
Bila menatap kosong kepada kedua bayinya yang sedang ia susui. Ia menyesal terbawa emosi yang menyelubunginya dan tidak bisa berpikir jernih. Seharusnya dirinya yang paling tau bagaimana suaminya sendiri. Karena selama ini Raka tidak pernah melakukan sesuatu yang macam-macam. Apalagi suaminya itu selalu ditemani oleh Aksa kemanapun ia pergi, kecuali kalau sedang pergi dengan dirinya.
Ya Allah, apa yang sudah aku lakukan? Tidak seharusnya aku melakukan semua ini? Bila menangis dalam diam.
Raka sampai di Rumah Sakit dan langsung menuju ke ruangan istrinya. Netra coklatnya langsung menangkap istrinya yang sedang menyusui kedua bayinya. Namun yang ia heran, tidak ada respon yang ditunjukkan Bila saat dirinya masuk ke dalam. Istrinya seaakan sedang memikirkan sesuatu sampai-sampai tidak menyadari kedatangannya. Bahkan setelah ia membuat suara dengan sengaja, istrinya tetap tidak merespon.
Entah angin apa, Bila mengangkat pandangannya dan bertemu dengan netra coklat suaminya yang sedang berdiri di dekat pintu. "Huh, kenapa aku melihatnya di sini? Apa aku sedang mimpi?" Gumam Bila dengan mata berkaca-kaca.
Gumaman Bila terdengar jelas ditelinga Raka dan berpikir istrinya pasti sangatlah marah kepadanya. Raka menatap nanar istrinya seraya berkata. "Bil, maafkan aku. Kamu pasti tidak mau melihatku kan? Tapi, maukah kamu mengizinkanku melihat kedua anakku? Bagaimanapun juga, aku ayahnya." Raka berjalan mendekati istrinya yang masih diam dengan tatapan lurus ke depan sambil menggumamkan sesuatu dan membuat kening Raka berkerut.
"Bahkan bayangannya memiliki suara yang sama." Air mata langsung mengucur deras dari pelupuk matanya. "Aku harus menelphonnya, untuk menyuruhnya datang ke sini. Karena anak-anaknya belum di azani." Sambungnya seraya mengambil ponsel dari atas meja di samping ranjangnya.
Mendengar kata-kata istrinya membuat Raka semakin berkerut, namun detik berikutnya ia paham dan meraih tangan Bila.
"Bila, Mas di sini. Maafin Mas ya." Raka menciumi punggung tangan istrinya membuat wanita itu tersentak dan kembali ke akalnya.
Bila tidak bisa berkata-kata, ia menatap lekat wajah suaminya yang ia tinggalkan karena kesalah pahaman dan tidak mempercayainya.
"Ma-s, ka-mu di sini? Aku, aku... huaaa..." Bila menangis cukup keras dan membuat kedua bayinya yang sedang berada di pelukannya kaget dan langsung menangis kencang.
"Sayang...." Raka mencoba menenangkan istrinya dan mengambil salah satu bayinya.
Bila langsung menghentikan tangisnya dan menenangkan bayi yang ada di lengannya saat ini. Setelah tenang ia mulai bicara "Mereka belum diazani." Gumamnya pelan namun terdengar jelas di telinga Raka dan membuat pria itu senang. Ia pikir kedua anaknya sudah di azani oleh Andre.
"Kamu bilang apa? Mas Nggak dengar." Raka mengerjai istrinya dengan pura-pura tidak mendengar perkataannya.
Bila menghela napas kasar dan dengan berat hati ia kembali mengulangi ucapannya. "Anak kita belum di azani."
"Apa? Kamu ngomong apa?"
Bila langsung menatap suaminya tajam sebelum mengomeli suaminya itu. "Mas Raka nyebelinnn.... Aku udah ngomong jelas masih aja nggak dengar." Omelan Bila membuat bayi yang ada dalam gendongannya menatap ibunya dengan tatapan heran.
Raka terbahak mendengar omelan istrinya, apalagi ekspresi Bila saat ini benar-benar terlihat menggemaskan dengan wajah merah dan ekspresi galaknya. "Baiklah, baiklah, akan aku lakukan."
"Mau lakukan apa?" Tanyanya dengan galaknya.
"Ya mau azani anakkulah, masa mau berenang."
"RAKA DANU NUGRAHA!"
"Yes Mommy."
"Hmmmp" Bila langsung membuang muka dengan emosi yang menggebu-gebu.
__ADS_1
Raka benar-benar puas karena berhasil mengerjai istrinya. Kemudian segera mengazani kedua anaknya dan meletakkan kembali ke dalam box bayi.
"Bagaimana dengan bayi itu? Apa yang akan Mas lakukan?"
Raka menatap dalam istrinya dan meraih salah satu tangan istrinya. "Apa kamu percaya sama Mas?" Bila menganggukkan kepalanya, hati kecilnya berkata untuk mempercayai suaminya. "Aksa akan mengurusnya dan melakukan tes DNA untuk mendapatkan hasil yang lebih pasti."
"Hmmm baiklah. Aku lelah, apa aku boleh tidur? Tolong jagain keduanya ya Mas."
"Tidurlah sayang, Mas akan jagain mereka."
Bila yang sudah sangat mengantuk langsung tertidur setelah beberapa saat memejamkan mata. Sementara Raka menatap istrinya dalam diam seraya memikirkan masalah yang tengah mengguncang rumah tangganya.
πππ
Setelah mendengar kalau putri sulungnya sudah melahirkan, wanita itu langsung bergegas ke Rumah sakit dan menghubungi suaminya yang sedang berada di kantor untuk menyusulnya ke Rumah Sakit.
"Bagaimana keadaanmu sayang?" Tanya Bu Sukma pada putrinya yang masih terbaring di tempat tidur.
"Sudah lebih baik Bu, meski bekas jahitannya mulai terasa perih. Karena efek biusnya sudah hilang." Jawab Bila sambil tersenyum. "Padahal aku mau lahiran normal, tapi sayangnya tidak bisa." Eluhnya kemudian.
Bu Sukma menatap putrinya penuh sayang. "Normal atau cecar tidak akan merubah apapun sayang. Kamu akan tetap seorang ibu, terlepas bagaimana cara kamu melahirkan anak-anakmu. Jadi jangan sedih ya sayang, kamu tetaplah putri Ibu yang terbaik. Selamat jadi Ibu ya Nak." Mengelus kepala putrinya dan memberikan ciuman di kening Bila.
"Makasih ya Bu, maaf kalau Bila ada salah."
Bu Sukma berdiri dan menghampiri box bayi untuk melihat cucunya. "MasyaAllah cucuku tampan sekali." Bu Sukma tampak sumringah saat menatap cucunya yang baru saja bangun setelah puas tidur. "Apa sudah diberi nama?"
"Belum Bu, Tapi kami sudah memperisiapkan nama untuk mereka." Raka menjawab seraya berjalan mendekat ke arah Ibu mertuanya. .
"Oh ya, siapa namanya. Ibu mau tau nama yang kalian berikan."
"Zahran Aali Nugraha dan Zayyan Aaqil Nugraha."
"Yang mana Zahran dan yang mana Zayyan?" Tanya Bu Sukma lagi, karena keduanya sangat mirip.
"Zahran hidung dan matanya mirip dengan Bila, Zayyan hidung dan matanya campuran kami berdua." Jelas Raka kepada ibu mertuanya.
Bu Sukma lalu menatap wajah kedua cucunya secara bergantian. "Kamu benar, Zahran memiliki mata dan hidung mirip Ibunya."
Ayah Rasyid yang baru sampai langsung menghampiri putrinya dan memberikan apresiasi karena sudah resmi menjadi seorang ibu. Selesai berbincang dengan putrinya, Ia perlahan mendekat ke arah Raka dan Bu sukma untuk melihat cucunya.
"MasyaAllah, keduanya benar-benar tampan." Puji Ayah Rasyid seraya mengambil cucunya ke dalam gendongannya.
Pasangan Kakek dan Nenek kedua bayi itu tak berhenti tersenyum karena kebahagiaan yang mereka rasakan Karena sudah mempunyai tiga cucu laki-laki yang sangat mereka sayangi.
__ADS_1
"Bu, Reihan mana? Kenapa tidak datang melihatku?"
Pertanyaan Bila membuat perhatian keduanya tersita dan menatap lurus ke arah putrinya yang sedang menunggu jawaban atad pertanyaanya.
"Adikmu sedang mengurus proyek yang ada di Turki karena Ayah tidak bisa pergi ke sana. Sehingga terpaksa Reihan yang pergi sebagai perwakilan Ayah." Jawab Ayah Rasyid sebelum mengalihkan perhatiannya ke bayi mungil yang ada di pangkuannya.
"Turki ya?" Gumam Bila pelan namun masih terdengar oleh telinga Raka yang sedang duduk di sebelahnya.
"Ada apa sayang? Kenapa ekspresi kamu tiba-tiba berubah muram?" Raka menatap istrinya lekat-lekat.
"Bila, ada apa?" Raka kembali bertanya seraya menggoyang pelan lengan Bila karena tak kunjung mendapat jawaban dari sang istri.
"Ha.... Aku baik-baik saja Mas." Jawab Bila gugup.
"Kamu tidak bisa berbohong sayang. Katakan ada apa?" Raka kembali bertanya pads istrinya karena ia yakin kalau Bila sedang memikirkan sesuatu.
"Aku hanya cemas Mas. Fitasatku tidak enak saat mengetahui Reihan sedang tidak berada di Indonesia saat ini. Aku merasa akan terjadi sesuatu yang buruk pada adikku Mas." Bila hampir menangis saat mengatakan hal itu. Namun langsung teredam saat Raka memeluknya.
"Kamu tenang ya sayang. InsyaAllah tidak akan ada yang terjadi padanya. Kita doakan saja agar dia bisa kembali dengan selamat."
"Aku juga berharap seperti itu Mas. Tapi----"
Raka memotong ucapan istrinya sehingga Bila tidak jadi melanjutkan kata-katanya. "Jangan terlalu dipikirkan ya. Doakan dia agar selamat sampai kembali ke Indonesia."
Bila akhirnya tenang dan tidak mengatakan apapun lagi.
.
.
.
.
.
to be continue
Maaf semuanya kalau kelamaan yaa. Author benar-benar kehabisan ide sebelumnya dan sedang dalam masa author block alias malas nulis π. Sekali lagi maafkan aku semuanya.
Baby Zahran dan Zayyan ya π₯°
__ADS_1