
Kerutan halus langsung tercetak di kening seorang pria tanggung berusia sekitar akhir 20 an. Berkali-kali tangannya mengotak-atik keyboard di depannya. Namun hasilnya tetap sama.
Nihil
Ia gagal mendapatkan seluruh data tersebut, bahkan data yang sudah ia akses sebelumnya sudah sepenuhnya berganti. Serta ia sama sekali tidak bisa menerobos lagi ke dalam sistem yang sudah ia retas sebelumnya.
Shit! Kenapa bisa begini? Belum ada siapapun selama ini yang bisa mengalahkanku. Lalu kali ini kenapa bisa? Pria itu benar-benar dibuat terperangah dengan serangan balik yang ia dapatkan.
Melihat ada yang janggal dari pria yang bernama Seno itu membuat pria paruh baya yang dikenal dengan nama David menghampiri Seno.
"Ada apa? Apa ada masalah?" Tanya David
dengan nada mengintimidasi. "Jawab bodoh! Apa kau tuli?" Teriaknya karena tidak langsung mendapat jawaban dari Seno.
Ekspresi Seno langsung menggelap dengan tangan terkepal erat. Sebenarnya kalau ia sedang dalam kondisi tidak butuh uang, pria itu tidak akan mau membantu tua bangka serakah itu. Tapi karena ia butuh, makanya dengan berat hati ia melakukan semua itu.
Seno berusaha menormalkan ekspresinya kembali dan menghela napas ringan sebelum menjawab pertanyaan pria itu. "Data-datanya tidak bisa diakses lagi. Bahkan mereka sudah memperbarui dan memperkuat sistem keamanan mereka. Saya sama sekali tidak bisa menerobosnya."
Seteleh mengatakan itu, Seno segera merapikan laptop dan barang-barangnya secara cepat sebelum rubah tua itu mengamuk.
"Jadi kau gagal? Sudah tau kan apa resikonya kalau gagal? Security!" Teriaknya lantang.
Mendengar teriakan tuannya, orang yabg berjaga di depan pintu langsung masuk seraya menjawab."Iya tuan."
"Seret pria ini ke luar dan berikan dia pelajaran berharga." Perintahnya kepada anak buahnya.
"Siap tuan," keduanya mengangguk patuh dan menyeret Seno ke luar. Namun tidak ada yang tau kalau pria itu sedang menyeringai saat kedua security itu menyeretnya ke luar. Dia sudah tau kalau perusahaan yang dia bobol bukanlah perusahaan biasa. Oleh karena itu dia tidak melakukan apapun lagi setelah pembalasan balik oleh mereka. Dia mengagumi sosok yang bisa membuat dia tidak bisa melakukan apapun dalam dunia IT.
__ADS_1
Prankkk
Suara benda yang dilempar membuat suasana yang awalnya tenang menjadi bising. Ruangan yang awalnya rapi sekarang sudah berantakan layaknya kapal pecah.
"Sialan! Akan aku hancurkan kamu Raka. Aku tidak bisa kalah seperti ini. TIDAK BISA!" Teriak David frustasi seraya mengacak-acak dokumen yang ada di atas mejanya.
Pria tua itu benar-benar menampilkan ekspresi jelek setelah menerima kekalahan telak dari keponakannya sendiri. Oh semua itu bukanlah kesalahan Raka, dia hanya berusaha mempertahankan apa yang sudah ia bangun dari 0. Jadi jangan salahkan dia kalau bertindak kejam.
"Cih, uhuk... uhuk.. " Seno terbatuk setelah mendapat pukulan dan tendangan di beberapa bagian tubuhnya. "Apa kalian akan membunuhku? Semua tubuhku terasa sakit semua." Keluhnya seraya mengusap darah yang mengalir di sudut bibirnya. Dasar bedebah licik! Teriak Seno dalam hati. Dia tidak hanya dihancurkan, tetapi di buang di pinggir jalan dengan tasnya dalam keadaan terluka parah.
Sebuah mobil berhenti di dekat pria itu membuat ia bersikap waspada. Takut kalau anak buah David kembali lagi untuk membunuhnya. Namun saat mendengar suara lembut seorang wanita pria itu menurunkan kewaspadaannya.
"Astaghfirullah," teriak sang wanita saat melihat seseorang terluka parah." Dia melihat keadaan sekitar dan berpikir sejenak. Kalau menunggu ambulance itu butuh waktu cukup lama karena saat ini posisinya sangat jauh dari Rumah Sakit. Dia tidak yakin pria itu akan bertahan lebih lama lagi kalau dibiarkan menunggu. "Apa anda bisa mendengar saya?" Namun tidak ada respon, karena tenaga pria itu sudah terkuras habis dan tidak berdaya. Ia hanya bisa sedikit menggerajkan jarinya.
Wanita itu membuka pintu mobilnya dan membantu pria itu masuk ke dalak mobil. Pria itu meringis dalam hati melihat dengan mata sayunya seorang wanita hamil membantunya dengan susah payah. Setelah memasukkan pria itu dan barang-barangnya. Wanita itu segera masuk ke kursi kemudi dan melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit.
Atsmosfir yang awalnya biasa-biasa saja langsung berubah dingin saat dua orang pria memasuki ruangan keamanan. Semua yang ada di sana lansung merinding melihat tatapan tidak bersahaba atasan mereka.
"Dimana dia?" Suara dingin itu seakan membekukan mereka dalam beberapa saat. Seseorang langsung tersadar dan bergerak mengambil orang yang ia tahan.
"Dia di sini tuan." Saut salah satu petugas ruang keamanan. Kemudian membuat pria jangkung itu berlutut di hadapan Raka.
"Ohh ternyata kamu! Aku tak menyangka kamu musuh dalam selimut." Nada dingin Raka membuat tubuh orang itu membeku di tempat.
Sejujurnya Raka tidak menyangka kalau mata-mata yang ada di perusahaannya adalah salah satu orang kepercayaannya. Padahal dia sudah ikut dengan Raka sejak perusahaan itu di rintis. Sehingga Raka benar-benar sakit hati melihat kenyataan itu.
"Kenapa? Apa yang dia janjikan kepadamu hah?" Raung Raka dengan tatapan tajam. Ia benar-benar emosi saat ini.
__ADS_1
Pria itu hanya menunduk dalam tidak berani mengangkat kepalanya. Ia terpaksa melakukan semua itu karena keluarganya di tahan oleh rubah tua itu. Sehingga mau tak mau, ia harus mengikuti kemauan pria tua bangka itu. Ia akui dia memang salah dan tidak membantah untuk mendapat pengampunan atas kesalahannya.
"Kenapa diam? Cepat jawab!"
Pria itu masih bungkam, ia tidak tau mau menjawab apa. Ia tidak mau melibatkan Raka dalam masalah ini. Tapi keselamatan keluarganya saat ini berada dalam acaman. Sudah dapat dipastikan David akan melukai keluarganya karena rencananya gagal.
Pria itu mengangkat pandangannya menatap ke arah Raka seraya berkata. "Saya tidak menyangkal atas apa yang sudah saya lakukan. Tapi saya melakukannya karena sebuah alasan."
"Apa alasannya Randi?" Nada bicara Raka terdengar melunak namun masih terdengar dingin dan datar.
Pria yang di panggil Randi itu menghela napas. Apa ia harus mengatakannya? "David menahan keluargaku."
Mata Raka melebar setelah mendengar pengakuan Randi bawahan kepercayaannya. "Apa? Ditahan? Lalu dimana om dan tante dia tahan?" Tanya Raka beruntun. Dia memang cukup dekat dengan kedua orang tua Randi. Oleh karena itu saat mengetahui Randi berkhianat dan menjadi mata-mata David ia sangat kecewa. Namun setelah mengetahui alasannya ia tau kalau Randi terpaksa melakukannya. Dasar pria tua brengsek!
Randi tertunduk lesu, "dia tidak hanya menahan kedua orang tuaku. Dia juga menahan adik perempuan dan istriku. Mereka ada di salah satu villa milik David yang ada di puncak." Randi terlihat putus asa. Apalagi istrinya tengah hamil, semua ini sungguh membuat dia hampir gila.
Ekspresi Raka langsung menggelap dengan mata berkilat marah. "Kurang ajar! Aksa, kamu tau apa yang akan kamu lakukan kan?" Raka menoleh ke arah Aksa dengan seringai iblis yang sangat mengerikan. Membuat Aksa dengan susah payah menelan salivanya dan orang-orang yang lain langsung berkeringat dingin.
"Akan aku laksanakan," jawab Aksa setelah menormalkan dirinya sendiri. Uh saat ini Raka benar-benar menyeramkan. Setelah itu ia langsung menghilang dibalik pintu untuk melaksanakan tugas yang diberikan Raka. Apalagi kalau bukan membebaskan sandra.
.
.
.
.
__ADS_1
to be continue