Pelangi Setelah Hujan

Pelangi Setelah Hujan
Mood Ibu Hamil


__ADS_3

Raka sedang berdiri menatap ke luar jendela dengan tangan berada di saku celananya. Ingatannya berselancar kepada kejadian tadi pagi. Dimana istrinya muntah-muntah sampai lemas tak bertenaga.


Flashback On


Raka baru saja bangun saat mendapati ranjang di sebelahnya kosong. Kemudian, ia mendengar suara orang sedang muntah di dalam kamar mandi. Tampa pikir panjang Ia langsung turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi.


Matanya langsung membulat saat melihat istrinya sedang muntah di westafel. Raka mendekat dan tangannya langsung terulur ke arah tengkuk Bila. "Kamu Kenapa sayang?"


Bila yang merasakan sentuhan tangan di tengkuknya menoleh lewat bahunya dan ajaib rasa mual yang sedari tadi mengaduk-aduk perutnya langsung hilang seketika. "Aku baik-baik saja Mas. Tadi perutku hanya terasa tidak enak." Jawabnya seraya mengamit lengan Raka dan bersandar di bahu kokoh sang suami.


"Kamu yakin baik-baik saja?" Raka kembali bertanya untuk memastikan istrinya baik-baik saja.


Bila mengangguk lemah, karena tenaganya seakan habis setelah memuntahkan seluruh isi perutnya tadi.


"Kuat untuk sholat kan?" Bila kembali mengangguk dan melepaskan tangan Raka. Kemudian mulai mengambil wudhu di bantu Raka yang tidak membiarkan Bila jauh darinya.


Selesai sholat, Raka benar-benar tidak mengizinkan Bila untuk melakukan apapun. "Kamu tunggu di sini! Biar Mas yang buatkan sarapan untuk kita." Ucap Raka datar namun terdengar seperti perintah di telinga Bila. Tapi sebagai seorang istri, dia mana mau membiarkan suaminya yang memasak. Sedangkan dia menunggu seperti seorang ratu.


"Tapi Mas____


Raka menempelkan telunjuknya di bibir Bila, membuat istrinya berhenti untuk protes. Hati Bila berontak, ia sebenarnya mau protes dan tidak akan membiarkan Raka mengambil alih tugasnya. Tapi, perintah Raka tidak boleh ia bantah.


"Udah, diam di sini atau kamu tidak akan Mas izinkan melakukan apapun!" Raka bangkit berdiri dan berjalan ke luar dari dalam kamar.


Bila menghela napas panjang, ia kemudian menyandarkan tubuhnya di headboard ranjang. Tangannya meraih ponselnya yang ada di atas nakas. Jari-jemari lentiknya menari-nari di atas keyboard untuk mencari cara mengatasi morning sickness. Karena kalau terus seperti ini, otomatis tugasnya akan selalu diambil alih oleh Raka. Bila tidak mau hal itu terjadi.


Saat sedang serius membaca, Raka masuk ke dalam kamar bersama sarapan yang ia bawa di atas nampan. Bila mengangkat dagunya sedikit dan menatap suaminya yang sudah duduk manis di hadapannya.


"Taruh ponselnya, sarapan dulu ya sayang."


Bila meletakkan ponselnya di atas nakas dan mengambil nampan yang di bawa suaminya. Ia memakan sandwich isi buah alpukat yang di buatkan Raka. Matanya terpejam menikmati sensasi gurih di lidahnya saat mengunyah sandwich tersebut.


Tangannya terangkat dan memberikan jempol untuk Raka. "Enak Mas, thank you hubby." Sebuah senyuman tulus langsung terukir di bibirnya.


"Sama-sama sayang." Raka menunjuk pipi kanannya dengan telunjuk. Membuat Bila terkekeh pelan dan memberikan ciuman di pipi Raka. "Yang ini juga mau." Ucapnya seraya menunjuk pipi kirinya.


Ah, Raka benar-benar jail. Ia tidak tau saja, jantung Bila sudah berdebar-debar bak pelari maraton yang ketinggalan jauh. Semburat merah pun juga sudah muncul di kedua pipinya. Tapi tetap saja, dengan kekuatan yang masih ada. Bila mendekatkan wajahnya berusaha menggapai pipi Raka.


Saat jarak sudah tak ada di antara keduanya, bukan pipi yang di dapat Bila. Justru bibir yang memberinya perintah yang mendarat mulus di bibirnya. Membuat jantung Bila langsung loncat dari sarangnya dan membuat dirinya tergagap. Saat mendapat serangan mendadak dari suaminya.


Cukup lama keduanya larut dalam ciuman panjang nan memabukkan. Namun, langsung berhenti saat mendengar protes dari Bila. "Aku lapar!" Dua kata itu, membuat Raka langsung menghentikan kegiatannya. Karena ia tidak mau mendapat amukan dari sang istri kalau tidak membiarkannya sarapan.


"Mas akan mandi, karena ada meeting pagi ini." Raka beranjak dari ranjang setelah mengecup puncak kepala istrinya dan segera melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Bila yang sudah selesai sarapan, langsung turun dari ranjang untuk menyiapkan keperluan suaminya. Kemudian kembali naik ke atas ranjang tepat sebelum Raka ke luar dari kamar mandi. Fiuhh, hampir saja! Batinnya.


"Bee, kamu barusan ngapain?" Terdengar suara Raka dari walk in closet.

__ADS_1


Bila tidak langsung menjawab, karena ia merasa heran. Sebab, panggilan suaminya kembali berubah untuknya. Mereka memang tidak menetapkan panggilan khusus sih. Tapi tetap saja, ia sedikit heran dengan panggilan itu.


Bila terperanjat kaget saat kepala Raka menyembul dari balik pintu walk in closet. "Bee, Mas manggil kamu? Barusan kamu ngapain? Kan udah di larang tadi untuk melakukan apapun?" Cecar Raka sambil menatap lurus ke arah istrinya.


Bila menghela napas berat. "Aku hanya menyiapkan keperluan Mas. Aku juga sudah lebih baik setelah sarapan." Jawab Bila seraya merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Moodnya benar-benar kacau saat ini. Ditambah lagi, Raka yang melarangnya melakukan apapun. Membuat emosinya benar-benar tak terkendali.


Raka yang mendapatkan warning istrinya tengah merajuk langsung bergegas menghampiri istrinya. "Bee, kamu marah?" Karena tidak mendapat respon, Raka mencoba mengusap pundak istrinya.


"Sudah sana siap-siap! Nanti Mas telat ke kantornya!" Serunya dengan nada ketus.


Sepertinya, Raka harus segera mempersiapkan diri untuk menghadapi mood ibu hamil yang biasanya tidak terkendali dan selalu berubah-rubah. Tampa mengatakan apapun, Raka kembali masuk ke dalam walk in closet untuk bersiap ke kantor.


"Bee, Mas berangkat ya." Raka membelai kepala Bila dan mengecup pipi istrinya. Bila hanya diam dan tidak mengatakan apapun dan membiarkan Raka pergi begitu saja.


Flashback Off


"Tuan, apa ada masalah?"


Raka menoleh sebentar ketika Aksa berdiri di sampingnya. "Tidak ada, aku hanya sedang berpikir." Jawab Raka memberi alasan.


"Baiklah, mari kita berangkat. Perwakilan dari Group J sudah dalam perjalanan ke tempat pertemuan." Aksa berbalik dan meninggalkan Raka sendirian di dalam ruangannya. Raka berjalan ke arah meja kerjanya dan mengambil tas kerjanya. Lalu melangkah ke luar dari dalam ruangannya.


Saat melewati meja sekretarisnya Raka menghentikan langkahnya. "Adara, kalau ada yang mencari saya. Katakan kalau saya ada meeting di luar. Kalau memang penting, suruh dia menunggu saya di dalam ruangan saya." Perintah Raka tampa ekspresi.


"Baik tuan."


Setelah mengatakan itu, Raka langsung berlalu dari hadapan sekretarisnya dan masuk ke dalam lift yang sudah terbuka. Karena Aksa sudah lebih dahulu masuk ke dalam lift.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Fokus saja pada kemudimu!" Suara Raka memecah keheningan yang dirasakan keduanya.


"Tidak apa-apa!" Jawab Aksa dan kembali fokus dengan kemudinya.


Raka menghela napas gusar, ia tau Aksa sangat penasaran dengan apa yang tengah ia pikirkan. "Istriku sedang merajuk." Raka mulai buka suara, tampa di minta dan tampa di paksa. Membuat Aksa kaget bukan main, jarang-jarang Raka mau cerita sebelum ia memasang jurus andalannya yaitu mengganggu Raka sampai pria itu mau mengatakan apa yang tengah ia pikirkan.


"Ternyata menghadapi mood ibu hamil sangat sulit." Akunya jujur.


Apa? Hamil? Jadi Bila sedang hamil? Aksa langsung terkekeh. "Menghadapi ibu hamil itu, harus punya banyak stok sabar. Karena kedepannya yang akan kamu alami jauh lebih sulit." Terangnya memberi wejangan, seperti orang yang sudah berpengalaman. Padahal masih setia dengan status jomblonya.


Pletakk


Tangan Raka mendarat untuk menyentil kening Aksa, membuat sang asisten meringis kesakitan. "Ck, kamu bicara seperti orang sudah berpengalaman saja. Nanti, setelah kamu menikah. Rasakan sendiri sensasinya menghadapi ibu hamil itu seperti apa?" Decak Raka kesal.


Tak terasa, mobil mereka sudah memasuki restoran tempat meeting di adakan. Mereka berdua segera turun dan memasuki restoran yang sudah mereka booking sebelumnya untuk ruangan VIP-nya.


πŸ’πŸ’πŸ’


Bila merasa sangat bosan karena tidak melakukan apapun. Setelah mengirimkan pesan pada asistennya untuk menghendle butik. Ia hanya berguling-guling di atas ranjang sambil sesekali memainkan handphonenya.

__ADS_1


Aku kangen Mas Raka. Gumamnya dalam hati. Kemudian sebuah ide terlintas di kepalanya. Dengan semangat ia masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya dengan segera. Selesai mandi, ia langsung berpakaian dan memoleskan make up tipis serta lipstick warna nude yang tentu saja aman untuk ibu hamil. Karena ia tidak mau ambil resiko dengan memakai produk yang akan membahayakan kehamilannya.


Selesai bersiap, ia ke luar dari dalam kamar dan turun ke bawah. Kemudian, melangkah ke luar dari dalam rumah. "Mas Raka akan marah nggak ya?" Tanya Bila bermonolog pada dirinya sendiri setelah berada di dalam mobil. Bismillah, aku sudah tidak bisa menundanya lagi. Apalagi tadi aku mendiamkannya. Ah benar, aku harus tetap pergi. Bila langsung menghidupkan mesin mobilnya dan melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang meninggalkan kediamannya menuju kantor suaminya.


Sampai di kantor Raka, ia meminta security untuk memarkirkan mobilnya. Sementara dirinya langsung melangkah masuk ke dalam kantor suaminya.


"Permisi, apa tuan Raka ada di tempat?" Tanya Bila ramah saat berdiri di depan meja resepsionis.


"Mohon maaf, apa sudah ada janji sebelumnya? Karena tuan Raka sedang tidak ada di tempat." Jawab salah satu petugas resepsionis yang di tanya Bila.


"Belum, tapi saya istrinya. Apa saya boleh menunggu di ruangannya saja?" Bila menjawab dengan nada yang masih sama, namun langsung di tanggapi kekehan oleh kedua staff resepsionis itu.


"Baiklah nona, anda mungkin orang ke sekian yang mengaku sebagai istri, kekasih, tunangan atau yang lainnya. Jadi jangan terlalu banyak menghayal, nanti kalau jatuh sakit." Ujar salah satu staff resepsionis yang duduk di sebelah yang menjawab pertanyaan Bila pertama kali.


Bila berusaha mengendalikan emosinya yang sudah hampir meledak. Mereka bicara seolah-olah dirinya adalah seorang pembohong besar, yang mengaku-ngaku sebagai istri bos mereka. Bila mendesah kuat dalam hati, ia benar-benar merasa di rendahkan.


"Permisi, apa bos kalian ada?"


Bila yang masih emosi melirik tajam wanita cantik dan seksi yang sedang berdiri di sampingnya. Karena tujuannya juga untuk bertemu Raka--suaminya.


"Maaf, apa sudah ada janji sebelumnya?" Pertanyaan yang sama di lontarkan kepada wanita itu.


"Belum, tapi saya kekasihnya." Jawab wanita itu bangga.


Heh, kekasih? Tambah lagi satu ulat bulu yang menjadi pengganggu. Bila langsung tersenyum sinis. Sementara kedua resepsionis langsung saling pandang. Karena ada dua orang wanita yang ingin bertemu dengan CEO mereka dan mengaku memiliki hubungan dengan bos mereka itu. Tapi yang satu mengaku sebagai 'istri' dan yang satu sebagai 'kekasih'.


Seakan bisa telepati, keduanya sepakat lebih percaya kepada yang mengaku sebagai istri. Karena mereka tau, CEO mereka memang sudah menikah.


"Bee...!"


Bila menoleh, karena mendengar suara orang yang ia rindukan. Wanita itu langsung tersenyum saat Raka berjalan menghampirinya.


Tampa di duga, wanita yang berdiri di samping Bila langsung menghampiri Raka dan bergelayut manja di lengan kekar Raka. "Sayang, aku kangen." Membuat Bila kehilangan kata-kata dan senyumnya langsung surut seketika. Berganti menjadi ekspresi sedatar papan dengan sorot mata setajam pedang yang siap menusuk musuhnya.


Aksa yang berjalan di belakang Raka langsung terbelalak kaget saat menyaksikan pemandangan horror di depannya. Apalagi saat tatapannya bersirobok dengan tatapan maut Bila. Aksa seketika membeku dan tidak bisa berkutik sedikit pun.


Raka, you will die! Lirih Raka pada dirinya, saat matanya menatap mata istrinya yang seakan-akan siap menelannya hidup-hidup. Sama halnya dengan Aksa, Raka sama sekali tidak bisa berkutik dan tubuhnya membeku setelah mendapat tatapan mata Bila. Bahkan lidahnya terasa kelu. Kata-kata yang sudah ia susun untuk membentak wanita gila yang memeluk lengannya, tercekat di tenggorokan. Ia benar-benar ingin membunuh wanita yang datang entah dari mana dan sedang mencoba bermain dengan dirinya dan Bila.


.


.


.


.


to be continue

__ADS_1


Setiap pernikahan, siapapun orangnya. Pasti akan ada aja cobaan yang menyertai langkah mereka. Setiap orang yang memiliki pasangan, pasti tidak akan luput dengan yang namanya godaan. Tergantung bagaimana masing-masing pasangan dalam menyikapi semua permasalahan itu.


Kalau kalian di posisi Bila, kalian akan melakukan apa? Karena ini realite banget sama kehidupan nyata yang banyak terjadi saat ini.


__ADS_2