
Rudi menghentikan mobilnya di dekat sebuah danau dan melirik ke arah Bila yang masih diam dengan air mata bercucuran.
"Mba, jangan kayak gini. Kalau mba sedih, nanti babynya ikut sedih. Karena bayi ikut merasakan apa yang tengah dirasakan ibunya." Suara Rudi mengoyak keheningan antara mereka.
Bila seketika tersadar dan menghentikan tangisnya. Tangannya bergerak membelai perutnya yang sudah mulai membuncit. "Maafkan mommy sayang, mommy melupakan kalian." Bila segera menghapus air matanya dan menoleh ke arah Rudi.
Rudi sempat tertegun saat mendengar kakaknya menyebut kata 'kalian' tapi langsung tersadar saat mendengar permintaan kakaknya yang mendadak mau memakan rujak.
"Rudi, antarin mba cari rujak yuk."
Bila bangkit berdiri diikuti Rudi dari belakang. Pria itu menekan smart key mobil dan membukakan pintu untuk kakaknya. "Makasih ya." Bila tersenyum manis sebelum menutup pintu dan Rudi langsung berputar untuk masuk ke kursi kemudi.
Selama perjalanan tidak ada pembicaraan yang mereka lakukan, hanya keheningan yang menemani mereka dan suara deru mesin mobil serta suara mobil lainnya.
Untung anak kamu nggak minta yang aneh-aneh Mas. Kamu pasti sedang di pesawat saat ini. Jangan merindukan kami ya? Bila mendesah kuat dalam hati sambil mengusap perutnya.
Tak lama mobil berhenti di tempat rujak dan wanita itu dengan semangat langsung ke luar dari mobil. Ia memesan rujak dalam porsi besar dan membuat penjual serta Rudi tercengang.
"Mba, nanti kalau kebanyakan perut mba bisa sakit." Peringat Rudi dan tidak di hiraukan oleh Bila.
Penjual rujakpun ingin bersuara, namun ia urungkan melihat tatapan ingin wanita hamil di dekatnya. Setelah menghela napas panjang, penjual itu membuatkan pesanan Bila.
"Ini mang uangnya." Bila membayar rujak yang ia pesan dan segera berbalik menuju mobil. "Rudi ayo, kok malah bengong?" Teriaknya dan membuat Rudi tersentak kaget. Pria itu buru-buru berjalan ke arah mobil dan membukanya.
"Sekarang mba mau kemana lagi?" Tanya Rudi setelah masuk ke dalam mobil.
"Pulang!" Jawab Bila singkat.
"Baiklah, pasang seatbelt nya mba."
Bila masang seatbelt, lalu Rudi menyalakan mesin mobil dan melajukan mobil Bila menuju rumah wanita itu.
"Kamu bawa aja mobil mba dulu. Nanti sampai kantor, minta tolong Jacki dan Romi untuk mengantarkan mobil mba ke sini." Ucap Bila sebelum ke luar dari dalam mobil.
"Tapi mba__
Ucapannya terhenti, karena Bila sudah ke luar dan berjalan menuju pintu rumah. Mba, semangat ya. Ini ujian untuk cinta kalian. Entah mengapa, pria itu yakin kalau kedua kakaknya itu sedang bertengkar.
πππ
Raka dan Aksa sudah mendarat di bandara Heathrow (LHR) beberapa menit yang lalu. Kedua pria tampan itu segera ke luar dari dalam pesawat menuju pintu kedatangan dan sebelumnya Aksa mengambil barang mereka berdua. Kemudian mereka segera ke luar dan berjalan menuju lobby.
"Welcome to London Mr Nugraha and Mr Roberto. I'm Ricardo Griffin from HP Company" Sapa seorang pria paruh baya berbadan tegap dan cukup tampan.
__ADS_1
"Thanks for coming, Mr Griffin." Raka langsung tersenyum.
"Mr Davidson asked me pick you both up and take you both to the hotel." Ucapnya lagi.
"Oh okay Mr Griffin."
Ketiganya langsung menuju mobil yang akan membawa mereka ke penginapan atau hotel. Jalanan London cukup ramai, karena jam pulang kantor. Sehingga untuk mencapai hotel, mereka membutuhkan waktu yang cukup lama. Sampai di hotel Aksa langsung menghadap resepsionis bersama Ricardo.
"Good rest, i will pick you both up in the morning." Ricardo sedikit menunduk hormat, kemudian berlalu dari hadapan Raka dan Aksa.
"Selamat malam tuan." Ucap Aksa sebelum berpisah dengan Raka, karena mereka berbeda kamar. Raka hanya menganggukkan kepalanya memberi jawaban dan melangkah masuk ke dalam kamar yang ia tempati.
Pria itu meletakkan kopernya di dekat ranjang dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Ia membersihkan tubuhnya yang sudah lengket, sekalian berwudu. Tidak sampai 30 menit, ia sudah selesai mandi dan berpakaian. Kemudian segera melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Selesai sholat, ia terdiam dan merenung. Ah! Tidak seharusnya ia pergi tampa pamit seperti ini. Apalagi ia meninggalkan istrinya yang sedang hamil muda. Dia juga sudah merindukan istrinya.
"Apa aku terlalu gegabah ya dalam bertindak? Padahal aku baru mendengarkan dari satu pihak dan belum mendengarkan dari pihak lainnya." Raka bermonolog pada dirinya sendiri. Argghhhh, kenapa kamu begitu bodoh Raka? Bila pasti sangat sedih kalau kamu pergi begitu saja. Batinnya frustasi, kemudian mengambil ponsel berniat menghubungi sang istri tercinta. Tapi ia urungkan, karena waktu di Indonesia sudah hampir tengah malam.
Sementara Bila sama sekali tidak bisa tidur karena memikirkan suaminya. Ia meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Raka melaui video call. Ia berharap kali ini bisa tersambung.
Tak lama muncul wajah tampan pria yang ia pikirkan dari tadi. Air matanya langsung turun dengan deras.
"Masss Raka....! Akhirnya aku bisa menghubungi Mas. Aku, aku minta maaf. Maafin aku ya sayang. Aku tau, aku salah karena pergi tampa izin. Huaaaa... " Bila langsung meraung dengan keras.
Bila mencoba menormalkan deru napasnya yang tersengal-sengal karena menangis dan menghela napas panjang. "Jadi gini....
Bila menceritakan semuanya, meskipun dengan susah payah. karena ia sudah sesegukan karena menangis dari tadi.
"Ohh jadi gitu," Raka menjeda ucapannya. "Akan tetapi, tetap saja kamu salah sayang. Karena kamu nggak bilang kalau kamu pergi ke sana. Kalau orang lain lihat, nanti mereka akan berpikir yang bukan-bukan. Apalagi kamu menemuinya dalam keadaan hamil."
"Iya Mas aku tau, aku salah. Maafin aku huuuu..." Bila kembali menangis. "Aku nggak kepikiran sampai ke situ." Bila kembali menghela napas, sungguh berat menjelaskan kalau sedang menangis.
"Aku hanya berpikir bagaimana caranya agar masalah Arum selesai. Aku juga nggak nyangka kalau tuan Baldev itu Mas Andre, ayahnya Zidan."
"Hei, hei, udah. Jangan nangis lagi ya. Kedepannya, jangan kayak gitu lagi. Karena dalam suatu hubungan itu, harus saling terbuka dan saling percaya." Ucap Raka memberi wejangan pada istrinya, padahal dia sendiri langsung pergi ke luar negeri tampa mendengarkan penjelasan istrinya terlebih dahulu.
Bila terdiam dan mencerna kata-kata Raka, kemudian menghapus air mata yang menepel di pipinya. "Tapi Mas sendiri nggak percaya sama aku dan memilih minggat ke London." Ketus Bila tajam.
Hati Raka langsung mencelos saat mendengar kata-kata istrinya, yang benar adanya. Ah! Andai dia bisa memutar waktu, dia akan menemui istrinya dan meminta penjelasan. Tidak lari dari masalah seperti ini. Hah! Dia seperti pecundang saja.
"Maaf sayang, Mas hanya tidak mau amarah Mas meledak kalau langsung menemui kamu."
"Kamu jahat Mas, tega kamu tinggalin aku sendirian. Kamu sama aja kayak Mas Aldi, aku benci sama kamu!" Teriak Bila marah, moodnya benar-benar sudah tidak bisa dikendalikan lagi.
__ADS_1
Tamat sudah riwayat Raka, singa betinanya sekarang sudah dalam mode on. Oh no, bagaimana ini? Raka langsung gelagapan melihat istrinya mengamuk.
"Sayang!" Raka mencoba memanggil istrinya selembut mungkin.
"Apa?" Jawabnya dengan tatapan tajam.
"Kamu marah sama Mas?"
"Siapa juga yang marah? Kalau Mas mau di sana selamanya juga nggak apa-apa. I don't care. Nggak usah pulang sekalian!"
Oh God, kenapa semuanya jadi berbalik gini? Kenapa malah dia yang marah? Hah! Wanita memang makhluk Tuhan yang paling unik dan susah ditebak apa maunya. Apalagi sedang berbadan dua, sudahlah.
"Kamu serius nggak mau suaminya pulang? Serius nggak akan kangen?"
"Never! Sana, cari kupu-kupu baru di sana."
"Benarkah? Wahh makasih sayang, dengan senang hati akan aku lakukan."
"Ihhh, dasar menyebalkan! Suami nggak peka! Aku benci sama Mas....!" Teriaknya seraya mengkerucutkan bibirnya.
Bibir Raka langsung berkedut menahan tawa saat melihat ekspresi istrinya yang terlihat menggemaskan kalau sedang merajuk. Akhirnya tawa Raka pecah, karena Bila terus mengomel dan menggerutu.
"Kenapa malah ketawa hah? Mau aku gantung di alun-alun!" Desisnya marah.
Oh no, Bila benar-benar marah. Raka langsung memelaskan wajahnya. Berharap Bila akan berhenti merajuk. "Bee, ayolah. Jangan marah ya. Sayang, cinta, baby, jangan ngambek dong. Mas janji, akan cepat pulang kalau urusan di sini udah selesai." Raka mencoba membujuk istrinya.
"BODO AMAT! Udah ah, aku ngantuk bye!"
Tut
Bila langsung memutuskan sambungan telphon secara sepihak dan menonaktifkan ponselnya. "Emang kamu doang yang bisa matiin handphone. Aku juga bisa!" Gerutu Bila sambil menatap photo suaminya yang ada di dinding atas tempat tidur mereka.
Bila merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar. Aku benci, tapi aku rindu. Sungguh! Semua ini sangat menyiksa. Lirihnya dalam hati.
.
.
.
.
to be continue
__ADS_1