
Sepulang dari kantor, Raka mampir di supermarket untuk membelikan susu ibu hamil untuk istrinya. Sampai di rak susu khusus ibu hamil, ia bingung karena banyak sekali merek untuk susu ibu hamil.
"Ada yang bisa saya bantu Mas?" Suara sorang wanita membuat Raka menoleh. "Saya sedang mencari susu ibu hamil. Merek apa yang bagus ya?" Tanya Raka, yang berpikir kalau wanita itu adalah salah satu pramuniaga supermarket itu.
"Sepertinya ini bagus Mas, karena saya belum menikah dan bukan pegawai di sini juga." Jawab wanita itu sambil menunjuk salah satu merek susu.
Raka langsung jengkel dan menatap wanita itu tajam. Kemudian langsung pergi untuk mencari pramuniaga supermarket. Setelah bertemu, ia menanyakan hal yang sama dengan yang ia tanyakan pada wanita sebelumnya.
Pramuniaga langsung membawa Raka kembali ke rak susu ibu hamil dan menunjukkan merek apa yang bagus. Setelah mengetahuinya, Raka mengambil merek itu sebanyak 10 buah dengan rasa coklat. Kemudian segera membawanya ke kasir.
Setelah melakukan pembayaran, ia segera menuju ke parkiran dan bertemu lagi dengan wanita yang membuat dirinya jengkel tadi.
"Hei, kita bertemu lagi Mas. Sepertinya kita berjodoh." Ucap wanita itu terang-terangan. Namun Raka tidak peduli dan menekan smart key yang ada di tangannya, lalu masuk ke dalam mobil. Tampa di duga, wanita itu masuk ke dalam mobil Raka dan duduk di sebelahnya.
"Apa yang kau lakukan? Turun dari mobil saya sekarang!" Bentak Raka dengan tatapan setajam elang. Namun, wanita itu bergeming dan tidak mau turun dari mobil Raka.
"Apa yang kau mau hah?" Tanya Raka dengan tatapan mautnya. Wanita itu langsung bergidik ngeri dengan tatapan laki-laki itu, tapi tidak mengurungkan niatnya sama sekali.
"Aku mau kamu Mas." Jawabnya dengan nada menggoda.
"Ck, dasar wanita murahan! Turun sekarang atau kau akan menyesal sudah main-main dengan saya!" Ancam Raka dengan rahang sudah mengetat dan matanya sudah memancarkan kemarahan.
Raka berpikir sejenak, kemudian mencabut kunci mobilnya dan ke luar dari dalam mobil. seraya membawa kantung belanjaannya meninggalkan wanita gila yang baru saja menggodanya.
"Sial, ternyata dia susah sekali untuk di taklukkan." Umpat wanita itu dan segera turun dari mobil Raka. Setelah melihat wanita itu turun, Raka menekan smart key mobilnya untuk mengunci pintu mobil dan merogoh kantung jasnya untuk mengambil ponsel untuk menghubungi
"Hallo tuan, ada apa?" Tanya Aksa setelah menjawab panggilan telphon dari bosnya.
"Tolong jemput aku di supermarket dekat kantor sekarang. Aku tunggu di parkirannya. Oh ya, bawa Jacki bersamamu."
"Baik tuan." Setelah itu telphon langsung terputus. Aksa yang masih berada di kantor langsung turun ke parkiran dan melajukan mobilnya menuju ke tempat Raka.
Tak sampai 10 menit, mobil Aksa sudah berada di dekat Raka berdiri. Kemudian Aksa dan Jacki langsung turun dari dalam mobil.
"Jacki, kamu bawa mobilku ke rumah. Aku akan naik mobil Aksa." Raka melemparkan kunci mobilnya ke arah Jacki dan langsung di tangkap oleh laki-laki itu.
"Siap tuan." Jacki langsung masuk ke dalam mobil Raka dan segera membawa mobil bosnya pulang. Sedangkan Raka langsung masuk ke dalam mobil Aksa.
"Apa yang terjadi?" Tanya Aksa setelah Raka masuk ke dalam mobilnya. Kemudian mulai menginjak pedal gas meninggalkan area parkiran supermarket.
"Tadi ada wanita gila yang mau menggodaku." Jawab Raka dengan nada kesal.
__ADS_1
Aksa langsung tertawa. "Baru beberapa hari yang lalu kamu di jebak oleh sekeretaris Jimmy. Barusan kamu di goda lagi oleh wanita lain. Sungguh, wanita sekarang semakin tidak bermoral yaa. Suami orang masih aja di kejar dan digoda. Sangat miris sekali." Kepala Aksa langsung geleng-geleng setelah mengatakan hal itu.
"Aku juga tidak habis pikir, apa yang ada di otak mereka. Padahal mereka juga wanita ya. Masa iya tidak memikirkan perasaan kaumnya jika mereka melakukan hal itu. Mungkin hatinya sudah di kasih sama kucing. Makanya jadi nggak ada perasaan bersalah sama sekali saat mencoba menggoda milik orang lain." Ucap Raka dengan nada ketus.
"Calm down brother" Aksa mencoba menenangkan Raka.
"Gimana aku bisa tenang? Rasanya aku mau pakai topeng setiap kali ke luar. Agar nggak ada yang tertarik sama aku. Arghhhh, sial!!" Raka benar-benar kesal dan jenkel.
Aksa tak bisa berkata apa-apa lagi, dia sendiri juga tidak habis pikir dengan para wanita yang mengejar Raka. Sampai melakukan berbagai cara untuk mendapatkan perhatiannya. Namun, memang tidak ada yang bisa merebut perhatian Raka sama sekali. Dan kalau sampai melakukan hal seperti tadi. Sebenarnya sudah bisa di laporkan, karena mengganggu kenyamanan dan ketentraman seseorang.
"Ini kunci mobilnya tuan." Jacki memberikan kunci mobil Raka, setelah bosnya itu sampai di pekarangan rumah dan ke luar dari dalam mobil.
"Thank Jacki." Raka mengambil kunci mobil dari tangan Jacki dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Bila yang mendengar suara mobil berhenti langsung menuju ke depan untuk membukakan pintu.
"Assalamualaikum sayang." Raka langsung tersenyum saat melihat istri cantiknya.
"Walaikumsalam Mas. Itu bukannya mobil Aksa ya, yang barusan pergi?" Telunjuk Bila mengarah ke mobil yang baru saja melaju meninggalkan pekarangan rumah mereka.
Raka menganggukkan kepalanya. "Iya sayang, barusan Mas pulang bareng Aksa."
"Kenapa nggak di ajak masuk sih Mas? Tapi tunggu, bukannya tadi Mas bawa mobil ya?" Tanya Bila beruntun.
"Mas beli apa?" Tanya Bila saat baru menyadari kalau suaminya menenteng sesuatu.
"Susu untuk kamu dan baby." Jawab Raka seraya meletakkan susu tersebut ke dapur.
"Makasih hubby." Bila langsung tersenyum senang dan mengecup pipi Raka.
Karena sudah maghrib, keduanya langsung melaksanakan sholat maghrib setelah Raka selesai mandi.
"Oh iya Mas, tadi aku beli kue di tempat langganan aku. Di sana aku ketemu Zidan." Ucap Bila setelah mereka berada di ruang makan.
"Zidan? Siapa Zidan?" Kening Raka langsung berkerut, karena tidak kenal dengan laki-laki yang bernama Zidan.
"Aku belum cerita ya. Jadi, waktu aku ketemu Mas di jalan sepi waktu itu. Sebelumnya aku membeli kue. Nah, saat aku lagi antri di kasir. Aku nggak sengaja nyenggol nampan bocah laki-laki namanya Zidan. Sehingga kuenya pada jatuh semua. Untuk menebus rasa bersalahku, makanya aku temani dia untuk keliling ambil kue yang dia mau. Zidan itu lucu banget Mas, apalagi pas dia ketawa. Giginya ompong, 2 buah di bagian depan." Bila menjeda ucapannya dan memperhatikan ekspresi Raka yang masih menyimak ucapannya dengan seksama.
"Saat Zidan sedang mengambil kue dia berteriak memanggil ayahnya. Dan kamu tau Mas, Psikiater yang waktu itu aku temui adalah ayahnya Zidan namanya Mas Andre." Ucap Bila mengakhiri ceritanya, kemudian bangkit dari duduknya untuk menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
Setelah makan malam, Bila memakan kue yang ia beli tadi bersama Raka. Meskipun lebih banyak Bila yang makan dibandingkan suaminya.
__ADS_1
"Kenapa melihat Mas seperti itu?"
"Mas belum jawab pertanyaan aku yang tadi." Bila menatap Raka penuh selidik.
"Pertanyaan yang mana?" Tanya Raka pura-pura lupa.
"Ya udah, kalau nggak mau cerita." Bila langsung berdiri dan melenggang pergi meninggalkan Raka.
Raka langsung mengejar Bila yang sudah naik ke lantai 2 dan hampir masuk ke dalam kamar. "Iya, Mas akan jawab." Raka membawa istrinya masuk ke dalam kamar dan mendudukkan istrinya di atas ranjang. Kemudian mulai menceritakan apa yang terjadi pada dirinya tadi sore saat di supermarket.
"WHAT??" Teriak Bila dengan suara tinggi setela mendengar cerita suaminya. Dasar wanita murahan!! Dengus Bila kesal. "Mas kenal siapa dia?"
"Nggak kenal sayang, Mas aja sampai jengkel melihat kelakuannya. Makanya, Mas ke kuar aja dari dalam mobil. Dari pada dia nanti nekat kan?"
Bila sampai melongo dan tidak habis pikir dengan kelakuan kaumnya yang seperti itu. Seakan harkat dan martabat seorang perempuan itu di rendahkan oleh kelakuan segelintir makhluk Tuhan yang di sebut wanita tidak menggunakan otaknya untuk berpikir. Tidak jarang yang melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Tidak peduli apakah dia akan menyakiti hati wanita lain atau tidak. Yang penting, apa yang dia inginkan tercapai.
"Sudahlah, jangan terlalu kamu pikirkan ya. Ingat sayang, ada baby dalam perut." Bisik Raka di telinga sang istri saat melihat istrinya langsung termenung setelah mendengar ceritanya.
"Iya Mas, pokoknya kita harus saling terbuka dan saling percaya ya Mas. Aku tidak mau ada dusta di antara kita. Because i hate liars." Ucap Bila penuh penekanan.
Raka langsung memeluk istrinya. "Iya sayang." Mengecup puncak kepala istrinya dan menikmati aroma vanilla yang menguar ke indra penciuman Raka.
"Sholat yuk, kita berdoa pada Allah SWT agar rumah tangga kita selalu dalam lindungan-Nya." Raka melepaskan pelukannya dan membawa istrinya ke kamar mandi untuk wudhu. Karena, setiap seorang hamba mengalami permasalahan. Tidak ada tempat mengadu yang paling ternyaman selain kepada Allah.
"Ya Allah, jauhkanlah rumah tangga kami dari godaan setan yang terkutuk. Sungguh, setan adalah makhluk yang paling tidak senang dengan yang namanya pernikahan. Dan Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia."
Doa Raka yang di aamiini oleh Bila yang duduk bersimpuh di belakangnya. Raka memutar tubuhnya ke belakang, sehingga Bila langsung meraih tangan suaminya untuk salam.
"Sekarang kamu istirahat ya, pasti capek kan? Seharuan kerja beresin rumah, masak, dan lain-lain." Ucap Raka setelah istrinya berguling di atas sajadah dengan kepala di atas paha Raka.
"Iyaa, tapi mau seperti ini sebantarr aja." Bila langsung memejamkan matanya. Raka langsung tersenyum tipis dan membiarkan istrinya seperti itu.
Tak lama, deru napas Bila terdengar teratur menandakan dirinya sudah tertidur. Raka langsung membuka mukenah yang masih dipakai Bila dan memindahkan istrinya ke ranjang.
.
.
.
.
__ADS_1
to be continue