Pelangi Setelah Hujan

Pelangi Setelah Hujan
Kakak Lelaki Arum


__ADS_3

Seorang wanita duduk di bangku Rumah Sakit seraya menatap ke arah pintu yang masih tertutup rapat sebelum seorang pria dengan snelly muncul dan menghampiri dirinya. Dia langsung berdiri dan menghampiri dokter dan bertanya tidak sabaran.


"Bagaimana keadaannya dokter?"


Dokter yang dikenal dengan nama Jio menatap wanita yang sedang bertanya kepadanya. Sekilas terlihat dia kagum dengan wanita itu dan berpikir betapa beruntungnya lelaki yang baru saja ia tangani karena memiliki pendamping secantik dan seanggun wanita di depannya saat ini.


"Pasien saat ini masih belum sadarkan diri karena trauma yang ia alami. Tapi beruntung tidak membahayakan organ dalamnya. Kemungkinan sebentar lagi dia akan sadarkan diri." Jelas dokter Jio dengan serius. Matanya masih belum beralih dari wajah wanita di depannya dan membuat wanita itu tidak nyaman.


"Ahmm... Ada apa dokter? Apa ada yang salah? Kenapa dari dokter menatap saya?"


Jio segera menarik pandangannya sembari tersenyum bodoh. "Maaf," cicitnya. "Apa anda tidak ingin melihat suami anda nyonya?" Tanyanya penasaran, karena wanita itu tidak bergerak dari posisinya saat ini. Membuat pria itu tidak meninggalkan posisinya.


Wanita muda itu yang tak lain adalah Salsabila langsung terbelalak. Bagaimana bisa pria ini mengatakan hal seperti ini? Ah, apa karena ia yang berdiri di sini dan dalam kondisi hamil? Oh ayolah, ia hanya sekedar membantu tidak lebih. "Dia bukan suami saya, kebetulan saya hanya membantunya." Jawab Bila dengan ekspresi datar karena menyembunyikan kegugupannya.


Jio terkejut dengan informasi yang baru saja ia dengar. Antara bahagia dan sedih, bahagia karena lelaki di dalam bukanlah suami wanita ini. Sedih karena wanita ini tentu saja sudah punya suami dilihat dari perutnya yang sedang buncit pertanda sedang mengandung. Saat Jio akan kembali berbicara seorang perawat ke luar dan memanggil Jio.


"Dokter, pasien korban keroyokan sudah sadarkan diri." Ucap perawat itu dan segera kembali masuk ke dalam IGD setelah memberi respon dengan anggukan. Ia segera melangkah masuk IGD, namun saat mencapai pintu ia berbalik dan menatap Bila.


"Apa anda tidak ingin melihatnya nyonya?" Jio berdiri seraya menatap wanita itu serius. Bila mengangguk mengiyakan dan mengikuti Jio ke dalam.


Mata Bila teruju ke sebuah ranjang yang ditempati lelaki yang ia tolong. Yah ia akui saat ini wajah lelaki itu babak belur nyaris tak bisa dikenali. Namun ia yakin kalau pernah bertemu dengannya. Tapi sungguh ia tidak mengingatnya, sejak awal membawa lelaki itu ke Rumah Sakit perasaannya selalu berkata ia mengenal lelaki ini. Perlahan ia mendekat dan bertanya kepada lelaki itu setelah dokter melakukan pemeriksaan.


"Apa ada keluarga anda yang bisa dihubungi?" Tanya Bila dengan senyum tipis nyaris tak terlihat.


Lelaki itu mengangguk karena ia belum bisa menggerakkan bibirnya untuk bicara. "Bisa tuliskan nomornya di sini?" Bila menyerahkan ponselnya ke tangan lelaki itu dan langsung menghubungi nomor yang sudah di catatkan tampa melihat ada nama yang tertera di sana. Ya, ternyata Bila memiliki nomor handphone saudara lelaki itu.


Saat telphon tersambung, ia langsung membeku karena sangat mengenal suara ini. Tapi kenapa? Apalagi wanita itu tau namanya. Bila menurunkan ponsel yang menempel di telinganya dan menatap layar benda pipih itu dengan kening berkerut. Membuat orang-orang bertanya apa yang sedang terjadi. Dia menatap lelaki yang terbaring di ranjang pesakitan dan menatap layar ponsel. Lalu kembali menempelkan benda pipih itu ke telinganya seraya berkata.


"Datang ke Rumah Sakit Bakti Husada sekarang, karena saudaramu masuk Rumah Sakit." Ucapnya kepada seseorang di sebrang sana dan langsung mematikan sambungan telphon.


Arum memandangi ponselnya selama beberapa detik sebelum berdiri seraya mengambil tas dan berjalan ke luar dari ruangannya. Benaknya penuh dengan pertanyaan mengapa bosnya menghubunginya dan mengatakan kalau saudaranya masuk Rumah Sakit? Ada apa sebenarnya?


Dengan motornya wanita itu meninggalkan butik menuju ke Rumah Sakit yang disebutkan Bila tadi.


πŸ’πŸ’πŸ’


Raka yang baru sampai di rumah tidak menemukan keberadaan istrinya. Tangannya segera merogoh kantung celana, mengambil ponsel dan memghubungi istrinya.


"Assalamualaikum Mas, ada apa?" Terdengar suara merdu seorang wanita dari seberang sana.

__ADS_1


"Walaikumsalam, kamu dimana sayang?"


"Aku di Rumah Sakit Bakti Husada Mas."


Bak tersambar petir, Raka langsung panik saat mendengar istrinya di Rumah Sakit. "Ada apa? Apa kamu sakit?" Tanya Raka panik. Sungguh ia saat ini ingin langsung berlari menemui istrinya itu. Namun saat mendengar jawaban Bila, lelaki itu bernapas lega.


"Aku baik-baik saja, tadi aku hanya membantu seseorang di pinggir jalan."


"Baiklah, Mas akan ke sana. Kamu tunggu ya. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam, hati-hati Mas."


Telphon terputus, Raka langsung melangkah ke luar dan kembali mengunci pintu rumahnya. Ia berangkat dengan taxi agar nanti bisa pulang bersama istrinya.


Arum baru saja tiba di lobi Rumah sakit dan kembali menghubungi Bila. Wanita itu diarahkan menuju IGD, karena lelaki itu masih belum dipindahkan ke dalam ruangan rawat inap. Melangkah masuk, matanya bertubrukan dengan mata lelaki yang sedang berbaring di atas ranjang pesakitan.


"Mas Seno!" Pekiknya dan berlari ke arah ranjang lelaki itu. Bila yang mendengar suara Arum memanggil nama 'Seno' langsung berbalik. Jadi benar lelaki ini Mas Seno.


Dari tadi dia memang berpikir mengenal lelaki itu, namun masih samar-samar karena wajahnya tidak bisa dikenali karena dilukis oleh orang yang memukulnya dengan bogem mentah. Sangat disayangkan, wajah tampan lelaki itu jadi tak berbentuk. Ya meskipun nantinya akan kembali seperti semula, tapi tetap saja butuh proses untuk menyembuhkannya.


"Apa yang terjadi?"


"Aku menemukannya tergeletak di pinggir jalan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan." Itu Bila yang menjawab, karena ia sangat yakin lelaki itu tidak akan mampu menjawab. Sehingga ia hanya mengangguk membenarkan ucapan Bila. "Sebaiknya Mas Seno di pindahkan ke ruangan rawat. Aku akan mengurus administrasinya." Sambung Bila seraya melangkah ke luar dari IGD.


Kali ini Seno dibuat melongo, apa wanita yang menyelamatakannya kenal dengan adik perempuannya? Tapi dia siapa? Kenapa wajahnya tidaklah terasa asing? "A-rum!" Panggilnya terbata, Arum yang dipanggil menarik pandangannya dari menatap Bila dan memandang kakak lelakinya.


"Ada apa Mas?" Arum duduk di samping Seno seraya menatap lelaki itu.


"A-pa ka-mu ke-nal dengan wa-nita itu?" Tanya Seno dengan susah payah dan menahan sakit di wajahnya saat ia berbicara.


Arum menatap wajak kakak lelakinya mencari jejak ketidak seriusan kakaknya. Ia pikir kakaknya bercanda karena menanyakan tentang Bila. Apa kakaknya tidak mengenal bosnya itu? Tapi rasanya tidak mungkin, karena dulu kakaknya sempat menyukai Bila. "Apa Mas tidak mengenalnya? Mas serius lupa padanya?" Tanya Arum dengan nada menggoda.


Seno terdiam dan membayangkan wajah wanita yang menolongnya. Ia langsung menjerit karena kebodohannya tidak mengenal wanita itu. Mengabaikan rasa sakit yang ia rasakan setiap kali ia membuka mulut. "Salsabila?" Arum mengangguk. "Yakkk, kenapa aku begitu bodoh tidak mengenalnya? Astaga!" Seno meremas kuat rambutnya karena tidak mengenal wanita itu.


"Mas Seno memang bodoh, baru sadar ya..." Ejek Arum, membuat Seno jengkel kepada adiknya itu.


"Dasar adik lucknut!" Teriak Seno tak terima dikatakan bodoh. Padahal dia sendiri yang mengatakan dirinya bodoh. Lalu dimana letaknya salah Arum. Wanita itu kan hanya mengatakan kenyataan tidak lebih.


"Apa Mas-ku yang tampan tapi sayangnya bodoh?" Arum kembali mengejek kakaknya. Ini adalah moment langka dimana ia bisa menjaili kakaknya sesuka hati tampa mendapat balasan. Tentu saja ia akan memanfaatkan peluang yang sangat jarang terjadi itu.

__ADS_1


"Arumi Hara Faunia!"


Arum terdiam karena jika Seno sudah memanggil nama lengkapnya itu berarti kakaknya benar-benar marah. "Maaf," lirihnya lebih terdengar cicitan dengan kepala tertunduk.


"Suasana macam apa ini?" Bila melangkah mendekati keduanya. Ia merasa heran, karena saat ia ke luar tadi susananya tidak semenegangkan ini.


"Mba Bila," Arum mengadu dan memeluk Bila. "Aku dimarahi." Saat ini Arum terlihat seperti seorang anak yang mengadu kepada ibunya setelah dimarahi sang Ayah.


Bila mengangkat satu alisnya dengan mata menatap lurus ke arah Seno, seakan tatapannya bertanya 'ada apa?' dan langsung dibalas dengan kedikan bahu oleh Seno.


Bila menghela napas sebelum membuka mulut untuk berbicara. "Kamu melakukan apa? Tidak mungkin Mas Seno memarahimu kalau kamu tidak salah."


Arum terpojok, ia lupa kalau Bila bukanlah seorang yang dangkal dan tidak mudah percaya begitu saja. Arum menelan dengan susah payah salivanya kemudian berkata. "Aku mengejeknya bodoh karena tidak mengenal mba Bila." Suara Arum terdengar sangat rendah, namun sangat jelas ditelinga Bila membuat wanita itu tersenyum simpul.


"Arum, kenapa kamu mengatakan itu? Minta maaf ya."


Seno menatap Bila tak percaya, barusan ia dengar Bila meminta Arum meminta maaf padanya, yang benar saja? Kemana sifat galaknya selama ini? Kenapa wanita ini mendadak lembut seperti ini?


"Tapi tadi aku sudah minta maaf," Arum menatap lurus ke arah Bila.


"Apa dia memaafkanmu?"


Arum menggeleng karena Seno memang belum menjawab permintaan maafnya.


"Coba ulangi dengan nada manja khas adik perempuan." Bisik Bila ditelinga Arum, membuat wanita itu melebarkan matanya.


Astaga, yang benar saja dia harus melakukan semua itu. Walaupun demikian ia tidak punya pilihan bukan? Arum mendekat dan mengulangi permintaan maafnya dengan nada manja dan dengan cara seimut mungkin.


Pada akhirnya kedua kakak beradik itu berbaikan dan Seno segera dipindahkan ke ruang rawat VIP.


.


.


.


.


to be continue

__ADS_1


__ADS_2