejadian menyakitkan yang selama ini terkunci akibat traumanya berseliweran dikepalanya.


"Akhhh... " Calista berteriak sambil meremas kuat rambutnya. Hal itu membuat Rama terkejut bukan main dan langsung menghampiri putrinya.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Jangan mendekat! Pergi! Jangan sakiti aku pergi! Hiks.." Teriak Calista histeris dan membuat Rama membeku di tempat.


Oh tidak! Calista pasti sudah mengingat semua kejadian mengerikan itu.


"Pergi! Aku bilang pergi!" Teriaknya lagi dengan wajah sembab karena sudah penuh dengan air mata.


Rama berusaha meneguhkan hatinya dan memeluk putrinya, walau Calista terus berontak ingin dilepaskan.


"Lepaskan aku!"


"Sayang, tenanglah ini papa nak." Ucap Rama dengan suara serak menahan tangis. Ia tidak tahan melihat keadaan Calista kembali seperti dulu.


Calista berhenti berontak dan menatap wajah ayahnya sendu. "Papa... Hikks.. Papa... Aku takut." Tangisnya kembali pecah dan segera menyembunyikan kepalanya di dada sang ayah dengan tubuh bergetar hebat.


"Tenang ya sayang. Papa ada di sini dan akan melindungimu." Ucap Rama lembut dan mengecup puncak kepala anaknya berkali-kali. Tak lama terdengar dengkuran halus dari arah dekapannya. Membuat Rama menurunkan pandangannya dan menatap putrinya yang sudah tertidur setelah lelah menagis. Rama segera membawa putrinya ke dalam kamar.


Aksa yang menyaksikan semua itu tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap Calista sendu tampa bisa mendekap dan menenangkannya.


Sepertinya dia sangat trauma dengan kejadian itu dan semua itu terjadi karena ayahku. Gumamnya dalam hati.


"Sebaiknya kamu segera pergi dari sini dan jangan pernah muncul lagi dihadapanku maupun Calista." Aksa tersentak dan menatap Rama yang ternyata sudah berdiri di hadapannya. "Apa kamu paham?" Tanya Rama saat tidak mendapat jawaban dari Aksa.


Aksa menghela napas sebelum menatap lurua ke arah Rama. "Baik om, saya akan pergi dan tidak akan muncul lagi dihadapan kalian. Sekali lagi saya minta maaf." Aksa langsung berdiri dari duduknya.


"Hmm."


"Assalamualaikum." Aksa melangkah keluar dengan wajah lesu dan hati berdenyut nyeri.


"Walaikumsalam." Jawab Rama setelah Aksa keluar dari rumahnya.


Aksa yang sudah berada di luar kembali berbalik dan menatap ke arah pintu yang sudah tertutup dengan tatapan dalam.

__ADS_1


"Maafkan aku Calista. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaanmu walau bukan aku yang membahagiakanmu." Lirihnya sendu. Ia harus berusaha melupakan Calista dan menata hatinya kembali. Karena ia tidak mau membuat Calista menderita bila berdekatan dengannya.


πŸ’πŸ’πŸ’


London 4 bulan kemudian


Terlihat dua orang pria kecil yang sangat imut dan tampan sedang asik bermain dalam playground mereka.


"Tatak... Tu nya Yan." (Kakak... Itu punya Zayyan) Teriak salah satunya saat mainannya diambil paksa oleh kembarannya.


Sementara yang diteriaki hanya acuh dan tidak mau mengembalikan mainan adiknya. Merasa diaabaikan Zayyan bersiap-siap akan menangis namun tidak jadi saat melihat kedatangan seseorang. Ia pun berdiri dengan mata berbinar dan jangan lupakan senyuman yang terpatri di bibir mungilnya.


"Ddy... " Teriak pria kecil yang berjalan sambil merentangkan kedua tangannya saat melihat ayahnya datang. Sementara kembarannya hanya menatap datar kedatangan ayahnya.


"Hai boys. Kalian sedang apa?" Tanya pria itu yang tak lain adalah Raka yang langsung menggendong bocah yang memanggilnya tadi.


"Ainn." (Main) Jawab pria kecil dalam gendongannya.


"Ohh Zayyan main apa? Apa kakakmu menjailimu lagi?" Tanyanya sambil menatap lekat kedua putranya. Pasalnya Zahran selalu saja menjaili adiknya bahkan sampai membuat Zayyan memangis.


Zahran membuang muka karena pasti akan dimarahi lagi oleh ayahnya kalau Zayyan mengadu.


"No." Jawabnya dengan ekspresi lucu.


"Ouuuh. Sekarang putra daddy sudah pintar berbohong yaa?" Ucap Raka sambil menjawil hidung mancung putranya.


Zayyan yang ditanya seperti itu langsung mengerjap lucu.


Raka menghela napas lelah. "Apa kalian mau bertemu mommy?" Tanya Raka sambil menatap keduanya.


"Mmy? Auu ddy." (Mommy? Mau daddy) Angguk Zayyan semangat.


Zahran yang dari tadi diam langsung menatap ayahnya dengan mata berbinar bahagia. "Auu..." (Mau) Ucapnya sambil menjulurkan tangannya ke arah Raka. Raka yang paham langsung menggendong anaknya. Alhasil Zayyan berada di tangan kanan dan Zahran berada di tangan kiri.


"Let's go, kita bertemu mommy." Raka langsung pergi bersama kedua anaknya untuk bertemu sang istri tercinta yang masih betah dalam tidur panjangnya.


Setelah dinyatakan koma 4 bulan yang lalu, Bila belum juga sadarkan diri sampai detik ini juga. Sudah berbagai cara Raka lakukan dengan mendatangkan dokter terbaik sekalipun dan bahkan memindahkan istrinya ke Rumah Sakit di luar negri. Namun Bila masih belum bangun.


Sampai di Rumah Sakit, ketiganya langsung masuk dan menuju ruang rawat wanita tercinta mereka.


"Hey Paul!" Panggil Raka saat melihat seorang pria yang akan maauk ke dalam ruangan istrinya. Pria itu berbalik dan tersenyum kepada orang yang menyapanya.


"Want to examine?" Tanya Raka basa-basi


"Yeah, routine checkups." Dia pun masuk diikuti oleh ketiganya. Paul memeriksa kondisi Bila seperti mengecek kedua matanya, tanda vitalnya dan lainnya.


"Have there been any developments regarding my wife's condition?" Raka menatap dokter pria tersebut dengan tatapan penuh harap.

__ADS_1


"The same." Jawab Paul setelah selesai memeriksa pasiennya dan membuat tatapan Raka meredup. "Just pray for a miracle." Imbuhnya sambil menepuk pundak Raka seakan memberikan semangat. Setelah itu dia segera keluar dari ruangan paaiennya.


Raka menatap ke arah istrinya dengan tatapan sendu. Kemudian beralih menatap kedua putranya yang sedang menatapnya dengan tatapan polos.


"Setidaknya masih ada kalian bersama daddy. Kalau tidak, mungkin daddy akan gila." Ucapnya sambil tersenyum tipis kemudian berjalan mendekat ke arah ranjang istrinya.


Kedua anaknya ia turunkan dan mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di sebelah ranjang Bila. "Sayang, betah banget kamu tidurnya. Apa kamu tidak rindu dengan kami semua?"


"Mmy... Anun, tok dul yus." (Mommy... Bangun, kok tidur terus) Ucap Zahran sambil memegang tangan ibunya. Namun tidak ada jawaban hanya tersengar suara mesin yang menjadi penunjang hidup Bila selama ini.


Walaupun tidak mendapat jawaban, namun tidak membuat keduanya menyerah. Ruangan yang awalnya hening sekarang dipenuhi oleh ocehan mereka berdua. Diselingi tawa dari Raka saat melihat kelakuan kedua anaknya itu.


"*Dd*y.. Yan au nen." ( Daddy... Yan mau nen) Rengek Zayyan saat merasakan perutnya lapar dan mata yang mulai sayu karena mengantuk. Walaupun tadi dia sudah makan namun kalau belum minum susu dari ibunya rasanya ada yang kurang. Apalagi asi memang sangat dibutuhkan dalam mendukung perkembangan seorang anak.


Raka langsung mengecek stok asi di lemari pendingin dan langsung mendesah lelah. Karena ternyata sudah kosong, sebab ia lupa pumping kemaren.


"Zayyan minum ini aja ya." Tawar Raka yang sudah sedia susu formula untuk kedua anaknya. Kalau stok asi di lemari penyimpanan sudah habis.


"No! Yan au nen ddy." (No, Zayyan mau nen daddy) Rengeknya dengan bibir melengkung ke bawah dan mata yang sudah berair.


Raka dibuat pusing oleh anaknya. Karena selama ini mereka memang tidak pernah minum susu bantu. Karena setiap hari Raka akan pumping dari pabriknya langsung untuk keberlangsungan hidup anaknya. Walaupun keduanya sudah bisa makan.


Awalnya ia tidak melakukannya karena kondisi istrinya yang dalam keadaan koma. Namun dada Bila selalu basah oleh asi yang merembes keluar karena memang tidak dinikmati langsung oleh kedua anaknya. Pria itu langsung konsultasi ke dokter dan menanyakan apakah boleh melakukan pumping pada pasien koma. Walaupun hal itu tidak dianjurkan namun dokter memberi izin. Sehingga Raka selalu melakukannya dan menyimpannya dalam lemari pendingin.


"Baiklah." Raka menggendong Zayyan dan mendekat ke arah istrinya. Kemudian membuka kancing baju istrinya dan membiarkan bayi itu menyusu dengan ibunya.


Tak lama Zahran juga berteriak ribut. "Ddy... An uga au nen." (Daddy Zahran juga mau nen)


"Haduhh." Raka memijit pangkal hidungnya saat mendengar teriakan anak pertamanya.


"Kemarilah."


Zahran langsung berlari dengan kedua kaki pendeknya menghampiri ayahnya dan mengulurkan tangannya minta digendong. Raka mengangkat anaknya dan membaringkannya di sisi sebelah kanan Bila. Karena sebelah kiri sudah diisi oleh Zayyan yang sudah memejamkan matanya namun mulut masih setia mengemut sumber kehidupannya.


Zahran yang melihat sumber kehidupannya selama ini langsung memasukkan benda mungil di dada ibunya dan menghisapnya dengan rakus.


Melihat kedua anaknya yang nemplok di kedua aset istrinya membuat Raka menghela napas lelah. Dia kan juga mau.


.


.


.


.


To be continue

__ADS_1


__ADS_2