
Aksa menatap mata yang terpejam dan dia langsung menghela napas. Memejkan mata, ia kembali teringat kejadian menegangkan beberapa waktu yang lalu.
Setelah membantu Raka berdiri, mereka berjalan ke dalam dan mendapati David sudah siap siaga bersama anak buahnya. Yang lebih mengejutkan lagi di tangan mereka sudah ada senjata api jenis glock dan smith and Wesson model 29 revolver, 44 magnum.
"Selamat datang di markasku keponakanku tersayang." Suaranya keras dan jelas membuat semua mata tertuju padanya. Melihat keadaan Raka, seringai langsung terbentuk di wajahnya. "Aku sangat terharu, karena kamu mengantarkab sendiri nyawamu ke sini." Setelah mengatakan itu, ia langsung tertawa terbahak-bahak.
"Heh." Raka tertawa meremehkan, matanya memancarkan kilatan dingin dan tertuju langsung ke arah pria itu. "Kamu tidak akan bisa membunuhku dengan mudah."
David agak terkejut dengan tatapan Raka dan ia sempat merinding dengan tatapan maut keponakannya. Namun melihat keadaan Raka yang terluka parah dan mereka juga kalah jumlah. Membuat ia kembali meraih ketenangannya.
Kemudian terjadilah pertempuran dengan porai tidak seimabang itu yang pasti akan menyebabkan Raka dan kelompoknya kalah. Apalagi Jimmy sudah tertembak di perut serta lengannya saat melindungi Raka yang lengah ketika sedang bertarung dengan seseorang.
"Jimmy...!" Teriak Raka saat melihat Jimmy ambruk ke tanah. Aksa juga memiliki reaksi yang sama dengan Raka. Namun ia tidak biaa membantu dan hanya bertarung dengan yang lainnya.
Pertarungan semakin sengit dengan bantuan yang datang dari luar secara tiba-tiba. Sehingga pertarungan yang awalnya tumpang tindih menjadi seimbang. Petugas segera mengamankan David bersama anak buahnya yang tersisa. Namun tidak ada yang menyangka, seorang anak buah David yang sudah tersungkur ke lantai bangkit dan melepaskan tembakan ke arah seseorang yabg berdiri membelakanginya.
Dor
Suara tembakan terdengar nyaring dan membuat semua orang berbalik untuk melihat siapa yang melepaskan tembakan tersebut. Saat mendapati orang yang melepaskan tembakan, salah satu petugas tidak segan melepaskan tembakan lurus ke kening pria itu. Pria itu ambruk berbarengan dengan jatuhnya seseorang yang terkena tembakan pria itu tadi.
Gedebuk
Aksa menatap linglung saat Raka jatuh tersungkur bersimbah darah. "Raka! Tidak." Ia berteriak setelah lepas dari linglungnya.
Petugas yang lain segera membantu Aksa membawa Raka ke luar. Sementara Jimmy yang masih sadar segera merangkak dan dibantu oleh seorang petugas ke luar.
Sampai di luar ia langsung ambruk dan segera di bawa ke mobil yang sama dengan Raka dan mereka sama-sama di bawa ke Rumah Sakit.
Aksa menatap kosong setelah menyaksikan kedua sahabatnya terluka parah. Berulang kali ia menatap tangannya yang masih berlumuran darah Raka saat ia menekan lukanya tadi. Tak lama air mata langsung mengalir ke luar dari sudut matanya.
Seakan ditarik kembali ke dunia nyata, Aksa tersadar saat mendengar pintu terbuka dengan tidak sabaran. Detik berikutnya matanya membulat saat melihat ke arah pintu dimana dokter berlari masuk bersama seorang perawat. Mau tidak mau matanya beralih ke arah Jimmy yang tiba-tiba memburuk.
"Harap anda bisa menunggu di luar tuan." Ucap perawat dan menyadarkan Aksa dari linglungnya. Dengan kaki yang hampir tidak bisa menopang tubuhnya, ia melangkah ke luar.
Saat sampai di luar matanya langsung mendarat di tubuh seorang wanita cantik dengan mata sembab yang tak lain adalah Salsabila. Menyadari tatapan yang terarah kepadanya, membuat wanita itu segera menghampiri pria tersebut.
πππ
Bila segera membangunkan bik Nah untuk menjaga kedua anaknya dan dia langsung bergegas ke Rumah Sakit setelah berganti pakaian.
Pikirannya benar-benar kacau saat ini dan hatinya terasa diremas kuat oleh tangan tak kasat mata. Namun mengingat pesan terakhir Aksa agar ia tenang sedikit mengembalikan fokusnya.
Dengan kecepatan konstan, ia melajukan kendaraannya membelah jalanan yang sudah sepi karena sudah lewat tengah malam. Sampai di Rumah Sakit, ia langsung memarkirkan mobilnya dan bergegas masuk.
Berlari ke arah receptionist, ia bertanya tidak sabaran. "Diamana pasien yang bernama Raka Danu Nugraha?"
__ADS_1
"Mohon maaf, dengan ibu siapa?" Tanya petugas tersebut. Karena pasien yang ia tanyakan dibawa ke sini oleh petugas kepolisian sehingga ia harus berhati-hati pikirnya.
"Saya Salsabila, istrinya."
"Baik ibu, saat ini pasien masih berada di dalam ruangan operasi." Jawab petugas itu menjelaskan.
Setelah mendengar apa yang dikatakan petugas itu pikiran Bila langsung kosong dan ia langsung berlari begitu saja menuju ruang tunggu operasi.
Baru saja ia sampai di sana, ia merasakan tatapan seseorang yang terarah padanya. Membuat ia langsung menoleh dan mendapati pria itu sedang menatapnya dengan tatapan linglung.
Bila langsung menghampiri pria itu dan bertanya dengan tidak sabaran. "Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Bila setelah berada di hadapan Aksa yang terpaku seakan kakinya tertancap kuat di atas lantai.
Aksa menceritakan semuanya kepada Bila tampa mengurangi apapun dari keseluruhan cerita. Saat Bila akan bereaksi pintu di dekat mereka berdiri terbuka memperlihatkan seorang dokter dengan keringat membanjiri pelipis dan lehernya berjalan ke luar dari ruangan itu.
"Bagaimana keadaannya dokter?" Aksa yang berekasi pertama saat melihat dokter ke luar dari ruangan tempat Jimmy berada.
"Saat ini dia sudah kembali normal setelah sempat mengalami gagal jantung beberapa saat yang lalu. Kemungkinan besok pagi dia sudah sadar." Jawab dokter tersebut menjelaskan kondisi Jimmy.
"Syukurlah." Aksa menghela napas lega dan segera berterimakasih kepada dokter tersebut.
Bila yang berada di sana sedikit banyaknya paham dengan apa yang disampaikan dokter tersebut. Ia hanya menatap punggung pria yang mengenakan jas putih kebanggan seorang dokter itu berjalan meninggalkan mereka.
Tak lama lampu ruang operasi mati menandakan operasi telah selesai dilakukan. Sehingga mereka berdua menunggu dengan harap-harap cemas untuk mengetahui keadaan orang yang ada di dalam ruang operasi.
Saat pintu terbuka dan dua orang dokter melangkah ke luar. Keduanya berlari menghampiri kedua dokter tersebut.
"Operasinya sukses dan suami anda sudah dipindahkan ke ruang ICU. Kami juga akan memantau bagaimana perkembangannya untuk beberapa hari kedepan." Dokter yang berpostur tinggi dengan wajah tampan menjelaskan kondisi pasiennya dan tersenyum tipis ke arah Bila.
"Terimakasih dokter." Bila menggumamkan ucapan terimakasih berkali-kali kepada pria itu diikuti oleh Aksa yang juga bersyukur sahabatnya bisa diselamatkan.
Padahal awalnya ia sudah pesimis bahwa Raka akan bisa bertahan mengingat kondisinya yang sangat terluka parah. Tapi saat mendengar kondisi Raka baik-baik saja. Batu besar di hatinya seolah terangkat begitu saja.
"Baiklah, saya permisi dulu." Ucap dokter tersebut kepada keduanya. Namun matanya masih tertuju ke arah wanita muda yang terlihat anggun sekaligus cantik dalam balutan dress warna putih dan kerudung berwarna peach itu. Walaupun saat ini matanya sembab karena air mata. Namun semua itu sama sekali tidak mempengaruhi kecantikannya.
"Hai, apa yang kau lihat?" Tegur temannya yang melihat mata temannya tertuju ke arah lain.
Saat ia mengikuti arah pandang pria itu, ia langsung geleng-geleng kepala. Ia tau temannya tertarik dengan wanita muda tersebut. Sehingga ia mau tidak mau mengatakan ini. "Hei, dia sudah menikah. Apa kau gila?"
"Lantas? Kenapa kalau dia sudah menikah?" Jawab pria itu acuh tak acuh, kemudian berjalan meninggalkan temannya yang terdiam di tempat.
"Yakkk Chaiden..." Chaiden mengabaikannya dan terus berjalan. "Woi bule gila." Langkah laki Chaiden langsung berhenti saat mendengar teriakan temannya. "Aku akan diam." Daniel langsung mengoceh dan memberikan gerakan menutup mulut saat mendapatkan tatapan tajam dari pemilik mata biru tersebut. Kemudian segera berjalan tampa mengatakan apapun di sebelah Chaiden.
πππ
Paginya, bu Sukma baru melihat ponselnya setelah sholat subuh. Ternyata pesan dari putri sulungnya yang mengatakan kalau Raka saat ini sedang di Rumah Sakit.
__ADS_1
"Mas....!" Teriak bu Sukma sesaat setelah membaca pesan tersebut.
Ayah Rasyid yang sedang berada di kamar mandi langsung kaget dan bergegas ke luar setelah mendengar suara istrinya. "Ada apa? Kenapa teriak-teriak?" Protes ayah Rasyid setelah ke luar dari kamar mandi dan berjalan menghampiri istrinya.
"Baca ini." Bu Sukma menyerahkan ponselnya dan ayah Rasyid segera menerimanya.
"Sayang? Apa ini benar? Lalu bagaimana keadaan Raka sekarang?" Ekspresi ayah Rasyid langsung jatuh ke tingkat mengkhawatirkan.
"Aku tidak tau mas. Ayo kita ke Rumah Sakit sekarang." bu Sukma langsung masuk ke walk in closet untuk mengganti pakaiannya diikuti oleh ayah Rasyid.
"Ayah dan ibu mau kemana?" Tanya Reihan yang baru saja turun dari kamarnya.
"Mas mu masuk Rumah Sakit." Jawab bu Sukma sambil berjalan ke luar.
"Apa?" Reihan langsung terkejut dan mengejar ibunya ke luar. "Lalu bagaimana keadaan mas Raka bu?"
"Ibu juga tidak tau. Kakakmu tidak menjelaskannya." Bu Sukma langsung masuk ke dalam mobil setelah menjawab pertanyaan putranya.
"Aku ikut." Reihan segera mengunci pintu rumah dan masuk ke dalam mobil ayahnya.
Sementara di Rumah Sakit Bila baru saja menerima telphon dari bik Nah kalau Zahran dan Zayyan tidak berhenti menangis. Apalagi ia lupa untuk pumping air susunya karena semalam fikirannya tertuju kepada suaminya
"Ada apa?" Aksa yang memperhatikan kepanikan Bila membuat ia melontarkan pertanyaan itu.
"Aku harus pulang, karena Zahran dan Zayyan tidak berhenti menangis. Stok ASI juga tidak ada, karena semalam aku lupa memompanya." Jawaban blak-blakan Bila membuat pipi Aksa memerah. Namun ia berusaha menenangkan dirinya.
"Sebaiknya kamu pulang. Kasian mereka kelaparan. Masalah Raka, kamu tenang aja."
Bila tersenyum lembut. "Terimakasih, aku titip mas Raka ya." Setelah mengatakan itu dia langsung melangkah pergi dengan terburu-buru. Bagaimana ia datang, begitupula ia pergi dari Rumah Sakit.
"Sayang, kamu mau kemana?"
Di lobi Rumah Sakit Bila bertemu dengan ibunya yang baru saja sampai bersama ayah dan adik laki-lakinya.
"Zahran dan Zayyan aku tinggal di rumah dari semalam bu. Sekarang mereka sudah kelaparan dan tidak berhenti menangis."
"Ya sudah, kamu pasti lupa pumping kan?"
Bila menggaruk hidungnya. "Iya, aku pulang ya semuanya. Assalamualaikum." Dia langsung bergegas ke parkiran tampa menoleh ke belakang.
.
.
.
__ADS_1
.
to be continue