Pelangi Setelah Hujan

Pelangi Setelah Hujan
Tampa judul


__ADS_3

Selesai membereskan mejanya, Aksa segera beranjak dari ruangannya dan menuju lantai dasar. Namun saat ia keluar dari dalam lift, beberapa orang mencegatnya. Beberapa orang ini adalah karyawan yang sudah berada di perusahaan sejak awal perusahaan itu berdiri.


"Kalian mau apa?" Tanya Aksa heran.


"Mau jenguk Pak bos." Jawab salah satunya dan yang lain mengiyakan dengan anggukan kepala.


"Lalu?" Aksa mengangkat satu alisnya pura-pura tidak paham maksud mereka.


"Berhubung kami tidak tau rumah Pak bos. Jadi, tolong tuan Aksa memandu kami."


Alasan mereka tidak mengetahui rumah Raka adalah karena pria itu memang tidak membiarkan informasi pribadinya diketahui banyak orang, termasuk alamat rumah. Sehingga wajar mereka meminta bantuan Aksa.


"Baiklah." Aksa langsung pergi dan diikuti oleh yang lain.


Setelah memasuki mobil masing-masing, mereka segera pergi menuju rumah Raka. Perjalanan sore itu, butuh waktu cukup lama. Karena lalu lintas mulai padat saat orang-orang pulang kerja.


Bik Nah baru saja selesai membereskan dapur usai memasak untuk makan malam Bila dan Raka. Saat akan kembali ke kamarnya, ia mendengar suara bel di pintu masuk. Bergegas, ia membukakan pintu dan melihat siapa yang datang bertamu. Bik Nah langsung terkejut saat mendapati beberapa orang berdiri di depan pintu.


"Selamat sore bik, apa pak bos Raka ada?" Tanya salah seorang pria yang berdiri di hadapan bik Nah.


"A-da, silahkan masuk." Bik Nah membuka pintu lebar-lebar dan menuntun mereka masuk ke ruang tamu.


"Kalau saya boleh tau, kalian semua dari mana ya?" Tanya Bik Nah sopan, supaya ia bisa menyampaikan siapa yang datang bertamu saat memanggil Tuan rumah nanti.


"Kami karyawannya tuan Raka."


"Tunggu sebentar saya panggilkan." Bik Nah langsung pergi meninggalkan mereka untuk memanggil Raka.


Tok.. tok.. tok...


"Non Bila, di depan ada tamu. Katanya mereka karayawan Tuan Raka, mau menjenguk Tuan Raka." Ucap Bik Nah setelah mengetuk pintu kamar pasangan itu.


"Suruh masuk aja Bik." Pinta Bila dari dalam kamar.


"Mereka sudah di ruang tamu Non. Tadi sudah saya suruh masuk." Jawab Bik Nah menjelaskan.


"Ya sudah, tolong Bik Nah buatkan minum aja ya."


"Baik Non." Bik Nah langsung pergi ke dapur untuk membuatkan minuman untuk para tamu.


πŸ’πŸ’πŸ’


Raka keluar dari kamar dibantu oleh Bila dan menghampiri karyawannua yang datang berkunjung.


"Pak bos, kami sangat senang melihat kondisi pak bos sudah membaik."


"Bagaimana kalian bisa sampai di sini?" Bukannya mengucapkan terimakasih karena sudah menjenguknya. Raka malah menanyakan hal itu kepada karyawannya.


Mereka langsung terkekeh mendengar pertanyaan Raka dan mengatakan bahwa mereka bisa sampai di rumah Raka karena bantuan Aksa.


"Lalu, dimana Aksa?" Tanya Raka lagi, setelah duduk di hadapan mereka semua.


"Tuan Aksa langsung pergi setelah mengantar kami ke sini."


"Baiklah, jadi bagaimana situasi di perusahaan selama saya tidak ada?"

__ADS_1


Meskipun Aksa sudah menjelaskan situasi perusahaan selama ia tidak masuk. Namun ia ingin mendengar langsung bagaimana kondisinya dari manajemen bawah.


"Kondisi perusahaan baik-baik saja. Meskipun sempat terjadi penurunan harga saham saat ada info mengenai kondisi tuan. Namun segera diatasi oleh tuan Aksa dan Direktur lainnya." Jelas Direktur keuangan yang memang merupakan salah satu orang kepercayaan Raka.


"Oke, thank you guys. Kalian sudah bekerja dengan baik. Pastinya akan ada bonus buat kalian."


"Ahaii, pak bos tau aja kita lagi butuh itu." Celetuk salah satu di antara mereka. Dia memang terkenal blak-blakan dan selalu membuat orang tertawa dengan kelakuannya.


Semua orang saling pandang dan langsung tertawa setelah mendengar celetukan pria tersebut. Setelah berbincang-bincang sebentar, mereka pamit pulang karena sudah hampir maghrib. Bila menawarkan untuk makan malam dulu, namun mereka menolak dengan alasan tidak mau merepotkan.


Tak lama setelah mereka pergi, adzan maghrib terdengar bersahutan menandakan sang raja malam akan segera menyapa.


πŸ’πŸ’πŸ’


Selesai sholat maghrib, Aksa pergi ke supermarket di dekat apartment nya karena ingin membeli beberapa barang. Sesampainya di sana, ia mengambil trolley dan mengambil barang yang ia butuhkan. Saat melewati sebuah rak makanan, ia melihat seorang wanita sedang berusaha menggapai sesuatu yang cukup tinggi dari jangkauannya.


Aksa mendorong trolleynya mendekat dan mengambilkan barang yang diinginkan wanita itu. Wanita itu langsung terkejut dan refleks berbalik untuk melihat siapa yang membantunya.


Begitupula dengan Aksa yang tidak menyangka bahwa wanita yang ia bantu adalah wanita yang ia cintai.


"Hai Aksa." Calista langsung menyapa Aksa yang terdiam di hadapannya.


"Ahmm, hai. Kamu apa kabar?" Setelah menyapa balik, Aksa langsung bertanya dengan kikuk.


"Aku baik, makasih ya udah bantuin ambil barang barusan."


Calista tersenyum dan memasukkan barang di tangannya ke dalam trolley.


"Iya sama-sama. Kamu sendiri? Atau..." Kata-kata Aksa terpotong karena suara seorang pria yang datang sambil menenteng barang yang tak lain adalah Rama, ayah Calista.


"Om Rama? Apa kabar om?" Aksa langsung menghampiri Rama dan mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Rama. Namun Rama bergeming dan tidak mengulurkan tangannya sama sekali.


"Untuk apa kamu menemui putriku lagi? Apa kamu belum puas sudah membuat dia menderita dan hampir kehilangan nyawanya?" Tanya Rama penuh emosi dan mata menatap nyalang ke arah Aksa.


"Maksud om apa?" Aksa sama sekali tidak paham apa yang baru saja ditanyakan oleh Rama.


Menderita? Hampir kehilangan nyawa? Ada apa sebenarnya? Aksa benar-benar bingung dengan semua itu. Karena ia memang tidak tau menahu tentang apa yang sebenarnya menimpa Calista.


Menatap Aksa sekali lagi, Rama menurunkan matanya. "Sudahlah lupakan. Sebaiknya kamu jauhi Calista dan jangan pernah menemuinya lagi." Tekannya dengan tegas.


"Tapi om, sebenarnya salah saya apa? Ada apa sebenarnya?"


"Kamu memang tidak bersalah, tapi semuanya terjadi karena ada hubungannya dengan kamu." Jelas Rama dan membuat Aksa terdiam dengan tatapan linglung.


"Ayo Calista." Rama menarik putrinya dan bermaksud membawanya dari sana.


"Tapi pa." Sebelum pergi Calista sempat berbalik dan menatap pria yang terlihat linglung itu.


"Tidak ada tapi-tapian Calista, ayo pergi."


Mengikuti ayahnya, Calista berulang kali menoleh kebelakang dan mendapati posisi Aksa sama sekali belum berubah sejak ia pergi dari sana. Tampa terasa bulir air mata mulai merembes membasahi pipinya. Ia berusaha menahan air matanya yang mulai banjir agar tidak diketahui ayahnya. Namun air matanya sama sekali tidak bisa ia tahan. Calista hanya bisa menunduk dan menghapus air matanya dengan punggung tangannya.


πŸ’πŸ’πŸ’


Bila yang baru saja selesai mandi langsung dibuat heran dengan suaminya yang terlihat mondar-mandir layaknya setrikaan.

__ADS_1


"Mas, ada apa?"


Suara Bila yang bertanya membuat Raka segera menghentikan pergerakannya.


"Mas juga nggak tau sayang. Aksa dari tadi mas hubungi tapi nggak dijawab-jawab." Jawab Raka sambil mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.


"Mungkin dia ketiduran." Bila tersenyum dan segera masuk ke dalam walk in closet.


"Impossible, jelas-jelas tu anak kayak kalong. Mana pernah dia tidur jam segini."


Raka berdiri dan menyusul istrinya ke dalam walk in closet.


"Terus gimana? Mau kita lihat dia ke apartment-nya?"


Bila paham dengan kekhawatiran suaminya. Karena Aksa sudah seperti saudara sendiri untuknya. Wajar ia sangat cemas saat tidak mendapat kabar dari sahabatnya tersebut.


"Oke, tapi twin gimana?"


"InsyaaAllah aman, nanti minta tolong bik Nah jagain mereka sampai kita pulang."


"Makasih sayang." Raka mencium pipi istrinya dan segera mengganti pakaiannya.


Selesai siap-siap, Bila menghampiri bik Nah yang sedang berada di dapur.


"Bik, kita mau pergi sebentar. Titip twin ya bik. Kalau ada apa-apa, bik Nah telpon Bila aja."


"Siap non. Hati-hati ya non."


"Iya bik, kita pergi dulu assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Bila dan Raka masuk ke dalam mobil, kemudian segera pergi meninggalkan kediaman mereka.


"Sayang, pelan-pelan okay. Nggak usah ngebut." Peringat Raka saat istrinya mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi.


Bila langsung menyengir kuda dan segera merunkan kecepatannya.


"Mas, itu bukannya Aksa? Ngapain dia malam-malam berdiri di sana?" Bila yang baru saja menoleh ke arah Raka langsung melihat seorang pria yang mirip dengan Aksa berdiri di pinggir jembatan.


"Bil, pinggirin mobilnya."


"Oke." Bila langsung menepi dan menghentikan mobilnya di tempat yang diizinkan untuk berhenti.


"Aksa! What are you doing here?" Teriak Raka saat keluar dari dalam mobil.


.


.


.


.


to be continue

__ADS_1


__ADS_2