
Semburat jingga menghiasi langit dengan begitu indah. Hal itu berarti pekatnya malam akan segera menyapa. Burung-burung berterbangan menuju sarangnya. Suara azan mulai berkumandang menandakan waktu mghrib telah datang. Orang-orang mulai mendatangi mesjid untuk menunaikan sholat maghrib. Termasuk Raka dan Bila yang baru saja pulang dari Rumah Sakit.
"Kamu kenapa sayang?" Raka menatap istrinya yang tampak diam setelah mereka selesai sholat dan berada di dalam mobil. Ia yakin istrinya pasti lelah karena sejak kepulangan dari Bali, mereka memang belum kembali ke rumah.
Bila menoleh dengan senyum diwajahnya. "Aku baik-baik saja, tapi aku mau makan sesuatu." Jawab Bila dengan semangat. Tiba-tiba ia ingin memakan sesuatu yang pedas.
"Mau makan apa?" Tanya Raka lembut.
"Aku mau makanan pedas Mas, boleh ya..."
Raka langsung melotot, bagaimana bisa istrinya ini mau makan makanan pedas? Apa dia tidak sadar pernah hampir keguguran karena makanan pedas yang ia makan. Kejadian itu terjadi saat usia kandungan Bila masih trimester awal, sehingga masih rentan. Kejadian itu sangat membekas dalam ingatan Raka dan berjanji tidak akan membiarkan Bila memakan makanan pedas lagi.
Dengan tegas Raka menolak keinginan sang istri. "Tidak boleh!"
Mendengar penolakan suaminya membuat wanita itu sedih dan matanya langsung berkaca-kaca. "Kenapa? Aku hanya memakannya sesekali. Kenapa tidak boleh?" Air matanya sudah mengalir deras tampa ia bisa tahan. Kenapa suaminya begitu jahat menolak keinginannya? Lagian ini juga keinginan anaknya. Namun pertanyaan Raka berikutnya membuat Bila menyadari satu hal dan menghentikan tangisnya.
"Apa kamu lupa kalau hampir kehilangan bayi kita waktu kamu dengan ceroboh makan makanan pedas?" Raka mengingatkan kalau misalkan istrinya itu lupa.
Bila tidak akan melupakan bagaimana paniknya dia waktu itu. Beruntung bayinya kuat dan bertahan di dalam rahimnya. Kalau tidak, mungkin ia akan merasa bersalah seumur hidupnya. "Maafin aku Mas. Maaf karena aku terlalu egois" Bila meraung memikirkan dirinya yang sangat keras kepala.
Raka menarik istrinya ke dalam pelukannya dan berusaha menenangkan istrinya. "Sayang tenang, dedeknya jadi ikutan sedih loh. Sekarang kamu mau makan apa selain makan pedas." Raka membelai lembut kepala istrinya.
Bila mendongak dan menatap suaminya dengan mata basah karena air mata. "Aku mau makan steak boleh?"
Raka benar-benar gemas dan tidak tahan untuk tidak mencium istrinya itu. Alhasil ia melakukannya dan membuat Bila terengah-engah karena dicium dengan kasar namun penuh perasaan. "Iya boleh," Raka menatap kedua mata coklat istrinya dan tersenyum melihat bibir bengkak Bila akibat ulahnya barusan. Dengan ibu jarinya, Raka mengusap bibir merah delima sang istri yang menjadi candu baginya.
"Ayo berangkat." Bila kembali ke posisinya dan memasang seatbelt. Raka terkekeh dan segera menjalankan mobilnya.
πππ
Aldi dan Qyara baru saja mendarat di Jakarta. Semenjak kepulangan Bila dan Raka tadi pagi Mereka memutuskan untuk pulang juga. Keduanya berjalan ke luar dari terminal kedatangan menuju lobby.
__ADS_1
"Sayang awas!" Aldi menarik istrinya yang hampir di tabrak oleh trolley barang yang di dorong seorang wanita. Entah iti disengaja tidak ada yang tau. Beruntung refleks Aldi cepat, kalau terlambat sedetik saja Qyara akan celaka.
"Mba, lain kali hati-hati dong. Untung istri saya tidak apa-apa." Aldi menegur wanita itu yang berpakaian kurang bahan dengan bagian atas hanya menutupi sedikit dadanya dan bawah yang menutupi pantatnya. Dari penampilannya saja sudah mirip jalang. Apalagi sekarang tubuhnya meliuk-liuk bak cacing kepanasan saat berbicara dengan Aldi.
"Maafkan saya, sungguh saya tidak sengaja. Maukah tuan memaafkan kesalahan saya."
Qyara hampir muntah mendengar suara centil wanita itu. Tidak hanya Qyara, Aldi saja sudah merinding mendengar suara centil dan melihat kelakuan genit wanita itu.
Karena tidak mendapat respon, wanita itu melirik Aldi dengan malu-malu dan berjalan mendekati Aldi. Hal itu membuat warning di otak Qyara langsung berbunyi. Wanita ini berniat menggoda suaminya, sungguh tidak tau malu. Sebelum wanita itu mendekat, Qyara berpindah dan menjulurkan kakinya membuat wanita itu terjatuh dengan sangat tidak elit. Bagaimana tidak? posisi jatuhnya dengan bibir mencium lantai, dada balonnya bermesraan dengan lantai (euhhh ngilu) dan sepatu yang terbang entah kemana.
Semua yang ada di Bandara dengan tawa yang tidak bisa mereka tahan. Bahkan ada yang merekamnya dan mempostingnya dengan judul 'pelakor kena karma.'
Merasa puas dengan apa yang ia lakukan, Qyara tersenyum puas dan menatap wanita itu dengan tatapan sedingin es. Kemudian melenggang pergi seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.
Wanita itu benar-benar dibuat kehilangan muka oleh Qyara. Dengan perasaan benci yang berkobar di dalam hatinya, ia bangkit dan menatap Qyara penuh dendam.
"Kamu akan aku balas, liat saja nanti." Gumam wanita itu dan segera pergi dengan menanggung malu dan cacian dari orang-orang yang ada di sana.
Qyara menatap suaminya penuh minat. Ia tak menyangka suaminya tau kalau saat ini dia sangatlah lapar. Apalagi setelah melawan betina barusan, membuat energinya terkuras habis.
"Terimakasih Mas, aku memang sedang lapar saat ini." Jawab Qyara antusias.
"Baiklah, istriku mau makan apa?"
Qyara berpikir sejenak dengan meletakkan jari telunjuknya di dagu. Hal itu membuat Aldi gemas dan berniat mencubit pipi istrinya. Namun sebelum itu terjadi, tangannya sudah dipukul mundur oleh tangan lainnya. Siapa lagi kalau bukan Qyara.
"Aku mau makan steak, sudah lama rasanya aku tidak memakannya. Aku mau makan di tempat steak yang enak itu loh."
Aldi mengangguk mengerti. Ia tau dimana restoran itu, tapi jaraknya dari Bandara sangatlah jauh. Apa istrinya bisa menahan laparnya menjelang sampai di tempat tujuan. "Tapi sayang, tempat itu jauh dari sini. Apa kamu kuat menahan lapar sampai ke sana?" Aldi mencoba menggoyahkan pertahanan Qyara agar berubah haluan untuk makan makanan lainnya saja. Sayangnya ia gagal setelah melihat dan mendengar apa yang dikatakan Qyara setelahnya.
Qyara menoleh ke belakang dan mengambil makanannya. "Aku masih ada cadangan makanan menjelang ke sana. Ayo jalan Mas."
__ADS_1
Aldi menghela napas dan menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran Bandara menuju ke tempat yang diinginkan sang istri.
πππ
Sebuah mobil mewah berwarna hitam baru saja memasuki parkiran sebuah restoran steak yang terkenal di ibu kota. Setelah memarkirkan mobilnya, seorang pria tampan ke luar dari dalam mobil dan segera berputar setelah menutup pintu untuk membukakan pintu untuk wanita cantik yang datang bersamanya. Keduanya tampak serasi dan berjalan masuk ke dalam restoran. Pasangan itu adalah Raka dan Bila yang baru saja sampai di sana.
"Selamat datang tuan dan nyonya, mari saya antar." Ucap seorang pelayan dengan ramah, kemudian memimpin jalan menuju ke sebuah meja yang kosong. Keduanya langsung duduk di kursi dan memesan dua porsi steak serta makanan lainnya.
Setelah mencatat pesanan, pelayan itu segera beranjak pergi dari sana. Setetelah menunggu beberapa saat, pesanan mereka datang dan membuat mata Bila berbinar dengan pemandangan makanan di depannya. Tak menunggu lama, Bila langsung melahap makanan yang ada di hadapannya dan membuat Raka sesak napas melihat porsi makan istrinya. Tidak heran berat badannya melonjak lagi dan membuat istrinya gemuk. Tapi karena tubuh Bila tinggi, jadi tidak terlalu jelas.
Setelah steak dan makanan pendukung lainnya habis masuk ke dalam perut Bila. Wanita itu mematap Raka dengan tatapan penuh harap, layaknya anak kucing yang begitu menggelaskan.
"Apa sayang?" Raka yang mulai sedikit peka bertanya kepada istrinya. Karena terlihat jelas kalau Bila menginginkan sesuatu.
"Mau lagi, boleh?" Dia bertanya dengan nada manja.
Raka menepuk keningnya sendiri dan menatap ngeri ke arah Bila. "Sayang, apa masih lapar? Bukannya kamu udah makan banyak dari tadi. Nanti sakit perut sayang, Mas bukannya nggak mau beliin. Tapi nanti yang menderita kamu juga." Raka langsung mengomeli Bila panjang lebar.
Apa Bila mau menurut? Tentu saja... tidak. Kalau menyerah begitu saja, bukan Bila namanya. "Tapi aku masih lapar dan mau steak lagi. Boleh ya sayang ya, please...." Bila merapatkan kedua telapak tangannya dan meletakkannya di depan wajahnya.
Raka menghela napas berat, bisakah istrinya tidak keras kepala? Raka benar-benar pusing di buatnya. Akhirnya, dengan sangat terpaksa dan tersenyum tak berdaya. Raka memesan satu posrsi steak lagi untuk Bila.
"Bilaa....!"
.
.
.
.
__ADS_1
to be continue