
Pikiran Raka langsung kacau setelah mendengar racauan istrinya. Saking kacaunya, ia sampai tidak fokus dengan kemudinya dan hampir menabrak pembatas jalan kalau Bila tidak terjaga dan menyentakkan lamunan Raka dengan tepukan serta teriakannya.
"Mas Raka awas...!"
Raka langsung mengendalikan kemudinya dengan cepat dan melirik istrinya yang sudah menegang. "Kamu apa-apaan sih Mas? Kamu mau buat kita celaka? Iya?" Bila langsung melirik suaminya dengan tatapan tajam.
Raka hanya diam tidak mau berdebat dan kembali melajukan mobilnya yang sempat ia berhentikan. Bila menatap sebal suaminya dan langsung membuang muka ke arah jalan.
Sungguh sangat menyebalkan saat diabaikan seseorang. Bila mendengus kesal, ia menarik napas dalam-dalam. Berusaha meredam amarah dalam hatinya dan memejamkan mata.
Sampai di rumah Bila melepaskan seatbelt nya dan segera ke luar dari dalam mobil tampa mengatakan apapun. Berjalan dengan langkah cepat tampa menghiraukan panggilan suaminya.
"Bila... Salsabila!" Seru Raka lantang, tapi tetap saja. Bumil satu itu tetap masuk ke dalam rumah tampa menoleh ke belakang sama sekali.
Raka langsung menggerutu kesal dan segera melangkah masuk ke dalam rumah.
πππ
Selesai sholat maghrib, Bila turun ke bawah dan memasak makan malam sederhana. Meskipun dalam keadaan marah, ia tetap harus melayani suaminya. Salah satunya dengan menyediakan makan malam.
Setelah berkutat di dapur dalam waktu lebih kurang 1 jam, masakan yang buat sudah matang dan segera ia salin ke piring saji. Kemudian menatanya di atas meja makan.
Mata hitam kecoklatan Bila menatap lurus kepada seorang pria tampan yang baru turun dengan pakaian rapi. Sepertinya dia akan pergi ke luar. Tampa menoleh ke arah meja makan, pria itu berjalan menuju ke depan rumah. Bila yang melihat itu, mulutnya langsung gatal ingin bertanya. Tapi ia masih gengsi untuk mengeluarkan suara terlebih dahulu. Apalagi dari tadi ia melakukan puasa bicara kepada suaminya itu.
"Kamu mau kemana?" Akhirnya pertanyaan itu meluncur dengan bebas tampa hambatan dari bibir merah merekah Salsabila.
Raka yang berjalan tampa menoleh ke arah meja makan langsung menghentikan langkahnya. Tampa menoleh ke arah sang istri, Raka menjawab dengan suara dingin. "Keluar!"
Bila merasakan hatinya seperti di terjang batu besar yang menghimpit dadanya. Sungguh sesak, seakan ia akan tumbang saat itu juga. Kenapa sakit sekali mendengar suara dinginnya? Batinnya berteriak. Ternyata badai rumah tangganya belum berlalu.
__ADS_1
Dengan langkah lemah Bila berjalan meninggalkan meja makan yang ia biarkan begitu saja dan melangkah naik ke kamarnya.
"Jangan lupa kunci pintunya." Ujar Bila lemah dan menghela napas berat. "Silahkan kamu pergi, dan.... tidak usah kembali." Lirih Bila sambil berusaha menahan tangisnya. Sebab air matanya sudah jatuh membasahi wajahnya yang putih.
Raka menggeram kesal. "Jadi kamu mengusirku? Tapi ini rumahku? Kenapa harus aku yang pergi?"
Bila berbalik. "Oh! Aku lupa kalau ini rumahmu. Baiklah, aku yang akan pergi dari sini."
Raka meremas rambutnya frustasi. Ini tidak benar dan tidak boleh terjadi. Ia pun langsung menyusul istrinya ke kamar dan terkejut saat Bila benar-benar mengambil kopernya. Dengan cepat Raka memeluk Bila dari belakang. Ia tidak mau kalau istrinya pergi dari sisinya. Sudah cukup ia kehilangan kedua orang tuanya dan tidak akan rela kalau harus berpisah dengan istrinya.
"Mas... lepaskan aku!" Seru Bila dengan suara serak, ia sudah tak bisa menahan air matanya lagi. Air matanya mengalir bagai anak sungai dan membasahi wajahnya.
Raka membenamkan kepalanya di pundak istrinya, lalu berkata. "Bee, Mas minta maaf. Jangan pergi sayang, please. Mas nggak mau sendirian lagi."
Detik itu juga, Bila merasakan tubuh suaminya bergetar hebat dan pundaknya terasa basah karena air mata Raka. Yah, suami cool-nya saat ini sedang menangis. Hati Bila serasa diremas kuat saat mendengar tangisan pilu suaminya. Ia sadar betul dan merasa bersalah sudah berkata seperti itu tadi. Ia menyesal karena terbawa emosi yang hampir membuat mereka berpisah. Bila berbalik dan memeluk suaminya dengan erat. Tidak terlalu erat sih, karena ada perut buncit Bila yang menghalangi keduanya.
"Aku juga minta maaf sayang, maaf kalau emosiku berubah-ubah dan tidak stabil. Ini bukan kehendakku, tapi hormon kehamilan yang membuatku begini. Ya, semua ini karena hormon kehamilan." Ujar Bila dengan suara yang teredam tangisnya. Lagi-lagi hormon kehamilan menjadi kambing hitam.
Bila langsung mendongakkan kepalanya saat memdengar suaminya terkekeh. Apa yang lucu? Pikirnya. "Kenapa Mas ketawa? Apa ada yang salah dengan ucapanku?"
Raka menatap mata hitam kecoklatan istrinya. Ia langsung tersenyum lembut. "Kamu nggak salah, hormon kehamilan kamu yang salah." Raka tidak percaya dirinya mengatakan hal itu. Padahal baru beberapa menit yang lalu ia menertawakan ucapan istrinya.
"Kamu jangan meledekku Mas!" Bila menatap suaminya tajam.
"Sayang, siapa juga yang meledek kamu?"
"Kamu," tunjuk Bila dengan bibirnya yang mengerucut lucu.
"Jangan buat ekspresi seperti itu!" Raka mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga istrinya. "Atau... kamu mau Mas Makan?" Suara Raka sudah memberat dan terdengar serak, membuat Bila langsung meremang. Ah! Suaminya sudah on, padahal dia saat ini sangat lapar.
__ADS_1
Tidak mendapat respon dari istrinya, Raka melepaskan pelukan dari tubuh Bila dan berjalan ke luar kamar. Ia merasa istrinya tidak menginginkan dirinya saat ini. "Aku lapar," Raka menghentikan langkah kakinya. Astaga, bagaimana dia bisa lupa kalau istrinya belum makan? Bisa-bisanya dia marah karena istrinya tidak merespon sinyal darinya.
Raka berbalik dan menghampiri sang istri. "Ayo makan sayang." Menggandeng tangan istrinya ke luar dari dalam kamar.
"Setelah ini Mas bisa jenguk si kembar, okay hubby." Sebuah ciuman mendarat di pipi Raka.
Mata Raka langsung berbinar, akhirnya dia akan berbuka setelah beberapa hari berpuasa. Senyumnya tak pernah surut dari wajahnya. Bila yang melihat ekspresi senang suaminya langsung tertawa dalam hati. Mereka duduk berhadap-hadapan dan langsung menyantap makanan yang sudah terhidang sebelumnya.
"Jangan menatapku seperti itu. Nanti aku diabetes loh, karena pemandangan di depanku manis banget."
Selesai kata terucap dan melayang diudara, kemudian ditangkap oleh indra pendengaran Raka. Wajah pria itu langsung memerah dalam sekejap. Hal itu ditangkap dengan baik oleh Bila dan membuat wanita itu tersenyum menggoda kepada suaminya.
"Apa Mas sedang sakit? Kenapa wajah Mas memerah? Ada apa sayang?" Bila berdiri dan menghampiri suaminya. "Mas, are you okay?" Bila malah sengaja mendudukkan dirinya di pangkuan Raka dengan posisi menghadap suaminya itu. Hal itu semakin membuat pria itu kalang kabut. Namun dalam sekejap sebuah senyuman, lebih tepatnya sebuah seringai muncul dari bibirnya.
"Bil... kamu nakal ya sekarang." Suara Raka sudah dalam mode deep voice. Membuat tubuh Bila meremang seketika. Dia yang memulai, malah dia yang deg degan sendiri. Ini namanya senjata makan tuan. Ringisnya dalam hati.
Bila terkesiap saat Raka meraih tengkuknya dan mencium istrinya dengan lembut. "But, i love it. You look so sexy." Tambahnya dan kembali mencium istrinya dengan rakus.
Raka langsung bangkit berdiri dan menggendong istrinya seperti koala tampa melepaskan ciumannya. Pria itu membawa istrinya ke kamar mereka yang terletak di dekat kolam renang. Kamar itu akan lebih sering mereka gunakan karena mengingat kehamilan Bila yang semakin besar. Sehingga akan menyulitkan Bila kalau harus naik turun tangga untuk istirahat atau melakukan hal lain.
Sampai di dalam kamar, Raka langsung menerkam istrinya layaknya singa kelaparan yang sudah tidak makan berhari-hari.
.
.
.
.
__ADS_1
to be continue