Pelangi Setelah Hujan

Pelangi Setelah Hujan
Terhindar


__ADS_3

Reihan baru saja check out dari hotel dan sudah ditunggu oleh supir yang disediakan perusahaan yang ia kunjungi di lobi.


"Selamat pagi tuan Reihan." Sapa supir itu ramah.


"Selamat pagi." Reihan tersenyum dan melangkah masuk ke dalam mobil. Penerbangannya sekitar pukul 10 pagi waktu setempat dan sekarang jam menunjukkan pukul 8 pagi.


Tak lama mobil berhenti dan membuat Reihan bingung. "Kenapa berhenti? Apa ada masalah?" Tanya Reihan saat supir melepas seatbelt dan hendak turun.


"Sepertinya bannya bocor tuan, sebentar saya cek dulu." Jawab sang supir dan segera ke luar dari mobil. Setelah mengecek keadaan ban mobil, supir masuk kembali. "Iya tuan, ban mobil bocor."


"Apa ada ban cadangan?" Tanya Reihan seraya melirik jam dipergelangan tangannya.


"Ada tuan, saya akan segera memperbaikinya." Supir segera membuka bagasi belakang, mengeluarkan ban dan dongkrak.


Reihan berpikir sejenak dan mengambil ponselnya untuk membuka aplikasi pemesanan tiket pesawat. Reihan segera me-reschedule jadwal pesawatnya menjadi pukul 1 siang. Karena kalau tidak, tiket sebelumnya akan hangus.


Masuk ke dalam mobil, supir kembali melajukan mobil setelah sebelumnya memasukkan ban dan peralatannya ke bagasi belakang.


"Sudah aman ya pak?"


"Sudah tuan."


Mobil melaju kencang menuju Bandara Internasional AtatΓΌrk (IST). Sampai di Bandara ia mendengar pengumuman bahwa pesawat yang seharusnya ia tumpangi tadi hilang kontak dan dikabarkan jatuh.


Reihan langsung tersentak dan mengucap syukur sebanyak-banyaknya. Karena dibalik kemalangan akibat ban bocor di perjalanan menuju bandara. Ia bisa terhindar dari kecelakaan maut yang akan menimpanya. Allah selalu punya cara untuk menyelamatkan hambanya.


πŸ’πŸ’πŸ’


Raka segera menyusul Bila dan berdiri cukup lama di depan kamar. "Sayang, jangan marah dong. Mas minta maaf ya."


Bila masih diam dan tidak mengeluarkan suara sama sekali. Ia sebenarnya tidak berniat marah, hanya saja ia kecewa saja karena Raka tidak mengatakan apa-apa kepadanya.


Tak lama notifikasi ponselnya berbunyi dan fokus Bila langsung tertuju ke layar ponsel. Mata Bila langsung melotot saat membaca berita terbaru yang muncul di ponsel.


"Sayang!" Seru Raka saat pintu terbuka dan menampakkan Bila dengan ekspresi cemas. "Ada apa?" Tanya Raka saat Bila mulai menangis.


"Reihan Mas.... Reihan." Ia langsung terisak dan tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Raka berusaha menenangkan istrinya dengan memeluk Bila.


"Reihan kenapa?" Tanya Raka lembut setelah dirasa istrinya tenang.

__ADS_1


Bila mendongkak dan air mata kembali mengalir deras. "Pesawat yang Reihan tumpangi jatuh Mas."


Ketika kata-kata itu mengambang ke udara, Raka langsung terkejut. "Apa kamu sudah mencoba menghubunginya?" Tanya Raka seraya mengusap air mata yang mengalir di pipi Bila. Karena ia yakin kalau saat ini Reihan baik-baik saja.


Bila menatap suaminya dengan mata berair dan menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. "Belum." Lirihnya pelan.


Raka hampir tersenyum saat melihat tingkah istrinya yang sangat menggemaskan. Ouhhh so cute. Batin Raka gemas.


"Sekarang kamu coba hubungi Reihan." Raka mengusap pipi Bila yang basah oleh air mata.


Raka tau bagaimana khawatirnya Bila saat ini. Karena dari Bila tau kalau Reihan pergi ke luar negri istrinya tidak bisa tenang sama sekali.


"Nggak aktif Mas." Rengek Bila dan mulai menangis lagi. Namun tangisannya langsung berhenti saat mendengar tangisan kedua anaknya. Wanita itu langsung bergegas turun untuk menenangkan anaknya.


"Sayang hati-hati." Teriak Raka saat istrinya berlari turun ke bawah. Namun Bila tak menghiraukan teriakan Raka karena yang ada di otaknya saat ini adalah anak-anaknya sudah bangun dan sedang menangis.


πŸ’πŸ’πŸ’


Reihan memeriksa ponselnya setelah berada di ruang tunggu. Ia langsung menghela napas karena ponselnya sudah mati karena kehabisan batrai.


"Astaghfirullah, kenapa aku sampai lupa cas handphone tadi malam." Keluhnya. Saat dimobil tadi, Reihan tidak terlalu memperhatikan persentase dari batrai ponselnya. Sehingga ia tidak sadar kalau ponselnya mati kehabisan batrai.


Reihan mencoba menghubungi Raka dan berharap kakak iparnya akan menjawab telphonnya. Ia menebak kakaknya pasti akan menangis bombay saat mendengar berita pesawat jatuh tadi. Apalagi nomornya juga tidak bisa dihubungi. Tak lama terdengar suara panik dari sebrang sana.


"Assalamualaikum Rei, kamu baik-baik aja kan?" Itu suara Bila yang terdengar menahan tangis.


"Walaikumsalam, iya kak. Aku baik-baik aja."


"Alhamdulillah kamu baik-baik aja. Kamu tau nggak kakak khawatir banget saat lihat berita pesawat yang kamu tumpangi hilang kontak dan dikabarkan jatuh. Apalagi setelah itu nomor kamu nggak aktif. Kamu dimana sekarang?"


"Iya kak alhamdulillah aku baik-baik aja. Aku sekarang masih di AtatΓΌrk kak."


"Loh masih di Turki? Kenapa bisa? Jadi kamu nggak naik pesawat itu?"


"Jadi gini... " Reihan menceritakan pengalamannya hari ini, bagaimana ia bisa selamat dan tidak ikut jatuh dengan pesawat itu.


"MasyaAllah tabarakallah, kuasa Allah memang luar biasa."


"Iya kakak benar, aku benar-benar bersyukur tadi ban mobil bocor. Walaupun aku sempat mengeluh karena harus reschedule jadwal penerbangan. Tapi ternyata dibalik semua itu, Allah menyelamatkanku dari kecelakaan itu."

__ADS_1


"Ya sudah, nanti kamu hati-hati ya. Sampai di Indonesia kabari kakak."


"Iya kakak sayang, jangan khawatir lagi ya. Nanti kalau sampai aku akan hubungi kakak."


"Harus pokoknya, tidak ada alasan." Tekan Bila.


"Iya iya kakakku yang bawelnya minta ampun." Reihan tersenyum dan Bila terkekeh mendengar celotehan adiknya. "Aku tutup ya kak, assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Setelah bicara dengan Bila, Reihan mengaktifkan airplane mode dan bersiap menuju gate karena pesawat yang akan ia tumpangi sudah mendarat.


πŸ’πŸ’πŸ’


Raka mendekati Bila untuk menanyakan keadaan Reihan. Karena ia harus ke dapur untuk mengambil minum dan membuat makanan yang diminta nyonya besar.


"Sayang, bagaimana Reihan?" Tanya Raka seraya meletakkan nampan berisi makanan dan air putih.


"Alhamdulillah Reihan baik-baik aja Mas. Dia ternyata nggak naik pesawat itu." Jawab Bila dengan mata melirik makanan dan meminta Raka menyuapinya dengan isyarat. Namun dasar Raka kurang peka, ia tidak paham maksud Bila. Malahan ia kembali bertanya dan membuat Bila mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa bisa?"


Bila hanya diam tidak menjawab pertanyaan Raka. Merasa ada yang aneh Raka menatap istrinya yang sudah manyun. Ada apa? Apa aku salah bicara? Perasaan nggak deh. "Kenapa manyun gitu sih? Ada apa hmm?"


"Kamu ihhh nggak peka. Aku lapar Mas." Rengeknya dan berharap Raka akan segera menyuapinya.


"Kalau lapar makan sayang, kan udah Mas buatin makanan." Raka sebenarnya sudah tau maksud istrinya, namun ia ingin melihat wajah kesal istrinya. Karena dimata Raka eskpresi Bila kalau sedang kesal itu sangatlah imut sekaligus seksi.


Bagaimana Bila mau makan? Kedua anaknya masih berada di lengannya. Apa dia harus langsung makan dari piring menggunakan mulut? Sama saja dong dia dengan hewan berkaki empat yang sering menggonggong. Bila merungut kesal dan membuang muka sambil mengomel.


.


.


.


.


to be continue

__ADS_1


__ADS_2