Pelangi Setelah Hujan

Pelangi Setelah Hujan
Si kembar Demam


__ADS_3

Aksa tersadar dari linglungnya setelah seorang karyawan menegurnya. Ia pun segera menuju ke kasir untuk membayar barang belanjaannya. Selesai membayar, ia segera meninggalkan supermarket dan kembali ke apartment-nya.


Dalam perjalanan, semua perkataan Rama terngiang-ngiang di benaknya. Ia langsung menghentikan laju kendaraannya dan berhenti di dekat jembatan yang tidak jauh dari kompleks apartment tempat ia tinggal.


Pikirannya benar-benar kacau, ia sama sekali tidak mengerti kenapa ayah Calista terlihat sangat tidak menyukainya. Bahkan mungkin pria itu membenci dirinya. Tapi karena apa? Itulah yang membuat Aksa bingung. Saat Calista menghilang saja, ia benar-benar hampir dibuat gila. Lalu apa sebenarnya yang terjadi, kenapa Rama menyalahkan dirinya dan mengatakan semuanya terjadi karena dirinya.


"Aksa! What are you doing here?"


Aksa yang berdiri di pinggir jembatan langsung menoleh saat mendengar teriakan seseorang yang ia kenal.


"Raka? Kenapa kamu ada di sini?" Aksa menatap orang yang baru muncul itu dengan heran.


"Seharusnya aku yang tanya. Kamu sedang apa di sini? Berdiri malam-malam begini di pinggir jembatan? Mau bunuh diri hah?" Tanya Raka dengan penuh emosi, saking khawatirnya dengan sahabatnya yang satu ini.


Aksa terkekeh geli.


"What? Bunuh diri? Untuk apa? Aku hanya mencari udara segar."


"Dasar bodoh! Kenapa telponku nggak kamu jawab? Aku pikir terjadi sesuatu sama kamu." Raka memukul kepala Aksa saking kesalnya.


"Sakit woi, santai dong bos." Aksa mengusap kepalanya yang baru saja dipukul Raka.


"Hmmp." Raka langsung membuang muka dan langsung mendapati istrinya yang sedang tertawa geli.


"Ya Allah, kalian kayak bocah ya." Bila menghampiri mereka berdua dengan ekspresi jenakanya. "Udah tenang kan sayang? Aksanya baik-baik aja tuh." Imbuh Bila namun tangannya langsung mendarat di pinggang Aksa.


Berani-beraninya dia membuat suaminya khawatir setengah mati.


"Awwhh, sakit buk." Ringis Aksa sambil mengusap pinggangnya yang terasa panas. Kepalanya masih sakit, sekarang tambah lagi penderitaannya.


Nasip-nasip, nggak suami nggak istri sama saja tukang aniaya. Keluhnya dalam hati.


"Sekarang kamu mau kemana?" Tanya Raka saat Aksa berjalan menuju mobilnya.


"Pulanglah, masa mau tidur di sini."


"Ohhh, kirain mau jadi penghuni jembatan." Ledek Raka sambil tertawa.


"Mas...! Jangan bicara sembarangan." Bila melirik Raka dengan tatapan tajam.


"Astaghfirullah, maaf sayang." Raka langsung menoleh kiri-kana sebelum mengikuti Aksa dan Bila menuju ke mobil masing-masing.


"Aksa kita pulang dulu ya, takutnya mereka bangun dan membuat bik Nah kewalahan." Bila pamit pulang sebelum masuk ke dalam mobil.


"Oke Bil, titip salam ya buat dua ponakan tampan. Bilang dari Omnya yang paling tampan." Ucapnya sambil tersenyum lebar.


"Ogah!" Sekak Raka karena masih kesal dengan sahabatnya itu.


"Yeee, yang bicara sama situ siapa?" Cibirnya dan membuat Raka makin kesal. "Titip ya Bil...." Cengirnya ke arah Bila.


"Iya, nanti aku sampaiin ke mereka." Bila pun masuk ke dalam mobil disusul Raka yang masih memasang wajah kesalnya.


Mereka segera meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke rumah. Selama perjalanan Bila tak henti-hentinya menggoda sang suami dan alhasil semakin membuat pria itu semakin kesal. Sehingga sampai di rumah, Bila harus berusaha membujuk suaminya agar tidak marah lagi.


"Sayang..." Bujuk Bila karena Raka sama sekali tidak mau bicara padanya.


Raka masih mempertahankan mode merajuknya dan sama sekali tidak menghiraukan Bila yang terus berusaha membujuknya.


Sementara Bila yang terus didiamkan memilih untuk melihat kedua anaknya yang sudah tidur, kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh muka sekaligus berwudu karena ia belum sholat isa.


Setelah menyelesaikan sholat isa beberapa menit yang lalu, ia melangkah ke dalam walk in closet untuk mengganti pakaiannya.


Menatap lemari dan memilih gaun tidur, Bila langsung tersenyum devil saat melihat baju yang akan ia kenakan malam ini.


"Setelah ini kamu nggak akan bisa lagi diamin aku mas." Gumam Bila dengan smirknya yang membuat ia terlihat seperti iblis cantik.


Raka yang sedang sibuk dengan laptopnya langsung terkejut dengan mata melotot saat matanya tak sengaja melirik ke arah pintu walk in closet. Dimana sang istri berdiri dengan pose menantang. Apalagi pakaiannya yang sangat-sangat argghh seksi.


Raka menelan ludah kasar dan memalingkan wajahnya karena teringat ia masih merajuk kepada Bila. Namun hal itu tidak bertahan lama, karena Bila sudah berdiri di depannua dan tampa permisi duduk dipangkuannya.


Oh tidak, Raka langsung kelabakan dibuatnya. Sial, ia sudah berusaha mati-matian menahan diri. Tapi Bila mana mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Sebab ia sudah membuang rasa malu dan gengsinya agar bisa meluluhkan hati suaminya itu.


"Sayang, i miss you." Bisik Bila sensual dan membuat Raka merinding dengan tingkah nakal istrinya. Apalagi sekarang Bila sudah melancarkan aksinya dengan mengecup leher Raka dan membuat Raka melenguh saat dengan nakalnya Bila menggigit leher suaminya.

__ADS_1


Pertahanan Raka seketika hancur saat Bila menciumnya dengan ganas. Pria itu langsung membopong istrinya menuju ranjang tampa melepaskan ciumannya.


"Apa sekarang mas sudah tidak marah lagi?" Tanya Bila setelah ciuman keduanya terlepas.


Raka menatap kedua mata istrinya dengan satu alis terangkat naik.


"Mana bisa aku marah, kalau saat ini istriku tersayang sedang bertindak nakal dan menggoda sang raja singa." Balas Raka dengan senyum devil.


Bila langsung melihat alarm tanda bahaya saat mendengar kata-kata suaminya. Alamat tidur subuh karena sudah berani mengganggu ketenangan si raja singa.


Akan tetapi, saat keduanya akan memulai kegiatan olah raga malam mereka. Tangisan bayi langsung menggema di dalam kamar tersebut. Membuat Raka yang sudah on langsung kecewa berat.


"Maaf ya sayang, aku lihat mereka dulu. Please jangan ngambek lagi ya?" Bila mengecup bibir suaminya sebelum turun dari ranjang dan menghampiri kedua anaknya.


"Mas Raka...!"


Raka yang telentang dengan bertelanjang dada langsung duduk karena panggilan istrinya.


"Kenapa sayang?" Tanya Raka saat berada di samping sang istri.


"Mereka demam." Jawabnya dengan mata berkaca-kaca dan wajah paniknya.


"Bil, tenang ya. Apa sudah kamu ukur demamnya berapa?"


Bila menggelengkan kepalanya. "Belum."


Tampa diminta Raka mengambil thermometer dan mengukur suhu tubuh kedua anaknya. Beruntung demam meraka tidak terlalu tinggi, sehingga Bila langsung bernapas lega.


"Mas, tolong gendong Zayyan dong. Aku gendong Zahran. Bawa ke ranjang ya sayang." Pinta Bila dengan puppy eyesnya, kemudian menggendong Zahran.


"Iya bee." Raka langsung menggendong Zayyan dan membawanya ke ranjang.


Sampai di ranjang Bila langsung ambil posisi untuk menyusui keduanya secara langsung. Namun hanya Zayyan yang langsung menyusu, sedangkan Zahran tidak mau dan terus menangis. Alhasil Bila harus membujuk anaknya terlebih dahulu agar mau berhenti menangis. Zayyan pun tak lama ikut menangis karena saudara kembarnya menangis.


"Mas, ini gimana?"


Hampir jam 1 keduanya baru mau disusui dan membuat Bila bernapas lega. Melihat kedua anaknya yang sedang menyusu membuat Raka langsung cemburu.


"Bee, mau juga." Rengeknya dan membuat Bila menatapnya dengan kening berkerut dalam.


"Mau itu." Bila yang paham langsung terkekeh geli. Bayi besarnya cemburu dengan anaknya sendiri.


"Sayang, mereka baru mau loh. Mas tau sendiri dari tadi kita berdua susah payah membujuk mereka. Jadi sabar ya sayang, gantian. Mereka tidur, semuanya jadi milik mas."


"Really?"


"Iya."


Malam itu, Bila baru tidur pukul 3 subuh karena kedua anaknya yang rewel dan ditambah bayi besar alias suaminya yang tidak mau kalah dengan kedua anaknya. Beruntung demam keduanya turun dan membuat Bila bernapas lega.


"Bee, kok rasanya beda ya dari yang biasa?"


Bila yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung tersenyum. "Iya mas, Zahran dan Zayyan kan lagi sakit. Makanya rasanya seperti ini."


"Alasannya?"


"Kalau dari yang aku baca, rasa ASI itu akan berubah sesuai dengan kondisi bayi itu sendiri mas."


"Ohh begitu."


"Iya, udah ya sayang. Aku udah ngantuk." Setelah mengatakan itu Bila langsung tidur dan Raka masih melanjutkan kegiatannya itu.


πŸ’πŸ’πŸ’


Azan subuh sudah berkumandang dan membangunkan orang-orang yang akan melaksanakan ibadah sholat subuh. Bila membuka matanya dengan susah payah saking ia masih sangat mengantuk.


Rasanya sehabis subuh ia ingin istirahat kembali, namun apalah daya karena tiba-tiba Zayyan dan Zahran kembali demam tinggi. Sehingga wanita itu kembali dibuat ketar-ketir


"Ya Allah Nak." Bila berusaha menahan tangis saat mengganti baju Zahran dan Zayyan.


"Sayang, udah ya. Sekarang kita bawa mereka ke Rumah Sakit." Raka berusaha menenangkan istrinya yang terlihat lusuh karena kurang tidur.


Bila menoleh dengan wajah penuh air mata. "Iya, tapi apa mas udah bisa nyetir? Jujur aku nggak bisa nyetir sekarang."

__ADS_1


"Bisa, atau mau minta tolong Aksa?" Tanyanya memberi opsi.


"Kelamaan mas."


"Ya udah, ayo berangkat." Raka mengambil alih Zayyan dan membiarkan Zahran digendong oleh Bila.


Bu Sukma yang mendapat kabar kedua cucunya dibawa ke Rumah Sakit langsung panik dan langsung menghampiri suaminya.


"Mas...! Cucu kita mas, cucu kita... "


"Cucu kita kenapa?" Potong Ayah Rasyid tidak sabaran.


"Cucu kita Zayyan dan Zahran dibawa ke Rumah Sakit." Akhirnya Bu Sukma menyelesaikan ucapannya.


"Apa? Kok bisa?" Kaget, ayah Rasyid benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Nggak tau mas. Tadi bik Nah bilang dari semalam keduanya memang rewel dan tadi pagi keduanya demam tinggi disertai ruam." Jawab Bu Sukma menjelaskan.


"Ayo kita susul mereka ke Rumah Sakit." Ayah Rasyid langsung membawa istrinya menuju ke Rumah Sakit.


"Ayah dan ibu mau kemana?" Reihan yang akan berangkat ke kantor langsung heran melihat kedua orang tuanya menuju keluar rumah dengan tergesa-gesa.


Ayah Rasyid menghentikan langkahnya dan menatap putra bungsunya itu.


"Zahran dan Zayyan di bawa ke Rumah Sakit sama kakakmu." Jelas ayah Rasyid sebelum menyusul istrinya yang sudah berteriak diluar rumah.


Reihan langsung terkejut dan menginterupsi ayahnya yang sudah berada di ambang pintu rumah. "Ayah, aku ikut."


Dengan langkah besar, Reihan mengejar ayahnya keluar rumah.


πŸ’πŸ’πŸ’


Raka berdiri sambil memeluk Bila yang dari tadi menangis. Sesampainya di Rumah Sakit tadi, kedua bayi itu langsung di periksa oleh dokter.


"Mas, mereka nggak akan kenapa-napa kan?" Tanya Bila disela isak tangisnya.


"Iya sayang, mereka akan baik-baik aja." Raka mengusap-usap kepala dan punggung Bila agar istrinya itu tenang.


Langkah kaki menggema di lorong Rumah Sakit dan membuat orang-orang menatap ke arah mereka. Karena kedatangan mereka menyita perhatian banyak orang di sana.


"Bagaimana keadaan mereka sayang?"


Bila berbalik dan melepaskan pelukan suaminya saat mendengar suara teduh ibunya.


"Ibu..... " Wanita cantik itu langsung menghambur dalam pelukan ibunya.


"Belum tau Bu, mereka sedang diperiksa di dalam." Bukan Bila yang menjawab melainkan Raka. Karena Raka yakin bahwa istrinya tidak akan bisa menjawab pertanyaan ibunya.


Pintu ruangan yang awalnya tertutup langsung terbuka dan seorang pria dengan jas dokter keluar dari sana.


"Dokter, bagaimana keadaan anak-anak saya dokter?" Melihat dokter keluar Bila langsung melepaskan pelukan dari ibunya dan menghampiri dokter tersebut.


"Syukurlah keduanya mendapat penanganan yang baik saat demam terjadi. Kalau terlambat akan berpengaruh pada kinerja otaknya." Jelas sang dokter.


"Apa kita sudah boleh melihat mereka dok?"


"Iya silahkan."


Bila langsung masuk ke dalam dan menghampiri keduanya. Kemudian mengambil Zayyan dan Zahran diambil oleh Bu Sukma.


"Apa mereka masih demam?" Tanya Ayah Rasyid seraya menghampiri istrinya dan menempelkan punggung tangannya di kening Zahran. "Ohhh iya, cucu kakek masih demam ya sayang." Senyumnya seraya menoel hidung bangir sikecil.


Zahran hanya diam dengan bibir sedikit mengerut karena toelan sang kakek.


"Lihat wajahnya kenapa sangat menggemaskan?" Sorak Reihan saat melihat ekspresi Zahran.


Setelah drama nangis-nangis dan berakhir tertawa karena tindakan lucu Zahran. Mereka semua pulang setelah mengambil obat di apotik.


.


.


.

__ADS_1


.


to be continue


__ADS_2