Pelangi Setelah Hujan

Pelangi Setelah Hujan
Tamu di Pagi Hari


__ADS_3

Suasana pagi itu di kediaman Raka dan Bila tampak berbeda. Karena mereka berdua baru saja dikaruniai buah hati kembar yang otomatis akan merubah kebiasaan yang biasa mereka lakukan. Biasanya Bila akan hanya berfokus untuk mengurus suaminya. Sekarang fokusnya harus terbagi antara mengurus kedua bayi kecil dan bayi besarnya.


"Sayang...! Kamu lihat USB mas nggak?" Teriak Raka sambil mencari-cari USB-nya.


Bila yang sedang memandikan Zayyan langsung menjawab. Karena Zahran tadi sudah mandi bersama Raka. "Ada di meja riasku mas, cari aja."


Raka langsung mencari di meja rias istrinya sesuai dengan apa yang Bila katakan. Tapi ia sama sekali tidak menemukannya. "Nggak ada sayang. Dimananya?" Tanya Raka dengan tangan dan mata sibuk mencari keberadaan USB itu.


"Masa nggak ada sih?" Ternyata Bila sudah berdiri di belakang suaminya sambil menggendong Zayyan. "Ini apa sayang? Bukan USB ya?" Bila menatap suaminya jengah sambil memegang USB di tangannya. Jelas-jelas USB itu ada di depan matanya, tapi ia sama sekali tidak melihatnya.


Raka langsung cengengesan dan mengambil USB dari tangan Bila. "I'm sorry honey."


Cup


Raka mengecup pipi istrinya dan segera berlari ke luar dari dalam kamar sebelum singa betinanya mengamuk. Bila menatap punggung suaminya yang perlahan menghilang dibalik pintu. Kemudian langsung tersenyum saat menatap anaknya yang ternyata sedang menatap dirinya.


"Kenapa sayang? Dingin yah? Sekarang kita pakai baju ya." Bila membawa anaknya ke ranjang dan membaringkannya.


Memberikan minyak telon ke perut, lengan, kaki, dan leher sang bayi. Terakhir ia menaburkan bedak di perutnya dan mengenakan baju Zayyan.


"Hmmm, anak mommy sudah wangi. Waktunya minum ASI ya." Dia langsung menyusui Zayyan dan sesekali melirik Zahran yang masih tertidur setelah mandi tadi. Di antara kedua anaknya memang yang paling sering ia susui adalah Zayyan.


Beberapa menit kemudian, Bila melihat suaminya yang melangkah masuk ke dalam kamar. "Sayang, di depan ada Arum dan karyawan kamu yang lainnya." Raka duduk di samping istrinya yang sedang menyusui anaknya.


"Suruh masuk aja mas."


"Sudah, mereka sekarang ada di ruang tamu."


"Maksud aku suruh mereka ke sini aja." Bila memperjelas maksud dari ucapannya. Lagian semua karyawannya perempuan semua.


Raka menatap istrinya dengan alis terangkat naik. "Kamu yakin menyuruh mereka masuk ke kamar tidur kita?"


"Emangnya kenapa? Mereka juga perempuan semua." Bila menatap suaminya dengan tatapan polos.


"Sayang... " Raka menatap Bila serius. "Ini adalah kamar tidur kita, area pribadi kita yang tidak boleh dimasuki oleh sembarangan orang. Apa kamu mengerti? Apa mas harus mengatakan sekali lagi." Raka menghembuskan napas kasar.


Ya ampun, Bila melupakan hal itu. Betapa bodohnya Bila saat ini. Apa yang dikatakan Raka benar adanya. Kamar ini adalah kamar tidur mereka, area pribadi mereka yang tidak terbuka untuk umum. Kenapa dia melupakan hal sepenting ini. Bolehkah Bila memukul kepalanya saat ini, atau menghilang sebentar dari hadapan Raka. Sungguh ia sangat malu sekali terlihat bodoh di depan suaminya.


"Maaf mas, aku lupa." Cicitnya tampa berani menatap Raka yang sedang menatapnya tajam. Namun setelah mendengar kata-kata yang baru saja meluncur dari mulut istrinya. Tatapan pria itu perlahan melunak dan tangannya terangkat untuk mengelus surai rambut Bila.

__ADS_1


"Mas marah ya?" Bila menatap suaminya karena tidak mendapat jawaban dari suaminya.


Raka menggeleng. "Mas nggak marah, hanya sedikit kesal aja." Akunya jujur.


"Maaf ya mas." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Hei, hei, kenapa menangis?"


Bila menggelengkan kepalanya. "Nggak apa-apa."


"Ya sudah, ayo kita temui mereka. Mas akan gendong Zayyan ke depan dan kamu ambil Zahran ya. Raka berdiri dan mengambil Zayyan dari pangkuan Bila yang kebetulan sudah tertidur. Sementara Bila segera menutup bajunya dan berdiri untuk mengambil Zahran.


πŸ’πŸ’πŸ’


Saat Raka dan Bila membawa kedua anaknya untuk menemui semua karyawan Bila. Semua mata langsung tertuju ke arah kedua bayi itu.


"Ya Allah mba, mas, mereka lucu dan imut sekali. Tampan lagi, masyaAllah." Arum langsung berteriak kegirangan saat melihat kedua bayi tampan nan menggemaskan itu.


Karyawan yang lain tak kalah gemas dengan Arum. Mereka memberikan selamat dan hadiah untuk kelahiran anak pertama dari bu boss mereka.


"Mba, apa aku boleh menggendongnya?" Arum mencoba merayu Bila yang kebetulan duduk di sampingnya.


"Kak! Kakak dimana?" Terdengar suara bass Reihan yang sedang mencari dirinya. Letak ruang tamu agak menjorok ke samping sehingga tidak terlihat kalau dari ruang tengah. Oleh karena itu Reihan tidak mengetahui kalau kakaknya ada di ruang tamu bersama karyawannya.


Bila yang mendengar suara adiknya langsung beranjak dari ruang tamu menghampiri adiknya setelah pamit dengan para tamunya. "Ada apa Rei?"


"Aku mau pulang kak." Jawabnya dan Bila baru memperhatikan adiknya yang sedang menggeret koper kecilnya.


"Ya udah, kamu hati-hati ya. Titip salam sama ayah dan ibu ya."


"Oke kak." Reihan menyalami tangan kakaknya dan menciumnya sebagai bentuk penghormatan serta sayang kepada kakaknya.


Bila dan Reihan melangkah beriringan ke ruang tamu. "Mas, aku pulang dulu ya." Reihan mengambil tangan Raka dan menyalaminya juga.


"Hati-hati ya Rei."


"Oke mas, assalamualaikum." Pamit Reihan dan mencium pipi bayi yang ada di pangkuan Raka.


"Walaikumsalam."

__ADS_1


Reihan langsung melangkah ke luar tampa melihat ataupun melirik orang lain yang ada di sana. Bila yang melihat hal itu sangat amat tau bagaimana karakter adik bungsunya itu. Dia akan sangat manja dan cerewet kalau bersama keluarganya atau orang terdekatnya. Akan tetapi, dia akan sangat dingin tak tersentuh dengan orang yang tidak ia kenal atau tidak dekat dengannya.


Sebenarnya saat melihat Reihan tadi, semua karyawan Bila langsung ternganga dan terpesona akan ketampanan pemuda itu. Akan tetapi melihat sikap dinginnya yang sama sekali tidak melirik mereka. Membuat mereka mundur secara teratur dan tidak berharap lebih. Apalah daya mereka yang hanya remahan rengginang.


πŸ’πŸ’πŸ’


Arum dan karyawan lain baru saja pergi dari rumah Bila karena mereka harus kembali membuka butik. Sebelum pulang, Bila sempat menarik Arum untuk membicarakan masalah yang di telphon semalam.


Arum mengatakan kalau wanita itu bersikeras ingin bertemu dengannya dan saat Arum menanyakan alasannya, ia sama sekali tidak menjawabnya. Arum juga mengatakan, suara wanita itu yang awalnya biasa saja lama-lama menjadi seperti bisikan. Seakan ia takut seseorang mengetahui isi pembicaraannya dengan orang yang ia telphon. Arum juga samar-samar mendengar wanita itu berkata. "Tolong bantu saya." Setelahnya telphon terputus.


Bila terlihat berpikir keras dan menerka-nerka apa maksud wanita itu ingin menemuinya. Tapi ia juga ragu untuk langsung menemui wanita itu. Karena takutnya semua itu hanya jebakan yang akan merugikan dirinya dan suaminya. Atau bahkan bisa membahayakan dirinya dan keluarganya. Sebab musuh yang tengah mereka hadapi adalah orang sakit jiwa yang bisa melakukan apapun untuk mendapatkan keiinginannya.


Di tengah lamunannya, Raka menghampirinya dan memberikan dirinya pelukan hangat.


"Akhmm, ini handphone yang bisa digunakan untuk menghubungi wanita itu."


Mendengar suara deheman seseorang dan kata-kata yang mengikuti setelahnya. Bila refleks melepaskan pelukannya dan menatap orang yang baru saja bicara.


"Aksa!" Bila langsung melotot saat melihat asisten suaminya sudah berdiri di dekat mereka. Menyadari keadaan dirinya yang hanya memakai dress selutut dan rambut yang tidak tertutup. Bila langsung berlari ke dalam kamar.


Raka langsung menatap asisten sekaligus sahabatnya dengan tatapan membunuh. "Kamu lihat apa aja barusan?" Mengaitkan lengannya ke leher Aksa, Raka membawa sahabatnya itu ke depan.


"Aw.. Aw.. Sakit woi, lepasin dulu." Namun Raka sama sekali tidak berniat melepaskan kaitannya dari leher Aksa. "Aku hanya lihat sekilas, setelahnya langsung menunduk. Sumpah demi Allah." Aksa hampir kewalahan karena lengan Raka yang masih melilit lehernya.


Aksa cukup terkejut saat melihat istri sahabatnya tidak memakai kerudung dan hanya memakai dress selutut. Namun karena wanita itu adalah Salsabila yang notabennya istri Raka. Ia langsung menunduk, apalagi melihat reaksi Bila yang terkejut dan langsung melarikan diri. Membuat dirinya merasa bersalah karena muncul tiba-tiba.


Aksa langsung terbatuk saat Raka melepaskan kaitan tangannya. "Sadis banget sih jadi sahabat. Hampir mati nih." Protes Aksa sambil meraba lehernya yang memerah karena ulah Raka.


Aksa berjanji pada dirinya sendiri, kalau akan ke rumah Raka ia harus memastikan dulu istrinya sudah menutup aurat atau belum. Cukup sekali ini ia teledor dan mendapat amukan Raka.


.


.


.


.


to be continue

__ADS_1


Author come back πŸ˜‚, kemarin lagi kere jadinya nggak ada kuota buat upload.


__ADS_2