
Setelah meminta Angga menunggu, Raka langsung membuka pintu kamarnya dan membuat Bila heran. Karena suaminya hanya masuk seorang diri. Padahal, dia tadi katanya membukakan pintu untuk seseorang yang kemungkinan adalah dokter yang ia hubungi. Ia semakin heran saat suaminya mengambil kerudungnya dan membuat wanita itu semakin penasaran.
"Dokternya mana mas? Apa belum datang?" Tanya Bila saat suaminya mendekat.
"Sudah! Dia ada di luar! Sekarang kamu pakai kerudungmu, karena dokternya seorang pria." Jawab Raka seraya menyerahkan kerudung kepada istrinya.
"Apa? Kenapa dokter pria? Apa tidak ada dokter wanita?" Tanya Bila dengan wajah cemberut namun tetap memasang kerudungnya.
"Nggak ada sayang. Hanya dia yang available saat ini. Namanya Angga, teman SMA mas."
Bila menghela napas berat dan meminta sang suami menutupi kakinya dengan selimut. Terpaksa sudah dia harus ditangani oleh dokter pria. Karena sewaktu pemeriksaan kehamilan sampai melahirkan ia selalu dengan dokter wanita. Sehingga ia merasa sedikit tidak nyaman saja dengan hal itu. Walau bagaimanapun, saat ini ia tidak bisa memilih lagi. Sebab perutnya semakin terasa perih. Lagian seorang dokter juga sudah di sumpah dan tidak akan melakukan hal yang di luar pekerjaannya. Kecuali dia seorang dokter mesum, itu beda lagi ceritanya.
"Ya udah mas, suruh dia masuk aja. Perih banget soalnya." Rengek Bila bersahutan dengan tangisan kedua bayinya yang sudah sesegukan dari tadi.
Raka melangkah ke pintu kamar dan membuka pintu untuk menyuruh Angga masuk.
"Udah boleh masuk nih gue?" Tanya Angga saat Raka membuka pintu.
"Iya, tapi jangan macam-macam ya lo."
"Hai dude, gue ini dokter bukan gigolo." Sewot Angga segera masuk diikuti Raka yang dengan segera mengambil kedua anaknya yang sudah bangun keduanya dan sudah menangis sesegukan. Karena saat Zayyan menangis tadi, Zahran juga ikut bangun dan menangis.
Angga langsung mengeluarkan peralatannya dan mulai memeriksa pasiennya.
πππ
Qyara baru saja bangun setelah tertidur cukup lama sebelumnya. Saat membuka mata, ia langsung tersenyum saat melihat suaminya sedang tertidur sambil memeluk buah hati mereka di atas dadanya. Ia pun mengambil ponsel dan mendokumentasikan moment tersebut.
Tak lama bayinya mulai bergerak dan membuat tidur Aldi terusik. Ia langsung terkejut saat melihat sang istri sudah duduk di sampingnya. Rupanya saat bayinya bergerak tadi, Qyara langsung turun dari ranjang dan menghampiri suaminya.
"Hai sayang, makasih ya udah jagain dia selama aku tidur." Ucap Qyara sambil tersenyum.
"It's okay baby, dia kan anak aku juga."
"Assalamualaikum anak mama dan ayah." Ucap Qyara tatkala mata bayi mungil itu terbuka lebar. Bayi itu langsung menatap ibunya dengan mulut bergerak-gerak seakan ingin mengatakan sesuatu. "Apa sayang? Lapar yah?" Tanya Qyara sambil mengulurlan jarinya dan membuat si bayi langsung membuka mulutnya.
"Hahah, dia emang udah kelaparan ini." Aldi terkekeh melihatnya dan segera menyerahkan anaknya ke pangkuan ibunya.
Setelah memposisikan anaknya, Qyara segera membuka kancing bajunya dan menyusui anaknya. "Oh ya mas, kita belum kasih nama untuk anak kita."
"Aku sudah punya nama untuk bayi kita."
"Siapa mas?"
"Atha Rayhaan Shakeil, yang artinya laki-laki baik yang berparas tampan dan senantiasa dijaga oleh Tuhan." Jawab Aldi menjelaskan.
"Nama yang bagus mas." Qyara langsung tersenyum kepada suaminya. Kemudian menatap bayinya yang masih menikmati minuman favoritenya. "Hai Atha, jadi anak yang baik ya Nak. Terimakasih selama ini sudah berjuang bersama mama sampai kita bisa bertemu seperti ini. I love you sayang." Ucap Qyara seraya mencium bayinya.
πππ
Bila baru saja selesai diperiksa oleh Angga setelah berdebat dengan Raka. Kemudian Angga langsung mengobati bekas sayatan operasi di perut Bila.
"Sebaiknya kamu jangan melakukan aktivitas berat dulu selama lebih kurang 3 bulan. Karena memang proses recovery wanita yang melahirkan normal dan cecar itu beda. Jadi perawatan dan penjagaan kamu juga harus lebih ekstra." Ucap Angga setelah selesai mengobati pasiennya.
"Iya dokter, terimakasih." Angga mengangguk dan segera merapikan peralatan medisnya.
__ADS_1
"Thanks ya Ngga." Ucap Raka sambil menggendong kedua bayinya yang baru saja tenang.
"You are welcome dude." Angga segera berdiri dan menatap Raka. "Oh ya, jangan minta aneh-aneh dulu sama istri lo. Nanti yang ada istri lo nggak sembuh-sembuh lagi." Peringat Angga sambil tersenyum devil. "Puasa dulu ye bro." Imbuhnya sambil terkekeh geli.
"Sialan lo." Umpat Raka tampa sengaja dan langsung mendapat pelototan dari istrinya.
"Mas...! Nggak inget lagi gendong anak hmm? Tolong telinga anakku jangan dicemari. Okay hubby."
Bibir Angga sudah berkedut menahan tawa yang hampir meledak melihat Raka diomeli istrinya.
"Guys, gue mau balik ke Rumah Sakit dulu ya. Soalnya hanya dokter magang yang sedang ada di Rumah Sakit saat ini. Jadi gue harus cepat-cepat balik. Takut ada pasien darurat."
"Oke, take care bro." Ucap Raka walaupun tadi sempat kesal dengan temannta itu. "Kapan-kapan bolehlah kita reunian lagi." Imbuhnya dengan tampang datar.
"Gampang itu, bisa diatur nanti."
Angga segera pergi setelah mengatakan hal itu.
Raka langsung mendekati istrinya dan meletakkan kedua bayinya di samping Bila. Kemudian menyusul Angga ke depan yang baru sampai di depan pintu.
πππ
Pagi pun menyapa, sinar matahari mulai masuk di sela-sela jendela kamar. Akibat semalam si kembar bangun, Bila terpaksa harus bergadang karena keduanya tiba-tiba rewel. Sampai-sampai Bila harus tidur agak ke tengah agar bisa menyusui kedua anaknya sekaligus.
Raka sudah bangun lebih dulu dari Bila dan ia juga sudah selesai mandi serta memandikan kedua anaknya. Setelah memakaikan pakaian Zahran dan Zayyan, Raka segera membangunkan Bila.
"Sayang bangun." Raka membangunkan Bila seraya memberikan kecupan singkat di kening istrinya itu.
"Sudah jam berapa mas?" Tanya Bila sambil mengusap kedua matanya yang sedikit bengkak.
"Anak-anak udah mas mandiin?" Tanya Bila setelah melihat Zahran dan Zayyan sudah rapi.
"Udah dong mommy, kita berdua udah mandi, udah wangi. Mommy aja yang masih bau karena belum mandi." Raka menirukan suara anak kecil seolah-olah anaknya lah yang bicara.
Bila langsung tertawa dibuatnya. "Baiklah sayang, mommy juga akan mandi. Biar wangi kayak kalian." Dia langsung turun dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi.
"Bisa sendiri bee...?" Teriak Raka dari luar.
"Bisa mas, kalau mas bantu siapa yang jagain anak kita?" Saut Bila dari dalam sambil berusaha membuka bajunya sendiri yang harus di buka melalui kepala. Tapi ternyata ia tidak bisa. Alhasil ia kembali ke luar dan menatap Raka dari ambang pintu kamar mandi.
"Sayang...!" Panggilnya lembut.
Raka yang sedang mengajak kedua anaknya bermain langsung menoleh dan menatap istrinya. "Ada apa bee?"
"Bantuin mandi." Pintanya manja.
Raka terkekeh mendengarnya. "Dua bocil bagaimana?"
Bila berpikir sejenak. "Bantuin buka baju aja deh mas."
"Kemarilah."
Bila melangkah ke luar dan berjalan mendekati suaminya. Kemudian Raka segera berdiri dan membantu Bila membuka baju yang ia pakai. Napas Raka langsung tercekat saat menatap tubuh istrinya.
Tahan Raka tahan, ingat Bila masih harus istirahat total. Jangan dulu ya. Raka mensugesti dirinya sendiri agar kembali tenang.
__ADS_1
Lebih kurang 20 menit, Bila selesai mandi. Yah mandi seorang wanita yang belum punya anak dan wanita yang sudah punya anak pasti akan jauh berbeda. Karena wanita yang sudah punya anak akan diburu waktu. Karena ka khawatir anaknya akan menangis kalau ia terlalu lama di dalam kamar mandi.
"Bil...! Kamu udah selesai mandi?"
"Udah mas, kenapa?" Tanya Bila sambil berjalan ke walk in closet.
"Kok cepat?"
Bila tertawa sambil mengambil pakaiannya dan menongolkan kepalanya sedikit. "Aku udah berubah status sayang, jadi seorang ibu kalau mas lupa. Secara nggak langsung durasi mandinya juga udah berubah. Menyesuaikan situasi dan kondisi, hehehe."
Raka langsung menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Seorang wanita akan cepat dalam menyesuaikan dirinya sesuai dengan status yang ia sandang. Saat single, ia akan berusaha menjadi anak perempuan yang baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Saat menikah dan menjadi seorang istri. Ia juga akan berusaha menjadi sebaik-baiknya seorang istri bagi suaminya. Begitupula saat ia diamanahkan menjadi seorang ibu. Maka dia juga akan berusaha menjadi sebaik-baiknya seorang ibu bagi anak-anaknya.
πππ
Qyara yang sedang memangku anaknya, langsung mengambil ponselnya yang berdering.
"Assalamualaikum Bila...!" Qyara langsung tersenyum saat melihat wajah Bila di layar ponselnya. Karena Bila menelphonnya melalui video.
"Walaikumsalam Qya. Selamat mengemban amanah baru ya sayangku. Semoga dedek bayi selalu sehat dan berada dalam lindungan Allah ya. Maaf aku tidak bisa ke sana langsung. Masih recovery nih."
"Iya, tidak apa Bil. Kamu selamat mengemban amanah baru juga ya. Langsung dapat dua lagi, heheh."
"Mana dia? Aku mau lihat anak kamu."
Qyara mengarahkan ponselnya ke bayinya. "Dia lagi bobo Bil, barusan habis aku susui."
"MasyaAllah anak ganteng. Siapa namanya Qya?"
"Atha Rayhaan Shakeil Bil. Nama anak kamu siapa?"
"MasyaAllah nama yang bagus. Nama anakku Zahran Aali Nugraha dan Zayyan Aaqil Nugraha."
"MasyaAllah Bil..." Teriak Qyara tertahan saat Bila mengarahkan kamera ponselnya ke arah kedua bayinya. "Mereka tampan sekali."
"Bil, aku tutup ya. Ada mas Aldi, assalamualaikum."
"Walaikumsalam." Jawab Bila walaupun sambungan telphon sudah diputus Qyara. Alasan Qyara mengakhiri video call mereka saat Aldi datang. Karena Bila sedang tidak memakai kerudung. Oleh karena itu Qyara segera menutup video call-nya.
"Sayang...!" Panggil Raka sambil masuk ke dalam kamar. "Makan dulu yuk, mumpung anak-anak masih tidur. Nanti kalau mereka bangun kamu nggak akan bisa makan."
"Iya mas."
Baru saja Bila melangkah beberapa langkah salah satu bayinya langsung menangis. "Ya Allah Nak, tau aja ya kalau maknya mau makan." Rengek Bila sambil memutar langkah kembali ke tempat bayinya.
"Mas ambilin ya sayang." Raka langsung ke luar dari dalam kamar untuk mengambilkan makanan untuk istrinya.
.
.
.
.
to be continue
__ADS_1