Pelangi Setelah Hujan

Pelangi Setelah Hujan
Kamu Masih Marah...


__ADS_3

Seorang pria terlihat berdiri di dekat jendela kamar hotelnya. Suasana kota London pagi itu terlihat cerah, terlihat dari langitnya yang berwarna biru tampa awan menghiasinya. Karena perbedaan waktu London lebih lambat 7 jam dari Indonesia, sehingga di sana masih berada di susana pagi.


Pria itu terlihat menerawang jauh terlihat sedang memikirkan sesuatu. Perlahan tangannya yang berada di dalam saku celana ia ke luarkan dan meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.


Tak lama terdengat suara lembut seorang wanita menghampiri gendang telinganya. "Assalamualaikum, ada apa Mas?"


"Walaikumsalam, Mas kangen sama kamu bee."


"Oh yaa? Masa?" Dari nadanya, wanita itu terlihat tidak percaya setelah apa yang terjadi sebelumnya. Karena ia pergi tampa mengatakan apapun.


"Kamu masih marah sama Mas... sayang?"


Pria itu yang tak lain adalah Raka langsung mengerutkan keningnya tatkala mendengar suara wanita itu terkekeh geli. "Kenapa kamu tertawa?"


"Maaf, aku kelepasan." Jawabnya dan mengindahkan pertanyaan Raka sebelumnya.


Raka menghela napas berat. "Kamu belum jawab pertanyaan Mas."


"Pertanyaan yang mana?"


Raka menggeram dalam hati karena sang istri terlihat sedang menguji kesabarannya. "Pertanyaan Mas yang tadi."


"Iya, pertanyaan yang mana? Bisa diulangi, aku lupa!" Serunya datar.


Oh Tuhan, Raka benar-benar hampir meledak karena emosi. Kenapa Bila mempermainkannya seperti ini? Sungguh ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya. Iya, dia akui memang dirinya salah. Karena pergi tampa sepatah katapun. Tapi, istrinya juga salah karena tidak meminta izin padanya sebelum menemui pria lain.


"Salsabila Putri Dhnanjaya!" Raka memanggil nama lengkap istrinya pertanda ia sudah mencapai batas kesabarannya.


"Iya tuan Raka Danu Nugraha." Bila tak mau kalah dengan memanggil nama lengkap suaminya.


"Kamu jangan mancing Mas buat marah dong sayang."


"Siapa juga yang mancing-mancing? Emang Mas ikan, pakai dipancing segala?"


Oh God, ada apa dengan istrinya ini?


"Bukan itu ma__


"Kalau Mas nelphon aku hanya untuk berdebat, aku nggak ada waktu. Bye bye, assalamualaikum." Telphon langsung terputus dan membuat Raka tertegun.


Hah! Istrinya benar-benar marah. Raka langsung berjalan gontai ke arah ranjang dan menghempaskan tubuhnya di sana.


"Aksa...!" Panggilnya dengan suara lantang. Aksa yang memang sudah berada di dalam kamar Raka langsung menerobos masuk ke dalam kamar tidur Raka dan mendapati atasannya sedang terbaring menghadap langit-langit kamar.


"I-ya tuan, ada apa?" Aksa tau kalau saat ini mood Raka sedang hancur. Sangat terasa aura horror dalam dirinya dan membuat suasa kamar terada sesak.

__ADS_1


"Dia marah kepadaku, istriku marah kepadaku Aksa. Apa yang harus aku lakukan? Nada bicaranya sangat dingin dari biasanya." Racau Raka sambil meremas kuat rambutnya.


"Tuan jangan seperti ini, aku yakin nyonya hanya menggertak. Dia tidak benar-benar marah. Aku yakin itu." Aksa mencoba menenangkan Raka.


"Aksa, aku tau bagaimana karakter istriku. Saat ini dia bukan hanya sekedar menggertak, tapi memang sedang marah kepadaku." Raka memejamkan matanya yang mulai berair. "Kapan urusan kita di sini selesai?" Tanyanya tampa membuka mata.


"Hari ini urusan kita selesai tuan." Jawab Aksa setelah mengecek tabletnya.


"Kita pulang nanti malam!" Serunya memberi perintah.


"Baiklah, akan aku atur penerbangan untuk nanti malam." Kemudian ia ke luar dari dalam kamar menuju ruang tamu kamar Raka.


Hati Aksa terasa dicubit, kejadian kali ini terjadi juga karena mulut besarnya yang tidak bisa di kontrol. Ia langsung menepuk mulutnya sendiri sebagai hukuman karena membuat Raka dan istrinya bertengkar. Hah! Aksa menyandarkan punggungnya pada headboard sofa seraya menatap langit-langit.


πŸ’πŸ’πŸ’


Bila menatap anak cantik yang sedang berdiri di hadapannya saat ini. Dia tatap dalam-dalam mata bulat gadis kecil itu yang juga sedang menatapnya.


"Siapa nama kamu sayang?" Akhirnya Bila membuka suara.


Gadis kecil itu tidak langsung menjawab, karena ia masih takut dan terbayang kejadian yang menimpanya tadi siang.


"Baiklah, kalau kamu belum mau bicara. Tante nggak akan memaksa." Bila mengusap rambut hitam gadis itu penuh sayang.


"Nama yang cantik seperti orangnya." Bila menoel hidung Alicia. "Kamu pasti lapar, kita turun ke bawah ya." Bila meraih tangan mungil itu dan membawanya ke luar dari dalam kamar untuk turun ke bawah.


"Kak...! Apa kakak belum masak?" Tanya Reihan saat melihat kakaknya turun ke bawah.


"Ahmm, ini kakak baru mau masak. Kalian mau makan apa?" Bila menjawab sekaligus melempar pertanyaan kepada keduanya.


"Ayam goreng." Ucap keduanya kompak dan membuat Bila kaget.


Bila terdiam sejenak dan memperhatikan keduanya secara bergantian. "Baiklah, lalu apa lagi?"


"Capcai." Ucap Alicia itu tampa sadar.


"Yah, itu enak juga. Tambah udang saus padang ya kak." Timpal Reihan sambil tersenyum.


"Okay, chef Bila akan memasakkan makan malam untuk tuan muda dan tuan putri." Celotehnya sambil tersenyum, membuat Alicia terkekeh diikuti tawa Reihan yang geli dengan panggilan yang di ucapkan kakaknya barusan.


"Amm ta-nte, boleh aku bantu." Ujar Alicia sambil tersenyum.


"Tentu saja boleh sayang, ayo. Rei, kamu duduk manis aja di sana ya." Perintah Bila seraya menatap adik bungsunya.


"Siap bos, dengan senang hati." Reihan segera menarik kursi dan mendudukkan tubuhnya di sana.

__ADS_1


Sementara Bila dan Alicia langsung melakukan aksinya di dapur. Gadis itu terasa sedang masak bersama ibunya, sehingga membuat matanya berkaca-kaca. Aku kangen mami, mami dan daddy pasti cemas karena aku nggak pulang. Lirihnya dalam hati.


"Kenapa sayang, apa kamu terluka?"


Gadis itu menggeleng. "Aku kangen keluargaku." Jawabnya sambil menangis.


Bila berusaha menengkan Alicia dan menghapus air matanya. "Apa kamu ingat alamat keluargamu? Atau nomor ponsel salah satu orang tuamu?" Tanya Bila serius.


Gadis itu berpikir sejenak, selama ini ia selalu pergi kemanapun dengan supir atau kedua orang tuanya, sesekali dengan paman dan bibinya. Sehingga ia tidak tau jalan ke rumahnya. Ia mencoba menggali memorinya untuk mencari alamat mansion sang ayah dan matanya langsung berbinar.


"Apa tante pernah mendengar nama perusahaan daddyku?" Tanyanya dengan antusias.


"Apa nama perusahaan daddy kamu sayang?"


"SYH Company bi eh tante." Jawabnya dengan tatapan yakin.


SYH Company? Dimana aku pernah mendengar nama perusahaan itu ya? Mata Bila menatap adiknya. "Rei, kamu tau SYH Company?"


Reihan menatap kakaknya. "Bukannya itu perusahaan milik keluarga Syahreza? Tunggu dulu, jangan bilang kamu anaknya Mas Adhitama Elvan Syahreza?" Jari telunjuknya mengarah ke arah Alicia.


Gadis itu tersentak dan menatap Reihan dengan mata berbinar. "Uncle kenal dengan daddy?" Tanyanya dengan antusias.


"Sedikit," jawab Reihan dengan suara rendah. "Tapi, aku nggak tau alamat rumahnya. Mungkin Mas Raka tau, kan sama-sama pengusaha?" Imbuhnya seraya menatap kakaknya.


"Ya udah, tunggu kakak iparmu pulang dulu." Bila kembali memfokuskan dirinya untuk memasak makanan dan membuat Reihan melongo.


Ada apa? Apa kak Bila dan Mas Raka sedang bertengkar? Hmm, biarin ajalah. Aku nggak mau ikut campur. Kemudian ia kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Bila dan Alicia selesai memasak. Meskipun lebih banyak Bila yang bekerja. Maklum si bocah masih berumur 6 tahun, jadi belum terlalu bisa. Tapi, hal itu cukup membuat Bila kagum. Karena gadis itu dididik dengan baik oleh ibunya.


Setelah menata makanan di atas meja, ketiganya segera makan malam dengan tenang. Sesekali mereka akan melemparkan canda dan tertawa setelahnya.


Mata Reihan sesekali mencuri lihat ke arah gadis kecil itu. Sungguh gadis yang cantik! sekarang aja sudah cantik, apalagi dewasanya? Pujinya dalam hati. Mikir apa sih kamu Rei? Gerutunya setelah sadar kembali.


.


.


.


.


to be continue


Cieee Reihan Kepincut 🀣🀣

__ADS_1


__ADS_2