
Qonita yang baru saja pulang dari butik tempatnya bekerja, merasa ada yang mengikuti.
Sesekali dia menoleh ke arah belakang. Ia ingin memastikan, kalau taksi yang ditumpanginya saat ini tidak ada yang mengikuti.
"Pak, lebih cepat lagi, ya." Qonita meminta pada sopir taksi untuk melajukan mobilnya dengan lebih cepat.
"Maaf, Mbak. Di depan macet," sahut sopir yang berada di balik kemudi.
Perasaan Qonita tidak enak. Ia sangat meyakini, kalau saat ini ada seseorang yang sedang membuntuti dirinya.
Namun siapa sebenarnya orang tersebut. Apakah mungkin kalau itu semua hanya sekedar perasaan Qonita semata.
Setelah hampir satu jam terjebak dalam kemacetan, akhirnya Qonita dapat bernapas dengan lega. Taksi yang ditumpangi olehnya sudah sampai di depan gerbang rumahnya.
Bergegas ia pun masuk ke dalam, karena tidak ingin ada sesuatu yang kemungkinan akan membahayakan dirinya.
Entahlah, semenjak keributan di butik tadi siang karena ulah Viona, Qonita menjadi selalu merasa was-was.
"Segarnya," gumam wanita berbibir tipis itu.
Dia baru saja mandi, hingga rasa lelahnya pun hilang seketika.
Ia mendengar ponsel miliknya berdering sedari tadi. Bergegas Qonita meraih benda pintar yang tergeletak di atas nakas.
"Mas Farhan," gumamnya seraya menyunggingkan senyuman.
__ADS_1
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Qonita pun langsung menjawab panggilan telepon dari sang pujaan hatinya.
"Assalamu'alaikum, Mas."
Qonita terlihat tengah mendengarkan apa yang sedang dikatakan oleh Farhan. Ia menganggukkan kepalanya dengan berulangkali.
"Iya, Mas. InsyaAllah aku pasti baik-baik aja," ujarnya yang tidak lama kemudian menutup panggilan telepon dari calon tunangannya itu.
Sejenak Qonita pun terdiam sembari duduk di pinggir tempat tidur miliknya.
"Apa maksud Mas Farhan?" gumam Qonita dengan bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Farhan tiba-tiba saja meminta agar Qonita lebih berhati-hati, dan tidak keluar rumah tanpa sepengetahuannya.
Tidak biasanya lelaki tersebut bersikap over protect pada Qonita. Apalagi sampai meminta Qonita untuk selalu memberinya kabar.
Alangkah terkejut wanita pemilik bibir tipis itu. Dia melihat David-mantan suaminya, kini berada di rumahnya sendiri.
Dari mana lelaki itu tahu alamat kediaman Qonita. Bukankah Qonita sendiri tidak pernah memberitahu dimana tempat tinggalnya.
David yang tengah memaksa pada Pak Lukman dan Bu Fatmah agar diizinkan untuk bertemu dengan Qonita, menyadari keberadaan mantan istrinya itu yang baru keluar dari kamarnya.
Dengan bergegas dirinya menghampiri Qonita yang berdiri mematung tidak jauh dari ruang tamu.
"Nita-" ucapnya seraya berusaha untuk meraih tangan wanita berhijab tersebut.
__ADS_1
"Jaga sikap kamu, Mas!" tegas Qonita dengan terlihat nyalang.
Kedatangan mantan suaminya pada saat itu saja sudah membuat Qonita merasa marah, ditambah lagi saat David berusaha untuk menyentuhnya.
"Maaf, Nita. Aku gak bisa mengontrol diriku sendiri," ucap David dengan menunjukkan ekspresi wajahnya yang penuh dengan penyesalan.
Qonita pun memalingkan wajah dari mantan suaminya tersebut. Sebisa mungkin dirinya berusaha untuk menahan rasa marah yang sudah meluap.
"Mau apa kamu datang ke sini, Mas? Dan siapa yang memberitahu alamat ku pada kamu?" tanya Qonita dengan dibarengi oleh sorot mata yang penuh selidik.
David tersenyum pada Qonita. Ia menarik napasnya dengan perlahan.
"Kamu gak perlu tau darimana aku mendapat alamat kamu ... yang perlu kamu tau hanya satu, yaitu aku masih mencintai kamu, Nita!"
David mengungkapkan rasa penyesalannya terhadap Qonita, karena dia sudah menorehkan rasa sakit pada hati wanita itu.
Dia pun mengatakan, kalau dirinya tidak pernah berniat untuk menjatuhkan talak pada mantan istrinya tersebut. Semua itu terjadi lantaran David dilanda oleh emosi kala itu.
"Sudahlah, Mas. Semuanya sudah berlalu, dan sebaiknya menikahlah kamu dengan Tyas ... bukankah hubungan kalian berdua sudah terlalu jauh? Tidak baik kalau terlalu lama seperti itu, nanti bisa nambah dosa."
Sengaja Qonita berkata demikian, agar David paham kalau Qonita sudah tidak mengharapkannya lagi.
"Tapi, Nit. Aku benar-benar masih sayang sama kamu."
David maju selangkah, hingga dirinya kian mendekat pada Qonita.
__ADS_1
"Kalau kamu menolak ku ... Aku akan-" David memotong sejenak kalimat yang dilontarkannya.