
Selesai makan malam, Bila membawa Alicia ke kamarnya. Berhubung Raka tidak ada, jadi wanita itu memilih untuk membuat Alicia tidur di kamarnya. Gadis kecil itu, terlihat kelelahan. Mungkin karena berlari saat dikerjar orang jahat tadi siang.
Sebelum tidur mereka berdua sholat isya terlebih dahulu. Meskipun Bila agak kaget, karena gadis itu tidak terlalu paham dengan kewajibannya sendiri. Iya memang, dia masih berumur 6 tahun. Tapi, seharusnya ia diajarkan sedari kecil bukan? Akhirnya Bila menjadi guru dadakan untuk mengajari gadis kecil itu. Meskipun terbilang singkat, tapi gadis itu sangat cerdas. Sehingga ia dapat menangkap penjelasan Bila dengan baik.
Selesai pelajaran singkatnya, Alicia terlihat mengantuk dan menguap berkali-kali. "Tante, aku sudah mengantuk." Rengeknya manja dan membuat Bila gemas sendiri.
"Ohh ya ampun, kamu udah ngantuk. Ya udah, kita tidur lagi ya." Bila bangkit berdiri dan membawa gadis itu ke ranjang.
Alicia memperhatikan perut Bila yang sudah besar. "Tante, apa babynya bergerak?" Tanyanya penasaran. "Karena waktu Bian dalam perut mami, dia gerak-gerak. Bahkan membuat mami meringis karena dia tendang dengan kuat."
Bila tersenyum dan mengusap kepala Alicia. "Iya sayang, babynya bergerak. Kamu mau coba rasa?"
"Apa boleh?" Tanya gadis itu meminta persetujuan.
"Tentu!" Jawab Bila singkat dan menarik tangan gadis itu untuk merasakan perutnya.
Tak lama Alicia berseru. "Tante, babynya bergerak!"
Bila terkekeh, "iya sayang, sekarang kamu tidur ya. Katanya ngantuk?" Goda Bila dan membuat pipi Alicia merona. Karena kantuknya sudah hilang beberapa menit yang lalu sesaat sebelum menyentuh perut wanita itu.
"Ya ampun sayang, kenapa kamu sangat menggemaskan?" Bila mencubit dengan gemas pipi gembul milik Alicia.
"Awww tante," ringisnya pelan.
"Maaf ya sayang, tante terlalu bersemangat." Ujarnya seraya mengelus pipi Alicia yang barusan ia cubit. Ekspresi Bila yang merasa bersalah membuat Alicia tidak bisa menahan tawanya. Sehingga tawa gadis itu langsung pecah.
Bila langsung tersenyum dalam hati dan langsung memasang ekspresi cemberut. "Ya ampun sayang, kamu ngerjain tante." Ucapnya dengan bibir mengerucut maju.
"Tante, jangan ngambek yaa yaa. Aku hanya bercanda." Bujuknya dengan memeluk Bila.
Tak lama Bila tertawa dan menggelitiki gadis kecil itu, sehingga keduanya langsung tertawa terbahak-bahak setelahnya. "Aduhh capek, tidur yuk." Bila merebahkan tubuhnya diikuti Alicia yang tidur menghadap ke arahnya.
Reihan yang mendengar canda tawa keduanya langsung tersenyum lebar. Ia tidak menyangka, kalau gadis itu bisa membuat kakaknya tertawa lepas.
πππ
Di Bandara Heathrow (LHR) terlihat 2 orang pria sedang berada di ruang tunggu Bandara. Sesuai perintah yang ia dapatkan, Aksa memang langsung memesan penerbangan secepatnya. Tak lama, tersengar pengumuman dari petugas Bandara sehingga para penumpang mulai berjalan menuju gate dan masuk ke dalam pesawat.
"Tuan, kenapa terburu-buru?" Orang yang dipanggil hanya diam. "Raka!" Panggilnya lagi, kali ini ia memanggil nama atasannya itu dan membuat pria di sampingnya yang mengenakan pakaian santai dengan topi langsung menoleh.
"Ada apa Sa?" Dia memasang wajah malas dan terus berjalan masuk ke dalam pesawat.
Aksa yang melihat ekspresi Raka yang tidak semangat langsung menghela napas. "Lupakan!" Serunya dengan nada rendah dan hal itu tidak dipermasalahkan lagi oleh Raka.
Kedua pria tampan itu duduk di bangku yang sesuai dengan yang tertera di tiketnya. Mereka duduk di kelas bisnis dengan segala fasilitas yang ada. Raka yang sedang malas, memilih mengambil iPad-nya langsung memainkannya.
"Raka!" Aksa kembali memanggil Raka.
"Hmmm," gumamnya dengan mata masih fokus ke layar iPad.
"Aku mau minta maaf, karena ucapanku waktu itu kalian jadi--"
Raka mengalihkan pandangannya dan menatap Aksa tajam. "Kenapa kamu minta maaf? Pada kenyataannya Salsabila memang menemui Andre! Tapi, alasan dia menemui pria itu yang tidak kamu ketahui. Sehingga, aku yang dilanda cemburu buta langsung mengambil kesimpulan kalau ada sesuatu antara mereka dan memutuskan untuk pergi dari pada meminta penjelasan istriku sendiri." Raka menjeda ucapannya dan menarik napas dalam-dalam. "Beruntung Bila segera menghubungiku dan meminta maaf serta menjelaskan semuanya. Ya, meskipun ujung-ujungnya malah dia yang berbalik marah." Raka tersenyum getir, teringat percakapan antara dirinya dan sang istri malam sebelumnya. Kalau bukan karena marah, dia tidak akan mengatakan kata-kata itu. Heh, menyuruhku mencari kupu-kupu lainnya. Apa itu masuk akal? Yang benar saja? Gerutunya dalam hati.
__ADS_1
Ah! Aksa semakin tersadar akan kesalahannya, ingatannya berputar pada saat dia beremu dengan Bila. Wanita itu langsung menyapanya dengan sumringah, alih-alih pura-pura tidak kenal untuk menutupi perbuatannya kalau memang dia main api. Tapi di luar dugaan, wanita itu juga mengatakan kalau dirinya adalah asisten suaminya. Bukankah itu artinya wanita itu tidak sedang bermain api, melainkan ada urusan yang sedang ia lakukan dengan pria itu.
Astaga, aku memang sudah berdosa pada Bila. Aksa langsung mengusap kasar wajahnya. "Aku akui kesalahanku karena menyampaikan informasi yang tidak lengkap." Ujarnya dengan suara lemah. Raka mendengus kesal dan mengacak-acak rambut Aksa.
"Oh come on man, aku bukan bocah yang bisa kamu perlakukan seperti ini!" Seru Aksa tidak terima. "Aku juga lebih tua 3 tahun dari pada kamu, asal kamu tau." Imbuhnya dengan nada galak.
"Oh ayolah kakak Aksa, kenapa jadi kaku begini?"
Setelah pertenyaan itu meluncur dari mulut Raka, sekujur tubuh Aksa langsung bergidik ngeri. Apa tidak salah? Perasaan situ yang selalu kaku!
"Ekspresinya biasa aja! Dan jangan memakiku dalam hati!"
Aksa melotot dan menatap pria di sampingnya dengan seksama. Apa dia bisa membaca pikiranku? "Kenapa kamu seperti cenayang saja, yang bisa menebak isi hatiku?"
"Oh! Jadi kamu benar-benar memaki diriku?" Raka menatap asisten sekaligus sahabatnya itu dengan tatapan membunuh.
Aksa langsung membeku dan tidak bisa mengeluarkan suara. Seakan mulutnya terkunci dan hanya menatap Raka dengan tatapan polos. Berharap sahabatnya itu berbaik hati melepaskan dirinya.
Sampai akhirnya suara tawa membuat Aksa tak berkutik. "Sejak kapan kamu jadi lucu begini?" Raka benar-benar tertawa melihat ekspresi konyol asistennya itu.
"Ah! Jadi kamu mengerjaiku?" Helaan napas berat langsung terdengar di telinga Raka dan membuat pria itu tersenyum penuh kemenangan.
πππ
Sekitar pukul 10 pagi, Bila dikejutkan oleh suara ketukan pintu yang terdengar begitu nyaring. "Apa Reihan balik lagi? Tapi kenapa?"
Sebelum Bila bangkit, Alicia sudah berlari ke arah pintu dan membuka pintu tersebut. Hal itu membuat Bila kaget dan mengikuti gadis itu ke depan. Seseorang di depan pintu tertegun melihat seorang gadis kecil di hadapannya. Siapa anak ini? Kenapa dia ada di rumahku? Tanyanya dalam hati. Kemudian matanya menatap lurus ke depan dan tatapannya terbentur dengan mata istrinya.
"Mas Raka? Udah pulang? Kirain lupa jalan pulang?" Sarkas Bila sambil tersenyum.
"Ini suami tante yang baru pulang dari London. Tante kira dia akan lupa jalan pulang, eh ternyata nggak."
Raka langsung menatap istrinya tak percaya dan langsung mendapat tatapan tak bersahabat dari sang istri. Membuat Raka membeku di tempat dengan ekspresi berantakan.
"Ohh, hallo uncle." Sapanya dengan senyum manis.
Raka langsung tersentak setelah mendengar suara centil seorang gadis kecil. Raka yang tidak tau siapa gadis itu langsung tersenyum kikuk. "Hai anak cantik, nama kamu siapa?"
"Alicia uncle, Alessandra Alicia Syahreza."
Bila kaget, karena Alicia baru menyebutkan nama lengkapnya sekararang. "Ah, Alicia nggak seru. Masa kemarin tante nggak di kasih tau nama panjangnya. Tapi sama uncle ini langsung kasih tau." Rajuknya manja.
Alicia terkekeh dan Raka langsung melongo melihat tingkah istrinya. "Uncle, uncle, tante ngambek." Bisiknya di telinga Raka.
Sebuah senyuman jahil langsung muncul di bibir Raka. Namun, saat ia mengulang nama gadis kecil itu dalam benaknya matanya langsung menatap lurus gadis kecil itu.
"Siapa nama panjang kamu tadi?" Tanya Raka penasaran.
"Alessandra Alicia Syahreza uncle." Jawab Alicia dengan kening berkerut.
"Apa kamu putri Adhitama?" Tebak Raka yakin, karena ia pernah bekerja sama dengan Adhit dan kurang lebih tau tentang keluarga pria itu.
Alicia menganggukkan kepalanya, "Iya uncle, itu nama daddy-ku." Jawab Alicia sambil tersenyum.
__ADS_1
"Mas kenal?" Bila yang awalnya cemberut langsung bersuara.
Raka menganggukkan kepalanya. "Iya, Mas mengenalnya. Kenapa?"
"Tau alamat rumahnya?" Tanya Bila lagi.
"Iya tau, ada apa sih?" Raka yang baru menempuh perjalanan panjang seakan tidak bisa paham dengan maksud istrinya.
Bila tidak menjawab dan berlari ke dalam rumah mengambil tas tangannya serta tas Alicia. Raka awalnya mau mencegah istrinya berlari, tapi Bila sudah menjauh dan tidak bisa di cegah.
Tak lama ia kembali dengan dua tas di tangannya. "Ayo pergi."
"Kemana?" Tanya Raka heran.
"Ke rumah Alicia, orang tuanya pasti cemas karena anak mereka tidak pulang semalaman."
"Kenapa bisa gitu? Memangnya anak ini kenapa bisa di rumah kita?"
Bila mendengus kesal. Kenapa suaminya jadi mendadak menyebalkan dengan kepolosannya yang tiba-tiba. "Nanti aku jelasin di mobil, ayo sayang." Bila meraih tangan Alicia dan menutup pintu rumah. Raka hanya tersenyum tak berdaya dan mengikuti istrinya menuju mobil.
πππ
"Jadi Reihan bertemu dengan Alicia di pinggir jalan?" Tanya Raka dengan nada tidak percaya, setelah Bila menceritakan semuanya kepada suaminya itu.
Bila menganggukkan kepalanya pelan. "Iya Mas," Bila menoleh ke belakang dan langsung tersenyum manis saat matanya bertemu dengan mata gadis kecil itu.
"Karena tidak ada yang tau alamat orang tuanya, Alicia menginap di rumah kita." Pernyataan yang baru saja terucap langsung diangguki oleh Bila.
"Beruntung Mas pulang cepat, kalau nggak kita bakalan kesulitan dan orang tuanya akan merasa kehilangan."
Raka tersenyum dalam hati, ternyata keputusannya untuk pulang lebih awal memang tepat. Kalau tidak, apa yang akan terjadi tidak ada yang tau. Tapi tetap saja ia masih kesal dengan istrinya yang tiba-tiba cuek dan tidak peduli padanya.
Sampai di sebuah kawasan perumahan elit, mobil Raka memasuki halaman luas sebuah mansion dan membuat Bila terkagum-kagum. "Sungguh rumah yang begitu indah dan megah." Gumamnya tampa sadar.
Saat turun dari mobil, mereka langsung bertemu dengan sang tuan rumah yang sepertinya akan pergi. Saat melihat seseorang yang baru turun dari dalam mobil. Ekspresi sang tuan rumah langsung berubah terkejut, lega dan senang. Semuanya bercampur aduk menjadi satu.
Seorang wanita langsung berlari menghampiri gadis kecil itu. "Alicia, sayang. Ya ampun, mami nggak bisa tidur semalaman mikirin kamu nak." Ucap seorang wanita yang langsung memeluk erat tubuh gadis kecil itu.
"Terimaksih kalian sudah menemukan putriku." Ucap wanita itu kepada Bila dan Raka.
"Iya, sama-sama mba."
"Tuan Raka kan?"
Raka menganggukkan kepalanya. "Apa kabar tuan Adhitama? Lama tidak berjumpa." Keduanya berjabat tangan dan berpelukan layaknya teman lama.
.
.
.
.
__ADS_1
to be continue