
Mendengar itu raut wajah Amanda menjadi sedih. Dia memang belum pernah melihat Samuel secara langsung, akan tetapi perempuan mana di negara ini yang tidak mengenal Samuel. Dan di saat ia mendengar kalau dia akan dijodohkan dengan Samuel, tentu saja Amanda sangat senang karena bisa mendapatkan laki-laki yang menjadi idaman semua perempuan
***
Tapi sekarang seperti apa yang dikatakan oleh ibunya kalau Samuel tidak mau dijodohkan dengannya, tentu saja membuat Amanda sangat sedih, semua harapannya untuk menjadi seorang istri direktur tampan dan mapan kini hancur lebur begitu saja.
" Kamu tenang saja, ibu akan usahain bagaimana pun caranya agar kamu bisa menjadi istri Samuel, karena hanya kamu yang pantas berdiri di samping nya " Ujar maharani kepada putri tunggalnya yang kini terlihat sangat sedih
Amanda menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kepada ibunya, untuk kali ini ia akan percayakan semuanya kepada ibunya. Karena ibunya dan juga Tasya yaitu ibu Samuel adalah teman baik, masih banyak kesempatan untuknya menggapai mimpinya untuk bisa menjadi orang penting yang berdiri di samping Samuel.
***
Tara terbangun dari tidurnya karena mendengar suara berisik yang tercipta dari kamar Dita. Dengan nyawa yang masih terkumpul setengah tara bangkit lalu berjalan keluar untuk menghampiri adiknya, karena dari tadi dita terdengar seperti terus saja muntah, yang membuat tara khawatir dengan kondisi adiknya.
Karena pintu kamar yang tidak dita kunci, tara pun bisa langsung masuk lalu mencari dita dikamar mandi. Dan benar saja tara menemukan nya di sana, dengan alis yang berkerut tara langsung menghampiri dita.
" Ada apa?. Apa kamu ada salah makan? " Tanya tara dengan wajah nya yang terlihat sangat khawatir
Dita menggelengkan kepalanya, sambil mengusap bibir nya. ___ " Aku baik-baik aja kak. Mungkin cuman masuk angin "
Dengan raut wajah yang gusar, tara memapah tubuh dita untuk membaringkannya ke tempat tidur.
" Aku anterin kamu ke rumah sakit ya "
" Nggak perlu kak. Aku baik-baik aja, istirahat sebentar nanti juga sembuh sendiri "
__ADS_1
Tara pun hanya bisa menuruti apa yang adiknya itu katakan, semoga saja apa yang dita katakan itu benar.
Setelah memastikan kalau dita sudah baik-baik saja, dia pun kembali ke kamarnya untuk segera membersihkan dirinya, karena hari ini dia harus mewakili ayahnya untuk memimpin rapat perusahaan.
***
Tiga hari kini sudah berlalu, bukannya dita sembuh, kini malah semakin parah.
Hampir setiap pagi dia terus saja selalu memuntahkan semua isi perutnya, hingga membuat tubuhnya lemas tak bertenaga. Dan sudah tiga hari juga dita tidak masuk kuliah, karena kondisi nya yang tak juga kunjung membaik
Melinda, Wibowo, mau pun tara sudah melakukan berbagai cara agar dita mau pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisinya, namun bagaimana pun caranya, dita terus saja menolak. Dia terus saja beralaskan kalau dia akan sembuh dengan sendirinya dengan meminum obat yang dibeli di apotik.
" Sampai kapan sih kamu begini terus?, apa kamu nggak capek ngerepotin kita terus. Apa susahnya sih pergi ke rumah sakit " Ucap tara dengan sedikit kesal, karena pagi ini dita kembali membangunkan seisi rumah dengan suara muntahannya
" suuutt...Nggak boleh ngomong begitu sama adik kamu " Potong Melinda yang baru datang lalu langsung mengelus lembut belakang dita.
Setelah menghembuskan nafasnya kasar, tara pun menuruti apa yang ibunya katakan. Ia berjalan kembali ke kamar nya, untuk melanjutkan istirahatnya yang sempat diganggu oleh Dita.
' Maafkan aku Kak, aku nggak bermaksud ingin membuat kalian semua repot. Tapi aku takut kalau pergi ke rumah sakit, kalian akan tahu kalau aku sudah tidak perawan lagi ' Batin Dita.
Ya. Itu lah hal yang sangat ditakutkan oleh Dita, sebenarnya terlalu berlebihan memang. Akan tetapi ketakutan itu membuat Dita tidak bisa lagi berpikir dengan benar, yang sekarang dia lakukan terus saja menolak untuk pergi ke rumah sakit, walau pun jujur dia juga sudah tidak kuat lagi dengan rasa yang dia rasakan.
" Mas. Aku semakin khawatir melihat kondisi dira sekarang, tubuhnya semakin lemas karena dia terus saja muntah kalau dia menelan sesuatu " Ujar Melinda, di saat mereka menyantap makan siang, tentunya dengan minus dita dimeja makan itu.
" Tapi kita harus bagaimana?, Dia terus saja menolak kalau diajak ke rumah sakit " Jawab Wibowo yang juga dapat dilihat dari raut wajahnya kalau dia sangat mengkhawatirkan kondisi sang putri
__ADS_1
" Oh ya Pah. Kenapa kita nggak panggil Dokter Susi saja datang ke rumah untuk memeriksa kondisi dita " Sahut tara.
Dokter Susi adalah adik dari Melinda, bisa dibilang Dokter Susi adalah dokter pribadi keluarga mereka, karena mereka dapat memanggilnya kapan saja ke rumah, kalau ada sesuatu hal yang penting.
" Iya benar. Kenapa papah nggak kepikiran dari kemarin " Jawab Wibowo sambil menggaruk kepalanya.
Setelah selesai makan siang, Wibowo langsung menghubungi adik iparnya, menanyakan apakah dia bisa datang ke rumah untuk memeriksa kondisi dita yang tak kunjung sembuh dari sakit yang tidak diketahui.
Dan kebetulan sekali Susi hari ini tidak terlalu sibuk dan bisa menyempatkan waktunya untuk datang ke rumah keluarga maheswari.
***
Pukul 14:30~~~~
Dokter Susi pun akhirnya datang. Ia langsung disambut oleh Melinda.
Susi mencoba bertanya kondisi dita kepada kakaknya, untuk mengetahui tindakan apa yang akan dia lakukan setelah mengetahui gejala yang ada pada Dita.
" Setiap pagi dia selalu saja muntah, setelahnya dia benar-benar nggak bisa makan apa-apa lagi, kalau dia makan sedikit saja maka dia akan muntah lagi "
" Dia hanya bisa kembali mengisi perutnya saat malam hari, saat malam dia bisa makan dengan sangat lahap dan banyak. Tapi kembali lagi besoknya dia akan kembali muntah, menghabiskan semua makanan yang tadi malam dia makan " Melinda menjelaskan secara detail tentang kondisi dita.
Saat mendengarkan semua gejala yang dialami oleh Dita, seperti apa yang Melinda jelaskan. Susi mengerutkan alisnya, namun dengan cepat dia menggelengkan kepalanya, membuang semua pikiran yang tidak-tidak.
Dita sangat kaget saat melihat tantenya yaitu Susi masuk kedalam kamarnya, namun karena tubuhnya yang sangat lemas, dia pun tidak bisa melakukan apa pun.
__ADS_1
" Dita. Kita semua sangat khawatir dengan kondisi kamu, karena kamu terus saja menolak untuk dibawa ke rumah sakit, papah terpaksa memanggil Susi datang kesini untuk memeriksa kamu, tanpa ngomong dulu sama kamu " Ucap Wibowo yang masuk kedalam kamar bersama dengan tara.
Susi pun kemudian memulai pemeriksaan nya dengan alat-alat yang ia bawa. Dengan jantung yang terus berdegup dengan kencang, dita pun hanya bisa diam, membiarkan tantenya memeriksa tubuh nya_____