Pelangi Setelah Hujan

Pelangi Setelah Hujan
Efek Samping


__ADS_3

Tak lama setelah anaknya tidur, Bila terlihat pucat pasi sambil meringis menahan sakit. Hal itu membuat Raka yang sudah selesai bersih-bersih langsung menghampiri sang istri.


"Kamu kenapa sayang?" Tanyanya dengan ekspresi cemas.


"Perutku mual banget dan bekas operasinya terasa perih." Jawab Bila sambil menahan mual dan sakit.


"Maaf ya sayang." Raka merasa menyesal karena meminta istrinya tadi menuntaskan nafsunya. Bila juga sudah beraktivitas terlalu berlebihan, padahal dia barusaja melahirkan beberapa hari.


"Maaf untuk?" Tanya Bila dengan kening berkerut dalam. Pasalnya ia merasa suaminya tidak melakukan kesalahan apapun.


"Untuk semuanya." Raka tersenyum lembut. "Sekarang sebaiknya kamu istirahat ya. Besok kita video call Qiara saja, karena kamu tidak mungkin pergi-pergi lagi." Ucap Raka sembari menuntun istrinya menuju ranjang.


"Tapi mas... "


"Tidak ada tapi-tapian. Pokoknya kamu harus bedrest dan tidak boleh melakukan apapun. Besok mas akan mencari asisten rumah tangga untuk membersihkan rumah dan memasak." Final Raka tak terbantahkan.


Bila bersandar di headboard ranjang dengan bibir mengerucut lucu layaknya bebek. "Aku tidak mau asistennya muda dan cantik. Cari yang sudah tua tapi masih kuat." Ucapnya dengan ekspresi muka ditekuk.


Bila tidak mau nanti kalau asisten rumah tangganya masih muda dan cantik. Suaminya akan tergoda atau wanita itu menggoda suaminya. Karena zaman sekarang perebut laki orang ada dalam berbagai model dan pekerjaan. Oleh karena itu dia tidak mau ambil resiko. Walupun ia berusaha yakin kalau suaminya tipe pria setia. Akan tetapi kedepannya siapa yang tau. Sebab, kucing kalau diberi ikan tidak akan menolak bukan?


Raka langsung terbahak setelah mendengar kata-kata istrinya barusan. "Kalau cari yang tua susah sayang."


Detik kata-kata Raka sampai di telinga Bila, tatapan mata wanita itu langsung berubah tajam. "Ohhh, jadi mau yang muda. Ya sudah, silahkan. Kalau perlu nikahin sekalian biar puas."


Bila langsung membaringkan tubuhnya tampa menghiraukan rasa sakit di perutnya karena pergerakannya yang tiba-tiba.


"Huftt... " Raka menghela napas gusar seraya mensugar rambutnya ke belakang. Pria itu perlahan mendekat ke arah istrinya yang sedang marah sambil membelakangi dirinya. "Sayang, kamu marah?"


Dasar tidak peka! Menyebalkan! Pakai nanya segala lagi? Ya iyalah marah, emangnya aku batu yang nggak punya hati? Bila mengutuk Raka dalam hati. Siapa yang tidak akan marah kalau suaminya mau ART yang muda dan cantik. Wanita manapun pasti akan marah mendengar hal itu.


"Hmmm... " Bila hanya bergumam dengan air mata sudah mengalir membasahi bantal.


"Mas minta maaf karena sudah membuat kamu marah. Mas bukan bermaksud seperti itu. Please jangan marah lagi ya, mas janji akan mencari asisten rumah tangga yang sudah tua." Raka berusaha membujuk istrinya yang masih enggan membalikkan badan ke arah dirinya karena sudah terlanjur merajuk.


"Nggak usah pakai ART!" Serunya tampa berbalik.


"Alasannya?" Tanya Raka heran, karena tadi Bila setuju asalkan ART-nya sudah tua. Lalu sekarang alasannya apa?


"Pokoknya nggak usah mas. Kamu ngerti nggak sih perasaan aku." Bila berbalik dengan mata yang sudah sembab.


"Astaghfirullah sayang, kamu nangis?" Tanya Raka dengan ekspresi terkejut. Ia tidak menyangka kalau istrinya akan semakin mellow saja setelah melahirkan.


Huffft

__ADS_1


Ia harus siap-siap saja akan merasakan drama sang istri nantinya.


"Pikir aja sendiri." Bila kembali merebahkan badannya membelakangi sang suami.


"Ya sudah, kita nggak usah pakai ART. Tapi bagainana dengan pekerjaan rumah bee? Kamu nggak akan mas biarin kerja dulu, karena mengingat kondisi kamu saat ini." Raka terlihat gusar, sementara Bila hanya diam tampa menjawab. "Bagaimana kalau untuk sementara waktu kita meminta bik Nah tinggal di sini?" Usul Raka tiba-tiba saat teringat dengan asisten rumah tangga ibu mertuanya


Bila berbalik dan langsung tersenyum sumringah. "Aku setuju, awww..." Teriaknya saat merasakan perutnya terasa perih.


"Kamu kenapa?" Tanya Raka panik dan matanya langsung tertuju ke perut istrinya.


"Perih banget." Rintihnya menahan sakit.


"Coba mas lihat." Raka langsung menaikkan baju yang dipakai Bila dan memeriksa luka sayatan operasi di perut istrinya.


Membuka perban, Raka tidak bisa tidak terkejut melihat bekas luka diperut sang istri yang mengalami pendarahan yang sudah merembes ke perban luar. Dengan cepat Raka mengambil ponselnya dan menghubungi Rumah Sakit untuk mengirim dokter karena istrinya sudah menangis menahan sakit.


πŸ’πŸ’πŸ’


Salsabila POV


Aku berusaha tenang walau air mata tidak bisa aku tahan saking sakitnya. Memang benar kata pepatah penyesalan datangnya belakangan. Seandainya aku tidak banyak tingkah dan tetap stay at home setelah melahirkan untuk recovery bekas jahitan operasi. Mungkin lukanya tidak akan berdarah seperti ini.


"Iya dokter, terjadi pendarahan di bekas sayatan operasi istri saya." Terdengar suara mas Raka yang sedang bicara dengan seseorang di telphon.


"......"


Melihat mas Raka kembali ke arahku, membuat aku merasa sedikit tenang ditengah rasa sakit yang menyelekit di perutku.


"Bagaimana sayang? Apa masih perih?" Tanya mas Raka padaku.


Aku hanya mengangguk tampa suara, karena untuk bicara saja rasanya seolah membuat lukanya semakin menganga.


"Sekarang kamu jangan banyak gerak dulu. Sebentar lagi dokternya datang." Ucap mas Raka sambil mengusap tanganku lembut.


30 menit berlalu, namun dokter tak kunjung datang. Rasa perih di perutku semakin menjadi, karena mas Raka belum melakukan apa-apa karena takut salah langkah. Zayyan pun menangis bertepatan dengan bunyi bel di depan pintu.


Salsabila POV End


πŸ’πŸ’πŸ’


Membiarkan anaknya menangis, Raka bergegas ke depan untuk melihat siapa yang datang. Ia pun berharap yang datang adalah dokter yang bicara dengannya di telphon tadi.


Ceklek

__ADS_1


Saat pintu terbuka, orang yang ada di depan pintu tertegun melihat siapa yang ada di depannya.


"Raka!" Seru orang tersebut saat mengenali siapa yang ada di hadapannya.


"Angga kan? Angga Djoyokusumo." Tanya Raka memastikan.


Angga Djoyokusumo adalah teman SMA Raka yang sekarang sudah menjadi seorang dokter. Raka sendiri memang sudah lama tidak bertemu dengan temannya ini setelah mereka lulus SMA. Lagian Angga juga harus kembali ke rumah orang tuanya di Jakarta. Oleh karena itu, keduanya terkejut saat bertemu lagi setelah sekian lamanya.


"Iya, gue Angga. Jadi, tadi yang telphon ke Rumah Sakit itu lo?" Tanya Angga basa basi setelah lama tak bertemu dengan teman lama.


"Iya, istri gue bekas sayatan operasinya berdarah. Ayo masuk, dia udah nangis-nangis dari tadi. Anak gue juga lagi nangis gue tinggal bukain pintu." Jawab Raka seraya mengajak Angga masuk ke dalam rumah.


"Emang lo ngapain sampai bikin bekas sayatan operasi istri lo berdarah gitu?" Tanya Angga penasaran di sela mereka berjalan menuju ke tempat dimana Bila berada.


"Dia aja yang banyak gerak dari kemarin."


"Seriusan lo, nggak percaya gue. Paling lo minta yang aneh-aneh sama istri lo."


Wajah Raka memerah karena perkataan Angga, karena apa yang ia katakan benar adanya. "Sialan lo Ngga."


Angga langsung terbahak melihat kekesalan Raka. Namun sejurus kemudian ia langsung heran saat Raka menghentikan dirinya di depan pintu.


"Ada apa?" Tanya Angga dengan kening berkerut.


"Kenapa nggak dokter cewe sih yang ke sini? Kenapa mesti lo yang ke sini?" Tanya Raka seakan baru sadar kalau temannya ini laki-laki dan akan memeriksa istrinya. Meskipun sekarang banyak laki-laki yang berprofesi sebagai dokter kandungan. Tapi tetap saja, ia tidak rela istrinya di lihat oleh laki-laki lain. Apalagi saat ini istrinya sedang tidak memakai kerudung dan hanya pakai dress.


"Cuma gue dokter yang available saat ini." Jawab Angga yang mengerti kekhawatiran Raka.


"Ya sudah, lo tunggu di sini sebentar." Raka bergegas masuk ke dalam kamar dan mengambilkan kerudung istrinya serta menutup kaki Bila dengan selimut.


"Udah boleh masuk nih gue?" Tanya Angga saat Raka membuka pintu.


"Iya, tapi jangan macam-macam ya lo."


"Hai dude, gue ini dokter bukan gigolo." Sewot Angga segera masuk diikuti Raka dan segera mengeluarkan peralatannya untuk memeriksa kondisi pasiennya.


Sementara Raka segera mengambil kedua anaknya yang sudah bangun keduanya. Karena saat Zayyan menangis tadi, Zahran juga ikut bangun dan menangis.


.


.


.

__ADS_1


.


to be continue


__ADS_2