Pelangi Setelah Hujan

Pelangi Setelah Hujan
Masalah


__ADS_3

Salsabila Pov


Saat sedang menikmati indahnya sunset, aku dan Mas Raka pergi sholat bergantian dengan Qyara dan Mas Aldi. Selesai sholat kami menikmati makan malam di pinggir pantai ditemani deburan ombak dan rembulan yang bersinar di langit malam.


Tiba-tiba Mas Raka merogoh saku celananya karena ponselnya berbunyi. Ia segera menjawab panggilan telphon dari Aksa. Ia berjalan menjauh setelah berbicara basa-basi dengan Aksa.


Awalnya ekspresi Mas Raka biasa saja, namun lama-kelamaan aku melihat rahang Mas Raka mengeras seperti baru mendengar berita buruk. Ada apa? Batinku gelisah saat melihat ekspresi suamiku.


"Hei, kamu coba ini deh."


Aku menoleh saat Qyara menyenggol lenganku. Aku melihat wanita itu menyodorkan lobster bakar kepadaku. Aku pun mengambil piring yang ia sodorkan dan mencobanya.


"Hamm, ini enak banget." Ucapku setelah daging lobster yang legit itu menyentuh lidahku.


Qyara terkekeh, "aku sudah menduga kamu akan menyukainya. Karena selera kita memang sama." Qyara mencomot lobster yang ada di atas piring yang sedang aku pegang.


Tak lama aku mendengar langkah kaki mendekat dan aku yakin dia adalah suamiku. Aku menoleh dan melihat air muka suamiku yang terlihat keruh, namun masih berusaha ia sembunyikan dengan senyumnya. Tapi aku yakin, pasti sedang terjadi sesuatu di Jakarta. Tapi ada apa?


"Ada apa Mas?" Bisikku di telinga Mas Raka setelah suamiku itu duduk di sampingku.


Mas Raka tidak meresponku, sehingga aku mengambil kesimpulan ada yang tidak beres. Karena sebelum Mas Raka menerima telphon Aksa semuanya baik-baik saja. Akhirnya aku buka suara dan mengajak mereka kembali.


"Sebaiknya kita kembali ke hotel."


Qyara menoleh seraya bertanya. "Kenapa? Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Qyara panik.


Aku tersenyum simpul, "aku sedikit lelah dan ingin istirahat." Jawabku dengan ekspresi lelah. Tentu saja aku berbohong, namun sepertinya bayiku membantuku kali ini. Mereka membuatku menjadi gelisah, sehingga Qyara akhirnya memutuskan untuk pulang.


Salsabila Pov end


πŸ’πŸ’πŸ’


Raka terlihat melamun di depan jendela kamar, membuat sang istri semakin bertanya-tanya. Bila mendekat dan memeluk lengan kekar Raka yang seketika membuat pria itu menoleh ke samping.


"Ada apa hmm? Kenapa Mas terlihat sedang memikirkan sesuatu? Apa ada masalah? Apa Aksa mengatakan sesuatu?"


Raka yang mendapatkan rentetan pertanyaan dari Bila langsung meringis dalam hati. Sejujurnya saat ini ia memang sedang banyak pikiran setelah mendengar laporan dari asistennya itu. Ia teringat percakapannya dengan Aksa tadi di telphon.


"Assalamualaikum, ada apa?"


"Walaikumsalam.... Ada masalah!"


Raka yang paham langsung menjauh dari istrinya karena ia tau Aksa akan mengatakan sesuatu yang penting dan pastinya berhubungan dengan perusahaannya.

__ADS_1


"Ada apa? Cepat katakan!" Ekspresi Raka seketika menegang menanti informasi yang akan di sampaikan oleh Aksa.


"Om David mulai bertindak, dia mengacau di dalam perusahaan. Entah sejak kapan dia meletakkan mata-matanya di dalam perusahaan dan aku lengah. Maafkan aku."


Rahang Raka seketika mengetat dengan tangan terkepal erat sampai buku-buku jarinya memutih. Giginya menggertak menahan gejolak emosi yang kian mendidih. "Kurang ajar! Tidak cukup dia mengambil alih perusahaan kelurgaku. Sekarang tua bangka itu mau bermain-main denganku. Secepatnya kamu urus. Malam ini aku akan kembali ke Jakarta."


"Siap bos, aku akan berusaha semampunya. Kamu tenang saja."


"Baiklah, aku percayakan padamu sebelum aku kembali. Bagaimana dengan hotel, dia tidak mengusiknya juga kan?"


"Sejauh ini tidak ada laporan dari si bule. Itu berarti baik-baik saja. Karena dia tidak tau kalau hotel itu adalah milikmu."


Raka langsung tersenyum, lebih tepatnya menyeringai. "Bagus, kalau begitu aku tutup dulu. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


"Tidak apa-apa," jawaban Raka sama sekali tidak membuat Bila puas. Ia yakin saat ini suaminya sedang menutupi sesuatu darinya. Tapi Apa? Ia tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan suaminya. "Apa kamu keberatan jika Mas pulang duluan?"


Bila menoleh saat mendengar suaminya berkata akan pulang lebih dulu. Ada apa sebenarnya? "Kenapa? Apa aku membuat Mas repot?" Mata Bila sudah berkaca-kaca dan siap menangis kapan saja. Karena cairan bening sudah mengumpul di pelupuk matanya.


Raka menghela napas gusar. Bukan itu yang ia maksudkan? Tapi ia bingung cara menjelaskan kepada istrinya. Apa ia harus jujur? Tapi ia takut istrinya akan kepikiran dan stres nantinya yang ujung-ujungnya akan berdampak pads kandungannya. Argggg...! Raka berteriak frustasi, namun hanya di dalam hati.


"Bukan begitu sayang. Kamu sama sekali tidak membuat Mas repot. Hanya saja.... " Ucapan Raka menggantung melihat ekspresi menggemaskan istrinya yang sedang menatapnya dengan kedua mata bulatnya mengerjap lucu. Membuat pria itu ingin mencubit dan menggigit pipi bakpau istrinya saking gemasnya.


Raka tersentak, kembali kepada dunia nyata dan menatap wanita di depannya serius. Namun jawabannya membuat sang istri jengkel setengah mati. "Bukan apa-apa."


"Ishh, dasar menyebalkan!" Bila langsung membuang muka dan memasang tampang jutek. Kemudian berlalu dengan perasaan dongkol menuju tempat tidur.


Raka memperhatikan istrinya yang sedang merajuk dengan ekspresi datar. Berkali-kali ia menghela napas agar perasaannya tenang. Sayangnya tidak bisa, ia benar-benar emosi saat ini. Dengan langkah pelan, Raka mendekati istrinya yang diam seribu bahasa. Mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang seraya mengusap rambut hitam panjang istrinya.


"Apa kamu mau ikut pulang dengan Mas?"


Bila menghela napas saat merasakan tangan hangat suaminya mengusap surai rambutnya. Namun ia segera berbalik setelah mendengar suaminya bicara. "Aku mau, please jangan tinggalin aku lagi." Bangkit dari tidurnya dan memeluk erat suaminya dari samping. "Aku akan benar-benar marah kalau Mas tinggalin aku lagi." Sambungnya disela isakan tangisnya.


Hati Raka serasa di cubit, sakit menghantam dadanya. Bagaimana ia bisa lupa? Kalau beberapa hari yang lalu ia baru saja meninggalkan istrinya karena salah paham. Bodoh! Raka memaki dirinya sendiri.


"Besok pagi kita pulang ya, karena ada masalah di kantor."


Raka tidak jadi pulang malam itu dan memutuskan pulang pagi-pagi sekali bersama Bila. Hal itu membuat Aldi dan Qyara heran, terutama Qyara yang belum puas bermain dengan sahabatnya. Aldi yang melihat istrinya murung berusaha menghiburnya.


"Jangan sedih dong sayang. Mungkin mereka ada keperluan mendesak. Makanga mereka pulang. Kapan-kapan kita ajak mereka lagi ya." Memeluk istrinya dan mengusap surai rambut Qyara penuh sayang.


"Iya Mas." Aku tau, pasti sedang terjadi sesuatu. Karena firasatku mengatakan demikian. Sambungnya dalam hati.

__ADS_1


πŸ’πŸ’πŸ’


Brakkk


Terdengar suara meja yang di gebrak penuh emosi. Terlihat seorang pria paruh baya tengah berusaha menahan emosinya setelah mendengar informasi yang di sampaikan asistennya.


"Berani-beraninya dia mengusik perusahaan menantuku. Apa belum puas dia menguasai seluruh harta Yoga. Sekarang pria tamak itu ingin merebut perusahaan yang dibangun susah payah oleh keponakannya sendiri. Benar-benar manusia tidak punya hati, biadap!"


Brakkk


Sekali lagi meja di tampar oleh tangan kekar pria itu. Setelah mengeluarkan kata-katanya dengan rahang yang sudah mengeras pertanda emosinya sudah mendidih. Dia adalah ayah Rasyid yang sudah mengetahui pergerakan David Abi Nugraha. Karena semenjak pria itu mengambil alih perusahaan Yoga seraya paksa. Ia selalu memantau gerak-gerik kakak almarhum sahabatnya itu. Sekarang dengan seenak jidatnya dia mengacau di perusahaan Raka. Siapa yang tidak akan naik pitam karena ulahnya? Bisa-bisa ayah Rasyid akan membunuh lelaki brengsek itu.


"Tuan, tolong tenangkan dirimu. Nanti darah tinggi tuan kumat lagi."


Sakti yang berdiri di hadapan ayah Rasyid berusaha menengkan emosi atasannya yang sudah mendidih.


Ayah Rasyid mengangkat pandangannya dan menatap asistennya tajam. "Bagaimana aku bisa tenang Sakti? Pria itu sungguh membuat aku emosi dari dulunya."


"Saya paham tuan, namun masalah ini harus dihadapi dengan kepala dingin. Saya juga yakin, tuan Raka tidak akan tinggal diam dengan apa yang dilakukan pria itu." Sakti menjawab dengan ekspresi tenang yang sudah menjadi ciri khas pria itu. Entah bagaimana caranya pria itu mempertahankan ekspresinya itu? Tidak ada yang tau. Seharusnya ia mendapat reward dari sikap tenang yang selalu berhasil ia tunjukkan dan membuat orang-orang ikut tenang karenanya. Hanya satu orang yang bisa membuat ekspresi datar dan tenang pria itu sedikit berubah kala berada di dekatnya. Orang itu adalah Salsabila.


"Kamu benar Sakti, baiklah kamu boleh pergi."


Sakti segera berbalik dan meninggalkan ruangan kerja ayah Rasyid. Saat berada di depan ruangan ia bertemu dengan seseorang yang membuat dirinya seketika mematung ditempatnya dengan jantung yang berdebar tak karuan. Wajahnya pun sudah memerah layaknya kepiting rebus.


"Mas Sakti kenapa? Apa sedang sakit? Ayah ada di dalam kan?"


Mendapat pertanyaan bertubi-tubi membuat dirinya gelagapan setengah mati. Ingin rasanya ia menghilang saat itu juga. Sayangnya harapannya tinggal harapan, ia tidak memiliki kekuatan super untuk sekedar berteleportasi.


"Sa-ya baik-baik saja, tuan ada di dalam." Jawabnya dengan kepala tertunduk.


"Baiklah, aku masuk dulu." Bila langsung membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan ayahnya.


Sakti langsung meghela napas lega setelah wanita itu menghilang dari pandangannya. Sungguh memalukan! Rutuknya dalam hati.


.


.


.


.


to be continue

__ADS_1


__ADS_2