
"Mas Farhan?" Qonita memanggil Farhan yang sedari tadi hanya terdiam saja.
"Ehh, i-iya, Nit." Lelaki muda yang berprofesi sebagai lawyer itu terlihat gugup saat mendengar suara Qonita.
"Ada apa sebenarnya, Mas? Dari tadi aku perhatikan, Mas Farhan kebanyakan melamun." Qonita mengatakan rasa herannya terhadap Farhan.
Sejenak lelaki bertubuh tinggi dan kekar itu pun terdiam. Dia terlihat menarik napas panjang, lalu menghembuskannya kembali dengan perlahan.
"Aku mau bicara sesuatu sama kamu, Nit ... tapi, aku mohon sebelumnya, kamu jangan salah paham, ya!"
Qonita mengernyitkan dahinya. Perasaannya berkecamuk, dan pikiran buruk pun mulai melintas di benaknya.
"Iya, Mas," jawabnya kemudian dengan suara yang terdengar pelan.
"Kamu pasti tau, 'kan, Nita? Kalau aku mencintai kamu. Dan sudah cukup lama aku mengharapkan kamu untuk menjadi pendamping hidupku," ujar Farhan yang menghentikan sejenak perkataannya.
__ADS_1
Dia menoleh kepada Qonita, lalu menatap wanita yang duduk di sampingnya itu dengan lebih dalam.
"Tapi, aku mohon sama kamu. Ini hanya untuk sementara saja ... izinkan aku untuk menemani Viona."
Deghh!
Detak jantung Qonita seperti terhenti saat itu juga. Dia memalingkan wajahnya dari Farhan.
Napasnya terlihat memburu, dan tiba-tiba saja rasa cemburu pun menguasai hatinya.
"Mas-"
Mendengar kabar Viona yang sedang sakit, tentu saja membuat Qonita merasa terkejut. Bukankah sehari yang lalu dia masih terlihat sehat? Bahkan Viona pun bisa marah-marah, tanpa menunjukkan kalau dirinya sedang dalam keadaan sakit.
"Memangnya dia sakit apa, Mas?" tanya Qonita yang tidak dipungkiri merasa ingin tahu, sakit apa sebenarnya mantan tunangan Farhan itu.
__ADS_1
"Dia sakit autoimun ... dan sampai saat ini Viona masih belum bisa menerima kenyataan, kalau dirinya tengah sakit. Dia minta agar aku menemaninya, sampai dia benar-benar bisa berdamai dengan dirinya sendiri dan menerima kenyataan yang ada."
Sulit rasanya untuk bisa percaya dengan begitu saja, karena sebelumnya Viona sendiri pernah berkata, kalau dirinya akan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milik dia.
"Aku rasa, ini hanya akal-akalan dia aja, Mas. Dia pasti sengaja mencari cara agar bisa kembali dekat sama kamu, Mas."
Qonita berusaha untuk membuat Farhan kembali berpikir kalau rasa pedulinya yang berlebihan terhadap Viona adalah suatu kekeliruan.
"Jangan berburuk sangka, Nita. Lagipula buat apa dia pura-pura sakit kalau cuma untuk bisa dekat denganku lagi? Dia sudah tau, kalau aku akan menikah dengan kamu ... dan dia juga tau, kalau aku cinta sama kamu. Dia cuma ingin aku memberinya semangat. Cuma itu saja, tidak lebih!"
Wanita berhijab itu pun merasakan sesak dalam dadanya. Apakah perhatian Farhan terhadap Viona menjadi sebuah tanda, bahwa lelaki yang dua bulan mendatang akan menjadi suaminya itu masih mencintai mantan tunangannya tersebut.
'Kenapa cobaan ini datang disaat aku sudah meyakinkan hatiku ... kalau kamu adalah pilihan tepat untuk menjadi pendamping hidupku, Mas?" Qonita membatin.
Sedangkan Farhan sendiri merasa tidak enak hati, dan selain itu Farhan juga takut kalau Qonita akan merasa kecewa terhadap dirinya jika dia memaksakan kehendaknya.
__ADS_1
Namun lelaki berparas tampan tersebut pun tidak punya pilihan lain lagi untuk saat ini. Dia benar-benar tengah merasa prihatin dengan kondisi Viona, mantan tunangannya.
"Bagaimana kalau aku tidak mengizinkanmu, Mas?" Qonita menatap penuh arti pada calon suaminya itu.