
Raka mengambil piring dan menyendok makanan seraya memanggil sang istri. "Sayang."
"Hmmm." Bila masih belum mau melihat ke arah suaminya.
"Sayang, katanya lapar?" Goda Raka sambil tersenyum tipis.
"Iya kamu...." Bila menghentikan ucapannya saat melihat Raka menyodorkan sendok ke mulutnya. Bila mendengus dan menyantap makanan yang disodorkan Raka. "Menyebalkan!" Gumamnya dengan pipi bersemu merah.
"Tapi kan kamu cinta?" Bisik Raka di telinga istrinya membuat Bila mendelik marah melihat suaminya yang tiba-tiba bertingkah sangat menyebalkan.
"Tau ah gelap." Bila merajuk, namun tetap memakan makanan yang disodorkan Raka. Membuat bibir Raka berkedut menahan tawa.
Ah! Kenapa istrinya hari ini sangat-sangat menggemaskan? Raka benar-benar tidak bisa menahan tangannya yang sudah gatal ingin mencubit pipi putih mulus istrinya yang dihiasi rona merah karena ulahnya.
Sementara kedua jagoan kecilnya tidur dengan nyaman dalam dekapan hangat wanita yang melahirkan mereka. Yang membuat Raka semakin gemas adalah mulut kecil kedua bayi itu bergerak-gerak karena baru saja selesai minum susu langsung dari pabriknya.
"Lihat mulut mereka."
Saat mendengar kata-kata suaminya, atensi Bila langsung tertuju pada dua makhluk kecil di lengannya. "MasyaAllah nak, kalian gemesin banget sih. Nggak kayak daddy kalian..." Bila mengangkat tatapannya. "Menyebalkan!"
Raka langsung cemberut dan mengurucutkan bibirnya lucu. "Sayang... kenapa kamu mengatakan suamimu menyebalkan di depan anak-anak?"
Sekarang gantian Raka yang merajuk dengan wajah kesal. Melihat hal itu, Bila hampir tertawa karena suaminya merajuk seperti itu. Membuat dirinya terlihat lucu dan menggemaskan. Ia melirik Bila yang sama sekali tidak membujuknya dan memilih mengabaikan dirinya dengan segera menidurkan kedua anaknya di box bayi.
Raka semakin kesal dibuatnya, ia berdiri dan berlalu meninggalkan kamar yang langsung menbuat Bila tertawa terpingkal-pingkal sepeninggal suaminya itu.
"Aduhh lucunya." Bila mengusap matanya yang berair karena terlalu lama tertawa. Ah! Bayi besarnya benar-benar lucu kalau sedang dalam mode kesal.
πππ
Aksa sedikit kewalahan mengurus bayi yang sedari tadi tidak berhenti menangis. Sudah ia beri susu karena pikirnya bayi itu lapar, namun bayi itu tidak mau meminumnya. Aksa juga memeriksa apakah dia buang air besar sehingga menyebabkan bayi itu risih. Akan tetapi, bayi itu sama sekali tidak buang air besar.
Pria tampan itu benar-benar bingung dan mencoba menggendongnya berharap bayi itu berhenti menangis. Harapan Aksa tinggal harapan, karena bayi itu tetap tidak mau berhenti menangis.
"Ya Allah, bagaimana cara menenangkannya?" Aksa frustasi dengan keadaan ini, sementara Raka tidak memberi kejelasan akan status bayi ini karena memang bukan anaknya. Pastinya yang akan menderita adalah dirinya. Sudah belum menikah malahan sudah punya anak aja.
__ADS_1
Ditengah keputusasaannya dalam menenangkan sang bayi, ponselnya tiba-tiba berbunyi dan terpampang nama sang nyonya besar alias istri Raka--Salsabila. Aksa senang bukan main karena dirinya seakan menemukan oase di padang gurun.
"Assalamualaikum Bila." Ucap Aksa saat menjawab telphon dari Bila.
"Walaikumsalam Aksa..." Bila terdiam saat mendengar suara tangisan bayi. "Bayinya kenapa?"
"Entahlah, dari tadi sudah aku coba menenangkannya tapi dia tetap menangis."
"Apa sudah diberi susu? Mungkin dia lapar."
"Sudah Bil, dia nggak mau. Sumpah, aku bingung banget."
"Kamu dimana sekarang?"
"Di apartment, kenapa?"
"Kamu bawa bayinya ke rumah."
"Sekarang?"
"Siap bos." Aksa mematikan sambungan telphon dan segera meninggalkan apartment nya.
πππ
Raka masuk ke dalam kamar setelah bosan merajuk kepada istrinya.
"Siapa yang telphon?" Tanya Raka, karena tadi ia sempat mendengar sang istri berbicara dengan seseorang.
"Ohh, tadi aku telphon Aksa. Ternyata bayi itu sedang rewel dan tidak berhenti menangis. Ya udah, aku minta Aksa datang ke sini. Paling sebentar lagi datang." Jawab Bila panjang lebar. Ia sudah lupa kalau dirinya sedang marah dan lupa kalau Raka juga sedang merajuk kepadanya.
Tak menunggu waktu lama, bel rumah mereka berbunyi dan Bila langsung beranjak ke depan untuk membukakan pintu.
"Berikan padaku." Bila mengulurkan tangannya untuk mengambil bayi itu dari tangan Aksa. Namun di tepis Raka karena tidak mau istrinya bersentuhan dengan Aksa.
"Berikan padaku dulu."
__ADS_1
Bila memutar matanya jengah, jelas-jelas ini bayi sudah menangis, suaminya masih possessive minta ampun. Sungguh merepotkan pikirnya.
Raka segera memgambil bayi itu dari tangan Aksa dan menyerahkan ke tangan Bila. Ajaib, bayi itu langsung diam setelah berada dalam gendongan hangat Bila membuat Aksa melongo. Padahal ia sudah berupaya sekuat tenaga untuk menenangkan bayi itu. Tapi yang terjadi si bayi tetap menangis.
"Ohh sayang, haus ya." Bila membelai pipi bayi itu lembut, lalu membawanya ke dalam kamar untuk ia susui.
"Sayang... " Raka bermaksud menghentikan Bila untuk menyusui bayi itu. Tapi tatapan istrinya membuat pria itu menelan lagi kata-kata yang sudah siap ia ke luarkan.
Raka menatap punggung istrinya yang perlahan menghilang di balik pintu, lalu menghela napas lelah. Bagaimana ini? Apa istrinya berencana mengadopsi bayi itu? Ah! Yang benar saja? Raka mensugar rambutnya kasar dan menghempaskan tubuhnya ke sofa yang ada di sana.
"Kenapa membawanya ke sini?" Raka menatap asistennya tajam. Bayi itu yang menimbulkan kesalahpahaman dan menyebabkan istrinya pergi dari rumah. Sungguh ia masih belum bisa melupakan bagaimana kacaunya dirinya saat mengetahui istrinya pergi dari rumah.
Rasa kesalnya benar-benar menumpuk, namun perasaan aneh ia rasakan saat menggendong bayi itu walaupun sebentar. Bayi itu tidak bersalah bukan? Dia tidak tau apapun. Ia hanya korban dari ketamakan orang tuanya yang rela menjual anaknya demi menghancurkan keluarga orang lain. Tapi siapa? Apa rubah tua itu?
"Aku sudah frustasi karena bayi itu tidak mau berhenti menangis. Aku beri susu tidak mau, aku gendong masih tetap menangis. And then, your lovely wife help me. Dia tiba-tiba menelphonku dan mendengar tangisan bayi itu. Sebagai seorang ibu, mendengar tangisan bayi kamu pikir apa yang akan ia lakukan?" Aksa memandang sahabat sekaligus atasannya itu untuk menunggu jawaban Raka.
"Tentu ia berusaha menenangkannya. Tapi karena jauh, dia akan bertanya kepadamu apakah sudah diberi susu atau belum."
"That's right, Bila memang menanyakan hal itu dan aku jawab sudah. Kamu pasti tau apa yang ia katakan selanjutnya."
Yah.. Raka tau apa yang akan dikatakan istrinya. Pastinya Bila akan memerintahkan Aksa membawa bayi itu ke rumah mereka. Makanya bayi itu ada di sini saat ini dan sedang di susui oleh istri tercintanya.
"Lalu, apa aku harus mengadopsinya?" Karena otomatis kalau Bila menyusuinya sampai kenyang sebanyak 5 kali. Maka bayi itu akan menjadi mahrom dengan Bila sama seperti Zahran dan Zayyan.
"Kalau menurutku iya." Jawab Aksa tegas. Sebab kalau orang itu berulah kalian punya kekuatan hukum karena anak itu sudah menjadi anak kalian." Sambungnya lagi.
Raka menghela napas berat. Benar apa yang dikatakan Aksa. Kalau ia tidak mengadopsinya maka nanti akan ada masalah di kemudian hari. "Tapi bagaimana cara menjelaskan kepada mertuaku?" Raka teringat ayah Rasyid dan ibu Sukma. Mereka tidak akan menerima bayi itu begitu saja. Pasti mereka akan mempertanyakan asal usul bayi itu. Ah! Sungguh menyebalkan!
.
.
.
.
__ADS_1
to be continue